NovelToon NovelToon
Luka Sang Pengganti

Luka Sang Pengganti

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Pengganti / Dosen
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Zahra mencintai Akhsan, kakak kandungnya yang juga menjadi dosen di kampusnya. Menyadari perasaan tak wajar adiknya, Akhsan membangun benteng tinggi dan memilih untuk meminang Gea guna memutus harapan Zahra.
Namun, tragedi berdarah terjadi tepat malam hari saat mereka akan menikah. Kecelakaan hebat merenggut nyawa Gea dan mengungkap fakta mengejutkan—Akhsan ternyata bukan anak kandung Papa Hermawan. Demi menjaga nama baik keluarga dari undangan yang telah tersebar, Papa Hermawan mengambil keputusan ekstrem: Zahra harus menggantikan posisi Gea di pelaminan.
Pernikahan yang dahulu menjadi dambaannya kini berubah menjadi mimpi buruk bagi Zahra. Akhsan yang hancur karena kehilangan Gea berubah menjadi sosok yang dingin dan kejam. Ia menuduh Zahra sebagai dalang di balik kecelakaan maut tersebut, menjebak Zahra dalam pernikahan tanpa cinta yang penuh dengan kebencian dan air mata.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 11

Cahaya matahari pagi menyelinap masuk melalui celah ventilasi gudang yang sempit, menyinari pemandangan mengerikan di atas lantai yang kotor.

Akhsan terbangun dengan kepala yang berdenyut hebat akibat sisa alkohol. Namun, rasa pening itu seketika hilang berganti dengan kengerian saat matanya menangkap sosok Zahra yang terbaring lemah di sampingnya tanpa busana, tertutup debu, darah, dan memar di sekujur tubuh.

Ingatan tentang malam tadi berputar seperti kaset rusak di kepalanya.

Akhsan terkejut dan segera memakai pakaiannya dengan tangan gemetar.

Ia keluar dari gudang dengan langkah terburu-buru, mengunci pintu dari luar, dan segera masuk ke kamar mandi untuk mengguyur tubuhnya dengan air dingin.

Ia merasa jijik, namun ego dan dendamnya kembali membentengi hatinya.

Beberapa saat kemudian, Akhsan kembali ke gudang dengan membawa nampan berisi nasi dan air putih.

Ia membuka pintu dan meletakkan nampan itu dengan kasar di lantai, jauh dari jangkauan Zahra yang bahkan untuk duduk pun tidak mampu.

"Makanlah, jalang! Kamu harus tetap di sini sampai kamu mengaku bahwa kamu adalah pembunuh Gea. Jangan harap bisa keluar dari ruangan ini sebelum kata maaf dan pengakuan itu keluar dari mulutmu."

Zahra hanya menatapnya dengan pandangan kosong. Seolah jiwanya sudah tidak ada lagi di sana lagi.

Tiba-tiba, terdengar suara deru mobil terdengar di halaman.

Papa Hermawan dan Mama masuk ke dalam rumah dengan wajah yang penuh amarah.

Mereka tidak datang untuk menjenguk, melainkan untuk memberikan penghakiman tambahan setelah mendengar laporan sepihak dari Sisilia semalam.

Akhsan membuka pintu gudang lebar-lebar saat kedua orang tua itu mendekat.

Mama langsung masuk dan tanpa peringatan, ia mendaratkan tamparan keras di pipi Zahra yang sudah pucat.

"Anak tidak tahu diri! Kamu benar-benar memalukan keluarga!" teriak Mama.

Zahra tertawa getir di tengah rasa sakitnya. Ia menatap kedua orang tuanya dengan tatapan yang menyayat.

"Aku anak kandung kalian, Ma, Pa. Tapi kenapa kalian lebih memihak Mas Akhsan? Dia hanya anak sopir! Dia bukan darah daging kalian!"

PLAKK!

Kali ini tamparan yang lebih keras mendarat dari tangan Papa Hermawan hingga bibir Zahra pecah.

"Jaga mulutmu, Zahra!" bentak Papa Hermawan dengan suara menggelegar.

