NovelToon NovelToon
REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

REINKARNASI ISTRI TERBUANG: Balas Dendam Sang Cleaning Service

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Reinkarnasi / Balas Dendam
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wahidah88

"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2: Pertemuan dengan Sang Rival

​Aroma cairan pembersih lantai yang menyengat menusuk hidung Clarissa. Ia menatap pantulan dirinya di lantai marmer lobi K-Corp yang baru saja ia pel. Seragam biru kusam ini terasa sangat kasar di kulitnya yang dulu selalu dimanjakan dengan sutra dan perawatan jutaan rupiah.

​"Lestari! Malah melamun lagi!" teriakan Bu Ratna, sang pengawas cleaning service, menggelegar. "Cepat bersihkan lorong depan ruang VIP! Tuan Devan Mahendra dari Mahendra Group hampir sampai. Kalau ada satu debu pun yang menempel di sepatunya, kepalamu taruhannya!"

​Devan Mahendra? Clarissa menghentikan gerakan tangannya. Nama itu memicu memori di kepalanya. Devan adalah satu-satunya pria yang tidak pernah bisa ia taklukkan dalam negosiasi bisnis. Pria kaku, dingin, dan sombong yang selalu menjadi rival terberatnya saat ia masih menjadi CEO.

​"Dunia memang sempit," gumam Clarissa sambil menyeringai tipis. "Mari kita lihat apakah si Tuan Sempurna itu masih sedingin dulu."

​Clarissa menyeret ember dan alat pelnya menuju lantai atas. Saat ia tiba di lorong VIP, suasana sangat tegang. Para staf K-Corp berbaris rapi dengan wajah pucat. Di ujung lorong, pintu lift terbuka.

​Tap. Tap. Tap.

​Suara langkah sepatu pantofel yang tegas menggema. Seorang pria jangkung dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah keluar. Rambutnya disisir rapi, rahangnya tegas, dan matanya yang tajam seperti elang seolah bisa menembus apa pun yang ia lihat.

​Itulah Devan Mahendra. Aura kepemimpinannya begitu kuat hingga Clarissa bisa merasakan bulu kuduknya meremang.

​Di belakang Devan, Kenzo berjalan dengan senyum palsu yang memuakkan. "Tuan Devan, terima kasih sudah bersedia datang. Mari, ruang rapat sudah siap."

​Devan tidak menjawab. Ia bahkan tidak melirik Kenzo. Namun, langkahnya tiba-tiba terhenti tepat di depan Clarissa yang sedang berpura-pura sibuk menggosok sudut dinding.

​Clarissa menunduk dalam, menyembunyikan wajahnya di balik poni rambut Lestari yang agak berantakan.

​"Berhenti," suara Devan terdengar berat dan dingin.

​Seluruh orang di lorong itu menahan napas. Kenzo mengerutkan kening. "Ada apa, Tuan Devan? Apakah ada yang salah dengan lantai ini? Hei, kau pelayan! Minggir!"

​Clarissa hendak bergeser, namun ujung sepatu Devan menginjak kain pelnya.

​"Kau," ucap Devan sambil menatap puncak kepala Clarissa. "Angkat kepalamu."

​Clarissa jantungnya berdegup kencang. Apakah dia mengenaliku? Tidak mungkin. Wajah Lestari sangat berbeda dengan wajahku dulu.

​Dengan perlahan, Clarissa mendongak. Matanya bertemu dengan mata hitam pekat milik Devan. Untuk sesaat, waktu seolah berhenti. Clarissa tidak menunjukkan ketakutan seperti pelayan lainnya. Ia menatap Devan dengan tatapan yang tenang, bahkan sedikit menantang.

​Devan tertegun. Ia melihat sesuatu yang sangat familiar di mata gadis pelayan ini. Sebuah binar kecerdasan yang hanya dimiliki oleh satu orang yang ia kenal. Seseorang yang kabarnya tewas dalam kecelakaan semalam.

​"Siapa namamu?" tanya Devan.

​"Lestari, Tuan," jawab Clarissa singkat.

​Kenzo tertawa meremehkan. "Dia hanya pelayan baru yang tidak tahu tata krama, Tuan Devan. Jangan biarkan dia mengganggu waktu Anda yang berharga. Biar saya yang membereskannya nanti."

​Kata "membereskannya" dari mulut Kenzo membuat tangan Clarissa mengepal pada gagang pel. Devan menyadari perubahan emosi kecil itu.

​"Tunggu," Devan melirik dokumen yang dibawa asisten Kenzo, lalu melirik kembali ke arah Clarissa. "Kenzo, aku mendengar desas-desus bahwa istrimu, Clarissa, adalah otak di balik kontrak ini. Sekarang dia sudah tidak ada, bagaimana aku bisa yakin K-Corp tidak akan bangkrut dalam tiga bulan?"

​Wajah Kenzo memerah karena malu dan marah. "Tentu saja tidak! Saya yang memimpin perusahaan ini, Clarissa hanya membantu sedikit."

​Clarissa hampir saja tertawa keras mendengar kebohongan itu. Tanpa sadar, ia bergumam sangat pelan, "Membantu sedikit? Tanpa Clarissa, kau bahkan tidak tahu cara membaca laporan laba rugi dengan benar."

​Meskipun sangat pelan, Devan mendengarnya. Alisnya terangkat. Pria itu tiba-tiba membungkuk, mendekatkan wajahnya ke telinga Clarissa.

​"Apa kau bilang?" bisik Devan, membuat napas hangatnya terasa di kulit Clarissa.

