Seorang Gadis berambut kepang dua dengan kacamata bulat bernama Arabella Bellvania Laurent. Gadis kutu buku yang menyukai kapten basket bernama Arslan. Namun sayang Arslan mengajak Abel berpacaran hanya untuk sebuah permainan dari teman-temannya. Sebuah ciuman pertama bagi Abel terus membekas meski kenyataan pahit bahwa hubungannya adalah sebuah taruhan. 5 tahun berlalu, keduanya belum dapat mendapatkan cinta sejati masing-masing.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yun Alghff, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Putri Kecil Ayah
Malam itu, hujan turun dengan tenang di luar, menciptakan suasana hangat di dalam perpustakaan pribadi kediaman Laurent. Abel sedang duduk di sofa besar, tenggelam di antara tumpukan jurnal psikologi, sementara Ayahnya duduk di meja kerja kayu jati yang berat, berkutat dengan tablet grafis dan beberapa cetak biru teknologi.
Suasana hening itu tiba-tiba pecah oleh suara dehaman berat sang Ayah.
"Arabella," panggil Ayahnya tanpa menoleh, suaranya terdengar kaku namun dalam.
Abel mendongak. "Iya, Yah?"
Ayahnya bangkit, berjalan mendekat dengan langkah tegap khas seorang pria yang terbiasa memimpin perusahaan besar. Ia berdiri di depan Abel, melipat tangan di dada, lalu menatap adiknya dengan alis yang bertaut.
"Sudah jam berapa ini? Kamu pikir mata yang sudah diusahakan Kak Sarah agar sehat itu bisa dipakai untuk membaca tulisan sekecil semut di bawah lampu remang-remang seperti ini?" omel Ayahnya. Nada suaranya tegas, seolah sedang menegur karyawan yang melakukan kesalahan fatal.
Abel tersenyum kecil. Ia tahu ini bukan kemarahan, melainkan bentuk kasih sayang yang diterjemahkan ke dalam bahasa disiplin. "Sedikit lagi, Yah. Aku lagi baca kasus untuk laporan besok."
"Tidak ada sedikit lagi," Ayah mengambil jurnal di pangkuan Abel dengan gerakan cepat, namun sangat hati-hati agar tidak merobek kertasnya. "Psikolog juga manusia, mereka butuh tidur agar otaknya tidak konslet. Kamu mau jadi psikolog yang malah butuh psikolog karena kurang tidur?"
Abel tertawa pelan. "Ayah kalau ngomel kayak gini mirip Kak Reno."
"Reno itu belajarnya dari Ayah," jawab Ayahnya pendek. Ia kemudian duduk di samping Abel, menyandarkan tubuhnya yang mulai terlihat lelah. Tangan besarnya yang kasar perlahan bergerak mengusap puncak kepala Abel—sebuah gestur yang sangat jarang ia tunjukkan di depan orang lain. "Minum susunya. Tadi Bunda sudah buatkan, sudah hampir dingin di meja."
Abel melihat gelas susu cokelat hangat yang memang sudah disiapkan di sana. Ia menyesapnya perlahan, merasakan hangatnya menjalar ke seluruh tubuh.
"Ayah lihat akhir-akhir pengobatan matamu berjalan lancar, wajah tanpa kacamata itu ㅡ" ujar Ayah sambil memerhatikan wajah Abel dengan saksama. Tatapannya yang tadi tajam kini melunak, penuh dengan binar kebanggaan. "Kamu mirip sekali dengan Bunda saat masih muda. Cantik. Tapi ingat, wajah cantik jangan dipakai untuk cemberut hanya karena Ayah omeli soal jam tidur."
Abel meletakkan kepalanya di bahu sang Ayah—sesuatu yang berani ia lakukan hanya saat mereka sedang berdua saja. "Aku justru senang kalau Ayah omeli. Artinya Ayah lagi nggak sibuk sama robot-robot di kantor."
Ayah terdiam sejenak, lalu menghela napas panjang. Ia merangkul bahu putri satu-satunya itu dengan protektif. "Robot-robot itu tidak akan bisa memeluk Ayah kalau Ayah tua nanti. Tapi putri Ayah yang bandel ini... dia yang paling penting."
Ayah kemudian merogoh saku piyamanya dan mengeluarkan sebuah kotak kecil berisi cokelat hitam favorit Abel. "Makan ini setelah susunya habis. Tapi jangan bilang Bunda, nanti Ayah yang kena omel karena kasih kamu gula malam-malam."
Abel memeluk Ayahnya erat, menghirup aroma kayu cendana yang menenangkan dari tubuh pria itu. Di balik kekakuan dan disiplin yang diterapkan keluarganya, Abel sadar bahwa ia adalah pusat semesta bagi para pria di hidupnya—Reno dan Ayahnya.
"Sudah, sekarang masuk kamar. Besok Ayah yang antar kamu ke kantor. Tidak ada bantahan," ucap Ayahnya kembali ke mode instruktur, namun sambil membantu Abel berdiri dan menepuk bahunya lembut.
Abel melangkah menuju kamarnya dengan hati yang penuh. Omelan Ayahnya adalah musik paling merdu yang membuatnya merasa sangat dicintai.
