Satu tahun yang lalu, sebuah rahasia besar diletakkan di depan pagar rumah Arsenio Wijaya dalam sebuah keranjang bayi di bawah guyuran hujan badai. Tanpa identitas, bayi itu menjadi bagian dari hidup Arsen dan istrinya, Rosa, yang mereka rawat dengan penuh kasih sayang dan diberi nama Arlo.
Namun, kebahagiaan mereka terusik ketika Hadi Pramono, seorang pengusaha kejam dan berkuasa, muncul mengklaim Arlo sebagai hak biologisnya. Keadaan semakin keruh saat terungkap bahwa ibu kandung bayi itu adalah Laras, mantan kekasih Arsen yang dulu menghilang secara misterius dan meninggalkannya dalam depresi berat.
Fitnah keji mulai disebar. Hadi menuduh Arlo adalah hasil perselingkuhan gelap antara Arsen dan Laras. Di tengah tekanan publik dan ancaman fisik, Rosa yang sedang hamil muda harus berjuang antara kepercayaan pada sang suami atau kenyataan pahit masa lalu.
Dibantu oleh Dana, kakaknya yang merupakan perwira militer tegas, dan Rendy, pengacara jenius, Arsen berdiri di garis depan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BUKAN DARAH YANG MEMILIH
Suasana di ruang kerja Hadi yang mewah mendadak berubah mencekam. Layar televisi besar di depannya masih menampilkan wajah Arsen yang tampak berani dan jujur, membuat Hadi merasa terpojok oleh opininya sendiri. Amarahnya memuncak hingga ke ubun-ubun.
Hadi perlahan memutar tubuhnya, menatap Laras yang duduk tersungkur di pojok ruangan dengan tubuh gemetar.
"Ini karena kebodohan kamu!" geram Hadi.
PLAK!
Tamparan keras mendarat di pipi Laras hingga kepalanya tersentak ke samping. Laras memegangi pipinya yang panas dan memerah, air mata ketakutan mengalir deras.
"Dulu kamu bilang Arsen itu lemah! Kamu bilang dia nggak akan berani melawan kalau saya muncul sebagai ayah biologis!" bentak Hadi sambil menjambak rambut Laras agar wanita itu menatapnya. "Sekarang lihat! Dia menantang tes DNA di rumah sakit militer! Kamu tahu apa artinya itu? Saya nggak bisa menyuap orang-orang di sana!"
Laras terisak, suaranya nyaris hilang. "Aku... aku nggak tahu Arsen bakal nekat kayak gitu, Mas. Aku cuma mau Arlo aman..."
"Aman?" Hadi tertawa sinis, tawa yang terdengar sangat mengerikan. "Gara-gara kamu menaruh anak itu di sana, sekarang reputasi bisnis saya taruhannya! Kalau hasil DNA itu keluar dan membuktikan saya adalah ayah yang menelantarkan bayi di tengah hujan, saya hancur!"
Hadi melepaskan jambakannya dengan kasar. Ia mondar-mandir seperti singa lapar. "Cari cara. Hubungi Arsen, atau Rosa, atau siapa pun. Bilang kalau kamu yang memaksa Arsen untuk menampung anak itu. Lakukan apa pun supaya tes DNA itu tidak pernah terjadi, atau kamu akan tahu apa yang lebih buruk dari sekadar tamparan ini!"
Laras hanya bisa meringkuk di lantai. Ia sadar, keputusannya membawa Arlo ke hidup Arsen setahun lalu memang menyelamatkan nyawa bayinya, tapi kini ia telah menyeret orang-orang baik itu ke dalam neraka yang diciptakan oleh suaminya sendiri.
Suasana di ruang tamu rumah orang tua Arsen yang sudah penuh sesak dengan ketegangan, tiba-tiba kembali riuh. Pintu depan terbuka, dan munculah keluarga besar Rosa: ayah dan ibu Rosa, serta kedua kakak laki-lakinya, Bram dan Vino, yang bertubuh tegap dan dikenal memiliki pengaruh kuat di dunia bisnis dan hukum.
Bram, kakak tertua Rosa, melangkah masuk dengan gaya santainya namun sorot matanya tajam, menyapu pandangan ke arah Dana yang masih berseragam loreng.
"Lagi ada masalah penjagaan perang gini nggak undang kita?" ucap Bram dengan nada menyindir namun penuh solidaritas. "Kita lihat di berita, adik kecil kita lagi dipojokkan sama pengusaha arogan. Kalian pikir kita bakal diam saja?"
Vino, kakak kedua Rosa, langsung menghampiri Arsen dan menepuk bahunya keras. "Sen, kalau soal hukum lo punya Rendy. Kalau soal keamanan lo punya Mas Dana. Tapi kalau soal urusan 'mengacak-acak' balik bisnis dan aset si Hadi itu, itu bagian kami. Berani-beraninya dia bikin Rosa pingsan!"
Ibu Rosa tidak banyak bicara, ia langsung berlari ke dalam kamar menuju tempat Rosa berbaring, diikuti oleh Ibu Arsen. Pertemuan dua keluarga besar ini menandakan bahwa Hadi Pramono tidak lagi hanya berurusan dengan seorang pengacara, melainkan sebuah koalisi keluarga yang sangat kuat.
Ayah Rosa berdiri di samping Ayah Arsen. Kedua pria sepuh itu saling mengangguk, sebuah kode tanpa suara bahwa mereka akan mengerahkan segala koneksi lama mereka untuk mengunci pergerakan Hadi.
