Mati konyol hanya gara-gara dua potong roti? jangan bercanda!
Nasib buruk menimpa seorang pemuda gelandangan. perut lapar memaksanya untuk mencuri, tapi bayaran dari perbuatannya itu nyawanya hampir melayang di hajar warga.
Namur, takdir berkata lain.
saat matanya kembali terbuka, ia bukan lagi sekedar gelandangan bodoh yang lemah, jiwa dari tubuh kurus itu telah menyatu dengan jiwa seorang ahli racun, sains, dan ahli dalam ramuan.
" Lihat saja suatu saat kalian akan berlutut di kaki ku untuk minta tolong "
Di dunia yang moralnya sudah rusak ini,haus akan kekuasaan, kekayaan, dan populeritas dia bakalan menjadi penguasa tertinggi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Razif Tanjung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 : Taruhan 1 milyar
Burung-burung bernyanyi riang dan matahari pagi tersenyum cerah di balik awan putih yang menggantung di langit tinggi, Ruko Nusantara Glow tampak seperti markas besar sebuah sekte kecantikan. Karpet merah pinjaman dari kantor Viona digelar dari depan pintu hingga ke trotoar. Puluhan wartawan dari media cetak, televisi, hingga akun gosip media sosial sudah berkumpul dengan kamera yang siap membidik.
Hari ini adalah hari peluncuran produk glowing yang dijanjikan bara ke media.
Di lantai dua, Bara sedang mengalami krisis identitas kostum.
"Bara! Pakai celana panjangnya! Ini konferensi pers, bukan acara memancing di rawa!" teriak Alisa dari balik pintu kamar ganti.
"Al, dengarkan aku. Kaki adalah antena energi bumi. Kalau aku pakai celana kain yang ketat ini, sirkulasi ideku tersumbat!" balas Bara dari dalam.
Pintu terbuka. Bara keluar dengan penampilan yang membuat Alisa ingin pingsan di tempat. Bara memakai Jas Tuksedo hitam yang sangat mewah, lengkap dengan dasi kupu-kupu yang miring.
Namun, di baliknya dia tetap memakai Kaos Partai warna kuningnya. Dan yang paling parah, dia menolak memakai celana panjang tuksedo, melainkan tetap memakai Celana Kolor Batik pendek andalannya, perpaduan yang mantab sekali.
"Atas pengusaha, bawah penguasa hutan," ucap Bara bangga sambil mematut diri di cermin.
"Setidaknya aku tidak pakai sandal Swallow hari ini, kan? Aku pakai sepatu pantofel kulit... meskipun tanpa kaus kaki karena kakiku butuh privasi."
Alisa menghela napas pasrah. "Terserah. Yang penting jangan angkat kaki ke atas meja saat bicara di depan kamera."
Bara turun ke lantai satu. Suasana langsung riuh. Blitz kamera menyambar-nyambar wajahnya yang kini tampak lebih segar dan tampan Viona berdiri di samping panggung mini, memberikan tatapan "awas-kalau-kamu-ngawur" kepada Bara padahal dengan pakaiannya saja udah ngawur. Clara berdiri di pojok, siap dengan berkas legalitas produk.
Bara naik ke panggung, berdeham pelan di depan mikrofon.
"Selamat pagi, para pemburu berita dan pemuja kulit mulus," sapa Bara. "Hari ini, Nusantara Glow akan merilis dua produk yang akan menyaingi industri kosmetik global, Saya persembahkan: Serum Cahaya Rembulan untuk kulit, dan Krim Kristal Langit untuk ketiak."
Bara mengangkat dua botol porselen cantik hasil desain Alisa.
"Bahan dasarnya? Ekstrak bengkoang purba yang saya tanam di tanah vulkanik, dicampur dengan enzim papain dari pepaya hutan yang saya murnikan lewat distilasi suhu dingin. Tidak ada merkuri, tidak ada hidrokinon. Hanya keajaiban alam dan kecerdasan saya."
Seorang wartawan pria bertubuh kurus dengan kacamata tebal—yang sebenarnya adalah orang bayaran Darmawan—mengangkat tangan dengan kasar.
