NovelToon NovelToon
Gadis Pembawa Kemalangan

Gadis Pembawa Kemalangan

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Balas Dendam / Kerajaan
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: VanGenZ

Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.

Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kehendak-Nya

Ruang makan utama dipenuhi cahaya siang yang masuk dari jendela-jendela tinggi. Tirai tipis berwarna gading bergerak perlahan tertiup angin. Meja panjang telah tertata rapi, peralatan perak berkilau, porselen putih dengan tepian emas, dan hidangan hangat yang baru saja disajikan.

Marquess duduk di ujung meja. Di sisi kanannya ada Louis, putra pertama Duke dari utara. Di sisi kirinya duduk Lilith, anggun dalam balutan gaun lembut berwarna gading. Alberto berada tak jauh darinya. Elenna duduk lebih ke tengah, tidak benar-benar jauh. Namun, cukup untuk terasa terpisah. Kael duduk di seberang Elenna, sedikit menyamping dari cahaya utama.

Hidangan pertama baru saja disajikan ketika Louis membuka percakapan.

“Perjalanan kami kemarin cukup menyenangkan,” katanya ringan, menyeka bibirnya dengan serbet. “Meski saya tidak menyangka akan melihat kejadian yang cukup… mengagetkan.”

Sendok Elenna berhenti di-udara.

Marquess tersenyum tipis. “Ah. Jika yang Anda maksud adalah kejadian di taman, saya mohon maaf atas ketidaknyamanan itu.”

Nada suaranya tenang, terkendali, seperti seseorang yang sudah menimbang setiap kata sebelum mengucapkannya.

Louis mengangguk sopan. “Saya tidak bermaksud mencampuri urusan keluarga Anda, Tuan Marquess. Namun, count itu cukup dikenal di wilayah kami. Kabar seperti ini mudah sekali tersebar."

Elenna menunduk. Ia bisa merasakan udara di sekitarnya berubah. Tangannya terasa dingin meski ruang makan hangat.

Lilith meletakkan garpunya perlahan. “Itu hanya kesalahpahaman,” ucapnya lembut. “Adikku tidak pernah berniat mencelakai siapa pun.”

Adikku.

Kata itu kembali terdengar di hadapan orang lain.

Alberto menyambung dengan cepat, seolah tidak ingin jeda terlalu panjang. “Benar. Situasinya kacau. Count juga sedang berada dalam pengaruh alkohol. Semua terjadi begitu cepat.”

Ia tidak menoleh pada Elenna ketika berkata demikian.

Marquess mengangguk pelan. “Masalah ini sedang kami tangani. Hukuman untuk Elenna juga belum diputuskan. Saya ingin memastikan keputusan yang diambil tidak gegabah.”

Hukuman.

Kata itu menggantung berat.

Elenna mencoba mengatur napasnya. Ia tahu ia tidak boleh menunjukkan apa pun. Tidak gemetar. Tidak kecewa. Tidak marah.

Namun suara lain terdengar.

"Jika boleh,” katanya akhirnya.

Kael.

Sejak awal ia hampir tidak berbicara. Ia hanya makan dengan tenang, matanya sesekali terangkat, mengamati satu per satu wajah di meja.

Suaranya tidak keras, tetapi cukup untuk membuat percakapan berhenti.

Sendok Lilith terjatuh mengenai piring.

Beberapa pelayan yang berdiri di sisi ruangan ikut menegang.

Marquess menoleh perlahan.

“Putra kedua Duke… berbicara?”

Louis terkekeh pelan.

“Rumor memang sering dilebih-lebihkan. Kael hanya tidak suka berbicara jika tidak perlu.”

Keheningan semakin berat. Kael tidak menoleh pada siapa pun. Tatapannya tetap lurus.

“Kemarin,” lanjutnya pelan, “aku melihat pelayan itu berbicara dengan Nona Lilith di lorong samping taman, dan mereka tampak… akrab.”

Udara di ruangan seolah membeku.

Lilith menegakkan punggungnya. Namun, senyumnya tidak hilang.

“Aku sering berbicara dengan pelayan, Tuan muda Kael. Itu bagian dari tugasku sebagai putri keluarga ini.”

Nada suaranya tidak bergetar sedikit pun.

Kael tidak membalas. Hanya menatapnya beberapa detik terlalu lama.

