Kiara Selia tidak pernah percaya hal-hal berbau mistis. Hidupnya sederhana: sekolah, pulang, main game online di ponsel, lalu mengeluh soal hidup seperti remaja normal lainnya.
Sampai suatu sore di sebuah taman kota.
Saat sedang fokus menyelesaikan match game online, Kiara terganggu oleh seorang pemuda yang mondar-mandir tak jelas di depannya. Gerakannya gelisah, ekspresinya kosong, seperti orang yang kehilangan arah. Karena kesal dan tanpa berpikir panjang, Kiara menegurnya.
Dan sejak saat itu, hidupnya tidak pernah kembali normal.
Pemuda itu bukan manusia.
Sejak teguran itu, Kiara mendadak bisa melihat makhluk yang seharusnya tak terlihat, termasuk si pemuda bermata biru langit yang kini menatapnya dengan ekspresi terkejut… sekaligus penuh harapan.
Menyadari bahwa Kiara adalah satu-satunya orang yang bisa melihat dan mendengarnya, sosok hantu itu mulai mengikuti Kiara ke mana pun ia pergi. Dengan cara yang tidak selalu halus, sering mengagetkan, dan kadang memalukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Queena lu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9. Siapa?
Haus membangunkan Kiara dari tidur yang tidak terlalu nyenyak. Tenggorokannya terasa kering, kepalanya sedikit berat. Ia meraba ponsel di samping bantal.
02.17.
“Hebat,” gumamnya pelan.
Kamar terasa sunyi. Biasanya, Sky suka muncul tiba-tiba dengan komentar nggak penting atau sekadar melayang-layang sok dramatis. Tapi kali ini... Kosong.
Kiara menoleh ke kanan, ke kiri. Tidak ada siluet transparan. Tidak ada suara iseng. Tidak ada kehadiran Sky.
“Mungkin lagi keluyuran,” gumam Kiara pada diri sendiri. “Namanya juga hantu. Mana ada jam tidur.”
Ia bangkit pelan agar tidak menimbulkan suara, membuka pintu kamar dengan hati-hati. Lorong rumah remang-remang. Lampu ruang tengah dimatikan, hanya cahaya dari luar yang masuk samar lewat jendela.
Langkah Kiara ringan menuju dapur.
Ia mengambil gelas, mengisinya dengan air dari dispenser, meneguk perlahan. Rasa dingin air sedikit membantu mengusir kantuk.
Dan saat itulah....
Ia melihat seseorang berdiri di depan wastafel.
Postur tinggi. Bahu lebar. Rambut sedikit berantakan. Kaos gelap.
Aditya.
Kiara yang setengah mengantuk hanya melirik sekilas. Otaknya belum sepenuhnya hidup.
“Oh, dia juga kebangun,” pikirnya.
Ia tidak menyapa. Tidak ada energi untuk basa-basi. Ia meneguk sisa airnya, menaruh gelas di meja, lalu berbalik menuju kamarnya lagi.
Saat melewati dapur, sosok itu masih berdiri membelakangi dirinya, seperti sedang mencuci tangan atau sekadar berdiri diam.
Kiara tidak mempermasalahkan.
Ia berjalan melewati lorong. Untuk sampai ke kamarnya, ia harus melewati kamar Rafa.
Dan tepat saat ia melintas. Ia mendengar suara gerutuan lirih dari balik pintu kamar Rafa.
“Ya ampun… berisik banget sih, Kak…”
Kiara berhenti.
Suara Rafa.
Ia menahan napas, mendekat sedikit ke pintu yang tidak tertutup rapat.
“Ngorok kayak traktor…” gumam Rafa pelan, jelas kesal tapi mengantuk.
Dada Kiara terasa mengencang.
Jika Aditya ada di kamar Rafa…
Lalu....
Siapa yang tadi berdiri di dapur?
Darah Kiara terasa sedikit mengalir lebih cepat.
Tidak.
Tidak mungkin.
“Mungkin aku salah lihat,” bisiknya pada diri sendiri. “Mungkin cuma bayangan. Atau aku masih setengah mimpi.”
Tapi satu hal mengganggunya.
Postur itu terlalu jelas. Terlalu mirip.
Dan ia yakin-
Itu bukan sekadar bayangan.
Kiara berjalan pelan kembali ke dapur. Jantungnya berdetak lebih cepat dari yang ia mau akui.
Dapur sekarang kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Wastafel kering. Tidak ada suara air. Tidak ada langkah kaki.
“Halo?” bisik Kiara pelan, merasa sedikit konyol.
Tidak ada jawaban.
Udara terasa lebih dingin dari sebelumnya. Bukan dingin AC. Tapi dingin yang membuat kulit merinding.
“Sky?” panggil Kiara setengah berbisik.
Tidak ada respon.
Untuk pertama kalinya sejak Sky muncul dalam hidupnya, Kiara merasa benar-benar sendirian di rumahnya sendiri.
Ia menelan ludah.
“Oke. Ini tidak lucu,” gumamnya.
Ia kembali ke kamar dengan langkah cepat, menutup pintu, bersandar di belakangnya.
Matanya menatap kosong ke arah tempat biasanya Sky melayang.
“Kalau ini lelucon, itu nggak lucu,” katanya pelan.
