Novel ini mengikuti perjalanan Rania menghadapi luka dalam, berjuang antara rasa sakit kehilangan, dendam, dan pertanyaan tentang bagaimana bisa seseorang yang dicintai dan dipercaya melakukan hal seperti itu. Ia harus memilih antara terus merenungkan masa lalu atau menemukan kekuatan untuk bangkit dan membangun hidup baru yang lebih baik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11 Kembali Bertemu Rio
Sinar matahari pagi yang hangat menerobos celah tirai putih di ruang tamu, menyinari tumpukan dokumen perusahaan yang masih terbuka di mejanya. Rania telah menghabiskan sebagian malam untuk mengatur segala sesuatu yang perlu dipersiapkan sebelum menghubungi pengacaranya hari ini. Tangan kirinya secara tidak sengaja menyentuh foto lama di sudut meja—foto dirinya, Arga, dan seorang pria lain dengan senyum lebar yang memperlihatkan persahabatan yang erat. Wajah pria itu masih sangat akrab baginya: Rio, teman masa muda yang juga pernah menjadi sahabat dekat Arga sebelum mereka menikah.
Suara ketukan pintu yang lembut membuatnya terkejut. “Mbak Rania, ada seorang pria bernama Rio yang ingin bertemu dengan Anda,” ucap Bu Sarinah dengan tatapan yang sedikit khawatir. “Dia bilang sudah kenal Anda dari dulu, mbak.”
Rania merasa detak jantungnya berdebar lebih cepat. Sudah bertahun-tahun tidak ada kabar dari Rio setelah dia menikah dengan seorang wanita yang baru dikenalnya kala itu—Maya. Ia segera berdiri dan menggeser rambutnya yang sedikit berantakan. “Silakan ajak dia masuk, Bi. Terima kasih.”
Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan sosok Rio yang kini tampak lebih matang memasuki ruangan. Wajahnya yang dulu selalu ceria kini dipenuhi dengan keseriusan dan bekas kesedihan yang dalam. Ketika matanya bertemu dengan Rania, terlihat sedikit kebingungan dan rasa malu, tapi juga penuh dengan tekad.
“Rania,” panggilnya dengan suara yang dalam, masih seperti yang dia ingat. “Sudah lama sekali tidak bertemu. Maafkan saya datang tanpa pemberitahuan, tapi saya merasa tidak punya pilihan selain datang langsung ke sini.”
“Rio,” jawab Rania dengan suara yang sedikit bergetar, mencoba untuk tetap tenang. “Saya tidak menyangka akan bertemu dengan kamu lagi. Silakan duduk. Apa yang membuat kamu datang ke sini? Apakah ada sesuatu yang terjadi?”
Rio duduk di kursi depan meja, matanya menatap lantai sejenak sebelum kembali menghadap Rania. “Kamu masih menyimpan foto lama kita berdua dengan Arga, ya?” tanya dia dengan nada yang lembut, menyimak tatapan Rania yang mengarah ke foto di sudut meja. “Kita dulu begitu dekat kan? Seperti saudara sendiri. Saya tidak pernah menyangka bahwa hubungan kita akan berakhir hanya karena Maya.”
Rania mengangguk perlahan, rasanya ingin tahu tapi juga merasa ada sesuatu yang tidak beres. “Apa yang terjadi dengan kamu dan Maya, Rio? Saya hampir tidak pernah mendengar kabar tentang kamu berdua setelah pernikahan kalian. Maya selalu bilang bahwa kamu sibuk dengan pekerjaan dan tidak suka untuk keluar bersama teman-teman lama. Kamu juga mengusir Maya tanpa belas kasian, Rio”
Rio menghela napas dalam-dalam, wajahnya menunjukkan perpaduan antara kemarahan dan kesedihan. “Itu semua kebohongan dari Maya, Rania,” ucapnya dengan suara yang mulai mengeras. “Saya datang ke sini karena saya sudah mengetahui tentang apa yang terjadi antara Maya dan Arga. Saya tahu bahwa mereka telah berselingkuh selama beberapa bulan terakhir, bahkan ketika Maya masih menjadi istri saya.”
Kata-kata itu seperti petir yang menyambar langsung ke hati Rania. Ia merasa tubuhnya menjadi kaku, tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Tidak mungkin, Rio. Kamu bilang Maya dan Arga berselingkuh disaat dia masih menjadi istri kamu? Tapi kenapa aku tidak tah, dan sejak kapan. Apa dulu waktu kita menginap di rumah kalian, mereka sudah....!”
“Sepertinya memang pada saat itu, Rania. Kenapa juga saya tidak curiga waktu itu. Disaat kalian berdua menginap di rumah saya, Maya sering keluar dari kamar saya sampai subuh tiba, sebenarnya saya tidak berpikir macam-macam, mungkin waktu itu dia menghabiskan waktu dengan sahabat baiknya yaitu kamu, Rania. Tapi ternyata menghabiskan malam dengan suami kamu."
