NovelToon NovelToon
PERISAI MALAM

PERISAI MALAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Kaya Raya / Keluarga / Menyembunyikan Identitas / Gangster
Popularitas:874
Nilai: 5
Nama Author: SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU

Safira Grace Bastian hanyalah seorang mahasiswa biasa di Kalimantan. Hidupnya terasa tenang bersama kakak yang sukses sebagai pebisnis dan adik yang disiplin sebagai taruna di universitas ternama Jakarta. Keluarga mereka tampak harmonis, hingga suatu malam ayah dan ibu berpamitan dengan alasan sederhana: sang ibu pulang kampung ke Bandung, sang ayah menemui teman lama di Batam. Namun sejak kepergian itu, semua komunikasi terputus. Telepon tak pernah dijawab, pesan tak pernah dibalas, dan alamat yang mereka tuju ternyata kosong. Seolah-olah kedua orang tua lenyap ditelan bumi. Ketiga kakak beradik itu pun memulai perjalanan penuh misteri untuk mencari orang tua mereka. Dalam pencarian, mereka menemukan jejak masa lalu yang kelam: organisasi rahasia, perebutan kekuasaan, dan musuh lama yang kembali bangkit. Rahasia yang selama ini disembunyikan ayah dan ibu perlahan terbuka, membuat mereka bertanya dalam hati: “Apakah ini benar orang tua kami?
ini cerita buatan sendiri!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SAFRIDA ANUGRAH NAPITUPULU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Persembunyian — Warisan Perisai Malam

Pagi datang tanpa kehangatan. Kabut tipis menggantung di antara gedung-gedung tua kota itu, seolah menutup rapat rahasia yang baru saja terbuka. Tempat persembunyian mereka bukan rumah mewah, bukan markas hanya bangunan lama dengan dinding tebal dan jendela sempit. Namun cukup aman. Untuk sementara.

Adam berdiri di tengah ruangan kosong, menatap ketiga kakak-beradik itu dengan sorot mata yang tak lagi ragu. Livia berdiri di sisi pintu, senjata terselip di balik jaketnya, berjaga dalam diam.

“Kalau kalian ingin hidup,” kata Adam pelan namun tegas, “kalian harus mulai belajar.”

Clarissa mengangkat kepala. “Belajar apa?”

“Belajar menjadi apa yang dulu ayah kalian persiapkan,” jawab Adam. “Pewaris Perisai Malam.”

Keheningan menggantung, berat.

Adrian mengepalkan tangan. “Aku sudah dilatih. Taruna Akademi. Senjata, taktik, disiplin.”

Adam mengangguk pelan. “Dan itu alasan kau masih hidup. Tapi itu baru dasar.”

Safira menelan ludah. “Lalu aku? Clarissa? Kami bukan prajurit.”

Livia akhirnya bicara, suaranya tenang namun tajam. “Ayah kalian tidak membedakan anaknya. Ia hanya membedakan: siap dan belum siap.”

Adam melangkah mendekat, tatapannya tertuju pada Safira. “Kau punya insting. Malam tadi kau menarik Adrian tepat sebelum ia jatuh. Itu bukan kebetulan.”

Safira terdiam. Dadanya terasa sesak.

Kilasan Masa Lalu — Perisai Malam Bangkit

Adam mulai bercerita lagi. Suaranya membawa mereka menembus waktu, kembali ke masa lalu yang gelap.

“Perisai Malam dibangun dari orang-orang yang dianggap sampah oleh dunia. Mantan kriminal. Tentara yang dibuang. Agen yang dikhianati negara mereka sendiri. Armand memberi mereka tujuan. Bukan uang arti hidup.”

Bayangan masa lalu seakan hidup di udara:

Lapangan latihan gelap. Pedang beradu. Senjata ditembakkan dalam senyap. Armand berdiri di tengah mereka tegas, tenang, tak pernah ragu.

