NovelToon NovelToon
Menjadi Madu Dalam Semalam

Menjadi Madu Dalam Semalam

Status: tamat
Genre:Nikahmuda / Poligami / Tamat
Popularitas:73k
Nilai: 4.8
Nama Author: Siti Marina

kehidupan seorang gadis yang dulu bergelimang harta, Dimanja oleh ayah dan kakak laki-lakinya, sekarang hidup sederhana, karena perbuatan masa lalunya bersama Mamanya ...Selena.

"Panas...., Papa tubuhku rasanya sangat panas" rintih Patricia sambil berlari.
" cepat nak, kalau tidak lari, kau akan menjadi santapan para pria iblis itu" ucap Papanya yang bernama Tono, Putrinya akan dijual, bahkan mereka memberikan obat perangsang
Duarrrrrr...
suara guntur menggelegar ,hujan turun begitu lebatnya,membuat jalanan licin...
" Aaahhhh"
Patricia terjatuh, karena terpeleset,...
" Ayo cepat nak, "
" Iya pah"....
mereka memasuki gedung tua yang tak berpenghuni, suasananya begitu gelap....
"Paaaa...panas, ... hiks... hiks..... Cia tidak kuat pah, sakit"
Patricia terus menyakiti dirinya sendiri...
" Ya Allah....ini sangat menyiksa Cia...Pa....".
" Jangan, sakiti diri sendiri nak...." ucap Tono dengan nada khawatir....
" Brakkkkk"
tak lama kemudian... seorang pemuda datang dengan korek api yang meny

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

26

Di tengah perjuangan hidup dan matinya melawan asap, pintu dapur berderit. Patricia masuk dengan langkah perlahan, mengenakan mukena putih yang bersih, kontras sekali dengan suasana dapur yang penuh debu. Ia membawa sebuah gelas kaca.

Alendra langsung mematung. Tangannya masih memegang kayu bakar. Ia buru-buru membelakangi Patricia, mencoba membetulkan kacamatanya yang melorot dengan bahu karena tangannya kotor.

"Eh... Mbak Cia. Masya Allah, sudah bangun jam segini," suara Alendra berubah menjadi suara Kang Asep yang agak sember dan dibuat-buat ceria.

Patricia berhenti, ia menatap punggung kuli dapur baru itu dengan bingung. "Akang sedang apa? Asapnya sampai keluar ke lorong, Kang."

"Ini Mbak, apinya lagi manja, mau diajak kenalan dulu baru mau nyala," jawab Alendra sambil terus membelakangi Patricia. Ia berusaha mengaduk santan di kuali dengan gerakan yang sangat lebay, seolah-olah sedang menari balet.

Patricia mendekat sedikit, merasa kasihan melihat Kang Asep yang tampak kewalahan. "Sini Kang, biar saya bantu. Akang sepertinya salah tiup itu."

"JANGAN!" Alendra refleks berbalik sedikit lalu sadar dan berbalik lagi. "Maksud saya... Mbak jangan dekat-dekat asap, kasihan Dedek bayinya nanti batuk-batuk di dalam. Biar Asep yang berkorban jiwa raga di sini!"

Alendra kemudian melakukan gerakan silat yang aneh saat hendak memasukkan kayu, membuat Patricia tak tahan untuk tidak tertawa kecil.

Mendengar tawa itu, Alendra merasa hatinya terbang ke langit ketujuh. Sifat konyolnya yang dulu telah kembali sepenuhnya.

"Tuh kan, Mbak Cia tertawa. Kalau Mbak senyum begini, apinya pasti langsung nyala karena minder kalah cerah sama wajah Mbak," celetuk Alendra tanpa sadar.

Patricia tersentak pelan. Kalimat itu... sangat familiar. Kalimat gombalan receh yang dulu sering diucapkan suaminya saat mereka masih kuliah. Patricia menatap punggung Kang Asep lebih dalam.

"Akang... pinter bicara ya?" tanya Patricia lirih.

"Ah, biasa saja Mbak. Saya dulu kursus bicara sama burung beo," canda Alendra sambil mengusap hidungnya, yang malah menambah coretan hitam di sana. "Ini Mbak, mau ambil air hangat ya? Ini sudah ada yang matang di teko sebelah sana. Biar Asep yang tuangkan, jangan sampai tangan cantiknya kena panas."

Alendra mengambil teko dengan gerakan yang sangat hati-hati. Saat menuangkan air ke gelas Patricia, tangan mereka nyaris bersentuhan. Alendra bisa merasakan kehangatan dari tubuh istrinya. Ia menahan napas, matanya menatap gelas dengan sangat fokus, takut jika ia menatap mata Patricia, penyamarannya akan hancur oleh air mata.

"Terima kasih, Kang Asep," ucap Patricia lembut.

