NovelToon NovelToon
Satu Alasan Untuk Bertahan

Satu Alasan Untuk Bertahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Gadis nakal / CEO / Cintamanis / Psikopat itu cintaku / Cinta pada Pandangan Pertama / Mafia
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: LIXX

Elyra Azzahra mencintai Leonard Attahaya tanpa mengetahui siapa sosok Leonard sebenarnya.

Saat kebenarannya terungkap nyatanya perbedaan kasta dan jurang sosial menjadi titik kehancuran keyakinan Elyra akan cinta, namun dia tetap memilih bertahan.

Namun, harapan itu kembali runtuh ketika Leonard ternyata telah dijodohkan. Dalam kehilangan, Leonard memberontak, dan rela mengorbankan segalanya demi Elyra. Bagi Elyra dunia adalah cinta dan cinta bukan berarti dunia.

Mampukah Elyra bertahan demi cinta? atau justru menyerah dengan dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon LIXX, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Salah Tingkah

Leon sudah rebahan di tempat tidurnya, ponsel di tangan. Ia menatap layar beberapa detik sebelum akhirnya menekan panggil.

“Miss call aja…” gumamnya baru sebentar, klik.

“Halo…” suara Elyra terdengar pelan. Leon langsung kaku.

“…Kok diangkat sih,” katanya refleks. Elyra terkekeh kecil gugup.

“Kamu yang nelpon…” jawabnya, ya padahal dia juga sedang menimang apa dia kirim pesan pada Leon atau tidak ya?

“Oh. Iya… maksudnya, ehem-” Leon berdehem. “Kupikir kamu udah tidur.”

“Belum,” jawab Elyra singkat, seketika hening tercipta di antara keduanya. Beberapa detik hanya terdengar napas. Leon mengusap tengkuknya.

“Lagi… ngapain?” tanya Leon lagi, dia benar-benar suka dengan suara Elyra, tapi malah kikuk yang tercinta.

“Rebahan.” Jawab Elyra singkat, dia menjawab singkat karena dia juga berusaha menahan gugup dan jantungnya yang berdebar tak karuan.

“Kamu?” tanya balik Elyra, dia menggigit bibir bawahnya.

“Sama…” jawab Leon, seketika diam lagi. Canggung tapi hangat. Elyra menggigit bibirnya lagi.

“Leon…” lirih Elyra.

“Iya?”

“Kamu kok diem?” tanya lagi Elyra, Leon terkekeh kecil gugup.

“Kamu juga.”

“…”

“…”

Hening, tapi tak ada yang menutup telepon. Leon menarik napas pelan.

“Hari ini… capek ya?” tanya lagi Leon, dia menatap langit-langit kamarnya.

“Iya,” jawab Elyra lirih.

“Hmm…” kembali sunyi, tapi sunyi itu justru terasa nyaman. Leon menutup matanya.

“Kalau mau tidur… nggak apa-apa.” ucap Leon lagi, dia hanya ingin mendengar suara gadis itu, dia merindukannya padahal belum lewat dua jam mereka bertemu.

“Oh,” Elyra cepat. “Aku belum ngantuk kok.” Leon tersenyum kecil meski tak terlihat.

“Oh… yaudah.” Diam lagi. Beberapa detik, menit. Suara napas mereka saling terdengar. Elyra berbisik kecil, hampir malu.

“Leon…”

“Hm?”

“Kamu… denger aku kan?”

“Iya,” jawab Leon cepat. Hening lagi. Leon tertawa kecil gugup.

“Aneh ya?”

“Iya…” Elyra ikut kecil suaranya.

“Tapi enak.” Leon mengangguk meski Elyra tak melihat.

“Iya.” Sunyi lagi, lebih lama dari sebelumnya. Tidak canggung lagi, hanya nyaman. Elyra menguap kecil, Leon tersenyum.

“Ngantuk?”

“Dikit…”

“Kamu tidur aja.”

“Kamu duluan…” Leon tertawa pelan.

“Bandel.” Beberapa detik kemudian suara Elyra makin pelan.

“Leon…”

“Iya…”

“Jangan tutup dulu.” Leon menelan ludah kecil.

“Iya…” jawabnya lagi, dia juga tak ingin menutup panggilan itu meski Elyra tertidur sekalipun. Napas Elyra mulai teratur, Leon menunggu.

“Sayang?”

