NovelToon NovelToon
Benih Kesalahan Satu Malam

Benih Kesalahan Satu Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:One Night Stand / Hamil di luar nikah / Anak Kembar / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: Senimetha

Elisa (18 tahun) hanyalah gadis yatim piatu yang berjuang sendirian demi menyekolahkan adiknya. Namun, hidupnya berubah menjadi mimpi buruk saat sebuah pesanan makanan membawanya ke kamar yang salah. Di sana, ia kehilangan segalanya dalam satu malam yang tragis. Di sisi lain, ada Kalandra (30 tahun), pewaris tinggal kaya raya yang dikenal dingin dan anti-perempuan. Malam itu, ia dijebak hingga kehilangan kendali dan merenggut kesucian seorang gadis asing. Elisa hancur dan merasa mengkhianati amanah orang tuanya. Sedangkan Kalandra sendiri murka karena dijebak, namun bayang-bayang gadis semalam terus menghantuinya. Apa yang akan terjadi jika benih satu malam itu benar-benar tumbuh di rahim Elisa? Akankah Kalandra mau bertanggung jawab, atau justru takdir membawa mereka ke arah yang lebih rumit? Yukkk…ikuti ceritanya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senimetha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elisa-7

Pagi itu, suasana di kantor Mahendra Group jauh dari kata tenang. Di ruang kerja Kalandra yang luas dan beraroma kayu cendana yang mahal, Gery dan Bimo sedang berdebat sengit, sementara sang pemilik ruangan hanya duduk diam menatap hasil laboratorium di tangannya.

"Gue bilang juga apa, Lan! Lo nggak bisa langsung dateng terus bilang, Halo, gue yang menghamili lo, ayo nikah. Bisa mati berdiri tuh cewek!" Gery sewot sambil mondar-mandir.

Bimo mengangguk setuju. "Kali ini gue setuju sama Gery. Kondisi mental Elisa itu lagi di titik nadir. Dia baru tahu dia hamil, dia yatim piatu, dan dia takut sama lo. Pendekatan lo harus halus banget."

Kalandra menghela napas, ia melempar map itu ke meja. "Terus gue harus gimana? Diem aja nunggu perutnya besar? Gue nggak bisa, Bim. Tiap gue merem, gue kepikiran dia lagi nangis di klinik itu."

Gery tiba-tiba berhenti mondar-mandir dan menjentikkan jarinya. "Gini aja. Lo kan punya banyak perusahaan retail dan logistik. Kenapa kita nggak bikin skenario kalau dia dapet beasiswa atau tunjangan kesejahteraan dari perusahaan tempat dia kerja? Jadi dia punya uang tanpa tahu kalau itu dari lo."

"Nggak bakal jalan, Ger. Dia pinter, dia bakal curiga kenapa cuma dia yang dapet," sahut Bimo.

Tiba-tiba, ponsel Kalandra bergetar. Sebuah pesan dari orang suruhannya yang memantau rumah Elisa masuk. Ada foto Elisa sedang duduk di depan teras dengan wajah yang sangat pucat, memegang sepotong mangga muda pemberian tetangganya.

"Dia... dia lagi makan mangga muda?" gumam Kalandra melihat foto itu.

Gery langsung nyamber, "Nah! Itu dia! Gejala klasik. Dia lagi Ngidam, Bos! Wah, gila ya, baru empat minggu udah ngidam aja. Berarti anak lo nafsu makannya kuat kayak lo, Lan."

Kalandra tidak menanggapi candaan Gery. Ia malah mengambil jasnya. "Gue mau ke sana sekarang."

"Lan! Kan tadi udah dibilang jangan!" seru Bimo.

"Gue nggak bakal nemuin dia secara langsung. Gue cuma mau beliin sesuatu yang dia butuhin. Gery, lo tau tempat beli mangga paling enak di kota ini?"

Gery melongo. "Mana gue tau! Gue biasanya beli mangga di tukang rujak depan komplek!"

Sedangkan di posisi Elisa, ia merasa dunianya berputar. Mangga muda yang tadi diberikan Bu RT terasa sangat nikmat, tapi hanya bertahan sebentar sebelum rasa mual kembali menyerang. Ia menyandarkan punggungnya di pintu kayu yang mulai lapuk.

"Kak, Kakak beneran nggak apa-apa?" tanya Aris yang baru pulang sekolah. "Aris dapet nilai seratus tadi, Kakak mau liat?"

Elisa memaksakan senyum, ia mengusap kepala adiknya. "Hebat adik Kakak. Nanti malam Kakak masakin telur balado kesukaan Aris ya."

"Nggak usah, Kak. Kakak istirahat aja. Aris bisa beli nasi bungkus di depan pakai uang tabungan Aris," ucap bocah itu dewasa.

Tepat saat itu, sebuah mobil boks kecil berhenti di ujung gang. Dua orang petugas berseragam toko buah ternama keluar membawa beberapa keranjang buah-buahan segar yang sangat mahal.

"Misi, Mbak. Ini bener rumah Mbak Elisa?" tanya petugas itu.

Elisa bingung. "Iya, saya sendiri. Tapi saya nggak pesen apa-apa, Pak."

"Ini ada kiriman dari... anu, program Pelanggan Setia Toko Buah Segar. Katanya Mbak terpilih dapet paket buah gratis selama satu bulan," jawab petugas itu sesuai skrip yang sudah dihafalnya setelah diancam Gery.

Elisa menatap keranjang itu. Ada mangga harum manis yang sudah matang, mangga muda yang masih segar, jeruk, dan anggur. "Gratis? Tapi saya jarang beli buah di toko mahal kayak gitu."

