NovelToon NovelToon
BENANG HAMPIR PUTUS

BENANG HAMPIR PUTUS

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Pengganti / CEO / Romantis / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Kaka's

Pernikahan kontrak atau karena tekanan keluarga. Mereka tinggal serumah tapi seperti orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaka's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membangun Rumah di Atas Luka

Bagian 1: Fajar di Atas Kemandirian

​Dua tahun telah berlalu sejak malam yang mencekam di apartemen unit 4B, saat hujan badai seolah berusaha meruntuhkan harga diri mereka hingga ke titik nadir. Pagi ini, pemandangan dari jendela kamar Aris dan Arini bukan lagi tembok kusam dengan bercak jamur yang berbau lembap, melainkan sebuah taman kecil yang tertata rapi. Pohon kamboja di sudut halaman sedang berbunga, menyebarkan aroma harum yang lembut ke dalam ruangan melalui sela gorden yang tersingkap. Mereka kini menempati sebuah rumah sederhana namun elegan di pinggiran Jakarta Selatan. Hunian ini bukan hasil dari pembagian saham Sofia Group, melainkan sebuah pencapaian yang setiap batanya dibeli dari hasil keringat, lembur yang tak berkesudahan, dan kerja keras mereka sendiri.

​Aris berdiri di depan cermin besar, jemarinya yang kini lebih kuat dan terampil tampak lihai merapikan simpul dasinya. Sosoknya di cermin mencerminkan kematangan yang tidak bisa dibeli dengan uang. Guratan halus di sudut matanya bukan lagi tanda keangkuhan seorang pewaris takhta, melainkan jejak perjuangan seorang pria yang membangun firma konsultan keuangannya dari nol, dari sebuah meja kecil di pojok apartemen tua. Ia sering teringat masa-masa sulit dua tahun lalu; saat ia harus berjalan kaki berkilo-kilometer di bawah terik matahari demi menghemat ongkos bus, atau saat ia harus menelan harga dirinya dalam-dalam untuk meyakinkan klien pertamanya di sebuah kedai kopi pinggir jalan karena belum memiliki kantor yang layak. Pengalaman menjadi "orang biasa" telah menempa Aris menjadi pemimpin yang jauh lebih manusiawi dan bijaksana.

​Arini masuk ke kamar dengan langkah ringan, membawa segelas jus jeruk segar. Matanya berbinar penuh kedamaian yang nyata, bukan lagi binar ketakutan yang sering ia tunjukkan dulu. Ia kini mengelola agensi penerjemahannya sendiri yang mulai dikenal luas, berfokus pada literatur klasik dan dokumen legal internasional. Namun, di balik kesuksesan kariernya yang melesat, ia tetap menjadi Arini yang sama—wanita yang mampu melihat sisi terbaik Aris bahkan di saat suaminya merasa paling tidak berdaya.

​Arini meletakkan gelas itu di atas meja nakas, lalu mendekat untuk membantu Aris merapikan jasnya yang sedikit miring. "Mas, jangan terlalu tegang untuk rapat pagi ini. Ingat, kamu sudah pernah melewati badai yang jauh lebih besar dan mengerikan daripada sekadar presentasi di depan klien baru," bisiknya lembut sambil menepuk pelan bahu Aris.

​Aris tersenyum, sebuah senyuman tulus yang sampai ke mata. Ia menarik napas dalam, lalu mengecup kening istrinya dengan rasa syukur yang mendalam. Mereka telah membuktikan kepada dunia—dan kepada diri mereka sendiri—bahwa kemiskinan yang sempat mereka jalani bukanlah sebuah kutukan atau kehinaan, melainkan laboratorium yang memurnikan cinta mereka dari segala macam motif tersembunyi dan kepalsuan kontrak masa lalu.

​Bagian 2: Meja Makan yang Berubah

​Sore harinya, sebuah undangan yang tak pernah mereka sangka sebelumnya membawa mereka kembali ke kediaman megah keluarga Sofia. Rumah besar itu masih berdiri dengan kemegahan yang sama, pilar-pilarnya masih tampak angkuh, namun atmosfer di dalamnya telah berubah total. Tidak ada lagi aroma ketegangan yang menyesakkan dada atau bisik-bisik politik kekuasaan di antara para pelayan. Saat Aris dan Arini melangkah masuk ke ruang makan yang luas itu, mereka disambut oleh pemandangan yang mengharukan sekaligus asing.