"Lebih baik aku mempunyai anak seperti Akhsan yang membanggakan daripada memiliki seorang putri pembunuh seperti kamu! Kamu telah mencoreng nama baik keluarga ini dengan obsesi gilamu!"

Zahra mendongak, matanya yang sembap kini menyala dengan sisa keberanian terakhirnya.

Ia berteriak dengan seluruh tenaga yang tersisa di kerongkongannya yang kering.

"AKU BUKAN PEMBUNUH! DEMI ALLAH, BUKAN AKU YANG MEMBUNUH KAK GEA! KALIAN SEMUA BUTA OLEH KEBENCIAN!"

Suara teriakan Zahra menggema di dalam gudang yang pengap itu, membuat suasana mendadak senyap.

Papa Hermawan hanya menatapnya dengan jijik, sementara Akhsan berdiri di ambang pintu, mengepalkan tangannya kuat-kuat, mencoba meredam getaran aneh di hatinya yang mulai terusik oleh keyakinan dalam suara istrinya.

"Akhsan, lebih baik kamu bunuh saja dia. Atau kamu buang ke hutan." ucap Papa.

"Tidak perlu, Pa. Aku akan menyiksanya sampai dia mengaku kalau dia membunuh Gea."

Papa dan Mama menganggukkan kepalanya dan mereka langsung berpamitan kepada Akhsan.

Setelah kepergian Papa Hermawan dan Mama dari gudang.

Suasana di gudang itu kembali sunyi, meninggalkan aroma pengap dan keputusasaan.

Akhsan berdiri di ambang pintu, merapikan kemejanya yang sedikit kusut.

Ia menatap Zahra yang bersimpuh di lantai dengan rambut acak-acakkan dan bekas tamparan yang memerah di kedua pipinya.

"Aku akan ke kampus sekarang," ucap Akhsan dengan suara bariton yang datar, seolah tidak terjadi apa-apa semalam.

"Aku beri kamu waktu sampai aku pulang nanti sore. Aku harap saat aku buka pintu ini lagi, kamu sudah siap mengakui semuanya. Jangan menguji kesabaranku lebih jauh, Zahra. Dan setelah itu aku akan menceraikan kamu."

Tanpa menunggu jawaban, Akhsan melangkah keluar.

BRAK!

Pintu kayu itu ditutup rapat. Suara kunci yang diputar dua kali terdengar di telinga Zahra.

Ia kini benar-benar terisolasi dari dunia luar, terkunci di dalam ruang gelap yang hanya beralaskan debu.

Di halaman rumah Papa Hermawan dan Mama sudah menunggu.

Wajah mereka yang tadinya penuh amarah terhadap Zahra, mendadak berubah menjadi lembut dan penuh sesal saat menatap Akhsan.

"Akhsan, Papa benar-benar minta maaf atas perilaku Zahra," ucap Papa Hermawan sembari menepuk bahu Akhsan dengan berat.

"Mama dan Papa malu punya anak yang hatinya sebusuk itu. Sabarlah, Nak. Kamu tetap putra kebanggaan kami, terlepas dari siapa orang tua biologismu."

Mama mendekat, mengusap lengan Akhsan dengan mata berkaca-kaca.

"Maafkan Mama juga ya, sayang. Mama gagal mendidik Zahra sampai dia jadi terobsesi padamu dan berbuat nekat pada Gea. Kamu yang kuat, ya?"

Akhsan hanya mengangguk kaku. "Terima kasih, Pa, Ma. Saya berangkat dulu."

Kedua orang tua itu berpamitan dan pergi meninggalkan rumah dengan perasaan lega karena telah menghukum anak kandung mereka sendiri.

Akhsan melajukan mobilnya menuju kampus, namun sepanjang jalan, pikirannya tidak tenang saat membayangkan wajah istrinya yang mengatakan 'Aku bukan pembunuh!' terus terngiang-ngiang, beradu dengan rasa mual akibat perbuatannya sendiri semalam.

Melihat semuanya sudah aman, Sisil yang bersembunyi langsung menyiramkan bensin ke rumah Akhsan.

