(NOVEL INI LANJUTAN DARI LEGENDA SEMESTA XUANLONG)
Tiga belas tahun telah berlalu sejak Dewa Bintang Tian Feng mendirikan Kekaisaran Langit, menciptakan era kedamaian di dua alam semesta. Namun, di Puncak Menara Bintang, Ye Xing, putra dari Ye Chen dan Long Yin, serta Cucu kesayangan Tian Feng merasa terpenjara dalam sangkar emas.
Terlahir dengan bakat yang menentang surga, Ye Xing tumbuh menjadi remaja jenius namun arogan yang belum pernah merasakan darah dan keputusasaan yang sesungguhnya.
Menyadari bahaya dari bakat yang tak ditempa, Tian Feng mengambil langkah drastis menyegel kultivasi Ye Xing hingga ke tingkat terendah (Qi Condensation) dan membuangnya ke Alam Bawah, ke sebuah sekte sekarat bernama Sekte Awan Rusak. Tanpa nama besar keluarga, tanpa pengawal bayangan, dan tanpa harta istana, Ye Xing harus bertahan hidup sebagai murid biasa bernama "Xing" yang diremehkan dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32
Puncak Terlarang – Gua Kultivasi Tetua Agung.
Puncak ini adalah tempat tertinggi di Sekte Awan Rusak. Awan tebal menyelimuti puncaknya sepanjang tahun. Tidak ada murid atau Diaken yang berani mendekat tanpa izin.
Namun hari ini, Ye Xing dan Mei Wuchen berjalan santai mendaki tangga batu menuju pintu gua batu raksasa itu.
"Berhenti di sini," suara berat menggema dari dalam gua, membawa tekanan spiritual Foundation Establishment Puncak yang nyaris menyentuh Golden Core. "Langkah lebih jauh lagi, kakimu akan patah."
Ye Xing tidak berhenti. Dia terus melangkah.
"Murid Ye Xing, membawa salam," kata Ye Xing tenang. "Saya datang bukan untuk meminta izin. Saya datang untuk menagih janji lama."
BOOM!
Tekanan spiritual meledak dari dalam gua, mencoba menekan Ye Xing agar berlutut. Itu adalah ujian mental. Tetua Agung ingin tahu seberapa kuat mental "Juara Turnamen" ini.
Namun, Ye Xing berdiri tegak seperti tombak. Di sebelahnya, Mei Wuchen malah menguap bosan, seolah tekanan spiritual itu hanya angin sepoi-sepoi.
"Tekananmu lemah, Pak Tua," komentar Mei Wuchen pedas. "Ayahku kalau bersin tekanannya lebih kuat dari ini."
Hening sejenak di dalam gua. Lalu, pintu batu bergeser terbuka.
Seorang pria tua berambut putih panjang dengan jubah abu-abu duduk bersila di atas batu giok. Matanya tajam seperti elang, menatap kedua remaja itu dengan campuran rasa ingin tahu dan tersinggung.
Dia adalah Tetua Agung Yun, pilar terkuat sekte ini.
"Bocah sombong," kata Tetua Agung Yun. "Kau pikir karena kau mengalahkan monster Void itu, kau bisa tidak sopan di hadapanku? Siapa ayahmu yang kau banggakan itu, gadis kecil?"
Mei Wuchen hendak membalas, tapi Ye Xing mengangkat tangan menghentikannya.
Ye Xing melangkah maju, merogoh saku jubahnya.
"Tetua Yun," kata Ye Xing. "Lima ratus tahun yang lalu, seorang pengembara misterius singgah di sekte ini. Dia memperbaiki formasi pelindung sekte yang rusak dan memberikan sebuah token kepada Ketua Sekte saat itu. Dia bilang: 'Jika suatu hari ada anak muda yang membawa token ini, turuti permintaannya seperti kau menuruti titah Langit.'"
Wajah Tetua Agung Yun berubah drastis. Matanya membelalak. Itu adalah legenda rahasia yang hanya diketahui oleh Ketua Sekte dan Tetua Agung secara turun-temurun.
"Kau... Bagaimana kau tahu kisah itu?" suaranya bergetar.
Ye Xing melemparkan sebuah benda kecil ke arah Tetua Agung.
TAK.
Benda itu mendarat di pangkuan Tetua Agung.
Itu adalah sebuah token kayu cendana tua. Sederhana, tidak ada hiasan emas atau permata. Tapi di tengahnya, terukir satu simbol sederhana: Rasi Bintang Biduk.
Dan yang lebih penting, token itu memancarkan aura Dao yang samar aura yang sama dengan lukisan pendiri sekte, tapi jutaan kali lebih murni.
Tangan Tetua Agung Yun gemetar saat menyentuh ukiran itu. Dia merasakan resonansi jiwa. Dia ingat cerita gurunya tentang "Dewa Bintang" yang turun ke dunia fana.
"Token Perintah Bintang Langit..." bisik Tetua Agung Yun, wajahnya memucat. Dia mendongak menatap Ye Xing. Tatapannya berubah dari meremehkan menjadi horor.