Elenna merasakan jantungnya berdetak keras. Ia tidak tahu apakah ia harus merasa lega, atau justru semakin terpojok.

Alberto mengerutkan kening “Jika benar ada percakapan, bukan berarti itu berkaitan dengan insiden yang menimpa Elenna"

Marquess akhirnya berbicara. Suaranya terdengar berwibawa.

“Cukup.”

Semua langsung terdiam.

“Keluarga ini tidak akan diadili di meja makan,” lanjutnya. “Jika ada kecurigaan, aku yang akan menanganinya.” Tatapannya beralih ke Lilith dalam sekejap, lalu langsung beralih ke Elenna

Elenna tidak sanggup merespons apa pun yang mereka katakan. Ia juga tidak benar-benar mendengar isi pembicaraan itu. Ia hanya mendengar ulang kalimat Kael sebelumnya.

“Aku melihat pelayan itu berbicara dengan Nona Lilith.” Kalimat itu berputar-putar di kepalanya.

Ia tidak tahu harus merasa apa.

Jika benar Kael melihat sesuatu, mengapa ia mengatakannya di meja makan?

Jika ia ingin menolongnya… mengapa caranya seperti itu?

Tangannya tanpa sadar meremas kain gaunnya di bawah meja.

Lilith tiba-tiba menoleh padanya lagi “Adik, kau tidak menyentuh makananmu.”

Nada itu terdengar lembut, hampir seperti seorang kakak yang benar-benar mengkhawatirkan adiknya.

Beberapa pasang mata perlahan beralih pada Elenna. Denting sendok yang tadi terdengar pelan kini ikut mereda. Bahkan pelayan yang berdiri di sudut ruangan tampak lebih waspada.

Elenna mengangkat wajahnya perlahan. Ia sadar semua orang sedang menunggu reaksinya.

“Aku sudah makan cukup,” jawabnya tenang.

“Benarkah?” Lilith tersenyum tipis, senyum yang begitu terlatih hingga sulit dicari celahnya. “Aku takut kau masih memikirkan kejadian di taman. Kau tidak perlu merasa terbebani. Semua orang tahu itu hanya kesalahpahaman.”

Kata kesalahpahaman meluncur ringan dari bibirnya, halus, hampir menenangkan. Namun, bagi Elenna kata itu terasa seperti pisau yang dibungkus sutra; tajam, tetapi tidak meninggalkan bekas yang bisa dibuktikan.

Elenna menahan napas sejenak sebelum menjawab. “Ya,” katanya pelan. “Kesalahpahaman.”

Louis menyandarkan dagunya pada punggung tangannya, memandang piringnya seolah pembicaraan itu sekadar hiburan ringan. “Menarik sekali bagaimana kesalahpahaman bisa hampir merenggut nyawa orang."

Ucapan itu tidak keras, tetapi cukup untuk membuat udara kembali menegang.

Alberto langsung menoleh padanya. “Kejadian itu sudah diselidiki. Tidak perlu diperbesar di meja makan.” Nada Alberto terkendali, namun jelas ada ketidaksenangan di dalamnya.

Louis mengangkat bahu santai. “Aku hanya menyatakan fakta.”

Kael tetap diam. Ia duduk dengan postur yang tidak berubah sejak awal, punggung tegak, tangan terlipat rapi di atas meja. Tatapannya sesekali beralih ke Elenna. Bukan dengan rasa ingin tahu. Bukan pula dengan tatapan mencela.

Lebih seperti seseorang yang sedang mengamati retakan pada dinding, retakan yang kecil, tetapi jelas tidak muncul tanpa sebab.

Elenna bisa merasakan tatapan itu, dan justru itulah yang membuatnya semakin tidak nyaman. Ia terbiasa dipandang dengan sinis atau diabaikan sepenuhnya. Tetapi diperhatikan dengan tenang seperti itu terasa asing.

Marquess akhirnya meletakkan serbetnya dengan gerakan terkontrol. Suara kain yang menyentuh meja terdengar lebih tegas dari seharusnya.

“Cukup! ini ditunda sampai penyelidikan selesai,” ucapnya.

"Tidak ada lagi pembahasan.” Nada suaranya datar, tetapi mutlak. Tidak ada yang berani menyela.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang kaku. Pelayan kembali menuangkan teh, seolah percakapan tadi hanyalah gangguan kecil dalam rutinitas.