“Ia berkata,” lanjut Adam pelan,

“‘Kalau dunia tidak mau melindungi yang lemah, maka kita yang akan melakukannya. Dari bayangan.’”

Clarissa berbisik, hampir tak terdengar, “Jadi… Perisai Malam bukan organisasi bayaran?”

“Awalnya tidak,” jawab Adam. “Namun ketika uang, proyek rahasia, dan pejabat masuk… segalanya berubah.”

Livia menambahkan, suaranya dingin, “Mereka mulai memilih pekerjaan. Mulai menutup mata. Mulai menikmati darah yang dibayar mahal.”

Adam mengangguk berat. “Saat Armand menemukan kejanggalan korupsi, perdagangan manusia, senjata ilegal ia ingin menghentikan semuanya. Tapi separuh Perisai Malam sudah berpihak pada uang.”

Adrian mendesis. “Pengkhianatan.”

“Ya,” jawab Adam. “Dan pengkhianatan itu ingin membunuh ayah kalian.”

Kebenaran tentang Pelarian

Safira memberanikan diri bertanya, suaranya sedikit bergetar. “Ayah membawa sesuatu… catatan?”

Adam mengangguk. “Bukti kejahatan. Nama, transaksi, lokasi. Dan satu benda lain sesuatu yang membuat semua pihak panik. Jika itu terbuka… banyak kepala akan jatuh.”

Clarissa memejamkan mata. “Itu sebabnya ibu berbohong.”

“Bukan berbohong,” kata Livia pelan. “Bersembunyi.”

Adam menatap mereka satu per satu. “Elisabet punya kekuasaan dan uang. Tapi yang membuatnya berbahaya adalah pilihannya: ia meninggalkan semua itu untuk melindungi Armand… dan kalian.”

Safira menggigit bibirnya. “Jadi… ibu tidak pernah lemah.”

Livia tersenyum tipis. “Tidak pernah.”

...----------------...

Kembali ke Masa Kini Pilihan yang Tidak Bisa Dihindari

Adam melangkah ke tengah ruangan. Suaranya mengeras.

“Mulai hari ini, kalian diburu. Oleh pengkhianat. Oleh orang-orang yang dulu ayah kalian latih sendiri.”

Adrian mengangkat dagu. “Kalau mereka mau perang..”

“Kita tidak menyerang,” potong Adam. “Kita bertahan. Kita bergerak. Dan kita membangun kembali.”

Clarissa menatap Safira. Safira menatap Adrian. Tak ada kata, namun keputusan sudah terbaca jelas di mata mereka.

“Tapi kami ingin tahu tentang ibu kami… dan di mana mereka sekarang,” ujar Safira akhirnya.

“Aku tak bisa bicara terlalu banyak,” jawab Adam. “Kalian harus mencari tahu sendiri.”

“Kalau begitu,” kata Adrian mantap, “kami akan ke Bandung. Kami akan ke rumah ibu untuk mencari tahu.”

“Itu terlalu berbahaya,” Adam menegaskan. “Tapi jika memang harus… kalian harus berlatih. Cara bertahan. Cara memakai senjata pistol, apa pun yang bisa membantu.”

Tatapan Adam kembali tertuju pada Safira. Sulit diartikan antara khawatir dan keyakinan.

Safira menarik napas dalam-dalam. “Ajari kami.”

Keheningan pecah.

Adam tersenyum untuk pertama kalinya tanpa beban.

“Baik,” katanya. “Tapi ingat satu hal.”

Ia menatap mereka tajam.

“Perisai Malam tidak melahirkan pahlawan.

Ia melahirkan penyintas.”

Di luar, angin pagi bertiup pelan. Jauh dari kota itu, bayangan musuh mulai bergerak. Dan tanpa mereka sadari, sebuah pesan lama warisan terakhir Armand sedang mendekat, menunggu saat yang tepat untuk muncul.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Penasaran ngak sama kisah selanjutnya???

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!