​Ibu Sofia duduk di kursi kebesarannya, namun ia bukan lagi wanita besi yang mengintimidasi setiap orang dengan tatapan matanya. Rambutnya kini telah memutih sepenuhnya, dan raut wajahnya menunjukkan keletihan yang dalam—keletihan dari seseorang yang baru saja menyadari bahwa tumpukan harta dan kekuasaan absolut tidak pernah bisa membeli kehangatan sebuah pelukan keluarga.

​Makan malam berlangsung dengan suasana yang jauh lebih jujur, tanpa ada udang di balik batu. Ibu Sofia lebih banyak terdiam, matanya menatap Aris dengan saksama saat putranya itu bercerita tentang jatuh bangunnya membangun usaha sendiri tanpa bantuan nama besar keluarga. Untuk pertama kalinya dalam puluhan tahun, Ibu Sofia meletakkan sendok peraknya dan menatap Aris dengan mata yang mulai berkaca-kaca.

​"Ibu selalu berpikir bahwa dengan mengendalikan setiap embusan napasmu, Ibu sedang melindungimu dari dunia yang kejam. Ternyata, Ibu salah besar," suaranya parau, pecah oleh penyesalan yang selama dua tahun ini ia simpan rapat-rapat dalam kesendiriannya di rumah besar ini. "Ibu melihatmu sekarang, Aris, dan Ibu menyadari bahwa pria yang berdiri di depan Ibu ini jauh lebih hebat, lebih kuat, dan lebih terhormat daripada putra yang dulu Ibu paksa untuk menjadi robot perusahaan."

​Ibu Sofia kemudian beralih menatap Arini. Dengan gerakan yang ragu namun pasti, ia meraih tangan menantunya itu dan menggenggamnya erat—sesuatu yang di masa lalu dianggap mustahil terjadi. "Terima kasih, Arini. Terima kasih karena kamu tidak menyerah pada Aris, bahkan saat Ibu sendiri berusaha menghancurkan kalian berdua dengan segala cara yang licik. Kamu adalah satu-satunya orang yang benar-benar memberikan arti pada kata 'keluarga' di dalam rumah yang dingin ini."

​Rekonsiliasi itu sederHana, tidak membutuhkan pidato panjang atau kata-kata puitis yang rumit. Cukup dengan saling memaafkan di atas meja makan yang dulunya menjadi saksi bisu penandatanganan kontrak pernikahan yang penuh kepalsuan. Malam itu, Aris menyadari bahwa ia tidak hanya berhasil memerdekakan dirinya sendiri dari bayang-bayang harta, tetapi ia juga berhasil memerdekakan ibunya dari penjara keangkuhan dan ambisi yang selama ini menyiksa wanita itu.

​Bagian 3: Epilog – Retakan di Balik Bahagia

​Malam itu, setelah pulang dari rumah Ibu Sofia, suasana hati mereka sedang berada di puncak kebahagiaan. Di bawah langit Jakarta yang bertabur bintang, saat mereka duduk di teras belakang rumah baru mereka, Aris menggenggam tangan Arini. Dengan gerakan yang sangat lembut, ia menyematkan sebuah cincin emas murni di jari manis Arini. Bukan cincin berlian mahal seperti yang dulu ia berikan sebagai bagian dari formalitas, tapi sebuah cincin yang ia beli dari tabungan pribadinya sendiri. Kalimatnya begitu manis, menjanjikan masa depan yang cerah, tanpa kontrak, tanpa rahasia, dan tanpa bayang-bayang masa lalu yang kelam. Arini menangis haru, merasa bahwa pencarian panjangnya akan cinta sejati telah usai dan berlabuh dengan sempurna di pelukan pria ini.

​Namun, kebahagiaan itu seperti porselen indah yang mendadak retak saat mereka melangkah masuk ke dalam rumah. Arini melihat ponsel Aris yang tertinggal di atas meja ruang tamu mendadak menyala, memecah kegelapan ruangan. Sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal muncul di layar kunci.

​Rasa penasaran yang tak terbendung membuat Arini mendekat. Ia membaca baris kalimat yang muncul di sana, dan seketika itu juga, dunianya seolah berhenti berputar.

​"Jangan terlalu cepat merayakan kemenanganmu, Arini. Aris belum menceritakan bagian yang paling kotor dan menjijikkan dari malam itu. Aku membawa 'kenang-kenangan' yang tidak bisa dia hapus hanya dengan sebuah cincin emas murahan. Sampai jumpa di hari kehancuranmu."

