"Kalau kamu mau jadi malaikat, lakukan di tempat lain. Di Kediaman Jati Jajar, akulah ratunya!"
Rosie, seorang manajer sukses di era modern, terbangun di tubuh Kirana Merah Trajuningrat, sosok antagonis yang dibenci seluruh rakyat Kerajaan Indraloka.
Dunia di mana "Citra Diri" adalah segalanya, Merah dikenal sebagai gadis pemarah yang hobi menindas adiknya, Putih Sekar. Namun, Rosie segera menyadari ada yang salah.
Putih yang dianggap "Anak Kesayangan Rakyat" ternyata adalah manipulator ulung yang lihai bermain peran sebagai korban di depan para pelayan dan Pangeran.
Ditambah lagi, Ibu kandung Merah, Nyai Citra, adalah wanita ambisius yang menyiksa Putih demi kekuasaan, tanpa sadar bahwa setiap cambukannya justru memperburuk reputasi Merah di mata Pangeran Ararya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riyana Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Manajemen Audit di Hilir Sunyi
Rasa dingin yang menusuk tulang adalah hal pertama yang menyapa kesadaran Rosie. Dia bisa merasakan permukaan kayu yang kasar dan lembap di bawah punggungnya, sangat berbeda dengan kasur kapuk apek, mengingatkannya akan Kediaman Jati Jajar.
Suara gemercik air sungai masih terdengar lamat-lamat, tapi kali ini tidak lagi menderu beringas seperti saat menyeret tubuhnya di antara bebatuan tajam Amerta.
Rosie mencoba menggerakkan jemarinya, rasanya sangat berat. Aroma tanah basah, kayu bakar yang terbakar pelan, dan wangi tanaman obat yang sangat kuat menusuk hidungnya. Dia mengerang pelan, mencoba membuka kelopak mata yang terasa seperti direkat oleh lumpur sungai.
"Sudah bangun, Cah Ayu?"
Suara itu terdengar sangat tenang, serak karena usia, tapi memiliki getaran yang menyejukkan. Rosie mengerjapkan mata berkali-kali. Pandangannya yang semula kabur perlahan mulai menjernih. Di atasnya, atap rumbia rendah yang dipenuhi jelaga hitam.
Seorang wanita tua dengan rambut seputih perak yang disanggul asal-asalan duduk di sampingnya. Wajahnya dipenuhi kerutan yang dalam, sepasang matanya yang bening menatap Rosie dengan pancaran rasa ingin tahu yang besar. Dia mengenakan kebaya katun kusam yang sudah pudar warnanya dan kain jarik yang tersingkap hingga lutut.
"Ini ... di mana?" tanya Rosie dengan suara serak, kerongkongannya terasa seperti baru saja menelan sekilo pasir sungai.
Dia mencoba bangkit, tapi rasa pening yang hebat menghantam kepalanya hingga dia kembali terjatuh di atas lantai kayu.
"Pelan-pelan saja. Kamu terbawa arus cukup jauh sampai ke hilir ini," jawab wanita tua itu sambil menyodorkan sebuah batok kelapa berisi air bening. "Beruntung kain jarikmu tersangkut di akar pohon jati di pinggir gubukku. Kalau tidak, mungkin kamu sudah sampai ke muara laut selatan."
Rosie menerima batok kelapa itu dengan tangan gemetar. Dia meneguk airnya dengan rakus. Rasanya dingin dan sedikit manis, memberikan energi instan ke dalam tubuhnya yang lunglai.
Setelah napasnya mulai teratur, ingatannya tentang tabrakan di sungai tadi mendadak muncul kembali seperti rekaman film yang diputar cepat.
"Cucianku!" teriak Rosie tiba-tiba, hampir menjatuhkan batok kelapanya. "Kain sutra kuno upacara adat! Bakul bambunya mana? Semuanya hanyut?!"
Wanita tua itu tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti gesekan daun kering.
"Tenanglah. Kain-kain merah itu tersangkut bersama tubuhmu. Aku sudah menjemurnya di belakang agar tidak lapuk. Tapi bakulnya memang sudah tidak ada, mungkin jadi rumah ikan di dasar sungai."
Rosie menghela napas panjang, menyandarkan punggungnya pada dinding bambu yang terasa sedikit miring.
