Seorang ahli data di sebuah perusahaan teknologi raksasa (mirip Google atau SpaceX) menemukan sebuah baris kode aneh di dalam AI tercanggih dunia. Kode itu bukan dibuat oleh manusia, tapi tertanam jauh di dalam lapisan sistem paling dasar. Saat ia mencoba menelusurinya, ia menemukan bahwa kode itu terhubung dengan frekuensi suara dari palung terdalam di Samudera Hindia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalur Hitam
Hujan belum juga reda saat mobil sedan tua produksi tahun sembilan puluhan itu menderu membelah jalanan Singapura yang sunyi. Mobil ini adalah anomali di tengah kota yang dipenuhi kendaraan listrik otonom. Tidak ada sensor GPS, tidak ada koneksi internet, dan mesinnya masih menggunakan pembakaran fosil yang kasar. Bagi sistem The Hage emon, mobil ini praktis tidak ada sebuah hantu di atas aspal.
Adam mencengkeram kemudi dengan buku jari yang memutih. Di sampingnya, Liora terus sibuk dengan perangkat radio gelombang pendeknya, berusaha menangkap frekuensi The Anchor yang semakin tidak stabil.
"Langit ungu itu..." Adam membuka suara, matanya tetap terpaku pada jalanan yang berkilau karena air hujan. "Itu adalah ionisasi atmosfer. Mereka sedang mencoba menghubungkan satelit dengan pemancar bawah laut menggunakan laser energi tinggi. Mereka benar-benar ingin mengubah seluruh atmosfer menjadi sirkuit raksasa."
Liora mendongak, menatap kilatan ungu yang sesekali membelah awan. "Berapa lama lagi sampai mereka mencapai sinkronisasi penuh?"
"Jika prediksiku di lantai 88 benar, kita punya kurang dari tiga jam sebelum gelombang pertama 'pembersihan' dimulai. Begitu resonansi mencapai 7.83 Hertz dengan amplitudo yang mereka inginkan, sistem saraf manusia tidak akan kuat menahannya. Orang-orang akan mati di tempat tidur mereka tanpa tahu apa yang menyerang mereka."
"Dan para elit itu?" Liora bertanya dengan nada getir.
"Mereka sudah punya bunker dengan pelindung faraday yang menetralisir gelombang itu. Mereka akan bangun besok pagi di dunia yang sudah 'bersih' dari orang-orang yang mereka anggap beban."
Mereka melewati gerbang kawasan industri Jurong. Lampu-lampu jalan di sini berkedip tidak stabil, beberapa meledak saat mobil mereka lewat, seolah-olah energi di udara sudah terlalu jenuh. Adam mengarahkan mobil menuju pelabuhan peti kemas yang nampak seperti hutan besi raksasa di kegelapan.
"Kenapa kapal selam riset?" Liora bertanya sambil memasukkan kembali pisaunya ke dalam sarung di kakinya.
"Karena kapal selam itu milik divisi eksplorasi laut dalam ate gard yang sedang mengerjakan proyek 'Blue Abyss'. Kapal itu dilengkapi dengan sistem navigasi inersia ia tidak butuh satelit untuk bergerak. Dan yang paling penting, kapal itu punya kode akses yang masih tersimpan di dalam memori otakku."
Adam memarkirkan mobil di balik tumpukan peti kemas yang berkarat. Mereka keluar dan segera berlari menembus pagar kawat yang sudah dipotong sebelumnya oleh kaki tangan Liora. Bau oli, garam, dan besi tua memenuhi udara. Di dermaga rahasia nomor 4, sebuah objek berbentuk kapsul ramping berwarna abu-abu gelap nampak terapung tenang di permukaan air yang bergejolak. The Seeker.
Namun, langkah mereka terhenti. Di depan dermaga, berdiri tiga sosok pria berpakaian setelan jas rapi, tanpa payung, membiarkan hujan membasahi tubuh mereka. Mereka tidak bergerak, mata mereka nampak kosong namun tajam. Di belakang mereka, dua unit robot berkaki empat Sentinel-K9 berdiri dengan senjata mesin yang terlipat di punggungnya.
"Adam," sebuah suara terdengar, namun bukan dari mulut pria-pria itu. Suara itu muncul dari speaker yang terpasang di tiang dermaga. Suara Silas. "Kau selalu punya selera yang buruk dalam memilih sekutu. Dari lantai 88 yang steril ke dermaga kotor bersama seorang pemberontak?"
Adam melangkah maju, memposisikan dirinya di depan Liora. "Silas, hentikan ini. Kau juga manusia. Kau punya keluarga. Jika gelombang ini dipancarkan, kau tidak bisa menjamin semua orang yang kau cintai akan selamat."
"Cinta adalah variabel yang lemah, Adam," suara Silas terdengar datar, tanpa emosi. "Kami tidak sedang menghancurkan manusia. Kami sedang menyaringnya. Bumi sudah terlalu penuh dengan kebisingan yang tidak perlu. Kami hanya mengembalikan harmoni. Dan kau, sebagai Arsitek, seharusnya bangga melihat karyamu mencapai puncaknya."
"Ini bukan karyaku!" teriak Adam. Suaranya tenggelam oleh suara guntur yang menggelegar. "Ini adalah kejahatan yang melampaui batas langit dan bumi! Kalian tidak akan pernah bisa menjadi Tuhan karena kalian tidak tahu rasanya menjadi manusia!"
Silas tertawa kecil, suara tawa yang terdengar digital dan menyeramkan. "Unit K9, eliminasi anomali. Amankan arsitek."
Kedua robot itu bersiap menyerang. Liora dengan sigap melemparkan sebuah bola kecil ke arah robot tersebut. Mp-Grenade rakitan. Ledakan biru kecil terjadi, membuat sistem sensor robot itu terganggu sesaat.
"Lari ke kapal selam, Adam! Sekarang!" teriak Liora.
Adam ragu sejenak, namun Liora mendorongnya. "Aku akan menahan mereka! Kau satu-satunya yang bisa mematikan The Anchor dari dalam! Pergi!"
Adam berlari menuju dermaga, melompat ke atas punggung The Seeker. Ia memasukkan kode akses pada panel pintu manual. 1-1-0-1-9-0. Pintu hidrolik terbuka dengan suara desisan udara. Ia menoleh ke belakang, melihat Liora sedang bertarung dengan salah satu pria bersetelan jas yang ternyata adalah android manusia buatan dengan kekuatan fisik luar biasa.
"Aku akan kembali untukmu!" teriak Adam sebelum menutup pintu kapal selam.
Di dalam The Seeker, suasana sangat sunyi. Hanya ada kerlip lampu indikator hijau dan suara dengungan oksigen. Adam duduk di kursi kemudi, tangannya gemetar saat menyentuh tuas kendali. Di layar monitor internal, ia melihat Liora terdesak, namun wanita itu sempat melemparkan pandangan terakhir ke arah kamera dermaga sebuah tatapan yang mengatakan Selesaikan ini.
Kapal selam itu mulai tenggelam, perlahan meninggalkan permukaan yang kacau menuju kegelapan yang lebih pekat. Adam menatap sensor kedalaman: 10 meter... 50 meter... 100 meter...
Ia kini sendirian di dalam rahim besi, menuju jantung samudera untuk menghentikan kiamat yang ia ikut bantu ciptakan. Di kedalaman yang dingin itu, Adam berbisik, "Jika memang ini adalah akhir, biarlah aku mati sebagai manusia, bukan sebagai angka."
Di atasnya, permukaan laut meledak saat gelombang frekuensi pertama mulai menyentuh air. Perjalanan menuju dasar dunia baru saja dimulai.