"Halah! Mas Bara, jangan membual! Mana ada produk herbal yang bisa memutihkan kulit secara instan? Ini pasti rekayasa! Paling-paling nanti model iklannya sudah pakai bedak setebal satu senti atau hasil edit filter kamera!" teriak wartawan itu, memprovokasi massa.
Suasana mendadak riuh dengan nada skeptis. "Iya benar! Buktikan dong!"
Bara menyeringai. Dia meletakkan botol-botol itu di meja, lalu melepaskan jas tuksedonya, menyisakan kaos partai kuningnya yang mencolok.
"Rekayasa? Model iklan?" Bara tertawa meremehkan. "Saya tidak butuh model iklan. Nona-nona di samping saya ini sudah terlalu cantik, kalau mereka jadi model, kalian akan bilang itu faktor genetik."
Bara menunjuk ke arah wartawan yang tadi berteriak.
"Kamu, yang pakai kacamata! Sini maju. Cari satu orang di barisan penonton atau orang di sekitar daerah sini yang kulitnya paling kusam, paling dekil, dan paling 'berkerak' karena polusi kota. Jangan yang model, cari yang rakyat jelata murni."
Wartawan itu merasa tertantang. Dia melihat ke sekeliling dan menarik seorang pria paruh baya yang sedang memegang helm, mungkin seorang ojek pangkalan yang kebetulan lewat untuk menonton. Anggap saja nama pria itu Pak Kumis. Kulitnya cokelat gelap menjurus hitam karena terbakar matahari, wajahnya penuh flek, dan pori-porinya besar.
"Ini! Pak Kumis ini!" tantang si wartawan. "Kalau kamu bisa bikin dia jadi putih berseri dalam seminggu, baru saya percaya!"
Bara menatap Pak Kumis. Dia berjalan mendekat, memegang dagu Pak Kumis seolah sedang memeriksa berlian mentah.
"Pak Kumis, Anda siap menjadi ganteng?" tanya Bara.
"Asal gratis dan nggak operasi plastik Mas. Saya mau-mau saja, biar istri saya nggak lirik-lirik laki tetangga lagi pas saya pulang," jawab Pak Kumis jujur, mengundang tawa hadirin.
Bara berbalik menatap kamera-kamera wartawan.
"Dengarkan saya baik-baik. Hari ini saya bertaruh. Saya akan oleskan produk saya ke wajah Pak Kumis sekarang juga. Dan dalam Tujuh Hari, jika wajah Pak Kumis tidak berubah menjadi cerah, mulus, dan berseri seperti aktor drama Korea yang habis perawatan, saya akan memberikan uang tunai Satu Miliar Rupiah kepada orang yang menantang saya tadi."
GLEG!
Viona dan Alisa hampir jatuh dari kursi mereka. Satu miliar?! Bara emang suka cari masalah.
"Bara! Kamu gila?!" desis Alisa dari balik panggung.
"Tenang, Al. Aku sudah menghitung kecepatan regenerasi selnya," bisik Bara tanpa menoleh.
Si wartawan bayaran Darmawan menyeringai menang. Dia pikir ini adalah cara tercepat menghancurkan Bara.
"Oke! Deal! Satu miliar! Kita semua saksi! Catat tanggalnya, minggu depan jam yang sama di sini!"
Bara memulai aksinya. Dia menyuruh Pak Kumis duduk di kursi panggung.
Bara mengeluarkan sebuah handuk kecil yang sudah direndam dalam air hangat aromatik. Dia mengusap wajah Pak Kumis dengan gerakan yang sangat profesional (tapi sesekali dia hampir mencolok mata Pak Kumis karena dasi kupu-kupunya yang miring).
"Langkah pertama: Pembukaan Pori-pori Strategis," jelas Bara pada wartawan. "Saya menggunakan uap air hangat untuk merelaksasi otot wajah Pak Kumis yang tegang karena memikirkan cicilan motor."
Lalu, Bara membuka botol Serum Cahaya Rembulan. Isinya bukan cairan encer, melainkan gel lembut transparan yang memantulkan cahaya. Begitu botol dibuka, aroma segar bunga mawar hutan dan melati menyebar, membuat para wartawan yang tadi emosi mendadak merasa tenang.