Pagi itu, suasana di lobi kantor pusat Laurent Group terasa lebih tegang dari biasanya. Para karyawan berdiri lebih tegak, suara ketikan keyboard di meja resepsionis terdengar lebih ritmis, dan para manajer merapikan jas mereka dengan gugup. Kabar bahwa sang Singa Tua—pendiri perusahaan yang dikenal dengan disiplin besinya—hadir di kantor pusat, menyebar lebih cepat dari koneksi internet Wi-Fi.
Pintu otomatis lobi terbuka. Sosok pria tinggi besar dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah masuk. Wajahnya datar, matanya tajam menyapu ruangan, membuat beberapa orang yang berpapasan dengannya langsung menunduk hormat.
Namun, pemandangan berikutnya membuat seisi lobi seolah berhenti bernapas.
Tuan Laurent tidak berjalan menuju lift eksekutif sendirian. Ia menggandeng tangan seorang wanita muda yang tampak anggun yang tanpa kacamata bulatnya. Dan yang lebih mengejutkan lagi, tangan kiri sang pemilik perusahaan itu memegang sebuah tas bekal berwarna pastel dengan gantungan kunci boneka kecil.
"Yah, tasnya aku bawa sendiri saja. Malu dilihat orang," bisik Abel, wajahnya memerah saat menyadari puluhan pasang mata menatap ke arah mereka.
"Kenapa harus malu?" jawab Ayah dengan suara baritonnya yang menggema, tanpa mengubah ekspresi kaku di wajahnya. "Tas ini berat karena isinya vitamin dan bekal sehat dari Bunda. Kalau talinya putus dan tasnya jatuh, vitaminmu hancur. Ayah tidak mau kamu jajan sembarangan di kantin."
Reno, yang baru saja keluar dari ruang rapat di lantai bawah, membeku di tempat melihat pemandangan itu. Ia menghampiri mereka dengan dahi berkerut.
"Yah? Ayah benar-benar antar Abel sampai ke dalam?" tanya Reno tak percaya. "Biasanya Ayah kalau ke kantor langsung ke ruang rapat tanpa mau disapa siapa pun."
Ayah menatap Reno datar. "Itu kalau Ayah sedang bekerja. Sekarang Ayah sedang menjalankan tugas sebagai Ayah. Ambil ini."
Ayah menyerahkan tas bekal pastel itu kepada Reno. Reno menerimanya dengan canggung, merasa seperti asisten rumah tangga di depan staf-stafnya sendiri.
"Pastikan dia makan siang tepat waktu. Kalau jam satu siang dia belum menyentuh bekal ini, Ayah akan potong anggaran riset departemen mu," ucap Ayah, memberikan ancaman profesional untuk urusan personal.
Sebelum Ayah pergi, ia berhenti di depan Abel. Ia mengabaikan semua mata yang menonton dan perlahan merapikan kerah blazer Abel yang sedikit melipat.
"Bekerjalah dengan baik. Gunakan ilmumu untuk membaca orang-orang di sekitarmu, tapi jangan lupa gunakan hatimu untuk menjaga dirimu sendiri," ucap Ayah pelan. Ia lalu mencium kening Abel dengan lembut—sebuah tindakan yang membuat para staf wanita di lobi hampir memekik tertahan karena tidak menyangka sang bos besar memiliki sisi semanis itu.
Ayah kemudian mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya dan mengusap sedikit noda sisa cokelat sisa tadi pagi saat dalam perjalanan yang mungkin tertinggal di sudut bibir Abel. "Dan jangan terlalu banyak berdebat dengan Reno. Kalau dia galak, telepon Ayah. Biar Ayah yang cabut izin mengemudinya."
Abel tertawa kecil, rasa malunya berganti menjadi rasa hangat yang membuncah. "Iya, Yah. Ayah hati-hati di jalan."
Tuan Laurent mengangguk kaku, kembali ke mode formalnya, lalu berbalik dan berjalan keluar dengan langkah gagah. Begitu pintu mobil tertutup, suasana lobi yang tadinya beku mendadak riuh dengan bisikan.
Reno berjalan di samping Abel menuju lift, masih memegang tas bekal pastel itu. "Lo lihat kan? Ayah itu kalau sama gue cuma nanya laporan laba rugi. Kalau sama lo, dia berubah jadi asisten pribadi. Gue rasa kalau Ayah bisa, dia bakal pasang karpet merah dari parkiran sampai meja kerja lo."
Abel tersenyum simpul, memeluk lengan kakaknya. "Ayah cuma sayang kita dengan cara yang beda, Kak."
"Sangat beda," gumam Reno sambil melihat tas bekal di tangannya. "Gue berani taruhan, di dalem sini pasti ada surat kecil dari Ayah yang isinya nyuruh lo minum air putih delapan gelas sehari."
Dan benar saja, saat Abel membuka tas bekalnya di ruangan, ada secarik kertas kecil dengan tulisan tangan Ayahnya yang rapi namun kaku:
Fokus pada pekerjaan, tapi jangan biarkan pekerjaan memakan waktumu untuk bahagia. - Ayah.