"Sudah prosedur, Mbak. Silakan diterima."

Setelah petugas itu pergi, Aris bersorak senang. "Wah, Kak! Mangga! Besar-besar banget lagi!

Namun, saat Elisa mencium aroma mangga harum manis yang sudah matang itu, wajahnya mendadak berubah hijau. Aroma manis yang kuat itu justru membuatnya mual luar biasa.

"Aris... bawa... bawa jauh-jauh mangganya. Kakak nggak kuat baunya," Elisa menutup hidungnya dan berlari ke dalam.

Di Dalam Mobil SUV, Tak Jauh dari Sana Kalandra yang memantaunya lewat kaca jendela mobil merasa gagal total. "Dia mual karena buah yang gue kasih?"

Gery tertawa sampai hampir terjungkal dari kursi mobil. "Aduhh... Lan, Lan! Lo itu emang pinter bisnis tapi bego soal cewek. Orang hamil itu unik. Ada yang suka bau mangga, ada yang malah benci setengah mati. Kayaknya anak lo nggak suka barang mahal!"

"Diem lo, Ger," gerutu Kalandra. "Bim, catat. Dia nggak suka bau manis. Cari tahu apa yang biasanya disukai ibu hamil di tahap awal."

Bimo yang sedang sibuk dengan tabletnya hanya menggeleng. "Lan, daripada lo jadi kurir buah misterius, mending kita pikirin cara gimana lo bisa ngomong sama dia tanpa dia manggil warga buat ngeroyok lo."

Malam Harinya, Kalandra akhirnya pulang ke mansionnya dengan perasaan gelisah setelah hampir seharian dia dan kedua sahabatnya memantau Elisa. Saat makan malam bersama orang tuanya, ia hanya mengaduk-aduk makanannya.

"Lan, kamu sakit?" tanya Mama Siska cemas. "Wajahmu pucat sekali."

"Hanya capek, Ma," jawab Kalandra.

Tiba-tiba, Kalandra mencium aroma masakan pelayan di dapur, tumis kangkung dengan terasi. Biasanya, ia sangat suka masakan itu. Tapi malam ini, aroma terasi itu membuatnya merasa ingin muntah di saat itu juga.

"Ugh..." Kalandra menutup mulutnya dan berdiri dengan tergesa.

"Landra! Kamu kenapa?" seru Papa Mahendra.

Kalandra berlari ke kamar mandi di dekat ruang makan dan memuntahkan seluruh isi perutnya. Ia terduduk di lantai kamar mandi dengan napas tersengal.

"Kenapa gue jadi begini?" gumamnya heran.

Ia mengambil ponselnya dan menelepon Bimo. "Bim... ini aneh. Gue muntah-muntah cuma karena bau terasi. Padahal gue nggak sakit maag."

Di seberang telepon, terdengar suara tawa Gery yang menggelegar. "WAKAKAK! Lan! Itu namanya sympathetic pregnancy! Lo kena gejala ngidamnya Elisa! Gila, ikatan batin lo sama si bayi kuat banget!"

Kalandra terdiam. Ia menatap pantulan dirinya di cermin. Ia, Kalandra Mahendra, pewaris tunggal kekayaan keluarga Mahendra, sekarang sedang mengalami mual-mual karena wanita yang ia hamili sedang berjuang sendirian di sebuah kontrakan sempit.

Rasa bersalah itu kembali menghujam. Namun kali ini, ada sesuatu yang lain. Ada rasa tanggung jawab yang mulai berubah menjadi keinginan protektif yang besar.

"Gue harus nemuin dia besok," ucap Kalandra pada dirinya sendiri di cermin. "Gimanapun caranya. Gue nggak peduli kalau dia bakal benci gue selamanya, yang penting dia dan anak itu aman."

Kembali di Kontrakan Elisa, Elisa sedang duduk di depan jendela, menatap bintang-bintang. Perutnya terasa mulas, tapi ia tidak lapar. Ia hanya ingin makan sesuatu yang spesifik, tapi ia tidak tahu apa itu.

"Tuhan... beri aku kekuatan," bisiknya. "Demi Aris, aku nggak boleh lemah."

Ia mengambil kartu nama yang diberikan Bimo tempo hari dari bawah taplak meja. Ia menatapnya lama. Bimo Ardiansyah - Director of Operational.

"Haruskah aku minta tolong ke dia?" gumamnya ragu. Ia tahu hidupnya tidak akan sama lagi. Menjadi ibu tunggal di usianya yang 18 tahun, tanpa pekerjaan tetap, dan dengan seorang adik yang masih sekolah adalah sebuah misi yang hampir mustahil.

Tanpa Elisa sadari, di luar kontrakannya, sebuah bayangan pria tinggi sedang berdiri di kegelapan, memperhatikan jendelanya dengan tatapan penuh kerinduan dan penyesalan. Ya kerinduan, entah apa yang di rindukan kalandra tapi itu yang dia rasakan. Begitupun penyesalanan karena semua itu terjadi hasil dari perbuatannya karena dalam pengaruh obat. Kalandra ada di sana, melawan rasa mualnya sendiri demi memastikan gadis itu setidaknya masih bernapas.

______________

Selamat membaca📖📌

Jangan lupa like, comment, vote dan ratenya ya Manteman🙏🏻🙏🏻🙌🏾

1
Edi
semoga si danu cepat ketangkap dan bebi tripel lahir dengan selamat
tamara.nietzsche
Saling dukung ya! The Mansion😍🙏
tamara.nietzsche
Cerita yang kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!