NovelToon NovelToon
Cinta Salah Sasaran

Cinta Salah Sasaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Persahabatan / Romansa
Popularitas:6.7k
Nilai: 5
Nama Author: Sabia X

Kirana adalah gadis ceria, polos dan kebal bully apa jadinya kalau ia bertemu dengan seorang pemuda raja bully yang tidak sengaja mobilnya ia tabrak saat pulang dari kampus, dan parahnya ia harus rela menjadi pelayan dirumah pemuda itu, karena sang pemuda dendam gara-gara kejadian itu ia diputuskan pacarnya, baca keseruan, kekonyolan dan kekocakan mereka berdua di novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sabia X, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Minggat

Kirana meneguk air dalam gelas dihadapannya sebelum menjawab pertanyaan Eli.

“Katanya gak punya duit, mau masukin  adek sekolah, gue kan juga mau kuliah, kayak elo mau ngejar cita-cita jadi sekertaris biar bisa dapat CEO ganteng kayak yang di novel-novel, emang emak gak punya perasaan, pokoknya aku mau ngambek, gak mau pulang, aku mau tidur sini.” rajuk Ana, membuat Eli tersenyum geli, bahasa Ana yang selalu campur aduk antara aku, gue, membuat Eli hanya mencibir.

“Alah, omonganmu itu gak bisa di percaya, bentar lagi loe juga pasti balik, kalau ditelfon sama emak, jangan jadi anak durhaka loe, emak loe gedek aja, tampang pas-pasan sok mau jadi sekertaris, dan dapetin CEO, halu, dunia novel loe percaya, paling loe juga dapet CEO tua bangka yang sudah bau tanah, mau loe.” goda Eli sembari tersenyum geli.

“Nah, pas itu gak papa, malah bagus, gue dapat hartanya.” jawab Ana terkekeh, membuat Eli frustasi dengan jawaban Ana yang diluar BMKG, bukannya ngeri dapat kakek-kakek, malah seneng karena mau hartanya, sungguh otak temennya itu ajaib apa gak mikir kalau seandainya harta itu dikasihkan anaknya semua, kan dia yang rugi, temennya benar-benar asu.

Tidak berselang lama mereka sudah rebahan dikamar Eli, dengan Ana yang sudah menguasai tempat tidur dengan tidak tahu dirinya.

“Hei kodok, jauh-jauh jangan peluk-peluk geli gue.” ucap Eli menyingkirkan kaki dan tangan Ana yang sudah melingkar ditubuhnya.

“Gue gak bisa tidur kalau gak ada yang dipeluk kampret, sini in guling loe kalau gitu.” balas Ana gak mau kalah.

“Et dah, mending loe pulang aja, ngerecokin tahu gak,” usir Eli galak.

“Gak mau, gue kan lagi ngambek sama emak, yang ada kalau gue pulang diketawain sama emak, mikir gak sih loe.” jawab Ana sewot.

“Lagian juga loe ngapain ngambek, kan bisa kuliah tahun depan, kalau emang gak ada dananya.” Eli memberi solusi, namun wajah Ana langsung masam bibirnya langsung monyong dua Senti.

“Ih.. loe paham gak sih, emak itu bukannya gak punya duit, tapi pelit, aku sudah seperti anak pungut aja selalu di nomor dua kan.” Eli memandang Ana, dan mencibir.

“Alah, kalau gak gitu kan kamu gak bisa mandiri, sudah diomeli emak tiap hari aja bisanya loe juga masak mie, kalau jadi emak loe udah gue ulek wajah loe itu, masih gak bersyukur, begitu juga emak loe masih ngasih makan dan gak maksa loe untuk bisa masak, emak loe hanya mikir, kalau loe kuliah dan jauh, gimana nasib loe, masak aja gak bisa, apa gak tinggal tulang tu tubuh loe makan mie tiap hari.” ucapan Eli sadis. semakin membuat bibir Ana mengerucut lima Senti, antara kesal dan juga membenarkan ucapan sahabatnya, tapi jatahnya Ana yang ngeyelan dan gak mau kalah ia tetap membalas perkataan sahabatnya.

“Tapi aku kan mau kuliah, kan bisa makan di kantin, nanti aku belajar masak deh.” jawabnya penuh percaya diri, tapi Eli menyangsikan ucapan sahabatnya itu karena ia sudah tahu bagaimana watak sahabat nya yang gampang berubah sebelum menjalankan apa yang ia rencanakan.

“Alah gak percaya sama mulutmu itu, ayo buruan tidur, sudah malam.” ucap Eli memberikan guling nya, sembari menepuk pucuk kepala Ana layaknya sang emak agar gadis itu tidak protes lagi. Ana hanya nyengir dan mulai memejamkan mata, sedangkan emak nya dirumah kalang kabut mencarinya, karena anak bandelnya tidak ada di kamarnya.

“Pak, Ana gak ada Lo ini di kamarnya, coba cari napa, kalau beneran minggat gimana?.” ucap Ningsih menggoyangkan bahu suami nya yang santai duduk di sofa sembari menonton tv.

“Kayak gak tahu anak itu aja to, paling juga nginep tempat Eli, mau kemana lagi coba bocah itu, udah biarkan aja, besok juga balik lagi.” jawab pak Adam santai, tanpa khawatir, karena ia tahu anaknya tidak mungkin pergi jauh, Ningsih menghela nafas berat menatap ke langit-langit rumah, walau anaknya bandel dan selalu bikin darah tinggi naik, tapi ia sangat khawatir kalau anak itu pergi jauh darinya, karena Ana adalah gadis polos, ia hanya khawatir kalau nanti ia kuliah dikota dan dimanfaatkan orang lain, walau kelihatan kuat dan kebal bully namun anaknya terlalu polos, dan ia khawatir, pak Adam yang melihat istrinya terdiam, ia tahu istri nya sangat memikirkan permintaan anaknya.

