Caroline Watson mengorbankan seluruh masa mudanya demi pria yang ia cintai. Ia setia berdiri di sisi suaminya, menyingkirkan impian pribadinya sendiri. Namun pada akhirnya, pria itu justru menceraikannya dengan alasan yang kejam—Caroline tidak mampu memberinya seorang pewaris. Keputusan itu meninggalkan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Dengan hati hancur, Caroline memilih menghilang dari hidupnya.
Lima tahun kemudian, ia kembali menginjakkan kaki di negeri itu, ditemani seorang bocah laki-laki kecil dengan wajah polos yang menawan.
Kehidupan barunya yang selama ini tenang mulai terguncang ketika mantan suaminya mengetahui kebenaran—bahwa Caroline telah melahirkan seorang putra. Seorang anak yang memiliki darahnya.
Namun kali ini, Caroline bukan lagi perempuan lemah yang dulu pernah ia tinggalkan. Ia telah berubah menjadi sosok yang jauh lebih kuat dan tak mudah disentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dewisusanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
William Kecil
Neo terkejut melihat betapa gelapnya ekspresi William saat ini.
“Coba cari identitas pria itu—”
Sebelum Lukas sempat menyelesaikan ucapannya, ia merasakan suhu di dalam mobil tiba-tiba menurun, seolah sistem pemanas mendadak rusak.
Jantung Lukas berdegup kencang saat ia bertemu tatapan dingin William dari kursi belakang. Ia tahu dirinya tak bisa lolos dari hukuman karena telah memberikan informasi palsu kepada William.
Bosnya pasti marah, menyaksikan mantan istrinya sudah memiliki suami baru dan seorang putra.
’Sial!! Aku benar-benar celaka!!’ Lukas hanya bisa mengumpat dalam hati sambil menampilkan senyum penuh penyesalan ke arah William, lalu kembali mengalihkan pandangannya pada Neo.
Ia mendekat ke Neo dan berbisik, “Neo, cepatlah. Periksa identitas pria itu, kita harus tahu siapa dia…”
Neo mengangguk. Ia segera membuka laptopnya, dan jari-jarinya bergerak cepat di atas keyboard — ia meretas CCTV di sekitar Loka Hotel.
“Pria itu punya aura militer. Dia bisa jadi tentara aktif,” kata Lukas sambil mulai menyusun rencana untuk keluar dari kekacauan yang dia buat untuk bosnya.
Setidaknya, ia tidak akan dihukum sendirian — ia melirik Neo dengan senyum licik.
“Ya, aku juga melihat itu. Aura pria itu sangat keren, bahkan saat dia menggendong putranya, dia terlihat sangat tampan…” jawab Neo sambil tetap sibuk mengetik.
Mata William tetap tertuju pada mobil putih yang meninggalkan hotel, sementara Lukas dan Neo berbincang dengan suara rendah.
William sendiri tak mengerti perasaannya, melihat Caroline bersama pria lain membuatnya cemburu. Padahal ia tahu seharusnya ia tidak boleh merasa cemburu.
Ia berusaha menekan rasa cemburunya, tetapi dahinya berkerut saat samar-samar mendengar percakapan Lukas dan Neo. Ia melayangkan pandangan tajam ke arah mereka, lalu berhenti pada Neo.
“Kau tidak perlu memeriksa latar belakangnya!”
Lukas dan Neo terkejut mendengar ucapan William. Mereka segera menoleh ke arahnya.
“Bos, kau serius?” tanya Lukas. “Kau tidak ingin tahu siapa pria itu?”
“Bos, percayalah… Tidak akan butuh waktu lama untuk mendapatkan informasi tentang pria itu. Ini tugas yang sangat mudah,” Neo ikut meyakinkannya.
William menahan amarahnya setelah mendengar kata-kata Neo. Ia mengusap pelipisnya sejenak sebelum berkata, “Jika kau tidak bisa mengakses informasi pribadi Caroline, maka kau juga tak akan pernah tahu siapa pria itu,” ujarnya dengan ekspresi datar.
Kini ia mengerti mengapa Neo tak bisa menemukan informasi apa pun tentang Caroline lima tahun lalu. Hanya segelintir orang yang ia kenal mampu melakukan hal seperti itu, dan salah satunya adalah Marcus Luttrell.
Neo mengernyit, bingung dengan jawaban William. “Bos, maksudmu pria itu memiliki identitas rahasia seperti Nyonya Caroline?”
Sebelum William sempat menjawab, Lukas menyela, “Bos, apakah kau mengenal orang itu?” Ia curiga setelah melihat betapa tenangnya bosnya sekarang.
