NovelToon NovelToon
Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Gacha Sultan: Auto Kaya Sejagat Jakarta

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Harem
Popularitas:11k
Nilai: 5
Nama Author: DipsJr

Raka Adiyaksa adalah definisi nyata dari "Sobat Misqueen". Mahasiswa biasa yang rela makan mie instan diremas setiap akhir bulan demi menabung untuk gebetannya, Tiara. Namun, pengorbanannya dibalas dengan pengkhianatan. Di malam konser yang seharusnya menjadi momen pernyataan cintanya, Raka justru melihat Tiara turun dari mobil mewah milik Kevin, anak orang kaya yang sombong, sementara Raka ditinggalkan sendirian di trotoar GBK dengan dua tiket yang hangus.

Di titik terendah hidupnya, saat harga dirinya diinjak-injak, sebuah suara mekanis berbunyi di kepalanya.

[DING! Sistem Sultan Gacha Tanpa Batas Telah Diaktifkan!]

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DipsJr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5: Bug Semesta dan Pelukan Kesembilan

Stadion Utama Gelora Bung Karno mendadak berubah menjadi kawah gunung berapi aktif.

Setelah momen "pelukan suci" dengan Vania Winata tadi, atmosfer di stadion berubah drastis. Dari euforia konser musik, menjadi arena penghakiman massal bagi satu orang pria bernama Raka.

Di layar raksasa LED, kolom live chat dari platform streaming (YouTube, TikTok, Instagram) bergulir dengan kecepatan cahaya. Isinya? 99% sumpah serapah, 1% orang jualan obat kuat.

[Netizen +62 Bersabda]:

"WOY ITU TANGANNYA TOLONG DIKONDISIKAN YA!"

"Bangsat, gue beli tiket VIP 5 juta cuma dapet salaman sama satpam, dia tiket gratisan dapet peluk?!"

"Lepasin Dewi gue, Dasar Kutil Badak!"

"Siapa sih tu cowok? Sok asik banget anjir. Keliatan banget sange-nya."

"FIX SETTINGAN! Gimmick murahan biar viral!"

"Laporin polisi! Pelecehan visual ini namanya!"

Raka, yang masih berdiri di atas panggung, tentu saja tidak melihat kolom komentar itu. Tapi dia bisa merasakan hawa membunuh yang memancar dari ribuan penonton pria di bawah sana.

Namun, alih-alih takut, Raka justru sedang menikmati sisa-sisa sensasi di dada bidangnya. Analisis sistem tadi ternyata bukan sekadar angka di atas kertas. Kelembutan yang sempat menempel selama dua detik itu terasa begitu nyata, elastis, dan... adiktif. Aroma tubuh Vania yang seperti campuran vanilla dan blooming jasmine masih tertinggal di kemeja flanelnya.

"Gila..." batin Raka sambil tersenyum tipis, senyum yang diartikan netizen sebagai senyum kemenangan iblis. "Ternyata jadi orang hoki itu rasanya se-nagih ini."

Vania, sebagai profesional sejati, berusaha mencairkan suasana. Meskipun dia sedikit kaget dengan keberanian cowok ini, dia harus menjaga mood acara. Dia mengambil kembali mikrofon dari tangan Raka.

"Oke! Selamat sekali lagi buat Raka," kata Vania dengan senyum yang dipaksakan ceria. "Nah, karena tangan kamu lagi wangi banget nih, gimana kalau kamu yang teken tombol buat undian hadiah kedua?"

Raka mengangkat alis. "Boleh? Nanti kalau saya menang lagi gimana?"

Vania tertawa renyah. "Ya nggak mungkin dong, Mas Raka. Probabilitasnya itu satu banding delapan puluh ribu. Kalau kamu menang lagi, aku traktir makan malem deh."

Salah ngomong lo, Neng, batin Raka.

"Oke, kalau maksa," jawab Raka santai.

Jarinya yang panjang menekan tombol virtual di layar tablet yang dipegang Vania.

[ SPINNING... ]

Angka-angka di layar raksasa berputar acak dengan kecepatan tinggi. Ribuan penonton menahan napas, berharap nomor tiket mereka yang muncul kali ini. Please, jangan dia lagi. Please, Tuhan.

"Stop!" seru Vania.

Raka mengangkat jarinya.

Layar berhenti berputar.

[ ROW A - SEAT 12 ]

Hening.

Benar-benar hening.

Bahkan suara jangkrik pun segan untuk berbunyi di momen absurd ini.

Mata Vania membelalak. Mulut mungilnya sedikit terbuka, membentuk huruf 'O' yang lucu. Dia menoleh ke layar, lalu ke Raka, lalu ke layar lagi.

"Loh?" Vania bingung. "Kok... kok A-12 lagi?"

Raka menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu memasang wajah paling polos sedunia. "Waduh. Maaf ya, Mbak Vania. Kayaknya sistemnya ngefans sama saya."

Penonton: "BOOOOOOOOO!!!!!"

