"Di antara dinginnya sebuah pelindung dan hangatnya sebuah tawa, ada hati yang bertekad untuk tidak lagi hancur." - Meira tidak pernah percaya bahwa tragedi yang merenggut nyawa Papanya hanyalah kecelakaan biasa. Didorong oleh rasa kehilangan yang amat dalam dan teka-teki hilangnya sang Mama tanpa jejak, Meira berangkat menuju Lampung dengan satu tekad bulat, menguak tabir gelap yang selama ini menutupi sejarah keluarganya. Namun, menginjakkan kaki di SMA Trisakti ternyata menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya dari yang ia bayangkan. Jalannya tidak mudah. Meira harus berhadapan dengan tembok tinggi yang dibangun oleh rahasia yang terkubur dalam, hingga trauma yang nyaris membuatnya menyerah di setiap langkah. Setelah satu demi satu rahasia terbongkar, Meira pikir perjuangannya telah usai. Namun, kebenaran itu justru membawa badai baru. Ia kembali dihadapkan pada persoalan hati yang pelik. Antara rasa bersalah, janji masa lalu, dan jarak. Kini, Meira harus membuat keputusan tersulit dalam hidupnya. Bukan lagi tentang siapa yang bersalah atau siapa yang benar, melainkan tentang siapa yang berhak menjadi tempatnya bersandar selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon amuntuyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Delapan
Seorang cowok berambut cokelat alami tampak sedang berkutat dengan setumpuk soal-soal latihan di meja belajarnya. Sesekali ia memijat pangkal hidungnya dengan gerakan perlahan. Cowok itu tetap terfokus pada kegiatannya saat seorang wanita paruh baya memasuki kamarnya. Wanita itu duduk di sisian meja seraya menatap putranya lekat.
"Nilai kamu anjlok lagi, Rey. Kenapa? Murid baru itu ngingetin kamu ke Lyra?" kata wanita itu. Tangannya ia pangku di depan dada.
Rey menghentikan kegiatan menulisnya, tapi belum mau menoleh pada wanita di sampingnya.
"Bukan soal Lyra, Ma." jawab Rey akhirnya. Suaranya rendah, nyaris seperti geraman yang tertahan. Ia meletakkan pulpennya dengan tekanan yang sedikit keras di atas meja.
Wanita itu, Mama Rey, hanya tersenyum tipis, sebuah senyum yang tidak menyentuh matanya. "Lalu apa? Sebelumnya kamu selalu jadi yang terbaik di sekolah. Tapi sekarang, cuma karena seorang gadis pindahan dari Bogor, konsentrasi kamu pecah?"
Rey akhirnya menoleh. Matanya yang tajam menatap sang ibu dengan sorot yang sulit dibaca. "Dia bukan cuma anak pindahan biasa. Mama tahu itu."
"Mama nggak peduli siapa dia." potong wanita itu cepat. Ia berdiri, merapikan blusnya yang tanpa cela. "Yang Mama peduli adalah kamu tetap berada di puncak. Jangan sampai rasa bersalah masa lalu atau apa pun yang kamu rasakan saat melihat wajahnya, membuat kamu jadi terlihat lemah. Kamu tahu kan apa konsekuensinya kalau kamu gagal?"
"Iya, Ma."
"Ya sudah, lanjutkan belajarnya. Besok akan ada tes, Mama percayakan yang terbaik sama kamu." wanita itu melangkah pergi meninggalkan Rey setelah mengusap kepalanya pelan.
Sepeninggalan sang Mama, suasana kamar itu mendadak terasa jauh lebih dingin. Rey tidak langsung kembali menyentuh tumpukan soal di depannya. Ia justru menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
Bayangan Meira yang berlari keluar kelas tadi siang terus berputar di kepalanya. Getaran tangan cewek itu saat memegang ponsel, kepanikannya dan raut wajah yang seolah kehilangan tumpuan, Rey tahu persis apa yang dirasakan Meira. Karena tiga tahun lalu, ia juga berada di posisi yang sama.
Rey membuka laci meja belajarnya, mengambil sebuah gantungan kunci dengan huruf "L" yang sudah sedikit berkarat.
"Lyra..." bisiknya pelan.
Nama yang disebut mamanya tadi bukanlah sekadar nama biasa. Lyra adalah alasan mengapa Rey begitu membenci kekalahan, dan sosok Meira sejenak membuatnya teringat kembali tentang gadis itu.
Gantungan kunci itu terasa dingin di telapak tangannya, seolah menyimpan sisa-sisa memori dari malam yang paling ingin Rey hapus dari ingatannya. Tiga tahun lalu, di bawah langit Bandar Lampung yang mendung karena hujan, ia kehilangan segalanya. Dan kini, Meira datang membawa gema yang sama.
Rey melempar gantungan kunci itu kembali ke dalam laci dengan kasar. Suara dentingan logamnya menggema di kamar yang sunyi. Cowok itu berusaha kembali fokus pada deretan soal Matematika di depannya.