"Kau... Siapa kau sebenarnya?"
Ye Xing menyeringai tipis. "Orang yang memberikan token itu... namanya Tian Feng. Dia kakekku."
DEG.
Jantung Tetua Agung Yun serasa berhenti berdetak.
Kakek?
Jika pengembara sakti itu adalah kakek bocah ini... berarti bocah ini adalah keturunan Dewa?!
Tetua Agung Yun menoleh ke arah Mei Wuchen. Gadis yang tadi mengejek tekanannya.
"Lalu... Nona ini?"
"Namanya Mei Wuchen," jawab Ye Xing santai. "Ayahnya adalah orang yang pedangnya bisa membelah langit. Kau mungkin mengenalnya sebagai Dewa Pedang Jian Wuchen."
Kaki Tetua Agung Yun lemas. Dia segera turun dari batu meditasinya, mengabaikan wibawanya sebagai Tetua Agung, dan menjatuhkan diri berlutut di lantai batu.
Keringat dingin membasahi punggungnya. Dia baru saja mencoba menekan cucu Dewa Bintang dan putri Dewa Pedang? Itu sama saja mencari mati tujuh turunan!
"Hamba Yun... memberi hormat pada Tuan Muda dan Nona Muda!" suaranya serak ketakutan. "Ampuni ketidaktahuan hamba! Mata hamba buta tidak mengenali Gunung Tai!"
Mei Wuchen terkikik. "Nah, begitu lebih baik. Bangunlah, Pak Tua. Jangan bersujud, nanti pinggangmu sakit."
"Berdiri, Tetua Yun," perintah Ye Xing, nadanya berubah serius dan berwibawa. "Kami turun ke sini bukan untuk dipuja. Kami sedang dalam misi rahasia. Identitas kami harus tetap tertutup. Mengerti?"
Tetua Agung Yun berdiri dengan gemetar, membungkuk dalam-dalam. "Hamba mengerti. Rahasia ini akan hamba bawa sampai mati."
"Bagus," Ye Xing berjalan mendekati Tetua Agung. "Sekarang, dengarkan. Sekte ini sedang dalam bahaya besar. Void sudah menyusup. Tiga bulan lagi, pasukan mereka akan datang."
"Hamba akan mengerahkan seluruh sekte untuk berperang!" seru Yun semangat.
"Tidak cukup. Murid-muridmu terlalu lemah," potong Ye Xing kejam tapi jujur. "Karena itu, aku butuh akses ke Kawah Gunung Berapi di belakang sekte. Aku perlu menempa senjata dan mempersiapkan jebakan."
"Tentu saja! Puncak Kawah adalah milik Tuan Muda mulai hari ini!" Yun segera menyerahkan token akses pribadinya. "Apa pun yang Tuan Muda butuhkan Batu Roh, Obat, Bahan Tempa ambil saja dari gudang harta sekte!"
Ye Xing mengangguk puas. Dukungan sumber daya dan otoritas sudah di tangan.
"Satu hal lagi," tambah Ye Xing. "Temanku, Lin Xiao. Jaga dia saat dia tidur dalam kepompong. Jika sehelai rambutnya hilang..."
Ye Xing membiarkan kalimatnya menggantung, tapi aura Bintang di matanya berkilat mengancam.
"Hamba akan menjaganya seperti anak kandung sendiri!" sumpah Yun.
"Ayo, Mei'er. Kita ke gunung," ajak Ye Xing.
Mereka berdua berjalan keluar gua.
Saat melewati Tetua Agung yang masih membungkuk, Mei Wuchen berbisik, "Oh ya, Pak Tua. Teh yang kau simpan di toples giok itu... baunya enak. Kirimkan ke kamar Ye Xing nanti, ya."
"Si-siap, Nona!"
Setelah kedua "Leluhur Kecil" itu pergi, Tetua Agung Yun merosot ke lantai, menyeka keringatnya. Dia menatap token kayu di tangannya.
"Langit memberkati Sekte Awan Rusak..." gumamnya dengan mata berkaca-kaca. "Naga dan Phoenix bersarang di gubuk kecil kita. Bencana akan datang, tapi harapan juga telah tiba."
Yun mengepalkan tangannya. Dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Melayani cucu Dewa dengan baik bisa menjadi tiket baginya untuk naik ke Alam Langit suatu hari nanti.
Sementara itu, Ye Xing dan Mei Wuchen berjalan menuruni puncak.
"Kau menikmatinya, ya?" tanya Ye Xing.
"Melihat orang tua itu ketakutan?" Mei Wuchen tertawa. "Sedikit. Tapi lebih nikmat lagi membayangkan kita akan membakar uang sekte ini untuk membuat senjata baru!"
Ye Xing menatap ke arah gunung berapi yang mengepulkan asap hitam di kejauhan.
"Bukan cuma senjata, Mei'er. Kita akan membuat Meriam Bintang. Tuan Topeng Perak itu akan mendapat kejutan yang sangat panas."