Teriakan protes mulai terdengar. "CURANG WOY!" "SETTINGAN! BALIKIN DUIT GUE!" "ORANG DALEM ITU PASTI!"

Vania panik. Dia menoleh ke arah Stage Manager yang berdiri di pinggir panggung. Wajahnya bertanya: Ini gimana ceritanya? Error ya?

Si Stage Manager menggeleng panik, memberi kode tangan menyilang, lalu menunjuk ke arah ear monitor Vania. Suara panitia terdengar di telinga Vania: "Lanjut aja, Van! Kita cek sistemnya. Anggap aja hoki. Kasih hadiahnya."

Vania menelan ludah. "O-oke... Wah, gila banget ya! Raka lagi! Tepuk tangan dong buat keberuntungan yang nggak masuk akal ini!"

Tepuk tangan yang terdengar sangat garing dan penuh kebencian.

"Hadiah kedua... Poster Limited Edition plus tanda tangan basah," Vania mengambil gulungan poster dari kru, lalu menyerahkannya ke Raka dengan gerakan agak kaku.

Raka menerima poster itu, lalu tanpa ragu, dia merentangkan tangannya lebar-lebar.

"Hadiahnya udah. Pelukannya belum," kata Raka santai.

Vania: "..."

Ngelunjak ya, Mas.

Tapi Vania tidak bisa menolak di depan kamera. Citranya sebagai idola yang ramah adalah segalanya. Dengan senyum kaku, dia membiarkan Raka memeluknya lagi.

Grep.

Kali ini Raka memeluk sedikit lebih lama. Sekitar 3,5 detik. "Makasih, Van. Kamu wangi banget malem ini," bisik Raka tepat di telinga Vania.

Wajah Vania memerah padam. Antara malu, kaget, dan... sensasi aneh karena suara berat Raka yang berbisik itu terdengar sangat maskulin.

"Sama-sama..." jawab Vania cepat, langsung melepaskan diri. Jantungnya berdegup lebih kencang dari lagu rock yang tadi dia nyanyikan. Ini cowok kenapa sih? Kenapa gue deg-degan?

"Oke! Lanjut hadiah ketiga!" Vania buru-buru mengalihkan perhatian, berharap kutukan ini berakhir. "Sekarang kita minta kru aja yang pencet tombolnya! Biar adil!"

Kru panggung menekan tombol. Angka berputar. Berhenti.

[ ROW A - SEAT 12 ]

"ANJIIIIIRRR!!!" Seorang penonton di baris depan melempar botol air mineral saking frustrasinya.

Raka tertawa kecil. "Yah, saya lagi. Maaf ya, Guys. Emang susah jadi orang ganteng dan beruntung."

Dan ritual itu berulang. Hadiah ke-3 (Tumbler Eksklusif). Pemenang: Raka. -> Peluk Vania. Hadiah ke-4 (Tiket Backstage Pass). Pemenang: Raka. -> Peluk Vania (kali ini Raka menepuk punggung Vania pelan). Hadiah ke-5 (Smartwatch Garmin). Pemenang: Raka. -> Peluk Vania.

... ...

Sampai hadiah ke-9.

Setiap kali nama (posisi kursi) Raka muncul, Raka dengan tanpa dosa merentangkan tangan, dan Vania dengan pasrah masuk ke dalam pelukan itu.

Pada pelukan ketujuh, Vania sudah tidak lagi kaku. Dia justru menatap Raka dengan tatapan aneh. Campuran antara rasa ingin tahu, frustrasi, dan kekaguman. Kok bisa? Ini cowok pake susuk apa?

Dan pada pelukan kesembilan, Raka sudah tidak dianggap manusia oleh penonton. Dia sudah dianggap musuh negara.

Di Area Kontrol Belakang Panggung (Backstage):

Kepanikan yang terjadi di sini jauh lebih parah daripada di panggung.

"GIMANA BISA ITU PROGRAM MUNCULIN ANGKA YANG SAMA 9 KALI BERTURUT-TURUT?!"

Pak Burhan, penanggung jawab Event Organizer, berteriak di depan wajah kepala tim IT. Wajahnya merah padam, keringat sebesar biji jagung mengucur deras. Ponselnya berdering non-stop dari pihak sponsor yang marah-marah menuduh ada kecurangan.

"Sumpah, Pak! Demi Allah!" Si Kepala IT, seorang pria berkacamata tebal yang sudah nyaris botak karena stres koding, mengetik dengan jari gemetar di laptopnya. "Saya udah cek source code-nya tiga kali! Algoritmanya bener! Ini murni RNG (Random Number Generator)!"

"Masa RNG ngasih angka sama terus?! Lo pikir gue bego?!" bentak Pak Burhan.

"Coba Bapak liat sendiri!" Si Kepala IT memutar laptopnya. Dia menjalankan simulasi di layar.

Klik. Angka keluar: B-45. Klik. Angka keluar: C-102. Klik. Angka keluar: VIP-08.