...\~\~\~...
Di koridor sekolah, Meira sengaja memisahkan diri dari Ayara dan Lana yang tadi sempat berjalan bareng memasuki gerbang bersamanya. Ia beralasan ingin ke toilet dan meminta mereka untuk ke kelas duluan. Namun, kakinya melangkah menuju ruang guru yang terlihat masih sepi pagi ini. Meira mengintip ke ruangan itu dari jendela, baru ada tiga orang guru disana.
Semalaman Meira tidak bisa tidur karena dihantui oleh rasa penasaran. Pikirannya sedang tidak ingin bersahabat. Isi dari kotak pemberian Pak Rudy sungguh menyita seluruh pikirannya. Apalagi, ditambah fakta bahwa Bu Resma dan Bu Hera adalah teman baik Ibunya saat itu.
"Kamu lagi ngapain?"
Suara seseorang di belakangnya berhasil membuat Meira terkejut. Gadis itu hampir akan berteriak sangking kagetnya. Meira membulatkan mata ketika melihat Bu Hera, guru Matematika sekaligus orang yang ia cari sudah berdiri di hadapannya.
"Eh? I-ibu, sa-saya mau..." Meira berusaha memutar otak supaya tidak dicurigai. "Saya.. lagi cari Bu Resma, Bu." ucapnya beralasan.
Bu Hera menyipitkan matanya sedikit curiga dengan sikap Meira. Ditambah lagi Meira tidak dapat menyembunyikan rasa gugupnya.
"Kalau begitu, silahkan tunggu di dalam." suruh Bu Hera.
Meira tersenyum kaku. "Enggak usah, Bu. Kayaknya Bu Resma belum datang, saya nunggu di kelas saja. Permisi, Bu." pamitnya.
"Tunggu sebentar."
Meira mengurungkan niatnya untuk pergi dari sana karena Bu Hera menghentikannya. Ia membalikkan badannya pelan, lalu kembali berhadapan dengan guru berbadan ideal itu.
"Iya, kenapa, Bu?"
"Kamu Meira Adisty, murid baru dari kelas XI IPA 1, kan?" tanyanya yang langsung diangguki oleh Meira.
"Iya, benar, Bu."
Bu Hera mengangguk-anggukkan kepalanya. "Kalau begitu, saya mau minta tolong, kamu bawakan tas saya, ya. Kebetulan saya mengajar jam pertama di kelas kamu, benar?"
"Benar, bu."
Meira menyambut tas dari tangan Bu Hera cepat. Kemudian ia melanjutkan langkahnya setelah diizinkan pergi oleh guru matematikanya itu. Ia membuang napasnya beberapa kali untuk menetralkan kembali perasaannya. Sesuatu kembali terlintas di pikirannya.
"Aku harus tanya soal Mama ke siapa?" tanyanya pada diri sendiri.
...\~\~\~...
Meira menatap lurus soal tes yang ditulis di papan tulis. Ia sama sekali tidak berminat untuk melakukan apapun sekarang. Pikirannya terus dihantui tentang Mamanya. Ia harus segera memecahkannya.
Bu Hera, yang sedari tadi memperhatikan Meira dari arah mejanya langsung menghampiri gadis itu. Ia mengetuk meja Meira dengan spidol di tangannya, hingga membuat perhatian semua orang beralih pada Meira.
"Meira." panggil Bu Hera. Meira tak bergeming, ia sudah terlanjur larut dalam lamunannya.
"Meira Adisty." Bu Hera mengetuk meja Meira, kali ini lebih keras.
"Eh? Iya, Bu, kenapa?" ucap Meira terbata saat sudah tersadar dari lamunannya.
"Kamu kok malah melamun, cepat kerjakan soalnya. Waktunya tinggal sebentar lagi."
Perkataan Bu Hera membuat Meira menoleh ke arah lembar jawaban miliknya. "Saya... sudah selesai, Bu." Meira memberikannya pada Bu Hera.
Bu Hera tampak mengerutkan keningnya heran. "Sudah selesai?" ia memeriksa lembar jawaban Meira. Kertas itu sudah hampir terisi penuh oleh rumus beserta jawabannya.
"Harusnya kamu bilang kalau memang sudah selesai, jangan malah melamun." katanya lagi dengan nada lebih dingin.
Meira tersenyum kaku. "I-iya, maaf, Bu."
"Ya sudah, buat yang lain, waktu kalian tinggal sepuluh menit lagi." interupsi Bu Hera sambil berjalan kembali ke mejanya.
...\~\~\~...
semangat, ya..
kita saling dukung ya..
🥰🥰
Datang dan dukung karyaku yang berjudul "TRUST ME", yuk!
Kritik dan saran dari kakak akan memberi dukungan tersendiri untukku..
Bikin aku jadi semangat terus untuk berkarya..
Ditunggu ya, kak..
Terima kasih..
🥰🥰🥰