Dijuluki "Sampah Abadi" dan dicampakkan kekasihnya demi si jenius Ma Yingjie tak membuat si gila kekuatan Ji Zhen menyerah. Di puncak dinginnya Gunung Bingfeng, ia mengikat kontrak darah dengan Zulong sang Dewa Naga Keabadian demi menjadi kultivator terkuat.
"Dunia ingin aku merangkak? Maka aku akan menaklukkannya lebih dulu!"
[Like, vote dan komentar sangat bermanfaat bagi kelanjutan cerita. Selamat membaca]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dana Brekker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29: Jalan di Atas Air
Matahari mulai meninggi di atas hutan pinggiran Nancheng, menembus sela-sela daun lebat yang memayungi kolam teratai milik Han Kong. Ji Zhen masih berdiri di titik yang sama dengan sebelumnya, kakinya menapak pada barisan batu licin di tepi air. Di sampingnya, Yang Huiqing tampak mengambil napas panjang, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang masih liar. Ada percikan optimisme di mata gadis itu, sisa dari kegagalan yang baru saja mereka lalui.
“Sekali lagi,” suara Han Kong terdengar dari atas dahan pohon, tanpa emosi namun penuh beban.
Ujian itu pun kembali dimulai. Seekor katak hijau besar melompat dari daun teratai, mendarat tepat di atas bahu Ji Zhen. Pemuda itu tidak bergeming. Ia memusatkan seluruh qi esnya bukan untuk menyerang, melainkan untuk membekukan setiap impuls saraf yang ingin bergerak. Di sisi lain, Huiqing sedang berjuang keras. Seekor katak merayap naik ke lehernya, kulitnya yang berlendir dingin menyentuh nadi gadis itu.
Huiqing memejamkan mata, giginya terkatup rapat hingga rahangnya menonjol. Ia hampir saja menjerit saat kaki katak itu menggelitik telinganya, namun ia menelan suara itu mentah-mentah, karena mengetahui Ji Zhen fokus penuh di sampingnya, mengatur napasnya sedemikian rupa sehingga dada dan perutnya bergerak sangat halus, nyaris tak terlihat. Satu jam pun berlalu, sampai ribuan katak memenuhi tubuh mereka, namun permukaan kolam tetap tenang, jernih tanpa ada riak tunggal yang tercipta.
Akhirnya, Han Kong melompat turun. Begitu kakinya menyentuh tanah, katak-katak itu serentak melompat kembali ke dalam air. Ji Zhen dan Huiqing jatuh terduduk, tubuh mereka dibanjiri keringat, napas mereka memburu karena tekanan mental yang luar biasa. Mereka hampir saja tepar, namun ada kepuasan yang merayap di dada masing-masing, terutama Yang Huiqing.
Han Kong berjalan menuju tepi kolam, menatap ke arah utara, tempat Kota Nancheng berada. “Kalian pikir memenangkan turnamen dan mendapatkan pedang itu adalah puncak dunia? Kalian salah.”
Ji Zhen mendongak, menyeka keringat di dahinya. “Aku tahu ada yang lebih kuat dari sekte-sekte di kota ini.”
“Sekte Qingyun yang kau banggakan itu hanyalah kerikil di mata sekte-sekte besar seperti Tianhuo atau mereka yang berada di alam tinggi,” lanjut Han Kong tanpa menoleh. “Dunia ini jauh lebih kejam daripada yang kau bayangkan. Ini bukan sekedar tentang siapa yang lebih cepat mencabut pedang, tapi siapa yang bisa bertahan dalam kompetisi sumber daya yang tidak mengenal ampun. Batas kultivasi itu sangat nyata, dan banyak yang rela menumpuk mayat hanya untuk menembusnya.”
Han Kong kemudian membalikkan tubuh, menatap Ji Zhen dan Huiqing secara bergantian. “Aku melatih kalian karena aku merasakan sesuatu yang berbeda. Tubuhmu, Ji Zhen, memiliki wadah yang tidak normal. Dao es yang kau pancarkan bukan sekedar teknik es biasa, ada jejak sesuatu yang lebih besar di sana. Dan gadis ini—” ia melirik Huiqing, “dia adalah orang terdekatmu yang memiliki ambisi yang sama besarnya.”
Huiqing tertunduk saat mendengar ucapan itu, rona merah tipis muncul di pipinya yang masih pucat. Sementara Ji Zhen melirik ke arah gadis itu sebentar, merasakan dinamika aneh yang mulai terbangun kembali di antara mereka.
“Jangan dengarkan bualannya tentang dunia yang luas,” suara Zulong tiba-tiba muncul. “Tetaplah fokus pada tujuan awalmu, Bocah. Jika aku sudah mendapatkan kekuatan penuhku kembali, pria bernama Han Kong ini bisa aku hancurkan hanya dengan satu jari kelingking. Dia bukan apa-apa bagiku.”
Ji Zhen tidak membantah ucapan Zulong yang kelewat percaya diri itu di dalam batinnya. Namun, otaknya yang cerdik terus berputar. Ia tahu tidak ada makan siang gratis di dunia kultivator. Pasti ada harga yang harus dibayar.
“Kenapa kau melakukan ini, Han Kong?—Maksudku… Guru.” tanya Ji Zhen tegas, suaranya sudah kembali stabil. “Guru tidak melatih kami hanya karena merasa kami spesial. Lalu apa tujuan aslimu?”
Han Kong merapatkan capingnya, menutupi matanya dari sinar matahari. “Aku hanya ingin kau menjadi kultivator yang tetap berada di jalan kebenaran.”
“Omong kosong!” Zulong memaki di kepala Ji Zhen. “Kebenaran adalah racun bagi kekuatan. Jalan itu hanya akan membuatmu lemah dan mudah dimanipulasi. Jangan percaya padanya!”
Ji Zhen berusaha tetap tenang meskipun batinnya bergejolak. Ia menatap Han Kong dengan tatapan sipit. “Kebenaran? Di dunia di mana setiap orang saling menggorok leher demi sebongkah batu roh? Apa alasannya guru menginginkan hal sesulit itu?”
Han Kong menjawab dengan ekspresi kuyu yang tidak pernah berubah, seolah pertanyaan Ji Zhen adalah sesuatu yang sangat mendasar. “Bukankah tidak perlu bertanya alasannya? Bukankah manusia memang dilahirkan untuk berbuat kebenaran? Apa kau butuh alasan untuk tetap menjadi manusia?”
Ji Zhen membisu. Jawaban itu menghantamnya lebih keras daripada serangan fisik mana pun. Ia terbiasa hidup dengan logika keuntungan dan kekuatan. Baginya, kebenaran adalah kemewahan yang tidak sanggup ia beli. Namun, melihat Han Kong yang begitu tenang, Ji Zhen hanya bisa tertunduk, lalu menoleh ke arah Huiqing, melihat keraguan yang sama terpancar di wajah gadis itu.
Ada konflik besar yang mulai tumbuh di dalam diri Ji Zhen. Satu sisi dirinya sangat haus akan kekuatan mutlak seperti yang dijanjikan Zulong, sisi lain mulai mempertimbangkan filosofi aneh Han Kong yang terasa begitu sulit. Di tengah hutan yang sunyi itu, Ji Zhen merasa ia sedang berdiri di persimpangan jalan yang akan menentukan nasibnya selamanya.