"Tuh kan, Pak! Kalau saya yang klik, atau kru yang klik di sini, angkanya acak! Normal!" Si Kepala IT mengusap wajahnya frustrasi. "Tapi begitu tombol di panggung itu dipencet buat undian real-time... entah kenapa semesta kayak membelokkan kode binernya ke kursi A-12 itu! Ini bukan bug, Pak. Ini... ini mistis!"

"Mistis ndasmu!" Pak Burhan memijat pelipisnya yang berdenyut. "Sponsor Honda udah nelpon. Mereka nanya, ini Grand Prize mobilnya aman nggak? Jangan sampe jatuh ke bocah setan itu lagi!"

"S-saya nggak bisa jamin, Pak..."

Kembali ke Panggung:

Vania menatap Raka dengan napas terengah. Sembilan kali dipeluk. Sembilan kali mencium aroma maskulin yang sama. Sembilan kali merasakan dada bidang itu. Jujur saja, Vania mulai merasa nyaman. Dan itu bahaya.

"Mas Raka..." suara Vania terdengar memelas, mic-nya dijauhkan sedikit. "Udah dong. Kasian yang lain. Masa kamu borong semua? Gudang rumah kamu nanti penuh loh."

Raka terkekeh, memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Dia melihat tumpukan hadiah di kakinya yang sudah menggunung. "Sebenernya saya nggak butuh barang-barangnya sih, Van. Headphone, poster, smartwatch... bagi saya itu receh."

Sombong amat! batin Vania.

"Saya cuma butuh alasan buat meluk kamu aja," lanjut Raka dengan suara rendah, menatap langsung ke mata Vania.

Blush.

Wajah Vania memerah total sampai ke telinga. Smooth criminal. Dia belum pernah digombalin sehalus ini di atas panggung di depan 80 ribu orang.

"T-tapi..." Vania tergagap. "Ini tinggal satu hadiah terakhir. Grand Prize. Mobil Honda Civic Turbo RS."

Vania menatap penonton yang sudah siap melakukan revolusi anarkis. "Temen-temen... Maafin ya kejadian tadi. Aku yakin ini murni kebetulan semesta yang langka banget. Sekarang, Grand Prize! Mobil impian! Masa sih Raka lagi? Nggak mungkin kan?"

Vania mencoba membangun harapan palsu.

"Programmer kita udah reset sistemnya! Bener-bener fresh! Peluangnya nol koma sekian persen!"

Raka hanya tersenyum. Di retinanya, notifikasi sistem berkedip santai.

[Skill Pasif: Aura Keberuntungan Absolut - AKTIF] [Probabilitas Menang: 100%] [Pesan Sistem: Nikmati mobil barumu\, Tuan Rumah. McLaren butuh teman di garasi.]

"Oke," kata Vania, suaranya bergetar. "Kita hitung mundur buat mobilnya! Tiga! Dua! Satu! STOP!"

Layar berkedip. Warna-warni confetti digital meledak di layar.

Dan satu kombinasi angka muncul, besar, tegas, dan tak terbantahkan.

[ ROW A - SEAT 12 ]

Keheningan di stadion pecah. Bukan oleh tepuk tangan. Tapi oleh suara tangisan massal dan teriakan putus asa.

"DAJJAAAAAAALLLLL!!!" teriak seorang penonton dari tribun atas.

Raka tertawa lepas. Dia mengambil kunci simbolis mobil itu dari tangan SPG yang gemetar ketakutan. Lalu dia menatap Vania yang sudah pasrah, lemas, seolah jiwanya baru saja disedot oleh drakula hoki.

Raka merentangkan tangannya untuk yang kesepuluh kalinya.

"Sini, Sayang. Mobilnya nggak penting. Pelukan penutupnya yang penting."

Dan malam itu, Raka Adiyaksa resmi menjadi Musuh Publik Nomor Satu di Indonesia, sekaligus pria paling bahagia di muka bumi.

1
:)
harus banget ya king scuma sungkem
Jujun Adnin
ngopi dulu mas raka
ABIMANYU CHANNEL
kasih yg banyak....
DipsJr: siap kak. paling nanti pindah ke max kalo nda lolos.
total 5 replies
Gege
kereen...ditunggu adegan kulit ketemu kulit dan bulu ketemu bulunya...kan udah gede..🤣🤭
Gege
kereen alurnya.. meski banyak mainkan durasi...lanjuuttt thoor..
DipsJr: wkwk. tau aja kak. 🤭
total 1 replies
Arya Rizki Sukirman
mana ini Thor updatenya
DipsJr: besok lagi kak, sehari 3 bab.
makasih sudah baca.
total 1 replies
DipsJr
besok lagi kak. saya updatenya jam 00.00 😁
ellyna munfasya
lanjut Thor 😤
ellyna munfasya
up lagi Thor nanti siang pokoknya 😤
Monchery
kalau ini menurut ku terlalu berlebihan
DipsJr: apanya yg berlebihan kak?. 🤭
total 1 replies
ellyna munfasya
alur nya seru
ellyna munfasya
gak mau tau nanti pagi harus up Thor 😤😤😤
DipsJr: siap kak, sebntar saya upload. 👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!