“Biarkan Ana mengejar cita-cita nya, biar Ana mencoba mandiri kita hanya perlu mendoakan saja,” pak Adam memberi nasihat agar istrinya tidak terlalu khawatir dengan permintaan anaknya, akhirnya Ningsih hanya menghela nafas dan mengangguk, pasrah mencoba mengikhlaskan  anaknya untuk kuliah, sementara dibalik pintu sebuah kamar gadis yang baru menginjak remaja itu tersenyum mendengar keputusan orang tuanya, ia tidak mau menjadi alasan untuk kakaknya tidak melanjutkan pendidikannya, walau mereka sering saling berantem, tapi mereka adalah keluarga yang saling menyayangi.

Ana membuka matanya begitu mendengar teriakan sahabatnya.

“Woy pemalas bangun loe udah siang ini, gak mau balik Loe.” teriak Eli menyingkap selimut Ana, gadis itu hanya menggeliat malas. Dengan mata masih terpejam ia menjawab.

“Gue kan masih mode minggat kenapa loe suruh pulang, lagian ini hari libur rese banget sih loe, gue masih ngantuk.” Eli berkacak pinggang dengan kesal, sahabatnya ini benar-benar bikin naik darah, matahari sudah tinggi malah masih molor.

“Gue tinggal loe, gue mau beli bubur ayam depan gang.” seru Eli yang langsung membuat mata Ana seketika melek mendengar kata bubur ayam, mana mungkin ia melewatkan bubur ayam enak buatan mbok Inem.

“Awas kalau ninggalin gue loe.” teriak Ana yang langsung bangkit dan menuju kamar mandi, membasuh mukanya secara kilat, membuat Eli tertawa geli.

“Dasar, gue tunggu didepan.” balas Eli berteriak dan keluar dari kamar, dan menunggu sahabatnya didepan rumah, banyak tetangga yang menyapanya begitu melihat Eli berdiri didepan rumah, Eli hanya mengangguk dan tersenyum ramah membalasnya. Terlihat Ana berlari dengan cepat memakai sendalnya .

“Ayo, berangkat.” ajaknya dengan nafas yang masih ngos-ngosan setelah berlari dari kamar.

“Dasar temen laknat, ditungguin malah ninggal batal nih bubur ayam nya.” teriak Eli, Ana hanya nyengir mendengar ucapan sahabatnya yang tidak serius itu.

“Gitu aja ngambek, baru ditinggal lima langkah loh ini, gimana nanti kalau kita jauhan sampe lima tahun bisa pura-pura gak kenal saking marahnya, awas loe ya jangan kangen.” ledek Ana balik.

“Najis, ngapain gue kangen ma loe yang bikin rusuh tiap hari, malah tenang hidup gue tanpa gangguan, gak ada saingan yang rebut hati ibu gue, noh loe hidup sana sama khayalan loe jadi sekertaris CEO tuan muda, masak aja gak bisa mau jadi sekertaris.” balas Eli menggeplak kepala Ana pelan.

“Alah bilang aja loe gak rela jauh dari gua, sepi kan loe gak ada yang ngerecokin,” ucap Ana masih ngeyel gak mau kalah.

“Banyak bacot loe buruan lari keburu habis entar buburnya.” Eli menarik lengan Ana agar berlari sementara Ana yang mendapat tarikan, sampai terhuyung-huyung mengikuti langkah cepat Eli yang setengah berlari. Emang sialan sahabatnya sudah tau kalau Ana paling tidak suka kalau diajak berlari, karena nafas nya selalu tersendat-sendat dan ia pasti akan engap seperti ikan koi yang tergeletak dilantai tanpa air, namun Eli mana mau perduli ia malah suka melihat Ana sengsara, karena sekali-kali temannya itu harus dikasih paham kalau olahraga itu menyehatkan bukan penyiksaan seperti yang Ana katakan seperti biasanya, emang agak lain temannya yang satu ini. Setelah mereka selesai makan bubur ayam langganan mereka ditengah perjalanan pulang mereka berpapasan dengan emaknya Ana, yang langsung terjadi lah drama.

“Anak kodok, pulang gak loe mau emak bacem loe pake acara minggat segala, bikin malu emak aja loe makan tidur numpang rumah orang, kayak udah bisa apa-apa sendiri aja loe ya, tak kasih sekalian loe sama pak Dudung biar dijadiin loe istri ke empat biar gak nyusahin emak lagi, nyaman loe sana tinggal guling-guling aja dikasih duit.” cerocos Ningsih sembari menjewer telinga Ana dan ditariknya untuk pulang sementara gadis itu mengaduh memegangi telinga nya yang bernasib sial pagi itu tanpa bantahan, sementara Eli hanya terdiam melongo melihat drama pagi keluarga temannya.

“Eli, terimakasih sudah menampung anak emak, nanti kalau balik ketempat loe, langsung usir saja pake sapu.” teriak Ningsih tega.

“Beres Mak!” balas Eli sembari terkekeh melihat Ana yang mengepalkan tinjunya kearahnya.

1
Ria Ningsih
up nya 2 x sehari kak klau bsa
Sabia X: Waduuh, keriting nanti otak sama jariku kak Ria, 🤣 diusahakan.
total 1 replies
Heni Mulyani
lanjut
Heni Mulyani
lanjut.tetap semangat up nya
Heni Mulyani: tetap semangat
total 2 replies
Ria Ningsih
ceritanya seru
Sabia X: terimakasih..👍
total 1 replies
Zanahhan226
‎Halo, Kak..

‎Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!

‎Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
‎Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..

‎Ditunggu ya, kak..
‎Terima kasih..
‎🥰🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!