Reza telah memiliki Zahra, model ternama dengan karier cemerlang dan ambisi besar. Namun, demi keluarga, ia dipaksa menikahi Ayza, perempuan sederhana yang hidupnya penuh keterbatasan dan luka masa lalu.
Reza menolak pernikahan itu sejak awal. Baginya Ayza hanyalah beban yang tak pernah ia pilih. Pernikahan mereka disembunyikan, Ayza dikurung dalam peran istri tanpa cinta, tanpa ruang, dan tanpa kesempatan mengembangkan diri.
Meski memiliki bakat menjahit dan ketekunan luar biasa, Ayza dipatahkan perlahan oleh sikap dingin Reza. Hingga suatu hari, talak tiga dijatuhkan, mengakhiri segalanya tanpa penyesalan.
Reza akhirnya menikahi Zahra, perempuan yg selalu ia inginkan. Namun pernikahan itu justru terasa kosong. Saat Reza menyadari nilai Ayza yg sesungguhnya, semuanya telah terlambat. Ayza bukan hanya telah pergi, tetapi juga telah memilih hidup yg tak lagi menunggunya.
Waalaikumsalam, Mantan Imam adalah kisah tentang cinta yg terlambat disadari dan kehilangan yg tak bisa ditebus.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
13. Sensasi yang Salah
Mobil melaju lebih lambat dari biasanya.
“Rez,” ucap Zahra tiba-tiba.
Reza melirik sekilas. “Kenapa?”
“Berhenti di depan.”
Kening Reza berkerut. Ia melihat spion, lalu jalan di depan. Kosong, gelap, hanya diterangi satu lampu jalan yang berkedip lemah.
“Berhenti di sini?” tanyanya ragu. “Tempatnya sepi banget.”
“Berhenti saja,” ulang Zahra, suaranya datar, tapi tangannya mengencang di lengan Reza.
Mobil melambat. Ban berderit pelan saat menepi. Mesin masih menyala ketika akhirnya berhenti.
“Ra, kenapa—”
Reza terdiam.
Zahra sudah berbalik menghadapnya. Jarak mereka terlalu dekat. Terlalu tiba-tiba. Tatapan Zahra tak lagi manja, ada sesuatu yang lebih gelap di sana. Lebih nekat.
“Kamu takut?” tanyanya pelan.
“Ngg—bukan itu.” Reza menelan ludah. “Ini tempat umum. Kalau ada yang lewat—”
“Justru itu,” potong Zahra lirih.
Ia tersenyum tipis. Bukan senyum manis. Senyum yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan.
Tangan Zahra naik, menyentuh bibir, turun ke jakun Reza. Mengusapnya pelan, tapi cukup untuk membuat dunia terasa menyempit.
“Kamu selalu suka hal yang nggak biasa bukan?” bisiknya. “Yang bikin jantungmu lupa cara berdetak normal.”
Reza menarik napas dalam. Jemarinya mengendur dari setir, lalu kembali menggenggam, ragu, dan kalah.
“Ra…” ia menyebut namanya seperti peringatan yang terlambat.
Zahra tak menjawab dengan kata-kata. Ia bergerak lebih dekat, duduk di pangkuan Reza, menghadap pria itu. Cukup untuk membuat Reza lupa alasan kenapa mereka berhenti di tempat itu.
Zahra menunduk, berbisik lirih. "Di sini, sensasinya pasti berbeda." hangat napasnya menyapu leher Reza. Mengecup cuping Reza. Sementara jemarinya menarik turun tali gaunnya.
Reza memejamkan matanya. Dadanya naik turun tak beraturan. udara di dalam mobil tiba-tiba terasa menipis membuat dadanya menyempit.
"Kau..." katanya, suaranya serak menatap Zahra yang membuka bibirnya.
Tanpa aba-aba Reza menyambar bibir itu. Benda lembut itu beradu saling mengecup dan mengulumm. Lidah saling membelit.
Napas mereka memburu, panas menjalar membakar tubuh mereka. Reza memeluk erat pinggul Zahra yang bergerak liar menghentak kuat di atasnya.
"Ra... Ughh.."
Mobil bergoyang, suara deru napas, decapan dan deru AC bercampur menjadi satu.
Lampu mobil dari kejauhan sempat melintas. Sekejap saja. Lalu jalan kembali sunyi.
Di dalam mobil itu, Zahra tersenyum dalam diam. Ia menutup mata sesaat, merasakan napas Reza yang masih belum stabil.
“Nanti kamu nggak bakal lupa kenapa kamu berhenti di sini,” bisiknya sambil tersenyum. “Tubuhmu lebih jujur dari pikiranmu.”
Hening di dalam mobil terasa terlalu padat. Reza menatap ke depan, tapi pikirannya tertinggal di bibir Zahra yang baru saja menjauh.
