Senja terpaku saat matanya menangkap pacar dan sahabatnya bercumbu di balik semak hutan. Dengan langkah terpukul ia pergi menjauh hingga tersesat. Namun, sosok Sagara muncul, membelah kabut tebal seolah ditakdirkan menemuinya.
.
.
.
Senja mengerang pelan, refleks mendekat, menempel seperti magnet. Tangannya meraba, mencari sesuatu yang hangat. Jari-jarinya mencengkeram punggung kokoh Sagara. Napas mereka saling bercampur, tidak teratur, dan berat.
"Om…" Senja berbisik. Suaranya rapuh. "Aku dingin…"
"Aku di sini," jawab Sagara serak. "Tahan sedikit lagi."
Mereka tidak saling kenal, keduanya masih asing. Namun, malam itu... keduanya berbagi kehangatan di tengah hutan berselimut kabut tebal.
Satu malam mengubah hidup Senja.
Bukan karena cinta, melainkan karena kesalahan yang membuatnya kehilangan rumah, keluarga, dan tempat berpulang.
Sagara menikahinya bukan untuk memiliki. Ia hanya ingin bertanggung jawab… lalu pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nofiya Hayati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Pagi datang tanpa gegap gempita. Tidak ada perubahan besar yang langsung terasa. Matahari tetap masuk lewat jendela dengan cara yang sama. Burung-burung tetap berkicau seperti biasa.
Tapi bagi Senja, pagi ini terasa berbeda.
Ia terbangun dengan kesadaran penuh sebelum bunyi alarm menyapa. Tangannya refleks bergerak ke perutnya, lalu berhenti di udara.
Istri.
Sebutan itu kembali terngiang, pelan tapi nyata. Senja duduk di tepi ranjang, memandangi kamar yang masih asing, namun tidak lagi terasa menakutkan. Ia menelan ludah. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Dari balik dinding, terdengar suara langkah pelan dan teratur. Dia tahu itu langkah Sagara.
Senja langsung menegakkan punggung, lalu tanpa sadar merapikan rambutnya yang jelas tidak akan langsung rapi hanya dengan dua usapan. Ia berdiri, ragu sejenak, lalu membuka pintu kamar.
Sagara sudah berpakaian rapi saat berjalan menyusuri koridor. Kemeja polos lengan panjang, celana kain, jam tangan di pergelangan. Rambutnya masih sedikit basah, aroma sabun samar tercium.
Pria itu menoleh saat melihat Senja. “Sudah bangun.”
“Iya…” Senja mengangguk kecil. “Om juga.”
“Hm.”
Hening turun menyelimuti persekian detik. Canggung belum sepenuhnya cair.
Sagara melirik jam. “Kamu mual?”
“Sedikit,” jawab Senja jujur.
“Duduk.”
Itu bukan sebentuk perintah keras. Lebih seperti kebiasaan.
Sagara berjalan ke dapur. Senja menurut, membuntuti lalu duduk di kursi meja makan.
Sagara bergerak tanpa banyak bicara. Mengambil panci. Memotong jahe. Merebus air. Gerakannya tenang, efisien. Tidak ada dramatisasi, apalagi ingin terlihat heroik.
Senja memperhatikannya wajah tampan itu diam-diam. Jadi begini rasanya pagi setelah menikah, pikirnya. Meski tanpa pelukan, tanpa kecupan, tapi Sagara seseorang yang tahu apa yang harus dilakukan tanpa perlu diminta.
“Jangan menatap terlalu lama,” ujar Sagara tiba-tiba, tanpa menoleh. “Airnya bisa meluap.”
Senja tersentak. “Oh--maaf.”
Sagara melirik sekilas. Ada kilatan kecil di matanya. Hampir seperti senyum yang tak dibiarkan muncul.
Beberapa menit kemudian, semangkuk segelas wedang jahe tersaji di depan Senja.
“Pelan-pelan.”