"Selamat tinggal, Zahra. Dan sekarang hanya aku yang pantas menjadi Nyonya Akhsan Hermawan." ucap Sisil sambil menghidupkan korek api dan melempar ke pintu.

Api dengan cepat berkobar di pintu dan merambat ke lainnya.

Bibi Renggo yang bersembunyi di gudang langsung menuju ke gudang dimana Akhsan mengurung Zahra.

Langkah kaki Bibi Renggo bergetar hebat saat ia menyusuri lorong belakang menuju gudang.

"A-api!"

Bibi Renggo mengambil kunci serep dan segera membuka pintu gudang dimana Akhsan mengunci istrinya disana.

Bibi Renggo membelalakkan matanya saat pintu gudang itu akhirnya terbuka.

Bau apek dan debu seketika berganti dengan pemandangan yang menghancurkan jantungnya.

Di sudut ruangan yang remang, ia melihat pemandangan paling biadab yang pernah disaksikan seumur hidupnya.

"Astaghfirullah, Non Zahra!" pekik Bibi Renggo tertahan.

Suaranya pecah, tangannya menutup mulut karena tak sanggup menahan isak yang menyeruak.

Bibi Renggo melihat Zahra tergeletak tak berdaya di gudang belakang tanpa sehelai apapun.

Tubuhnya hancur, kulitnya yang putih kini dihiasi lebam keunguan dan sisa darah kering.

Matanya menatap langit-langit dengan kosong, seolah jiwanya sudah terbang meninggalkan raga yang tersiksa itu.

Bibi Renggo dengan tangan gemetar segera menyambar sehelai kain usang yang tergantung di rak gudang.

Ia menyelimuti tubuh nona mudanya yang malang itu dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang.

"Ayo, Non. Ayo bangun! Kita harus keluar dari sini. Rumah terbakar, Non!" seru Bibi Renggo panik sambil mencoba merengkuh bahu Zahra.

Di luar, suara deru api mulai terdengar rakus melalap kayu-kayu rumah.

Asap hitam mulai menyelinap masuk melalui celah pintu gudang, membuat napas terasa sesak dan panas.

Zahra hanya bergeming. Bibirnya yang pecah terangkat sedikit, membentuk senyum getir yang sangat menyakitkan untuk dilihat.

"Bi, tinggalkan Zahra di sini. Biarkan saja api itu datang. Biar Mas Akhsan puas melihat Zahra terbakar. Biar dia tidak perlu repot-repot lagi membenci Zahra."

"Non! Jangan bicara seperti itu? Istighfar, Non!" Bibi Renggo menangis histeris.

Ia tidak peduli lagi pada rasa takutnya kepada Akhsan.

Ia menarik lengan Zahra, memaksa gadis yang sudah kehilangan gairah hidup itu untuk berdiri.

"Bibi tidak akan membiarkanmu mati di tangan iblis-iblis itu. Ayo, Non!"

Dengan sisa tenaga yang ada, Bibi Renggo memapah tubuh Zahra yang lunglai.

Setiap gerakan membuat Zahra meringis kesakitan karena luka-luka di sekujur tubuhnya kembali bergesekan. Namun, saat mereka baru sampai di ambang pintu gudang menuju lorong, lidah api yang besar sudah menjilat plafon di depan mereka.

Hawa panas yang luar biasa menyambar kulit. Langit-langit kayu mulai berjatuhan, menciptakan barikade api yang mengepung mereka.

"Allahu Akbar! Non, awas!"

Bibi Renggo mencoba melindungi Zahra, namun sebuah balok kayu yang terbakar jatuh dari atas. Zahra yang posisinya lebih lemah tidak sempat menghindar sepenuhnya.

"AAAGHHH!"

Jerit pilu Zahra memecah kebisingan api saat bara panas membakar punggungnya yang sudah luka-luka.

Bau daging terbakar menyeruak, menambah horor di pagi yang malang itu.

Rasa sakit yang luar biasa itu seolah menjadi alarm terakhir bagi tubuh Zahra untuk bertahan hidup.

"Non! Bertahan, Non!" Bibi Renggo dengan nekat menyeret Zahra menjauh dari reruntuhan itu.