“…hm…”

“Kamu tidur ya?”

“…belum…”

Padahal suaranya sudah setengah mimpi. Leon menahan senyum. Beberapa detik kemudian, tak ada jawaban lagi. Leon berbisik pelan.

“Sayang?” Tak ada jawaban dari Elyra, dan hanya suara napasnya saja yang terdengar nyaring. Leon tersenyum lebar.

“Ketiduran.” Ia mengangkat ponsel sedikit dan mengecup layarnya pelan. Ciuman kecil, lalu satu lagi, tanpa sadar berubah menjadi bertubi-tubi.

“Hehe… kamu ngapain sih…” suara Elyra lirih tiba-tiba muncul. Leon kaget setengah mati.

“ASTAGA KAMU BELUM TIDUR?!” Elyra terkekeh kecil mengantuk.

“Kedengeran…” gumam Elyra, Leon sangat malu dibuatnya.

“Ya ampun…” Leon mengacak rambutnya sendiri, Elyra tersenyum lembut.

“Jangan cium-cium gitu… Tapi…” ia menguap panjang.

“aku seneng…” Leon terdiam mendengar ucapan Elyra.

“Tidur yang bener sekarang,” ucap Leon lembut.

“Iya…” suara Elyra makin pelan. “Selamat malam…”

“Selamat malam,” Leon membalas pelan.

Kali ini benar-benar hening. Leon mendengar napas Elyra yang sudah teratur.

Ia tersenyum puas.

“Dasar kamu…” gumamnya bahagia.

Dan malam itu mereka tidur dengan senyum masing-masing.

[Keinget masa muda ya pemirsah, kita suka sleepcall sampai pagi, padahal sama-sama turu tapi rasanya senang aja gitu.]

.

.

.

Pagi itu udara masih dingin, embun belum sepenuhnya hilang dari rumput di pinggir jalan. Elyra dan Leon sudah berdiri berdampingan, seperti rutinitas mereka setiap pagi.

Leon mulai berlari pelan lebih dulu. Elyra menyusul di sampingnya. Tidak ada obrolan heboh seperti biasanya, tapi juga tidak canggung. Hanya langkah kaki yang seirama. Suara napas yang tenang. Sesekali bahu mereka hampir bersentuhan. Leon melirik sekilas. Elyra fokus ke depan, tapi ujung bibirnya terangkat sedikit. Elyra tersenyum kecil.

Leon ikut tersenyum tanpa sadar. Beberapa meter kemudian Elyra memperlambat langkah, Leon otomatis menyesuaikan.

“Kamu capek?” tanya Leon pelan.

“Enggak,” Elyra menggeleng cepat.

“Cuma… dingin.” Leon tanpa banyak bicara menggeser posisinya sedikit lebih dekat, dia sama sekali tak menyentuh tapi cukup terasa hangat. Elyra melirik sebentar, lalu kembali menatap depan. Senyumnya makin jelas, mereka kembali berlari.

Tapi penuh rasa, Leon terkekeh kecil tiba-tiba, Elyra menoleh.

“Kenapa?” tanya Elyra merasa bingung.

“Gak apa-apa,” Leon geleng. “Cuma kepikiran aja.” Elyra tidak bertanya lebih lanjut. Dia cuma tersenyum. Langkah mereka kembali seirama.

Angin pagi meniup rambut Elyra, beberapa helai menempel di pipinya. Leon refleks ingin merapikannya, tapi tangannya berhenti di udara.

Akhirnya dia cuma berdehem kikuk, Elyra melihat gerakan itu, dia tidak berkomentar hanya senyum makin lebar. Beberapa saat kemudian mereka berhenti di ujung jalan, menunduk sambil mengatur napas.

Leon menyerahkan botol minum. Elyra menerimanya, jari mereka bersentuhan singkat.

Mereka sama-sama pura-pura biasa, padahal jantung berisik, dan debarannya jelas bukan hanya lelah.

“Makasih,” ucap Elyra pelan. Leon mengangguk.

Mereka kembali berlari, rambut Elyra kembali terurai tertiup angin pagi, menutupi sebagian pipinya. Helaiannya bergerak pelan, membuat wajahnya tampak makin lembut di bawah cahaya matahari yang baru naik. Leon berhenti berlari. Elyra ikut berhenti, sedikit terkejut.