Ia mengambil selembar kertas dari kantong celananya dan menyerahkannya kepada Rania. Di atasnya tertera bukti foto mesra Maya dan Arga, serta dokumen yang memperlihatkan chat mesra Maya dan arga. “Sejak tiga bulan yang lalu, saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan Maya. Dia sering keluar tanpa alasan yang jelas, sering bilang harus pergi ke luar kota untuk urusan keluarga, dan kadang tidak pulang selama beberapa hari. Saya mulai menyelidiki sendiri dan akhirnya menemukan bukti tentang hubungannya dengan Arga—pesan singkat, tiket pesawat yang sama, bahkan foto mereka berdua yang tersembunyi di ponselnya.”
Rania merasa dada nya terasa sesak. Semua alasan yang pernah diberikan Arga tentang kerja lembur dan Maya tentang urusan keluarga ternyata adalah kebohongan yang telah direncanakan dengan cermat. “Lalu apa yang kamu lakukan setelah mengetahuinya, Rio?” tanya dia dengan suara yang lemah.
“Saya langsung menghadapinya dengan semua bukti yang saya miliki,” ucap Rio dengan tatapan yang terbakar kemarahan. “Saya sangat marah, bukan hanya karena dia telah menghianati saya, tapi juga karena orang yang dia selingkuhi adalah Arga—sahabat saya sendiri, suami dari teman terbaik saya yang pernah selalu membantu orang lain dengan tulus.”
Ia mengangkat kepalanya, matanya menatap Rania dengan penuh rasa hormat dan kesedihan. “Saya menyuruhnya untuk segera mengakhiri hubungan itu dengan Arga dan meminta maaf kepada kamu. Saya bilang bahwa apa yang mereka lakukan adalah salah besar, bahwa mereka telah menyakiti orang yang tidak berdosa dan merusak kepercayaan yang telah dibangun selama bertahun-tahun. Saya bahkan bilang bahwa saya masih mencintainya dan bersedia untuk memberinya kesempatan jika dia bersedia untuk benar-benar berubah dan menjauhi Arga selamanya.”
Tetapi ekspresi wajah Rio segera berubah menjadi penuh dengan rasa sakit dan kekecewaan. “Maya tidak merasa bersalah sama sekali, Rania. Sebaliknya, dia bahkan menantang saya. Dia bilang bahwa hubungan kita tidak ada artinya lagi, bahwa dia dan Arga benar-benar mencintai satu sama lain, dan bahwa dia pasti bisa merebut Arga dari tangan kamu.”
Rania merasa darahnya membeku mendengar kata-kata itu. “Apa yang dia katakan selanjutnya?”
“Dia bilang bahwa dengan menjadi istri Arga, dia akan menjadi istri seorang pengusaha yang kaya raya,” ucap Rio dengan suara yang semakin rendah, penuh dengan rasa malu. “Dia bilang hidupnya akan menjadi sangat sejahtera, bisa membeli barang-barang branded yang selalu dia idam-idamkan, bepergian ke luar negeri kapan saja dia mau, dan tidak perlu lagi hidup dengan kesusahan seperti ketika bersama saya. Dia bilang sudah tidak sanggup hidup bersama saya karena saya hanya seorang pekerja biasa yang miskin dan tidak bisa memenuhi keinginannya akan kehidupan yang mewah.”
Kemarahan mulai membara dalam diri Rania. Semakin dia tahu tentang khianatan Maya, semakin dia menyadari bahwa sahabat yang selama ini dia percayai ternyata adalah orang yang sangat berbeda dari apa yang dia kira. “Jadi dia yang pertama kali meninggalkan kamu, Rio?”
Rio mengangguk dengan mata yang sedikit merah. “Ya. Dia mengambil beberapa barang pentingnya dan pergi tanpa memberi tahu saya kemana dia akan tinggal. Saya mencoba mencari dia selama beberapa minggu, sampai akhirnya saya mendapatkan informasi bahwa dia sekarang tinggal di rumah kamu dan Arga. Itu membuat saya sangat khawatir dan marah sekaligus. Saya tidak bisa membiarkan dia terus tinggal di rumah sahabat yang telah dia khianati dengan cara yang begitu keji.”
Ia kemudian menatap Rania dengan tatapan yang tegas. “Ada sesuatu yang lain yang harus saya katakan, Rania. Setelah Maya pergi, saya menemukan bahwa beberapa barang berharga di rumah kita telah hilang. Perhiasan emas yang merupakan pusaka dari ibunda saya—yang saya serahkan padanya untuk disimpan dengan aman—sudah tidak ada lagi. Bahkan sertifikat rumah ibunda saya yang saya pinjamkan kepadanya karena dia bilang akan membantu mengurus perpanjangan hak milik juga hilang tanpa jejak.”
