"Di tempat di mana es tidak pernah mencair dan badai salju menjadi kawan setia, hadirlah ia—sebuah binar yang tak sengaja menyapa. Mampukah setitik cahaya kecil menghangatkan hati yang sudah lama membeku di ujung dunia? Karena terkadang, kutub yang paling dingin bukanlah tentang tempat, melainkan tentang jiwa yang kehilangan arah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22: Rahasia di Balik Layar yang Tak Sengaja
Mentari yang Masih Terpejam
Kairo masih berselimut sunyi yang dingin,
Saat dering ponsel memecah mimpi yang dijalin.
Tanpa kain hitam yang biasa menjadi tabir,
Wajah polos itu muncul dalam sebuah takdir.
Bukan Bunda, bukan pula Mas yang menyapa,
Tapi sepasang mata yang selama ini ia jaga.
Antara malu, tawa, dan sedikit noda di bibi,
Rahasiamu tersingkap di bawah langit pagi.
Perbedaan waktu antara Kairo dan Jawa membuat segalanya sedikit kacau bagi jadwal tidur Bungah. Di Jawa, acara akad nikah Mas Azam baru saja selesai dilaksanakan setelah waktu Isya dengan sangat khidmat. Sementara di Kairo, waktu masih menunjukkan dini hari yang dingin.
Bungah yang kebetulan sedang berhalangan salat (haid), merasa tubuhnya sangat lelah dan lemas. Setelah sempat mendengar kabar "sah" melalui pesan singkat Mas Azam sebelumnya, ia tak kuat lagi menahan kantuk. Ia tertidur lelap dengan ponsel yang tergeletak di samping bantalnya, tanpa mengenakan khimar apalagi cadar.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar hebat. Panggilan video masuk. Dalam kondisi setengah sadar dan mata yang masih lengket, Bungah mengira itu adalah panggilan dari Bundanya yang ingin menunjukkan suasana pesta.
"Hmm... Bunda?" gumamnya serak.
Tanpa melihat layar, Bungah menggeser tombol hijau. Ia menyandarkan ponsel itu di bantal, menghadap langsung ke wajahnya yang masih menempel di seprai. Rambutnya yang hitam legam berantakan menutupi dahi, wajahnya polos, dan yang paling memalukan—karena posisi tidurnya yang terlalu nyenyak—ada sedikit sisa air liur yang mengering di sudut bibirnya.
"Bunda... Adek ngantuk banget... kepalanya pusing karena halangan..." ucap Bungah sambil menguap lebar, matanya masih terpejam rapat.
"Assalamu’alaikum... Bungah."
Suara itu. Bukan suara Bunda yang lembut dan tinggi. Itu suara laki-laki yang berat, tenang, namun kini terdengar sedikit bergetar karena sedang menahan tawa yang sangat hebat.
Bungah tersentak. Kesadarannya kembali dalam sekejap. Ia perlahan membuka satu matanya, lalu mata satunya lagi. Di layar ponsel, bukan wajah Bunda yang menyapanya, melainkan wajah Gus Zidan yang sedang duduk di serambi masjid pesantren, masih mengenakan jas dan peci hitam.
Zidan tampak terpaku, matanya langsung teralihkan ke arah lain sebagai bentuk penjagaan, namun ia tidak bisa menyembunyikan senyum geli di sudut bibirnya.
"Astagfirullahal’adzim!" jerit Bungah spontan.
Dalam gerakan secepat kilat, Bungah langsung melempar ponselnya hingga terjatuh ke bawah selimut. Jantungnya terasa ingin melompat keluar. Wajahnya yang tadi pucat karena bangun tidur, seketika berubah menjadi merah padam seolah terbakar.
"Tunggu! Jangan dimatikan dulu!" seru Zidan dari balik selimut ponsel. "Saya tadi diminta Bunda untuk memegang ponselnya sebentar karena Bunda sedang sibuk menyalami tamu di dalam. Saya hanya ingin memastikan kamu sudah bangun untuk mendengar kabar penting dari Abi tadi."
Bungah masih meringkuk di balik selimut, tangannya sibuk mengusap-ngusap sudut bibirnya dengan panik dan rasa malu yang tak tertahankan. Ya Allah, mana ada ilernya lagi! Habis sudah harga diriku di depan calon suamiku! batinnya menjerit meratapi nasib.
"Ustadz... jangan dilihat! Matikan videonya! Bungah malu!" teriak Bungah dari dalam selimut, suaranya teredam kain.
Zidan tertawa kecil, tawa paling jujur dan renyah yang pernah Bungah dengar selama mengenal pria kutub itu. "Sudah telat, Bungah. Tapi tidak apa-apa. Sekarang saya jadi tahu, kalau 'Mentari' saya kalau bangun tidur ternyata lebih mirip anak kecil yang menggemaskan daripada mahasiswi Al-Azhar yang galak."
"Ustadz jahat! Jangan dibahas!" keluh Bungah hampir menangis karena malu.
"Cepat cuci muka, lalu pakai kerudungmu. Bunda dan Ayah ingin bicara sebentar sebelum mereka istirahat. Saya janji, saya akan tutup mata sampai ponsel ini saya serahkan ke Bunda," ucap Zidan dengan nada yang kembali lembut, meski sisa-sisa tawa masih terdengar di suaranya.
Bungah segera meloncat dari tempat tidur, berlari ke kamar mandi dengan perasaan campur aduk antara ingin tertawa dan ingin menghilang dari bumi. Kejadian memalukan itu justru menjadi pengikat batin yang unik. Bagi Zidan, melihat sisi paling manusiawi Bungah malam itu justru membuatnya semakin jatuh hati—bahwa wanita yang ia cintai bukan sekadar sosok sempurna di balik cadar, tapi manusia biasa yang ia ingin jaga selamanya.