"Syukurlah. Kalau kain itu hilang, Ibu pasti bakalan mencabut nyawa Laras dan Gendis," gumamnya pelan.
Dia mulai mengamati sekeliling ruangan tempat dia berada. Ini adalah sebuah gubuk kecil yang sangat sederhana, jauh lebih kecil dari kamarnya di Jati Jajar. Namun, saat matanya mulai terbiasa dengan pencahayaan yang minim, kening Rosie mulai berkerut dalam.
Sebagai mantan manajer operasional yang terbiasa dengan standar efisiensi kantor pusat Jakarta, pemandangan di depannya adalah sebuah mimpi buruk logistik. Di sudut ruangan, tumpukan tanaman obat yang sudah mengering bercampur aduk dengan kain-kain kotor.
Di atas meja kayu panjang, terdapat piring tanah liat berisi sisa makanan yang diletakkan tepat di samping tumpukan akar-akaran yang berdebu.
"Nek, Nenek tinggal sendiri di sini?" tanya Rosie sambil mencoba duduk tegak, mengabaikan rasa perih di bahunya yang terbentur batu sungai.
"Iya. Sudah lama sekali," jawab si Nenek sambil mulai menumbuk sesuatu di dalam lumpang batu kecil.
Rosie tidak bisa lagi menahan diri. Insting auditnya yang sudah mendarah daging mendadak bangkit, mengalahkan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Dia bangkit berdiri dengan langkah goyah, mendekati meja kayu yang tampak sangat berantakan itu.
"Nek, ini alur kerjanya berantakan banget," ucap Rosie sambil menunjuk tumpukan daun kering yang berserakan di dekat tungku api. "Ini jamur kering di sini, kain di sana. Bisa kontaminasi silang ini! Kalau debu dari tanaman ini masuk ke makanan, Nenek bisa keracunan."
Nenek itu menghentikan gerakan tumbukannya, menatap Rosie dengan kening berkerut bingung. "Kon-tami ... apa? Apa itu bahasa roh sungai?"
Rosie tidak menjawab. Dia mulai menyingsingkan kain jariknya yang masih lembap, mengabaikan rasa lelahnya.
"Enggak bisa dibiarkan. Gubuk ini butuh manajemen operasional yang benar. Nek, pinjam sapu lidi dan beberapa keranjang kosong yang ada di belakang," ujar Rosie sambil melihat sekeliling.
"Untuk apa, Cah Ayu?"
"Kita akan menerapkan standar 5S ala kantoran di sini agar hidup Nenek lebih higienis dan produktif," jawab Rosie dengan nada otoritasnya yang biasa dia gunakan saat memarahi karyawan magang.
Nenek itu hanya diam, dia tetap mengambilkan apa yang diminta Rosie dengan senyum tipis yang misterius. Dia duduk di sudut ruangan, memperhatikan wanita muda berbaju merah itu mulai bergerak aktif di dalam gubuknya.
Rosie mulai menjalankan tahap pertama. Dia memilah-milah barang yang ada di dalam gubuk. Barang-barang yang sudah rusak, sisa makanan yang sudah basi, dan tumpukan kayu lapuk dia sisihkan untuk dibuang.
"Barang yang tidak terpakai hanya akan menjadi sarang hama, Nek. Harus dieliminasi dari sistem," gumam Rosie sambil melemparkan potongan kain rombeng ke arah pintu.
Selanjutnya, Rosie mulai mengatur tata letak barang berdasarkan frekuensi penggunaannya. Peralatan makan dia pindahkan jauh dari area tanaman obat kering. Akar-akaran disusun berdasarkan jenisnya di atas rak bambu yang dia bersihkan terlebih dahulu.
"Bahan baku harus punya tempat tetap. Biar Nenek enggak perlu searching kelamaan kalau mau masak jamu," jelas Rosie.
Wanita tua itu hanya mengerjapkan mata, mencoba memahami istilah searching yang diucapkan Rosie, tapi dia tetap terkesan melihat bagaimana gubuknya yang semula pengap kini mulai terlihat memiliki jalur udara yang lebih jelas.
Tahap ketiga, Rosie mengambil kain lap dan mulai membersihkan debu-debu yang sudah menebal di atas permukaan balok kayu. Dia menyapu lantai kayu hingga tidak ada lagi remah-remah tanah yang menempel.