Rania merasa mulutnya menjadi kering. “Apakah kamu tahu apa yang dia lakukan dengan barang-barang itu, Rio?”
“Saya melakukan penyelidikan sendiri dan menemukan bahwa dia telah menjual perhiasan-perhiasan itu kepada seorang pedagang emas di kota lain,” ucap Rio dengan suara yang penuh dengan kemarahan yang terkendali. “Serta ada bukti bahwa dia telah mencoba untuk menjual sertifikat rumah ibunda saya kepada seseorang dengan harga yang jauh di bawah nilai sebenarnya. Ketika saya menghubungi orang yang bersangkutan, dia bilang Maya mengklaim bahwa rumah itu miliknya dan dia perlu uang tunai dengan cepat.”
Ia mengambil amplop lain dan menyerahkannya kepada Rania. Di dalamnya ada fotokopi bukti transaksi dan pernyataan dari saksi yang bersedia untuk bersaksi. “Itulah mengapa saya datang ke sini, Rania. Saya ingin kamu tahu siapa sebenarnya maya dan arga sebenarnya.Saya tidak mau kamu tertipu dengan sandiwara mereka. Saya juga sudah meminta Maya untuk segera pindah dari rumah kamu. Jika dia tidak mau pergi dengan sukarela saya tidak akan sungkan untuk melaporkannya ke polisi. Selain karena dia telah berselingkuh dan menghianati pernikahan kita, dia juga telah melakukan tindakan pencurian dan mencoba untuk menyalahgunakan hak milik orang lain tanpa izin. Dan ternyata dia sudah tidak ada di rumah kamu sekarang."
Rania menerima amplop dengan tangan yang sedikit bergetar. Hatinya terasa sangat berat mengetahui bahwa korban khianatan Maya tidak hanya dirinya dan Arga, tapi juga Rio yang dulunya adalah sahabat baik mereka berdua. “Terima kasih telah memberitahu saya semua ini, Rio,” ucapnya dengan suara yang penuh rasa hormat. “Saya sudah mengetahui semuanya, Rio. Saat saya ingin memberikan kejutan ke Ibu mertua saya, disana saya mengetahui semuanya, perselingkuhan mereka dan dukungan keluarga arga dengan perselingkuhan anaknya.Saya juga telah menyuruh Arga untuk keluar dari rumah saya, dan tentu saja Maya tidak bisa tinggal di sini lagi. Saya akan memastikan bahwa Arga akan kembali ke asalnya, saat dimana dulu dia tidak mempunyai apa-apa."
Rio mengangguk dengan rasa lega yang terlihat jelas di wajahnya. “Terima kasih banyak, Rania. Saya tahu bahwa kamu juga sedang mengalami masa-masa yang sangat sulit karena perbuatan mereka berdua. Saya sangat menyesal bahwa hal ini harus terjadi pada kamu—kamu yang selalu baik hati dan selalu siap membantu orang lain, terutama Maya yang selama ini kamu anggap seperti saudara sendiri.”
“Kita sama-sama menjadi korban dari kebohongan dan keserakahan Maya, Rio,” ucap Rania dengan lembut. “Saya hanya berharap bahwa semua ini bisa segera berakhir dan kita bisa keduanya mulai hidup baru tanpa ada orang seperti dia di dalamnya.”
Setelah Rio pergi, Rania duduk terdiam sejenak, merenungkan semua yang baru saja dia dengar. Kenangan masa muda dengan Rio dan Arga kembali muncul—kenangan tentang persahabatan yang erat dan harapan akan masa depan yang cerah. Siapa sangka bahwa satu hari nanti, mereka akan mengalami hal yang paling menyakitkan karena orang yang sama.
Rania melihat ke arah foto lama di sudut meja. Ia tahu bahwa jalan menuju pemulihan akan sangat panjang dan penuh dengan tantangan. Namun, dengan mengetahui kebenaran yang sebenarnya dan mendapatkan dukungan dari orang-orang yang benar-benar bisa dipercaya—bahkan dari sahabat lama yang sudah lama tidak bertemu—Rania merasa semakin kuat dan yakin bahwa dia akan bisa melalui semua ini.
Ia bertekad bahwa tidak akan ada satu pun orang yang bisa menyakiti dia lagi dengan cara yang sama. Ia akan melindungi diri sendiri, perusahaan yang telah dia bangun dengan susah payah, dan semua orang yang penting baginya. Dan untuk Maya serta Arga, mereka harus menerima konsekuensi dari setiap tindakan yang telah mereka lakukan.