Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Distraksi Mental
Begitu TV dimatikan tepat pukul 22.00, Aruna langsung melakukan gerakan peregangan dan berjalan gontai menuju tempat tidur. Matanya sudah setengah terpejam, membayangkan empuknya kasur.
"Aduh, nikmatnya kasur... Mas, aku langsung off ya, besok harus tempur di toko," gumam Aruna sambil menarik selimut.
Namun, Gavin tidak langsung berbaring. Ia duduk di sisi ranjang, menatap Aruna dengan tatapan kucing hilang yang sangat memelas. Tidak ada wajah tegas auditor, yang ada hanyalah Gavin yang butuh kasih sayang.
"Mas, jangan bilang kamu mau lembur lagi? Lihat jam, Mas! Tadi katanya mau regenerasi sel!" kata Runa curiga.
"Runa, secara teknis, aktifitas fisik tambahan sebelum tidur dapat meningkatkan kualitas hormon kebahagiaan yang akan bertahan hingga dua puluh empat jam ke depan. Itu modal bagus untuk menghadapi hari senin." kata Gavin.
Aruna menghela napas panjang, "Alesan aja! Mas, Aku cape banget! Besok harus buka toko pagi-pagi."
Gavin memegang ujung selimut Aruna, "Hanya satu siklus singkat, Runa. Saya berjanji akan menggunakan mode fast track, tidak akan mengganggu jadwal tidur inti kita."
Aruna luluh melihat wajah memelas suaminya, "Ya udah, ya udah. Tapi janji ya, jangan pakai acara audit durasi atau gerakan segala. Dan yang penting... jangan lama-lama!"
Gavin langsung ceria, "SOP diterima, Sayang. Saya akan melakukan Eksekusi dengan efisiensi tinggi."
Keesokan paginya, suasana sudah sibuk. Gavin yang sudah rapi dengan setelan jas abu-abu dan tas kerja yang mengkilap, mengantar Aruna ke toko aksesorisnya menggunakan mobil. Begitu sampai di depan toko, Aruna turun dan membuka pintu harmonika tokonya.
Gavin ikut turun, awalnya cuma mau memastikan Aruna masuk dengan aman. Tapi langkahnya terhenti di depan etalase kaca depan.
"Runa, tunggu! Jangan masuk dulu, lihat ini." kata Gavin.
"Kenapa lagi, Mas. sudah jam delapan lewat empat puluh lima nih, kamu bisa telat ke kantor." jawab Aruna.
Gavin menunjuk ke barisan kalung mutiara di balik kaca, "ini bencana estetika. Kalung mutiara ini memiliki kemiringan lima belas derajat ke arah kiri, sementara bros di sampingnya terlalu rapat. Secara visual, ini akan membuat calon pembeli mengalami distraksi mental. "
"Mas, itu memang sengaja dibuat acak biar kelihatan seni! Udah deh, ayo berangkat, nanti kamu telat absen!" kata Aruna.
"Tidak bisa. Saya tidak bisa tenang di kantor membayangkan ada ketidak teraturan dalam radius satu kilometer dari saya." kata Gavin kekeh.
Tanpa izin, Gavin langsung masuk ke area etalase. Ia mengeluarkan penggaris kecil dari saku jasnya (entah kenapa dia selalu bawa benda itu). Ia mulai menggeser-geser kalung mutiara itu dengan gerakan yang sangat hati-hati agar jarak antar mutiaranya sejajar sempurna.
"Gavin Adnan! Itu sudah jam sembilan kurang lima menit! Kantor kamu kan lewat lampu merah yang sering macet!" seru Aruna gregetan.
"Sebentar, satu bros lagi... Nah, sekarang sudah simetris seratus delapan puluh derajat. Aliran visualnya sekarang sudah sesuai standar kepuasan mata." Kata Gavin puas.
Gavin berdiri, merapikan jasnya yang sedikit kusut. Lalu mengecup kening. Aruna yang sudah cemberut.
"Sekarang toko kamu sudah siap beroperasi dengan efisiensi tinggi Saya berangkat dulu. Saya akan memacu kendaraan dengan kecepatan stabil agar tetap sampai di kantor dalam waktu sepuluh menit." kata Gavin sambil berjalan menuju mobilnya.
"Dasar Auditor gila! Hati-hati di jalan, Mas!" kata Aruna.
Aruna hanya bisa geleng-geleng kepala melihat mobil suaminya melaju pergi. Ia menoleh ke arah etalasenya. "Sial", pikirnya. "Memang sih jadi kelihatan jauh lebih rapi dan mahal kalau simetris begini".