"Kebersihan adalah dasar dari quality control. Area kerja yang kotor itu sumber eror," omel Rosie sambil terus menggosok sudut-sudut ruangan.
Nenek itu kini tersenyum lebar, menopang dagunya dengan tangan. Dia merasa terhibur melihat kelakuan Rosie yang terus mengomel dalam bahasa yang aneh, tapi tangannya bekerja dengan sangat cepat dan terampil.
"Lalu apa lagi, Manajer?" tanya si Nenek, menggunakan kata yang didengarnya dari gumaman Rosie.
Rosie berhenti sejenak, menyeka peluh di dahinya yang membuat bedak dinginnya kini benar-benar bersih dari wajahnya, memperlihatkan kecantikan aslinya yang segar. "Sekarang seiketsu artinya rawat dan shitsuke artinya rajin. Jadi, Nenek harus menjaga standar ini setiap hari. Jangan dicampur lagi antara pakaian bersih dan bahan jamu. Alur kerjanya harus satu arah, dari pintu masuk ke tungku, lalu ke tempat makan."
Setelah hampir satu jam bekerja, gubuk kecil itu berubah total. Meskipun tetap sederhana dan terbuat dari bambu, suasananya terasa jauh lebih luas, bersih, dan teratur.
Tanaman obat tertata rapi di rak, peralatan makan tersusun di sudut yang bersih, dan lantai kayu mengkilap terkena pantulan cahaya api tungku.
Rosie menarik napas panjang, menatap hasil karyanya dengan puas. Rasa pening di kepalanya mendadak hilang, tergantikan oleh rasa pencapaian yang sudah lama tidak dia rasakan sejak keluar dari kantor lamanya.
"Nah, kalau begini kan enak. Flow-nya jadi jelas. Nenek enggak akan tersandung lagi kalau jalan malam-malam," ucap Rosie sambil mengembalikan sapu lidi ke tempatnya yang baru saja dia tentukan.
Nenek itu bangkit dari duduknya, mendekati Rosie. Dia memegang bahu Rosie dengan lembut. "Terima kasih, Cah Ayu. Belum pernah ada orang yang datang ke sini dan mengurus gubukku seperti ini. Biasanya mereka hanya datang untuk meminta bantuan lalu pergi dengan rasa takut."
"Kenapa harus takut?" tanya Rosie heran. "Ini cuma masalah manajemen rumah tangga yang buruk aja kok, bukan hal mistis."
Nenek itu tersenyum lebar, sebuah senyuman yang tampak sangat tulus dan menyimpan kedalaman yang tidak terduga.
"Namaku Nenek Galuh. Karena kamu sudah membantuku merapikan hidupku, aku akan memberimu sesuatu sebagai upah atas ... manajemen operasionalmu ini."
Rosie tertawa kecil. "Enggak usah, Nek. Aku senang melakukannya. Hitung-hitung ini terapi stres setelah hanyut di sungai. Seharusnya juga aku yang berterimakasih soalnya Nenek udah menyelamatkan nyawaku."
"Jangan menolak," potong Nenek Galuh dengan nada yang sedikit lebih berat. "Upah adalah hak bagi pekerja yang rajin. Tapi sebelum itu, kamu harus beristirahat. Tubuhmu masih membutuhkan pemulihan sebelum kamu kembali ke pulang untuk menghadapi badai yang lebih besar di sana.".
Rosie menatap mata Nenek Galuh, merasakan ada sesuatu yang berbeda dari wanita tua ini. Dia mengangguk pelan, rasa lelah yang sempat terlupakan kini kembali merayap di tubuhnya.
Dia tidak tahu bahwa pertemuannya dengan Nenek Galuh di hilir sunyi ini akan menjadi awal dari pembalikan takdir yang jauh lebih besar daripada sekadar urusan mencuci kain sutra kuno.
Di luar gubuk, langit mulai berubah jingga keemasan. Aliran sungai Amerta terus mengalir tenang, menyimpan rahasia tentang seorang manager dari masa depan yang menata kembali kepingan dunianya di tanah Indraloka.
tlg than tahan.. jangan ampe aku ngehujat si putih..