Senja meniup, lalu menyeruput.nWajahnya sedikit mengendur. “Hangat.”
“Harusnya.”
Sagara duduk di seberangnya, memperhatikan gerakan istri kecilnya itu.
“Om tidak sarapan?”
“Nanti.”
“Oh.” Senja ragu. “Karena aku?”
“Karena kamu lebih penting.”
Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa nada manis, tanpa jeda.
Senja terdiam. Pipinya menghangat. “Oh,” ulangnya pelan.
"Lalu, makan," ucap Sagara.
"Iya."
Setelah selesai, Senja bangkit membawa mangkuk ke wastafel. “Aku mau--”
Belum selesai kalimatnya, Sagara sudah berdiri. “Berikan.”
Ia mengambil mangkuk itu dari tangan Senja, jarinya sempat menyentuh jemari Senja sekilas. Sangat singkat, tapi cukup membuat Senja membeku satu detik.
Sagara juga berhenti sepersekian detik. Lalu melanjutkan mencuci, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Aku… ke kamar ganti baju,” ucap Senja buru-buru.
“Iya.”
Di kamar, Senja bersandar di pintu. Menghembuskan napas panjang. "Kenapa cuma disentuh sebentar saja rasanya begini?" gumamnya.
*
*
*
Mobil melaju tenang meninggalkan halaman rumah. Senja duduk di kursi penumpang dengan tangan bertumpu di tas kecil yang dibawa Sagara tadi pagi.
Ia sudah bersiap sejak Sagara menyuruhnya mengganti pakaian kemeja sederhana, rok panjang, sepatu datar. Terlalu rapi untuk sekadar jalan pagi.
“Om…” Senja melirik ragu. “Kita mau ke mana?”
Sagara tidak langsung menjawab. Matanya fokus ke jalan. “Ke kampus.”
Senja mengerjap. “Kampus?”
“Iya.”
“Tapi… bukannya hari ini aku kontrol ke klinik?”
“Kita sudah sepakat,” jawab Sagara tenang. “Kamu ingin melanjutkan kuliah. Hari ini pendaftaran dibuka.”
Jantung Senja berdetak lebih cepat. “Hari ini?”
“Iya.”
“Om nggak bilang dari tadi.”
“Kalau kubilang, kamu akan gugup dari pagi.”
Senja terdiam. Ia ingin menyangkal, tapi itu benar. Tangannya meremas tas.
“Om... aku belum siap. Maksudku, aku bahkan belum---”
“Kamu tidak perlu siap,” potong Sagara tenang. “Kampus yang baik akan menunggumu. Bukan sebaliknya.”
Kalimat itu membuat Senja tercekat.
“Aku sudah cek syaratnya,” lanjut Sagara.
“Programnya fleksibel. Dekat. Dan mendukung mahasiswa hamil.”
Senja menatapnya lama. “Om sudah… sejauh itu mikirnya?”
Sagara menoleh sekilas. "Sudah keharusan, supaya hidupmu tetap bisa berjalan."
Dada Senja menghangat, terharu. “Oh…” Ia menunduk, lalu tersenyum kecil. “Aku jadi gugup.”
“Itu wajar.”
“Kalau aku tidak lolos?”
“Kita cari jalan lain.”
“Kalau aku takut?”
“Kamu boleh takut,” jawab Sagara.
“Tapi kamu tidak boleh berhenti.”
Senja menarik napas panjang, lalu mengangguk. “Iya.”
Selang beberapa waktu mobil berhenti di depan kampus. Sagara tidak langsung parkir ke dalam.
“Ini kampus Om?” tanyanya lagi, suara sedikit menipis.
Sagara mengangguk. “Kampus tempat aku mengajar.”
Senja menoleh cepat. “Aku--aku bisa daftar di tempat lain.”
“Kenapa?”
“Aku takut… merepotkan. Atau orang-orang salah paham.”
Sagara melirik sekilas. “Kamu mendaftar sebagai mahasiswa. Bukan sebagai siapa-siapa.”