​Arini tertegun di tempatnya berdiri. Jantungnya yang tadi berdegup kencang karena bahagia, kini seolah berhenti berdetak, meninggalkan rasa dingin yang menjalar ke seluruh tubuh. Ia menoleh ke arah Aris yang baru saja menutup pintu depan. Pria itu sedang tersenyum menatapnya, sebuah senyum penuh cinta yang selama dua tahun ini menjadi kekuatannya. Namun, saat Aris menyadari mata Arini terpaku pada ponselnya, kilatan kecemasan yang luar biasa tiba-tiba muncul di matanya. Wajahnya berubah pucat dalam hitungan detik.

​"Ada apa, Sayang? Kenapa wajahmu seperti itu?" tanya Aris dengan suara yang mendadak berubah menjadi parau dan berat, seolah ia tahu apa yang baru saja dibaca oleh istrinya.

​Arini hanya bisa terdiam, menggenggam erat jemarinya sendiri hingga terasa sakit. Ia menatap cincin emas di jarinya, yang beberapa menit lalu adalah simbol kebebasan, kini terasa seperti belenggu baru yang penuh misteri. Apakah kebahagiaan selama dua tahun ini hanyalah sebuah fase tenang sebelum badai yang lebih dahsyat datang menerjang? Di balik senyum Aris yang tampak sempurna, Arini menyadari satu hal yang mengerikan: masa lalu ternyata tidak pernah benar-benar mati, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk menagih hutang yang lebih besar. Badai yang sebenarnya, mungkin baru saja akan dimulai dari dalam retakan yang selama ini mereka tutupi.

...************************************************...

1
deepey
kasihan aris
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Sebaiknya jarang terlalu berharap lebih Arini, kalo tidak sesuai ekspetasi, nanti km bakal jauh lebih sakit dari sekarang.
deepey: semoga benar-benar muncul harapan buat arini
total 1 replies
Serena Khanza
najis banget ketemu model laki kek aris.. kek nya nama aris dimana mana nyebelin ya😏 yang viral itu juga namanya aris, eh disini namanya aris juga 🙄😌
ku doain semoga arini ketemu laki laki lain yang memperlakukan dia dgn baik, biar aris ini menyesal seumur hidup
Hunk
Dalem banget bagian ini… dialognya kerasa dingin tapi justru nusuk. Aris kelihatan realistis, tapi di saat yang sama kejam tanpa sadar. Sementara Arini posisinya bikin miris—dia jatuh cinta pada versi yang bahkan mungkin nggak pernah benar-benar ada. Konflik emosinya kerasa kuat dan relate, apalagi soal pernikahan yang cuma “kesepakatan”. Penasaran banget kelanjutannya bakal sejauh apa perasaan Arini bertahan atau malah hancur.
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Miris banget nasib Arini harus hidup dibawah keputusan orang lain, bahkan untuk mendapatkan hak nya sendiri, hak untuk bahagia aja engga bisa 🙃
Fra
Kasihan sekali kamu Arini, demi membantu keluarga juga lho ini ;(
Sedih
Serena Khanza
aku suka sama ceritanya , bener2 kehidupan pernikahan yang tanpa cinta tapi disini dikemas dengan cerita yang menurutku asik gitu buat di baca nya gak berat gak yang rumit gitu.. semangat terus thor 💪🏻
Serena Khanza
sejauh ini untuk di awal bab kerasa banget sih dua manusia yang menikah tanpa cinta, yg satu ingin sedikit aja ada perhatian/setidaknya kek aku disini loh ada gitu, sedangkan yang satu kek naif, sok gak butuh, sok gak peduli atau mungkin ada sesuatu nih..
Hunk
Bagus cerita nya tentang nikah kontrak.

Tapi maaf sebelum nya, apa narasi nya ke copy dua kali🙏🙏 Soal nya ada bagian yg sama pas ngebahas perjanjian pernikahan mereka.
Hunk: iya sama sama. Senang bisa membantu🙏
total 2 replies
🍾⃝─ͩ─ᷞ⋆ͧ⋆ᷡ⋆ͣʀɪɪᴀʟᴢ٭٭٭
Begini lah gambaran nyata kalo menikah tanpa perasaan
deepey
arini big hug for u
deepey
semangat berkarya ya kk 💪
Kaka's: trimakasih kakak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!