"Sama-sama, Mbak. Habis ini istirahat lagi ya, biar anak kita... eh, maksud saya anak Mbak, sehat walafiat."

Patricia mengangguk, namun sebelum ia pergi, ia sempat memperhatikan wajah Kang Asep yang penuh jelaga itu. "Kang, itu... tahi lalatnya makin besar ya? Kayanya kena asap jadi mengembang."

Alendra panik, ia memegang tahi lalat spidolnya. "Oh ini? Iya Mbak, ini tahi lalat ajaib. Kalau kena panas dia emang suka mekar kayak bunga mawar."

Patricia tertawa lagi sambil berjalan keluar dapur. Begitu Patricia hilang di balik pintu, Alendra langsung lemas dan bersandar di tiang kayu dapur. Ia tersenyum lebar meski wajahnya seperti arang.

"Cia... kamu tertawa lagi. Demi Tuhan, aku rela jadi koki tungku selamanya kalau bayarannya adalah tawa kamu setiap subuh," bisiknya sambil kembali meniup api dengan semangat berkali-kali lipat.

***

Malam di pesantren itu begitu sunyi, hanya terdengar suara jangkrik dan sayup-sayup santri yang sedang mengaji di kejauhan. Alendra, dengan kostum nya yang kini ditambah dengan sarung yang dilingkarkan di leher , supaya terlihat seperti warga lokal, mengendap-endap di balik pohon kamboja dekat asrama putri.

Di tangannya, ia memegang seuntai bunga melati segar yang baru saja ia pinjam dari taman depan kantor Gus Azmi.

Alendra berjalan dengan posisi merangkak, sesekali berguling di balik semak-semak saat melihat sorot lampu senter penjaga.

"Oke Alen, fokus. Target berada sepuluh meter di depan. Letakkan melati ini di ambang jendela, lalu lari seperti atlet lari maraton," bisiknya pada diri sendiri. Ia bahkan melakukan gerakan pemanasan kecil yang konyol, meregangkan kaki dan tangannya di balik pohon.

Ia berhasil mencapai jendela kamar Patricia. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, ia meletakkan bunga melati itu. Alendra sempat tertegun sejenak, menatap bayangan Patricia dari balik gorden tipis yang tertiup angin.

"Selamat tidur, Istriku. Semoga mimpinya seharum melati ini," gumamnya dengan senyum lebar yang membuat kumis palsunya sedikit terangkat.

Baru saja Alendra hendak berbalik untuk kabur, tiba-tiba...

KLIK!

Sebuah lampu senter berkekuatan tinggi menyorot tepat ke wajahnya. Alendra yang kaget luar biasa refleks melakukan gerakan silat asal-asalan yang malah membuatnya terlilit sarungnya sendiri.

"Hayo! Sedang apa kamu di jendela asrama putri?!" teriak seorang santri penjaga keamanan yang bertubuh kekar, ditemani dua santri lainnya.

"EH! Copot... copot!" latah Alendra keluar karena kaget. Ia mencoba membetulkan kacamatanya yang miring. "Anu... ini Dek, saya lagi... lagi nyari jangkrik! Iya, jangkrik buat obat pusing!"

"Jangkrik apa malam-malam di jendela? Kamu pasti maling ya!

Maling! Maling!" teriak santri itu sambil meniup peluit.

"Eh, jangan teriak maling dong! Ganteng begini dibilang maling!" seru Alendra. Ia langsung lari terbirit-birit dengan sarung yang masih tersangkut di kakinya, membuatnya lari dengan gaya melompat-lompat seperti pocong.

"Tangkap! Jangan biarkan lolos!"

Alendra berlari memutari kebun sayurnya sendiri. Karena panik, ia lupa kalau dia baru saja menyiram kebun itu sore tadi. Sret! Ia terpeleset lumpur dan meluncur masuk ke dalam bedengan selada yang ia tanam dengan penuh cinta.

"Aduh! Selada saya! Aduh, pinggang saya!" keluh Alendra sambil mencoba bangkit, wajahnya kini tidak hanya penuh jelaga, tapi juga penuh lumpur dan daun selada yang menempel di kepalanya.

Para santri berhasil mengepung Alendra di tengah lapangan kecil. Di sana, Gus Azmi keluar dari kediamannya dengan wajah yang berusaha keras untuk tidak tertawa melihat kondisi Alendra.

Patricia pun ikut keluar dari asrama karena mendengar keributan. Ia berdiri di kejauhan, menatap sosok yang sedang dikerubungi itu.

"Ada apa ini malam-malam?" tanya gua Azmi datar.

"Ini Gus! Kita menangkap maling! Dia mengendap-endap di jendela asrama Mbak Cia!" jawab penjaga keamanan.

