NovelToon NovelToon
"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

"Mentari Kecil Di Kutub Utara"

Status: tamat
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:683
Nilai: 5
Nama Author: Rina Casper

"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Rahasia di Balik Layar yang Tak Sengaja

Mentari yang Masih Terpejam

Kairo masih berselimut sunyi yang dingin,

Saat dering ponsel memecah mimpi yang dijalin.

Tanpa kain hitam yang biasa menjadi tabir,

Wajah polos itu muncul dalam sebuah takdir.

Bukan Bunda, bukan pula Mas yang menyapa,

Tapi sepasang mata yang selama ini ia jaga.

Antara malu, tawa, dan sedikit noda di bibi,

Rahasiamu tersingkap di bawah langit pagi.

Perbedaan waktu antara Kairo dan Jawa membuat segalanya sedikit kacau bagi jadwal tidur Bungah. Di Jawa, acara akad nikah Mas Azam baru saja selesai dilaksanakan setelah waktu Isya dengan sangat khidmat. Sementara di Kairo, waktu masih menunjukkan dini hari yang dingin.

Bungah yang kebetulan sedang berhalangan salat (haid), merasa tubuhnya sangat lelah dan lemas. Setelah sempat mendengar kabar "sah" melalui pesan singkat Mas Azam sebelumnya, ia tak kuat lagi menahan kantuk. Ia tertidur lelap dengan ponsel yang tergeletak di samping bantalnya, tanpa mengenakan khimar apalagi cadar.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat. Panggilan video masuk. Dalam kondisi setengah sadar dan mata yang masih lengket, Bungah mengira itu adalah panggilan dari Bundanya yang ingin menunjukkan suasana pesta.

"Hmm... Bunda?" gumamnya serak.

Tanpa melihat layar, Bungah menggeser tombol hijau. Ia menyandarkan ponsel itu di bantal, menghadap langsung ke wajahnya yang masih menempel di seprai. Rambutnya yang hitam legam berantakan menutupi dahi, wajahnya polos, dan yang paling memalukan—karena posisi tidurnya yang terlalu nyenyak—ada sedikit sisa air liur yang mengering di sudut bibirnya.

"Bunda... Adek ngantuk banget... kepalanya pusing karena halangan..." ucap Bungah sambil menguap lebar, matanya masih terpejam rapat.

"Assalamu’alaikum... Bungah."

Suara itu. Bukan suara Bunda yang lembut dan tinggi. Itu suara laki-laki yang berat, tenang, namun kini terdengar sedikit bergetar karena sedang menahan tawa yang sangat hebat.

Bungah tersentak. Kesadarannya kembali dalam sekejap. Ia perlahan membuka satu matanya, lalu mata satunya lagi. Di layar ponsel, bukan wajah Bunda yang menyapanya, melainkan wajah Gus Zidan yang sedang duduk di serambi masjid pesantren, masih mengenakan jas dan peci hitam.

Zidan tampak terpaku, matanya langsung teralihkan ke arah lain sebagai bentuk penjagaan, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum geli di sudut bibirnya.

"Astagfirullahal’adzim!" jerit Bungah spontan.

Dalam gerakan secepat kilat, Bungah langsung melempar ponselnya hingga terjatuh ke bawah selimut. Jantungnya terasa ingin melompat keluar. Wajahnya yang tadi pucat karena bangun tidur, seketika berubah menjadi merah padam seolah terbakar.

"Tunggu! Jangan dimatikan dulu!" seru Zidan dari balik selimut ponsel. "Saya tadi diminta Bunda untuk memegang ponselnya sebentar karena Bunda sedang sibuk menyalami tamu di dalam. Saya hanya ingin memastikan kamu sudah bangun untuk mendengar kabar penting dari Abi tadi."

Bungah masih meringkuk di balik selimut, tangannya sibuk mengusap-ngusap sudut bibirnya dengan panik dan rasa malu yang tak tertahankan. Ya Allah, mana ada ilernya lagi! Habis sudah harga diriku di depan calon suamiku! batinnya menjerit meratapi nasib.

"Ustadz... jangan dilihat! Matikan videonya! Bungah malu!" teriak Bungah dari dalam selimut, suaranya teredam kain.

Zidan tertawa kecil, tawa paling jujur dan renyah yang pernah Bungah dengar selama mengenal pria kutub itu. "Sudah telat, Bungah. Tapi tidak apa-apa. Sekarang saya jadi tahu, kalau 'Mentari' saya kalau bangun tidur ternyata lebih mirip anak kecil yang menggemaskan daripada mahasiswi Al-Azhar yang galak."

"Ustadz jahat! Jangan dibahas!" keluh Bungah hampir menangis karena malu.

"Cepat cuci muka, lalu pakai kerudungmu. Bunda dan Ayah ingin bicara sebentar sebelum mereka istirahat. Saya janji, saya akan tutup mata sampai ponsel ini saya serahkan ke Bunda," ucap Zidan dengan nada yang kembali lembut, meski sisa-sisa tawa masih terdengar di suaranya.

Bungah segera meloncat dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi dengan perasaan campur aduk antara ingin tertawa dan ingin menghilang dari bumi. Kejadian memalukan itu justru menjadi pengikat batin yang unik. Bagi Zidan, melihat sisi paling manusiawi Bungah malam itu justru membuatnya semakin jatuh hati—bahwa wanita yang ia cintai bukan sekadar sosok sempurna di balik cadar, tapi manusia biasa yang ia ingin jaga selamanya.

1
Feni sang penulis novel
halo kak aku izin komen ya aku sudah membaca semua novel kakak semuanya aku suka dan kakak juga termasuk novel yang terbaik dan yang pertama aku lihat yang bagus cerita novelnya aku pun suka banget sama cerita novel kakak semuanya dan semua alurnya aku suka banget kak💪💪 dan aku punya novel buatan aku sendiri yang berjudul seorang wanita mafia cantik tolong mampir ya kak siapa tahu kakak suka dengan alur ceritanya itu udah ada bab 13 bab kak kalau kakak suka mampir aja ke novel aku ya kak tetap semangat untuk kakak aku cinta banget sama kakak tetap semangat dan tetap jangan putus asa demi masa depan kita💪💪💪
Feni sang penulis novel
halo kakak aku sudah membaca novelnya semua yang yang aku suka sama alur jidan terdiam seribu bahasa tapi semua novel kakak semuanya bagus kok yang aku suka cuman bidan terdiam 1000 bahasa ceritanya bagus kok dan 100% aku suka sama novel kakak dan kakak semangat terus untuk membuat karya terbaik jangan putus asa ya kak aku pun sama kok pengikut aku masih sedikit tapi aku punya 11 novel yang salah satunya seorang mafia wanita cantik kalau kakak suka mampir dulu ke novel aku dan novel itu sudah ada 13 bab tolong baca kalau nggak pun nggak apa-apa kok kakak tetap semangat untuk membuat karyanya sendiri ya kak jangan putus asa semangat kakak aku cinta kakak banget😍😍😍😍💪💪
Rina Casper: trimakasih sudha mampir kkk😇
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!