Bara mengoleskan gel itu ke wajah Pak Kumis.
"Perhatikan," kata Bara. "Gel ini mengandung partikel nano yang saya buat lewat proses fermentasi ragi hutan. Dia tidak hanya di permukaan, tapi langsung menembus lapisan dermis untuk menghambat produksi melanin yang berlebihan."
Bara memijat wajah Pak Kumis dengan teknik yang sangat aneh—dia memutar-mutar pipi Pak Kumis seperti sedang mengaduk adonan roti.
"Aduh, Mas... rasanya nyos-nyos anget," gumam Pak Kumis.
"Itu tandanya sel kulit mati Anda sedang melakukan ritual bunuh diri massal, Pak," jawab Bara tanpa dosa. "Sabar, ganteng itu butuh perjuangan."
Setelah selesai dengan wajah, Bara melihat ke arah ketiak Pak Kumis yang tersembunyi di balik kaos oblongnya yang basah keringat.
"Sekalian saja, Pak. Mumpung ada media. Kita buktikan Krim Kristal Langit."
Bara menyuruh Pak Kumis mengangkat tangan kiri. Area ketiak Pak Kumis terlihat... yah, seperti gua gelap yang sudah lama tidak tersentuh sinar matahari. Hitam dan kasar.
Bara mengoleskan krim berwarna putih salju ke sana.
"Krim ini mengandung ekstrak sirih merah dan tawas kristal yang sudah dimurnikan. Dalam tiga hari, bau badan Pak Kumis akan hilang total, dan dalam tujuh hari, ketiaknya akan lebih putih dari masa depannya si wartawan kacamata itu."
Wartawan itu hanya mendengus, "Liat aja minggu depan! Jangan kabur lu!"
Sebelum berakhir bara meminta beberapa wartawan untuk tetap tinggal selama seminggu untuk menjadi saksi kalau bara tidak melakukan suntik pemutih untuk pak kumis.
Konferensi pers berakhir dengan ketegangan tinggi. Berita tentang "Taruhan 1 Miliar si tabib gila" langsung merajai trending topic.
Bara tidak membiarkan Pak Kumis pulang.
"Pak Kumis, selama seminggu ini Bapak tinggal di Ruko lantai 3. Makan, minum, saya yang tanggung. Saya tidak mau Bapak pulang lalu kena debu jalanan atau kena sabotase.," perintah Bara.
"Waduh Mas, ngojek saya gimana?"
"Berapa penghasilan Bapak seminggu?" tanya Bara.
"Paling sejuta, Mas."
Bara mengeluarkan segepok uang tunai, dua juta rupiah. "Ini. Anggap saja gaji lembur jadi model internasional. Tugas Bapak cuma : Jangan keluar tanpa pengawasan, dan bapak harus rutin makai produk saya selama seminggu."
Selama seminggu itu, ruko Nusantara Glow dijaga ketat oleh orang-orang Viona agar tidak ada agen Darmawan yang mencoba menyabotase wajah Pak Kumis (seperti menyiram air keras atau menukar krimnya).
Bara sendiri setiap malam naik ke lantai 3. Bukan untuk memijat, tapi untuk memantau reaksi kimia di kulit Pak Kumis.
"Progres hari ke-3: Pigmen gelap mulai luruh. Tekstur kulit mulai halus. Pak Kumis sudah tidak mirip ojek pangkalan, lebih mirip manajer bank," catat Bara di buku risetnya.
Satu Minggu Kemudian: Hari Penghakiman
Pagi itu, suasana di depan ruko lebih gila dari sebelumnya. Polisi (termasuk Inspektur Rani yang datang karena penasaran) harus memasang garis pembatas agar massa tidak merangsek masuk.
Darmawan dan Rico duduk di dalam mobil mewah mereka di seberang jalan, memantau lewat teropong.
"Pasti dia gagal, Ayah. Pigmen kulit itu permanen kalau sudah terbakar matahari bertahun-tahun," ucap Rico penuh dendam.