“Hm, aku mengenalnya,” jawab William dengan santai.
Lukas dan Neo terkejut mendengarnya.
“Siapa orang itu, Bos?”
“Apakah dia tokoh penting?” tanya Lukas dengan penasaran.
William mengalihkan pandangannya kembali ke Lukas dan Neo, ia menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab. “Dia adalah Marcus Luttrell.”
Lukas dan Neo terdiam sejenak, mencoba mengingat nama itu. Mereka tahu nama Luttrell sangat penting di negara mereka, Hustonia.
Salah seorang dari keluarga Luttrell adalah salah satu pendiri negara ini. Saat ini, generasi muda keluarga Luttrell aktif di militer, politik, dan bisnis.
Mereka dikenal sebagai keluarga bangsawan di negara ini, dan kehidupan mereka sangat dekat dengan publik serta media. Namun, tidak banyak orang yang tahu siapa saja anggota keluarga Luttrell sebenarnya.
Tokoh-tokoh yang mereka kenal hanya sedikit, salah satunya adalah presiden terpilih, Wesley Luttrell. Ia adalah putra sulung dari Jenderal Beckett Luttrell.
Apakah Marcus Luttrell anggota keluarga itu?
“Luttrell yang mana?” Neo bertanya lebih dulu.
“Bos, Marcus Luttrell apakah dari keluarga Luttrell itu?” tanya Lukas. Jika pria itu benar-benar Luttrell berpengaruh, maka atasannya akan kesulitan mendapatkan kembali Nyonya Caroline.
William memalingkan pandangannya, ia merasa lelah sekarang. Ia berkata, “Ya, itu memang dia!”
“Sial!” Lukas mengumpat pelan, namun William bisa mendengarnya.
William tidak mengatakan apa pun, hanya memejamkan mata sambil menyandarkan kepalanya ke kursi.
“Nyonya Caroline benar-benar beruntung… Setelah bercerai dari Bos kita, dia mendapatkan tokoh kuat lainnya,” komentar Neo dengan nada kagum. Lalu matanya tertuju pada layar laptop, ia melihat foto Marcus Luttrell yang berhasil ia ambil dari rekaman CCTV hotel.
“Bos, apakah aku masih perlu melakukan tes DNA pada anak Nyonya Caroline?” tanya Lukas.
William perlahan membuka matanya, menatap langit-langit mobil. Ia berkata, “Lanjutkan. Aku ingin hasil tes DNA itu secepatnya.”
Lukas kebingungan. “Bos, bukankah itu anak Marcus Luttrell? Mengapa kau ingin—”
“Tidak…” William duduk lebih tegak dan menatap Lukas. “Mereka tidak pernah menikah. Jika mereka menikah, Marcus pasti akan mengundangku. Aku cukup dekat dengan ayahnya…”
Lukas terkejut. William hanya mengenal satu Luttrell dengan sangat baik, dan Lukas tahu siapa orang itu.
“Bos, ayah Marcus Luttrell? Maksudmu, Tuan Presiden…” tanya Lukas.
“Hm…”
Lukas menelan ludah dalam-dalam. Sebelum ia sempat berkata apa-apa, suara Neo menghentikannya.
“Bos, aku setuju denganmu. Anak kecil itu bukan putra Marcus Luttrell!!” kata Neo sambil menatap layar laptopnya. Melihat betapa miripnya wajah anak itu dengan foto Bos mereka saat masih kecil sungguh mengejutkan.
“Neo, kenapa kau begitu yakin?” Lukas mengernyit sambil menatap Neo.
Neo memutar laptopnya ke arah Lukas. “Aku berhasil mendapatkan foto anak itu. Kau bisa melihatnya sendiri.”
Penasaran, Lukas menatap layar laptop Neo. Beberapa detik kemudian, ia ternganga kaget. “Wow!! I-Ini… wajah Bos William saat masih kecil,” katanya dengan suara gemetar.
William melirik layar laptop dan terkejut dengan apa yang ia lihat.
Sebelumnya, ia tak bisa melihat wajah putra Caroline dengan jelas karena anak itu tidak menghadap ke arah mereka. Namun kini, setelah melihat foto tersebut, William yakin bahwa anak itu adalah putranya.
Bibirnya terangkat membentuk senyum dingin.
“Neo, kirimkan fotonya padaku!”
tapi juga kasian Caroline dibohongin 😢
keluarga ini ribet banget
ditampar → bangkit → balas semuanya
ini baru definisi wanita kuat 😭
Benjamin kelihatan panik tapi masih sok kuasa
Caroline kuat banget, ditampar tapi masih bisa berdiri dan melawan
keluarga Watson ini toxic parah