Suasana di toko aksesoris Aruna benar-benar seperti di landasan badai. Mungkin karena efek simetris yang dikerjakan Gavin tadi pagi, atau memang karena pelanggan sudah rindu belanja setelah toko tutup lama untuk urusan pernikahan.
"Mbak, kalung yang ini ada warna biru, nggak?"
"Mbak, brosnya kalau beli tiga diskon nggak?"
"Mbak, tolong bungkusin buat kado, ya. Yang rapi!"
Aruna kewalahan. Ia harus menghitung uang kembalian, mengambil stok di gudang belakang, sekaligus membungkus kado. Keringat mulai bercucuran di pelipisnya.
"Aduh, kayaknya beneran aku butuh asisten, deh," gumam Aruna sambil buru-buru melayani ibu-ibu yang sedang memilih jepit rambut. "Kalau terus-terusan begini, bisa-bisa pinggangku copot sebelum jam tutup".
Di tengah keriuhan itu, ponsel Aruna yang terletak di meja kasir berbunyi "TING!" Sebuah notifikasi pesan masuk dari Gavin. Aruna menyempatkan diri mengintip layar ponselnya sambil mengatur napasnya.
Bukannya pesan romantis seperti: SEMANGAT KERJANYA, SAYANG," yang muncul adalah sebuah filenya pdf berjudul: LAPORAN_ANALISIS_TRAFIK_TOKO_VERSI_01.PDF.
Aruna membuka pesan itu dengan dahi berkerut.
"Runa, Saya baru saja menyempatkan diri mengecek CCTV toko lewat ponsel di sela-sela rapat koordinasi anggaran kantor. Berdasarkan observasi visual saya selama lima belas menit terakhir, toko kamu sedang mengalami lonjakan pengunjung sebesar dua ratus persen. Kapasitas pelayanan kamu sudah mencapai ambang batas." Isi chatnya Gavin.
"Mas, kamu lagi rapat kok malah ngintipin CCTV toko sih? Iya nih, aku lagi mau pingsan melayani Ibu-ibu rumput." balasan chatnya Aruna.
"Saya sudah membuatkan tabel proyeksi. Jika tren ini berlangsung sampai sore, kamu butuh tambahan satu sumber daya manusia. Di lampiran halaman dua saya sudah membuat kriteria calon karyawan: Tinggi minimal seratus enam puluh centi meter, agar bisa menjangkau rak paling atas, teliti, dan memikirkan kecepatan hitung minimal sepuluh transaksi per menit. Segera cetak poster lowongan kerjanya. Saya sudah buatkan desainnya yang simetris." isi chatnya Gavin.
Tak lama kemudian, Gavin menelpon sebentar saat jam istirahat kantornya.
"Hallo, Runa. Kamu sudah baca analisis saya?" kata Gavin di seberang telepon.
Aruna sambil minum air mineral dengan lahap, "Mas, kamu tuh bener-bener ya. Orang lagi sibuk dagang malah dikirimin tabel excel. Tapi emang bener sih, aku tadi baru kepikiran mau cari pegawai."
"Keputusan itu sudah divalidasi oleh data, Runa. Kamu tidak boleh memaksakan kerja fisik sendirian. Itu tidak efisien untuk kesehatan jangka panjang kita. Oh, ya. Saya tadi melihat di CCTV ada pembeli yang menggeser susunan kalung di rak nomor tiga. Tolong nanti setelah agak sepi, kamu geser dua centimeter ke kanan lagi ya." kata Gavin panjang lebar.
"Gavin! Udah ah. Lanjutin rapatnya sana! Fokus sama audit kantor jangan audit tokonya aku terus!" kata Aruna.
Terdengar suara tawa kecil di seberang telepon. "Baiklah. Saya tutup dulu, ingat, Runa. Jangan lupa makan siang tepat jam dua belas lewat tiga puluh menit agar metabolisme tubuhmu tidak terganggu. I Love you secara administratif dan personal."
Aruna tertawa, "Hahaha, iya, iya, I Love you too, Pak Auditor!"
Aruna mematikan telepon sambil tersenyum. Meskipun kelakuan suaminya di luar nalar, tapi perhatian Gavin yang berbasis data itu entah kenapa sangat menenangkan. Ia pun mulai mencetak desain lowongan kerja buatan Gavin yang memang... sangat rapi dan lurus.
Bersambung....