​Clarissa tersentak dan mundur selangkah. "Saya... saya bilang lantai ini sangat licin, Tuan. Hati-hati jangan sampai Anda terpeleset seperti reputasi seseorang."

​Mata Devan berkilat. Ada ketertarikan yang muncul di wajahnya yang sedingin es. "Menarik."

​Devan berbalik menatap Kenzo. "Aku membatalkan rapat hari ini."

​"Apa?! Tapi Tuan Devan, kita sudah menjadwalkan ini sejak bulan lalu!" Kenzo panik.

​"Aku tidak berbisnis dengan pria yang membiarkan pelayannya lebih pintar darinya," ucap Devan pedas. Ia kemudian menunjuk ke arah Clarissa. "Kau, gadis pelayan. Ikut aku."

​"Hah?" Clarissa melongo. "Tapi saya belum selesai mengepel, Tuan."

​"Aku tidak minta pendapatmu. Ikut atau aku akan memastikan perusahaan ini memecatmu sekarang juga," ancam Devan tanpa ekspresi.

​Kenzo tampak bingung sekaligus kesal, tapi dia tidak berani membantah Devan. "Lestari! Ikut saja dengan Tuan Devan! Jangan bikin malu!"

​Clarissa mendengus dalam hati. Baiklah, Kenzo. Lihat saja bagaimana aku menggunakan musuhmu untuk menghancurkanmu.

​Clarissa meletakkan alat pelnya dengan kasar dan berjalan mengikuti Devan menuju lift. Di dalam lift yang sempit, hanya ada mereka berdua. Keheningan terasa sangat mencekam.

​"Kau bukan sekadar tukang pel, kan?" Devan memecah keheningan tanpa menoleh.

​"Saya hanya orang miskin yang butuh uang, Tuan," jawab Clarissa, mencoba kembali ke perannya sebagai Lestari.

​Devan tiba-tiba menyudutkan Clarissa ke dinding lift, mengunci tubuh gadis itu dengan kedua tangannya. Ia menatap tajam ke dalam mata Clarissa.

​"Jangan berbohong padaku. Orang miskin tidak tahu apa itu 'reputasi perusahaan'. Dan orang miskin tidak akan menatapku seolah-olah aku adalah bawahannya. Katakan padaku, siapa kau sebenarnya?"

​Clarissa menahan napas. Wajah Devan hanya berjarak beberapa sentimeter darinya. Ia bisa melihat setiap detail wajah tampan itu. Namun, bukannya takut, insting "Boss Queen"-nya justru keluar.

​Clarissa tersenyum miring, lalu dengan berani ia merapikan dasi Devan yang sedikit miring. "Tuan Devan yang terhormat... bukankah terlalu cepat untuk menanyakan identitas seorang gadis di pertemuan pertama?"

​Devan terpaku. Gerakan tangan gadis ini... sangat elegan. Benar-benar mirip dengan Clarissa.

​"Jika Anda ingin tahu siapa saya," lanjut Clarissa dengan suara rendah yang menggoda, "belikan aku makan siang yang layak dulu. Perutku lapar karena harus mengepel kantor mantan suam—maksudku, kantor Tuan Kenzo seharian."

​Lift terbuka. Devan melepaskan kunciannya, namun matanya tidak lepas dari Clarissa.

​"Baiklah. Kita lihat seberapa mahal harga informasi darimu, Lestari."

​Devan menarik tangan Clarissa menuju mobil Rolls-Royce miliknya yang terparkir di depan kantor. Semua mata karyawan K-Corp tertuju pada mereka. Di kejauhan, Clarissa melihat Angelica yang baru datang tampak melongo melihat "si tukang pel" diseret oleh konglomerat paling berpengaruh di negara ini.

​Clarissa masuk ke dalam mobil mewah itu dengan kepala tegak.

​Kenzo, Angelica... hari ini kalian membuangku ke tempat sampah. Besok, aku akan kembali sebagai mimpi buruk yang tidak akan pernah bisa kalian lupakan.

​Namun, saat pintu mobil tertutup, Devan tiba-tiba mengeluarkan sebuah ponsel dan menunjukkan sebuah berita di layar.

​"Istri Kenzo, Clarissa, dinyatakan tewas kecelakaan semalam. Tapi kenapa... denyut nadimu terasa begitu cepat saat aku menyebut namanya?" Devan menggenggam pergelangan tangan Clarissa, mencari denyut nadinya.

​Clarissa menelan ludah. Sial, pria ini terlalu peka!

1
Mommy Ayu
sepertinya insting Devan lebih tajam dari pada mantan suami Clarissa
Mommy Ayu
aku mampir Thor ..
Leebit
hehe.. nggak apa-apa.. makasih ya udah berkunjung ke novel ku, masih juga untuk komentarnya😁
shabiru Al
apa anak kecil yang dcoret itu adalah pria dengan wajah yang terbakar ? bara... adik dari clarissa... ? benar2 membingungkan,, dan organisasi naga hitam,, apa sebelumnya lestari membuat perjanjian ya...
shabiru Al
hadeuh perebutan harta dan kekuasaan yang bikin pusing
shabiru Al
dan laki2 misterius itu adalah anak yang wajahnya dcoret dala foto lama,, ya kaan
shabiru Al
ceritanya bagus,, sayang belum bisa ngasih poin,, ntar ya thor besok ta kasih vote
shabiru Al
nah ini baru ceweknya badas gak menye menye gak selalu berlindung d bawah ketiak laki2
Leebit
Makasih.. jangan hanya mampir, singgah juga boleh, hehe😁😊
shabiru Al
mampir ya thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!