Jawaban itu membuat Senja menelan ludah.
“Kita juga tidak akan berjalan bersama seperti pasangan,” lanjut Sagara datar.
"Tapi Om--"
“Di luar sana, kamu Senja. Aku Sagara. Itu saja," potong Sagara.
Senja mengangguk pelan. “Baik.”
Gerbang kampus terlihat. Spanduk pendaftaran mahasiswa baru terbentang lebar. Suasana ramai, tapi teratur.
Begitu mobil berhenti di pelataran parkir, Sagara turun lebih dulu, lalu membuka pintu Senja, gerakan reflek sepersekian detik. Menyadari h itu ia langsung menarik tangannya kembali.
“Maaf,” katanya pendek.
Tidak ada yang melihat. Tapi Senja tetap tersipu dengan sisi act of service Sagara.
Mereka berjalan berdampingan, namun berjarak satu langkah. Begitu menginjakkan kaki di area fakultas, beberapa orang langsung menoleh.
“Pagi, Pak Sagara.”
“Selamat pagi, Prof.”
“Pak.”
Sagara mengangguk singkat. “Pagi.”
Senja otomatis menunduk kecil setiap kali orang menyapa Sagara. Tubuhnya terasa semakin kecil di belakang reputasi suaminya yang berdiri begitu tinggi.
Ia baru menyadari bahwa nama Sagara bukan sekadar nama. Itu sebuah posisi yang teramat disegani.
Di depan gedung administrasi, Sagara berhenti. “Kamu masuk sendiri,” katanya. “Aku menunggu di luar.”
Senja terkejut. “Sendiri?”
“Iya.”
“Tapi--”
“Kamu harus terbiasa,” potongnya lembut. “Ini hidupmu.”
Senja mengangguk. “Iya.”
Sagara menambahkan satu kalimat terakhir, nadanya rendah. “Kalau ada yang membuatmu tidak nyaman, keluar. Aku di sini.”
Kalimat Sagara sederhana, tapi membuat Senja merasa berdiri di atas tanah yang kokoh.
Ia masuk. Di dalam, seorang staf perempuan tersenyum ramah. “Daftar mahasiswa baru?”
“Iya, Bu.”
Nama Senja dipanggil. Berkas diperiksa. Formulir diisi.
“Pendampingnya siapa?” tanya staf itu sambil tersenyum.
Senja refleks menoleh ke arah luar kaca. Sagara berdiri di koridor, sedang berbicara dengan dosen lain.
“Keluarga,” jawab Senja pelan.
“Oh.” Staf itu mengangguk tanpa curiga.
“Orang tua?”
“Bukan,” Senja ragu sepersekian detik. “…kerabat.” Ia tidak berbohong. Tapi juga tidak sepenuhnya jujur.
Sementara itu di luar, seorang dosen muda bernama Pandu menyapa akrab Sagara. “Mahasiswi baru, Pak?”
Sagara mengangguk. “Iya.”
Pandu melirik ke dalam kaca. “Cantik. Adiknya?"
Sagara mengamati Senja sekilas, hati mengakui bahwa yang dikatakan Pandu teramat benar. "Bukan adik."
"Saudara jauh?"
"Bukan."
Pandu menyeringai. “Wah, menarik. Terus siapa, dong?”
Sagara menghela napas pelan. “Seseorang yang saya antar.”
“Cuma antar?” Pandu menaikkan alis, sengaja menggoda.
Sagara menoleh penuh kali ini. Tatapannya tenang, tapi cukup untuk membuat senyum Pandu meredup setengah detik. Sudut bibir Sagara terangkat samar.
“Dia seseorang yang tidak saya biarkan sembarang orang penasaran.”
Di balik kaca, Senja sempat menangkap potongan kalimat itu. Jantungnya berdebar, bukan karena takut, melainkan karena nada Sagara terdengar terlalu menjaga. Ia pura-pura sibuk, meski pipinya terasa hangat.