Beberapa detik berlalu.
Tidak ada apa-apa.
Kiara akhirnya naik ke kasur, menarik selimut sampai ke dada. Matanya menatap langit-langit. Otaknya memutar ulang kejadian tadi.
Postur.
Rambut.
Bahu.
Itu benar-benar Aditya.
Atau setidaknya....
Sesuatu yang sangat mirip Aditya.
Kantuk datang lagi, bercampur dengan rasa tidak nyaman.
Dan tanpa ia sadari-
Ia tertidur kembali.
----
Keesokan paginya, rumah kembali ramai seperti biasa.
Kiara keluar kamar dengan mata sedikit sayu. Bu Rina sudah di dapur. Rafa sudah duduk di meja makan, wajahnya kusut.
“Pagi,” kata Kiara.
“Pagi,” jawab Bu Rina.
Rafa mendengus. “Pagi yang tidak menyenangkan.”
“Kenapa?” tanya Kiara, pura-pura santai.
Rafa melirik ke arah lorong kamar. “Kak Aditya ngorok parah. Aku hampir nggak tidur.”
Kiara menelan ludah. “Dia ada di kamar kamu semalaman?”
“Iya, lah,” jawab Rafa cepat. “Masa aku ngeluh kalau dia nggak ada.”
Kiara terdiam.
Beberapa detik kemudian, Aditya keluar dari kamar dengan rambut masih acak, mata setengah tertutup.
“Pagi, keluarga,” katanya sambil menguap.
“Kak, kamu ngorok,” protes Rafa.
Aditya tertawa. “Namanya juga capek.”
Kiara menatap Aditya dengan lebih tajam dari biasanya. Seolah mencoba memastikan-
Ini orang yang sama.
Orang yang tadi malam ia lihat.
Atau tidak.
Aditya menangkap tatapan Kiara. “Kenapa? Mukaku ada jerawat ya?”
“Tidak,” jawab Kiara cepat. “Kakak bangun jam berapa tadi malam?”
Aditya mengernyit. “Hah? Aku? Tidur langsung, kok. Capek banget. Kayaknya nggak bangun sama sekali.”
Kiara merasakan tengkuknya merinding.
“Yakin?” tanya Kiara pelan.
“Yakin,” jawab Aditya santai. “Kenapa emang?”
Kiara tidak langsung menjawab.
Dan saat itu.Suara yang sangat familiar terdengar di dekat telinganya.
“Dari ekspresi kamu, aku bisa tebak,” suara Sky berbisik.
Kiara tersentak kecil, refleks menoleh ke samping.
Sky akhirnya muncul, melayang santai seperti tidak terjadi apa-apa.
“Kamu ke mana saja?” bisik Kiara cepat, suaranya rendah agar tidak terdengar orang lain.
Sky menatapnya dengan ekspresi yang tidak biasa. Tidak bercanda. Tidak menyeringai.
“Aku lagi ngecek sesuatu,” jawab Sky pelan.
“Ngecek apa?”
Sky melirik ke arah Aditya, lalu kembali ke Kiara.
“Kamu yakin… yang kamu lihat tadi malam itu benar-benar Aditya?”
Perut Kiara terasa sedikit menciut.
“Aku juga mau tanya kamu itu,” balas Kiara.
Sky terdiam beberapa detik.
“Ada kemungkinan,” kata Sky akhirnya, suaranya lebih serius dari biasanya, “bukan cuma kamu yang menarik hal-hal aneh.”
“Maksud kamu?”
Sky menatap lurus ke mata Kiara.
“Kadang, bukan cuma hantu yang ikut manusia,” katanya pelan. “Kadang… ada sesuatu yang meniru.”
Kiara menahan napas.
“Meniru?”
“Wajah. Postur. Energi,” lanjut Sky. “Kayak bayangan yang pakai bentuk orang hidup.”
Kiara melirik Aditya yang sedang bercanda dengan Rafa dan Bu Rina, tampak normal, tampak nyata, tampak hidup.
“Jadi kamu mau bilang…”
Sky mengangguk pelan.
“Mungkin tadi malam kamu tidak melihat Aditya.”
Kiara menelan ludah.
“Lalu aku lihat apa?”
Sky tidak langsung menjawab.
Dan justru itu yang membuat Kiara semakin tidak nyaman.
Di tengah tawa Rafa.
Di tengah suara Bu Rina di dapur.
Di tengah Aditya yang tampak sama sekali tidak menyadari apa pun.
Kiara merasakan satu hal dengan sangat jelas.
Kedatangan Aditya bukan hanya membawa drama dunia nyata.
Tapi mungkin juga....
Membuka pintu untuk sesuatu yang jauh lebih gelap.
Dan untuk pertama kalinya, Kiara berpikir:
Mungkin bukan cuma Sky yang terikat pada masa lalu.
Mungkin rumah ini....
Mulai menarik sesuatu yang tidak seharusnya ikut masuk.
Dan jika benar ada sesuatu yang bisa meniru manusia
Maka pertanyaannya bukan lagi, apa yang Kiara lihat tadi malam?
Tapi...
Apa yang sekarang ada di dalam rumahnya…
Dan juga... Apa yang belum ia sadari....