"Duduk, Bram, Vin," ajak Dana sambil menggeser peta taktis yang tadi ia buat bersama Rendy. "Pas banget kalian datang. Kita baru saja mulai konferensi pers tandingan dan menantang dia tes DNA. Hadi sekarang pasti lagi kebakaran jenggot."
"Bagus," sahut Vino sambil mengeluarkan ponselnya. "Gue udah minta tim IT gue buat track semua akun bot yang nyebarin fitnah perselingkuhan itu. Dalam satu jam, gue bakal tahu siapa yang dia bayar buat ngerusak nama Arsen."
Di tengah dukungan keluarga yang luar biasa ini, Arsen merasa beban di pundaknya sedikit terangkat. Namun, ia tahu Hadi yang terpojok adalah Hadi yang paling berbahaya.
Pintu kamar terbuka perlahan, dan Ibu Rosa melangkah masuk dengan wajah yang berusaha tegar meski matanya berkaca-kaca. Melihat putrinya yang pucat namun sedang mendekap Arlo, langkahnya pun bergegas.
Ia duduk di tepi ranjang, mengusap kepala Rosa dengan penuh kasih sayang, lalu beralih menyentuh perut Rosa yang masih rata dengan sangat lembut.
"Sehat, Ibu dua anak," ucapnya lirih, sebuah kalimat yang bukan sekadar sapaan, melainkan doa dan pengakuan bahwa Arlo dan janin di dalam kandungan Rosa adalah bagian tak terpisahkan dari keluarga mereka.
Tangis Rosa pecah seketika mendengar ucapan ibunya. Ia menyandarkan kepalanya di bahu sang ibu, mencari perlindungan yang selama ini selalu ia dapatkan sejak kecil.
"Bu... Rosa takut. Rosa takut Arlo diambil, Rosa takut anak ini kenapa-kenapa karena stres ini," bisik Rosa di sela tangisnya.
Ibu Rosa memeluknya lebih erat, sambil memberikan isyarat pada Salsa untuk menjaga Arlo sejenak. "Dengar Ibu, Sayang. Kamu lihat siapa saja yang ada di depan? Ayahmu, kakak-kakakmu, mertuamu, Dana, dan suamimu yang luar biasa itu. Mereka semua adalah bentengmu. Tidak akan ada satu helai rambut pun dari kamu atau anak-anakmu yang boleh disentuh orang jahat itu."
Ia menghapus air mata di pipi Rosa dengan ibu jarinya. "Jangan sebut dirimu lemah. Kamu itu kuat, Rosa. Kamu sudah menyelamatkan Arlo dari hujan deras setahun lalu, sekarang saatnya kamu bernapas tenang dan biarkan laki-laki di keluarga ini yang bekerja."
Di ambang pintu, Ayah Rosa dan Ayah Arsen berdiri bersisian, menatap pemandangan itu dengan haru sekaligus kemarahan yang tertuju pada satu nama: Hadi Pramono.
"Kita tidak akan membiarkan mereka menang, kan?" bisik Ayah Rosa pada besannya. "Hanya melewati mayat kami," jawab Ayah Arsen dengan suara rendah namun penuh penekanan.
Malam itu, suasana di rumah orang tua Arsen terasa begitu sunyi namun hangat. Di ruang makan, keluarga besar masih berkumpul, menjaga siaga di tengah kepungan intelijen Dana yang tersebar di luar. Arsen perlahan melangkah meninggalkan kerumunan itu, menuju kamar di mana Rosa berada.
Langkah kakinya terasa berat namun mantap. Saat pintu terbuka, ia melihat Rosa sedang duduk di sisi tempat tidur, menatap Arlo yang sudah terlelap. Arsen mendekat, berlutut di hadapan istrinya, dan menggenggam kedua tangan Rosa yang terasa dingin.
"Sayang," panggil Arsen lembut. Matanya menatap lurus ke dalam mata Rosa, menyalurkan ketenangan yang selama ini ia jaga mati-matian.
"Tes DNA-nya sudah dilakukan. Hasilnya jelas... dia bukan anak kandungku," ucap Arsen dengan suara rendah namun sangat tegas.
Rosa sempat menahan napas, ada rasa lega yang luar biasa sekaligus kesedihan yang menyeruak karena fitnah itu akhirnya terpatahkan secara medis. Namun, kalimat Arsen selanjutnya membuat air matanya luruh kembali—kali ini karena haru.
"Tapi Arlo tetap anakku. Dia anak yang lahir dari cinta kita, dari doa-doa kita sejak malam hujan itu. Status biologis tidak akan pernah mengubah fakta bahwa aku adalah Papanya, dan kamu adalah Mamanya."
Arsen mencium kening Rosa lama, lalu beralih mencium perut istrinya yang kini tengah mengandung adik bagi Arlo.
"Hadi Pramono tidak akan pernah bisa menyentuh Arlo lagi. Hasil tes itu membuktikan dia adalah penipu yang mencoba mengklaim anak orang lain demi menutupi kesalahannya sendiri. Besok, hasil ini akan meledak di media, dan itu akan jadi akhir dari permainannya."
Rosa memeluk leher Arsen erat, terisak di bahu suaminya. "Terima kasih, Papa Arlo. Terima kasih sudah tetap memilih kami di tengah badai ini."
Di luar kamar, tanpa mereka sadari, Dana dan kedua kakak Rosa berdiri di lorong. Mereka mendengar ucapan Arsen. Bram dan Vino saling berpandangan, lalu mengepalkan tangan. Bagi mereka, urusan dengan Hadi bukan lagi sekadar membela nama baik, tapi memastikan pria itu tidak akan pernah punya kesempatan untuk menghirup udara bebas lagi.