Pandu terkekeh kecil. “Baiklah. Protektif juga, ya, Pak.”
Sagara mengalihkan pandangan ke arah Senja lagi. “Yang penting,” ucapnya santai, “dia aman selama bersama saya.”
Pandu mengangkat kedua tangan. “Pesan diterima. Nanti kalau sudah resmi jadi mahasiswi, saya nggak tanya lagi.” Ia melirik ke dalam sekilas, lalu menambahkan jahil, “Soalnya kelihatannya yang satu ini jelas bukan cuma titipan.”
Sagara menahan senyum. Bukan cuma titipan. Dan bukan pula urusan siapa pun untuk tahu sejauh apa aku menjaganya. Batinnya.
Setelah selesai, Senja keluar dengan map cokelat di tangan.
“Sudah?” tanya Sagara singkat.
Senja mengangguk. “Sudah.”
Sagara berdiri di sampingnya. Jaraknya tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk menutup ruang pandang. Tangannya terangkat sebentar, lalu turun lagi, seakan ragu. Akhirnya jemarinya singgah ke dalam saku celana.
“Kita lanjut ke bagian administrasi,” katanya.
Nada itu biasa saja. Terlalu biasa, bahkan.
Namun, Senja tahu cara Sagara berdiri sedikit di depannya, sudut tubuhnya yang sengaja menghalangi lalu-lalang, adalah bentuk perhatian yang tidak ia ucapkan.
Saat Senja berbalik, bahunya bersentuhan dengan dada Sagara. Ia menahan napas sepersekian detik.
Sagara berdehem pelan. “Hati-hati.”
Hanya dua kata, tapi percayalah itu cukup membuat Senja tersenyum kecil tanpa sadar.
Dari kejauhan, Pandu melirik mereka, lalu berujar setengah bercanda, “Pak, cara nganter mahasiswa sekarang beda ya?”
Sagara tidak menoleh. “Metode baru,” jawabnya singkat.
Senja menunduk, menahan senyum.
Sagara melangkah lebih dulu, memastikan jalannya aman.
Saat mereka berjalan menuju parkiran, seorang mahasiswi berbisik ke temannya, cukup keras untuk terdengar.
“Itu Pak Sagara, kan?”
“Iya. Jomblo terus, padahal ganteng banget.”
Langkah Sagara tetap stabil. Wajahnya tenang, seolah komentar itu tidak pernah singgah. Senja justru menoleh padanya, menahan senyum.
“Apa mereka selalu sejujur itu?” bisik Senja.
“Tidak,” jawab Sagara. “Biasanya lebih kreatif.”
Senja tertawa kecil. “Dan... jomblo terus?”
Sagara melirik sekilas, lalu kembali menatap depan. “Data lama.”
Senja menutup mulutnya, menahan tawa. “Belum di-update, ya?”
“Belum sempat,” jawab Sagara datar. “Adminnya sibuk.”
Senja akhirnya tertawa kecil, bahunya bergetar.
Sagara membuka pintu mobil dan berkata santai, seolah menutup pembicaraan paling serius di dunia, “Sekarang, prioritasnya pulang dengan selamat.”
Senja mengangguk, masih tersenyum.
Parkiran kampus terasa lebih cerah dari biasanya.
Bersambung~~
tdk butuh keahlian untuk mengendalikan berita negativ. tidak butuh skill, tidak butuh smart. cukup gak punya hati aja, sedikit memoles narasi, cuzz berita buruk itu berlari, menyebar, singkat.
kayak aku bermimpi, karyaku banyak dibaca, banyak disukai, bukan karena aku merasa pantas, tapi aku mau kayak itu. ya walau faktanya sepi. seperti mengulang sepinya LL..yang sepi, rapi, presisi. tak pernah bertambah hingga ke ujung cerita..
yuk lanjut. aku pantau 😎😎😎..