Namun, sebelum suasana benar-benar pulih, Lilith kembali berbicara, kali ini dengan nada yang lebih lembut.

“Ayah, aku hanya berharap adik bisa lebih berhati-hati,” katanya pelan. “Terkadang orang mudah salah paham terhadap sikapnya yang… terlalu dingin.”

Kata-kata itu tidak terdengar seperti tuduhan.

Namun, juga bukan pembelaan.

Elenna menatap Lilith. Sorot mata kakaknya terlihat tulus di permukaan. Jika seseorang tidak mengenal Lilith, mereka pasti akan mengira ia benar-benar berusaha menjaga keharmonisan keluarga.

Marquess menoleh pada Elenna. “Elenna.”

Suaranya tidak keras, tetapi cukup membuat napas Elenna tercekat.

“Kehormatan keluarga ini sedang menjadi sorotan. Aku menunda hukumanmu bukan karena aku mengabaikan insiden itu, melainkan karena aku ingin semuanya jelas.”

Ia berhenti sejenak, memastikan setiap kata dipahami.

“Selama itu, kau akan tetap menunjukkan sikap pantas sebagai putri keluarga Marquess. Tidak ada keluhan. Tidak ada tindakan ceroboh. Kau akan menghadiri setiap jamuan yang diperlukan dan menjaga nama keluarga ini.”

Kata-kata Marquess bukanlah sebuah permintaan, melainkan adalah perintah.

Elenna merasakan semua tatapan kembali tertuju padanya. Ia tahu jawaban yang diharapkan. Tidak ada kesempatan baginya untuk membantah kata-kata Marquess.

Ia menunduk perlahan. “Ya, Ayah.” Jawaban itu terdengar ringan, hampir tanpa beban. Namun, di dalam dadanya, sesuatu terasa diremas perlahan.

Ia tidak diberi kesempatan menjelaskan apa yang terjadi malam itu.

Ia tidak ditanya apakah ia baik-baik saja.

Ia tidak diminta menceritakan kejadian yang dialaminya malam itu, kejadian yang bukan hanya rekayasa belaka.

Ia hanya diberi peran, dan untuk keluarga ini, itu saja sudah cukup.

Elenna mengangkat kembali sendoknya, memaksakan diri menyentuh makanan di piringnya. Di seberang meja, tawa kecil Lilith terdengar lagi, ringan dan diterima.

Sementara itu, di sudut meja, Kael masih memandang tanpa kata, dan untuk alasan yang tidak bisa ia jelaskan, Elenna merasa bahwa pembahasan ini belum benar-benar berakhir.

1
kinaraa
mau gimana pun Marquess tetap salah sebagai ayah
Ran
huh, ada ya orang tua kek gitu
kinaraa: banyak si ortu yang begitu
total 1 replies
Ran
keren banget Thor alurnyaa🤭
kinaraa
semoga elena ga dapet penderitaan lgi setelah ini fhor
VanGenZ: Author pun berharap begitu
total 1 replies
kinaraa
malah orang asing yang lebih inget sama ultah elena
kinaraa
parah Alberto , padahal di awal keliatan baik dan peduli ma slena
kinaraa
rupanya tuan pengawal misterius adalah putra mahkota yang menyamar
kinaraa
sedih banget elena.
bahkan keluarga sendiri ga inget ultahnha
VanGenZ: Sering terjadi di dunia nyata ya...
total 1 replies
Ran
/Panic//Panic/
Ran
kutarik kata2 ku, ayah ga punya nurani jir
Ran
Marquess ternyata masih punya akal untuk berpikir
Ran
kapan elena bisa ngebales mereka semua Thor? masa dia gada perlawanan terus
VanGenZ: Belum saatnya, memang cerita author tipe perkembangannya slow burn, karna agak sedikit mengarah ke mental juga
total 1 replies
Ran
semangat thor
Ran
fitnah yang kejam..
Ran
kael ternyata masih peduli sama elenna dikala semua tidak memperdulikannya
Ran
kasian banget elena thor
Ran
Alberto sok dingin, nanti juga pasti nyesel
Ran
Thor bagian nama keknya ad typo
VanGenZ: Wah, terima kasih ya atas koreksinya, akan author perbaiki segera
total 1 replies
Ran
heh tiap hari keknya ada aja rencana busuknyaa
Ran
giliran sama putra mahkota malah ciut lu pada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!