“Kamu kenapa?” tanyanya pelan. Leon tak langsung menjawab. Tangannya terangkat perlahan, ragu sepersekian detik, lalu dengan hati-hati menyibakkan rambut Elyra ke belakang telinganya. Gerakannya lembut, seolah takut membuat gadis itu hilang.

Ujung jarinya tak sengaja menyentuh pipi Elyra, terasa halus dan hangat. Leon tak menarik tangannya. Sebaliknya, ia mengusap pipi itu perlahan, ibu jarinya bergerak kecil penuh sayang.

Elyra membeku, lidahnya seketika kelu, napasnya tercekat. Matanya membesar sebentar lalu melembut.

“Leon…” suara Elyra nyaris berbisik, Leon menelan ludah.

“Kamu sangat cantik sayang,” ucapnya lirih, jujur tanpa sadar. Pipi Elyra langsung memanas. Jantungnya rasanya mau lompat.

Suasana mendadak sunyi, hanya suara burung pagi dan napas mereka yang saling berpacu.

“LEOOOON!!!”

Suara teriakan keras dari kejauhan membuat mereka tersentak. Kepala Leon refleks menoleh. David berdiri beberapa meter dari mereka sambil melambaikan tangan panik.

“BRO! ADA KERJAAN DADAKAN! SEKARANG!” Suasana romantis itu ambyar seketika. Elyra tersenyum kaget bercampur geli. Leon menghela napas panjang frustrasi.

“Timing-nya parah banget,” gumamnya.

“CEPAAAAT!” David masih teriak lagi, Leon menoleh ke Elyra dengan wajah menyesal.

“Aku harus pergi. Maaf ya.” Elyra menggeleng cepat.

“Gak apa-apa.” Leon menggenggam tangan Elyra sebentar, seolah berat melepaskan.

Dan sebelum Leon sempat menariknya kembali, Elyra membungkuk sedikit. Mengecup punggung tangan Leon lembut, cukup singkat.

DUARRR!

Leon membeku, matanya membesar, otaknya blank. Jantungnya kala itu hampir copot. Elyra tersenyum malu-malu.

“Hati-hati,” ucap Elyra pelan, Leon masih terpaku.

“Lyra…” Jujur saja kala itu Leon ingin menarik tengkuk Elyra dan mengecup bibir itu sekali lagi.

“WOI MALAH BENGONG!” Leon akhirnya tersadar. Wajahnya memerah parah.

“I-iya, aku pergi dulu.” Dia berbalik cepat, hampir salah langkah karena kepikiran kecupan barusan.

Di sepanjang jalan menuju David, Leon pegang punggung tangannya sendiri.

Seolah masih ada hangat bibir Elyra di sana.

“Sumpah…” gumamnya. “Baper brutal ini mah.” David melirik heran.

“Lu kenapa pegang tangan sendiri kayak orang kesetrum?” Leon cuma nyengir bodoh.

“Diam kamu.”

Sementara itu Elyra berdiri mematung beberapa detik, baru setelah Leon menjauh dia menutup wajahnya.

“Ya ampun…” bisiknya malu, pipinya panas, dadanya berdebar kencang, cuma kecup tangan. Tapi rasanya kayak ciuman sungguhan.

1
vita
bagus ceritanya
LEX ALEX
menyala om Ziyan😍
◄⏤͟͞✥≛⃝⃕💞Rؚͬzͧoᷤnͧeͪ°ˢᵒᶠ
dia bilang "Jir, nanti anu gua jadi kecil pas hidup. Gua malu sama Elyra,"
🤣
LIXX: bener lagi🤣🤣
total 1 replies
LIXX
mang iya? wah Icut icut/Facepalm/
☠🏡⃟ªʸ🍾⃝ ᴀʏͩᴜᷞᴅͧɪᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
Ini nih yg gak bener, selalu membanding-bandingkan anak. Setiap anak itu berbeda, mungkin aja Fahmi emy gak jago di pelajaran. Tapi dia jago di bidang lain
☠🏡⃟ªʸ🍾⃝ ᴀʏͩᴜᷞᴅͧɪᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
Wahh ada calon idol nih
☠🏡⃟ªʸ🍾⃝ ᴀʏͩᴜᷞᴅͧɪᷡᴀͣ ѕ⍣⃝✰ˢ⍣⃟ₛ
Ternyata begini ya awal pertemuan antara Lyra dan Leon.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!