Bara keluar dari ruko. Kali ini dia memakai baju yang benar-benar rapi (pilihan Alisa).
"Hadirin! Hari yang kalian tunggu telah tiba!" teriak Bara. "Apakah saya akan kehilangan satu miliar, atau dunia akan melihat lahirnya serum kulit yang melampaui batas, pertama di dunia.?"
Bara memberi isyarat kearah tirai
Tirai terbuka Sosok pria keluar dengan perlahan.
Seluruh pasar dan kerumunan wartawan mendadak Hening Total.
Pria itu memakai kemeja flanel rapi. Wajahnya... ya Tuhan. Kulitnya yang tadinya hitam kusam kini tampak bersih, cerah, dan rata. Tidak putih pucat seperti memakai tepung, tapi putih sehat yang bercahaya (glowing). Flek-flek hitamnya hilang. Pori-porinya mengecil. Bahkan kerutan di matanya tampak memudar.
Dia tersenyum, menampakkan gigi yang putih (Bara juga memberinya pasta gigi herbal racikannya).
"Halo semuanya... saya Pak Kumis," suara pria itu terdengar lebih percaya diri.
"BOOONG! ITU PASTI ORANG LAIN YANG MIRIP!" teriak wartawan kacamata tadi, suaranya gemetar.
Bara menarik Pak Kumis ke depan wartawan itu. "Coba cek KTP-nya. Cek sidik jarinya kalau perlu. Ini Pak Kumis asli. itu tidak bisa dipalsukan, dan di sini juga ada beberapa wartawan saksi yang melihat perkembangan pak kumis setiap hari selam seminggu."
Wartawan itu memeriksa dengan tangan gemetar. Benar. Itu Pak Kumis.
"Dan satu lagi..." Bara menyuruh Pak Kumis mengangkat tangan kiri di depan kamera live televisi.
Begitu Pak Kumis mengangkat tangan, area ketiaknya terekspos. Putih, bersih, dan halus seperti kulit bayi. Sama sekali tidak ada jejak "gua gelap" yang terlihat minggu lalu.
"Coba cium," tantang Bara pada si wartawan.
Si wartawan terpaksa mendekat. Dia mengendus ketiak Pak Kumis. Matanya melotot. "Wangi... wangi bunga mawar?!"
Massa meledak dalam sorak-sorai. Ibu-ibu langsung histeris.
"SAYA MAU BELI! SAYA MAU BELI SEPULUH!"
"MAS BARA, TOLONG KETIAK SAYA JUGA!"
Bara berdiri di tengah kerumunan, menatap ke arah mobil Darmawan di kejauhan dengan tatapan penuh kemenangan. Dia menoleh ke wartawan kacamata yang kini pucat pasi.
"Jadi saya yang menang ya? Berarti uang saya tetap aman. Tapi sesuai perjanjian, karena kamu sudah menghina alkimia saya..."
Bara mengeluarkan sebuah botol berisi sambal cair yang sangat merah.
"Ayo, makan cabai rawit ini satu botol. Kamu sudah berjanji di depan saksi kan?"
Wartawan itu lari terbirit-birit ketakutan, dikejar oleh Sersan Jago yang entah sejak kapan sudah memakai topi kecil bertuliskan "Nusantara Glow".
Bara merangkul Pak Kumis. "Pak Kumis, selamat. Sekarang Bapak resmi jadi duta merek kami."
Alisa dan Viona menghampiri Bara dengan wajah lega sekaligus takjub.
"Bara... kamu benar-benar melakukannya," bisik Alisa.
"Sudah kubilang, Al. Jangan pernah remehkan pengetahuan ku," Bara menepuk sakunya. "Dan sekarang, saatnya kita menaikkan harga produk ini 1000%. Orang kaya di kota ini pasti rela menjual ginjal mereka demi ketiak setingkat Pak Kumis."
Hari itu, pesanan masuk ke ruko Bara melonjak hingga 5.000 botol dalam satu jam. Imperium kosmetik Bara resmi lahir dengan cara yang paling konyol namun tak terbantahkan, tetap saja bara membatasi pembelian tapi tidak separah minuman energi waktu itu.