Alendra duduk di tanah dengan wajah memelas. Kumis palsunya sudah pindah posisi ke jidat karena terjatuh tadi, dan ada selembar daun sawi yang nyangkut di kacamatanya.

Alendra menjawab dengan suara Kang Asep yang memelas "Astagfirullah, Gus... Saya ini bukan maling. Saya ini cuma... korban perasaan. Eh, maksud saya, saya tadi lagi ngejar kucing saya yang lari ke arah jendela Mbak Cia. Namanya kucingnya si rindu , makanya saya panggil-panggil Rindu... Rindu... di depan jendela."

Patricia mendekat, menatap Kang Asep yang berantakan itu. Ia melihat bunga melati yang terjatuh di dekat jendela tadi kini dipungut oleh salah satu santri.

"Kang Asep... kenapa kucingnya dicari sampai ke atas jendela?" tanya Patricia mendekat.

Alendra menunduk dalam-dalam, pura-pura sibuk membersihkan lumpur di kakinya. "Kucingnya pinter manjat, Mbak. Kayak saya, pinter manjat ke hati... eh, manjat pohon maksudnya!"

Gus Azmi berdehem keras, menyembunyikan tawa. "Sudah, sudah. Ini kuli dapur baru kita. Dia memang agak... unik jiwanya. Kalian kembali ke pos masing-masing. Kang Asep, ikut saya ke kantor!"

Saat Alendra digiring oleh Gus Azmi, ia sempat menoleh ke arah Patricia dan memberikan jempol yang penuh lumpur. Patricia tertegun. Ia merasa kekonyolan pria ini benar-benar tidak masuk akal, tapi entah kenapa, setiap kali Kang Asep berbuat ulah, rasa rindu di hatinya pada Alendra justru semakin berdenyut.

"Kenapa tingkah konyolnya sangat mirip dengan Alendra saat dulu di kampus dia selalu menggangguku" gumam Patricia.

1
Atmita Gajiwi
pendek tapi ceritanya bagus
Mazree Gati
kasihan kirana,, mentang2 sebatangkara di bikin mati,,,
cinta semu
bagus juga
cinta semu
selamat menunaikan ibadah puasa juga Thor ...jangan lupa sampaikan salam Ramadhan buaya kang Alen-asep sm mbk Patricia-cia ...🙏♥️
Tika
gitu ya laki2...meski disini pemwran utama disini patricia..
tapi aku sebagai istri sah yg gak mau dimadu,,gak setuju sama sikap alendra.. dia lebih mikirken hilangnya istri muda,padahal istri pertama sdg koma...
Khodijah
novel nya sangat bagus menarik
Tika
kirana...semoga dapat hidayah sebelum maut...
Alice Chaiza
diawal ceritanya bagus semakin kesini semakin malas baca, patrecia terlalu melow harga diri ditindas diam saja, realistis aja thor klo buat cerita. ga mungkinlah orang kaya mau hidup mlarat apalagi harga diri ditindas diam aja bisanya cuma nangis😮‍💨
Alice Chaiza
ingat guys ini hanya di novrl, didunia nyata mana ada orang kaya rela hidup susah+miskin, kurasa cerita ini sedikit memaksa
fsf
baru kali ini ada orang bosen punya harta
fsf
100juta dia pikir alendra orang miskin ya, kamu salah sasaran 🤣🤣🤣
Tika
najwa..bantu kirana,,biar matinya baik2...
kasian juga ya...
ceuceu
Alhamdulillah tamat,walaw endingnya tetep.alen di desa ikut apa kata istri,setidaknya mama monica memberi peralatan rumah tangga ,ga ikut kemauan cia hidup sederhana ga kasian suami cuci baju manual.
ceuceu
hidup sederhana boleh cia,tapi suamimu imam yg harus kamu patuhi,di ajak pindah ya pindah ke kota krn suami mu CEO.
contoh najwa patuh sm suami tetap sederhana.
greget sama karakter patricia.
ceuceu
cia egois keras kepala/Panic/
ceuceu
Gus azmi harusnya menasehati cia agar patuh kepada auami.
sudah terlalu lama dia kabur tanpa ijin suami.
di saat suami sudah berubah terima maafnya,agama islam melarang istri keluar tanpa ijin suami,apa lg kabur ke pesantren,ada rukayya ada gus azmi yg bsa memberi nasehat memaafkan.
ceuceu
Cinta sejati wlw jauh akan tetap di hati.

kiran tdk pernah memiliki cinta alen.
ceuceu
bab menyedihkan/Sob/
Masyaa Allah patricia benar" hijrah/Rose/
ceuceu
harusnya di sisa umur kirana menjadi baik melayani suami,agar ketika pergi meninggalkan kesan baik di keluarga suhadi
haifa zaky
kami tggu kisah yg lain thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!