Asap semakin tebal, menutupi pandangan mata Bibi Renggo.

Bibi Renggo teringat ada satu pintu kecil di area belakang dapur yang jarang dikunci dari dalam.

Dengan napas yang tersengal-sengal dan mata yang pedih terkena asap, ia terus memapah Zahra melewati koridor yang sudah seperti neraka.

"Sedikit lagi, Non. Sedikit lagi!"

Bibi Renggo menendang pintu belakang dengan seluruh kekuatannya.

Begitu pintu terbuka, udara segar masuk berebut dengan kepulan asap hitam.

Bibi Renggo membawa Zahra keluar, menjauh dari bangunan mewah yang kini berubah menjadi tungku raksasa.

Di kejauhan, dari balik semak-semak taman samping, Sisilia berdiri dengan senyum kemenangan.

Ia menatap kobaran api itu dengan mata berkilat puas.

Ia yakin, di dalam sana, Zahra sudah menjadi abu. Namun, ia tidak menyadari bahwa di sisi lain rumah, dua sosok wanita sedang berjuang melawan maut, merangkak di atas rumput menuju jalan belakang yang sepi.

Zahra menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.

Menatap rumah yang seharusnya menjadi surga pernikahannya, namun justru menjadi tempat penindasan paling kejam.

"Mas Akhsan, hari ini. Istrimu benar-benar sudah mati." gumam Zahra, sebelum matanya terpejam sepenuhnya di pelukan Bibi Renggo.

1
Fatma
jangan bilang nanti aruna malah balikan sama akhsan, suaminya gmn?
Masha 235
lha terus christian kepiye aruna ...mau diapain ..
my name is pho: sabar kak 🤭
total 1 replies
Piyah
,masa begitu, arunany
Dwi Winarni Wina
balas dendam siap dimulai tunggu kehancuranmu akhsan...
Dwi Winarni Wina
siulet bulu sisil kayak cacing kepanasan🤣🤭
Dwi Winarni Wina
Akhsan merindukan zahra pret tega sekali menyiksa zahra, siap2 aruna cristian akan balas dendam🤣
Dwi Winarni Wina
Zahra akan ganti identitas dengan barunya, siap2 balas dendam...
Dwi Winarni Wina
Zahra adiknya cristian akan membalas dendam sm keluarga hermawan dan akhsan akan melakukan operasi plastik
Dwi Winarni Wina
Zahra balas dendam telah orang2 yg menyakitinya...
Dwi Winarni Wina
bagus cristian selamatkan zahra dari para iblis itu...
Dwi Winarni Wina
zahra bertahan balas org2 telah menyakitimu, jadi zara yg kuat tanggung jangan jadi zahra yg lemah yg mudah ditindas....
Dwi Winarni Wina
Zahra pergi yg jauh akhsan dan orgtua sendiri aja gak peduli sm kamu, ngapain juga bertahan yg ada dapat siksaan aja
Dwi Winarni Wina
cristian bawa zahra pergi jauh daripada disakiti sm akhsan terus...
Dwi Winarni Wina
muncul ulet bulu kegatelan ini🤣🤭
Dwi Winarni Wina
akhsan gak punya hati apa, menyiksa zahra...
Dwi Winarni Wina
sebaiknya pergi yg jauh aja zahra, daripada diperlakukan kayak tahanan...
Dwi Winarni Wina
kejam sekali akhsan sm zahra, zahra istri kamu perlakukan dengan baik..zahra juga tidak bersalah bukan penyebab kematian gea...
𝑸𝒖𝒊𝒏𝒂
klo akhsan disusui mama'y zahra itu sma aja akhsan & zahra saudara sepersusuan & itu hukum'y haram jika mereka brdua menikah
my name is pho: Zahra bukan anak dari mama Hermawan
total 1 replies
Dwi Winarni Wina
Lagian bukan zahra juga penyebab kematian gea kali, seharusnya sadar akhsan menyalahkan zahra teru...
Dwi Winarni Wina
akhsan kejam bingit menuduh zahra penyebab kematian gea, kecelakaan yg menimpa gea karena takdir...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!