Mesin mobil masih hidup ketika Reza merapikan kemejanya. Kancing teratas ia salah pasang, lalu dibetulkan lagi. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena dingin.
Kaca depan buram oleh embun. Ia menghapusnya dengan punggung tangan, lalu berhenti. Bau malam, kulit, dan sesuatu yang tak seharusnya tertinggal, masih mengendap di ruang sempit itu.
“Ra…” napasnya berat. “Kita kebablasan.”
Zahra tersenyum, membenahi rambutnya di kaca spion seolah baru selesai berdandan, bukan melanggar batas. Senyum yang sama sekali tidak meminta maaf.
Reza berhenti membenahi kemejanya. Tangannya menggantung di udara, lalu jatuh ke pangkuannya. Wajah bercadar itu muncul di benaknya. Tenang, rapi, seolah selalu selangkah lebih dulu.
Reza membuka jendela sedikit, membiarkan udara malam masuk. Seolah bisa mengusir sesuatu dari dadanya.
“Sial,” gumamnya, lebih ke dirinya sendiri daripada ke Zahra.
Namun tepat di belakangnya, ada rasa lain yang lebih licik: denyut hangat yang menolak padam. Ia membenci kenyataan itu.
Ia kembali menggenggam setir, kali ini terlalu erat.
"Sekali ini saja," katanya pada diri sendiri.
Namun tubuhnya mengingat lebih cepat daripada niatnya melupakan.
Lampu jalan berkedip. Reza menyalakan sein, lalu mematikannya lagi.
Ia sadar, yang paling berbahaya bukan apa yang baru terjadi, melainkan betapa mudahnya ia ingin mengulanginya.
Ayza, di waktu yang sama
Di rumah yang sunyi, Ayza menutup buku desainnya. Jam di dinding menunjukkan lewat tengah malam. Ia berdiri, merapikan buku-bukunya, lalu berjalan ke jendela.
Ponselnya menyala. Delivered.
Tidak ada balasan.
Ayza tidak cemberut. Tidak mendesah. Ia hanya menghela napas sekali, pendek, seperti seseorang yang baru menyusun puzzle terakhir.
Ia teringat cara Zahra memeluk lengan Reza tadi, terlalu santai untuk orang yang “baru pulang”. Terlalu yakin.
Ayza tersenyum tipis. Bukan senyum kalah. Senyum paham.
“Dunia memang panggung sandiwara,” gumamnya pelan.
Ia mengambil ponsel, membuka catatan, menulis satu baris, lalu menutupnya lagi.
Tak ada amarah di wajahnya. Yang ada hanya ketenangan dingin, ketenangan orang yang tahu permainan sedang berjalan, dan tahu kapan harus menunggu.
Di luar, malam terus melaju. Di dalam, Ayza memilih diam, karena ia tahu, yang tergesa biasanya salah langkah.
Malam sudah larut saat Reza pulang.
Dedaunan di halaman basah oleh embun, mengilap di bawah lampu teras.
Ia melangkah masuk.
Saat melewati kamar Ayza, langkahnya melambat—hanya sepersekian detik. Matanya melirik sekilas ke pintu yang tertutup rapat itu, lalu ia memperlebar langkah, seolah ingin segera menjauh.
Sial.
Pintu kamarnya tertutup dengan bunyi pelan, tapi rahangnya mengeras. Reza menyandarkan punggung ke daun pintu. Kilasan bibir, jakun, dan cara Zahra bergerak muncul tanpa izin. Tenggorokannya naik turun. Ia mengusap wajahnya kasar, lalu berdiri terlalu cepat, seolah bisa mengusir bayangan itu dengan gerakan.
Namun tubuhnya tak sepenuhnya patuh.
Pagi menjelang.
Meja makan sudah tertata rapi. Piring putih, nasi hangat, aroma teh yang masih mengepul. Ayza duduk di salah satu kursi, punggungnya tegak, gerakannya tenang—seperti pagi-pagi sebelumnya.
Reza keluar dari kamar. Ia duduk. Makan. Tidak ada sapaan. Sendok beradu dengan piring, ritmenya pendek dan cepat.
Ayza sempat melirik. Hanya sekali. Lalu kembali pada piringnya.
Saat Reza berdiri dan menarik kursi, suara Ayza menyusul, pelan namun tepat sasaran.
“Oh, ya.”
Reza berhenti setengah langkah.
“Pembicaraan kita tentang Zahra semalam belum selesai.”
Ia menoleh. Tatapannya dingin, datar, seperti pintu yang sengaja ditutup rapat.
“Ayza, aku menikahimu, bukan mengangkatmu sebagai pengawas hidupku.”
Reza tidak menoleh.
“Fokus saja pada hal yang memang jadi tanggung jawabmu.”.
Nada suaranya rendah. Tidak meninggi. Justru itu yang tajam.
“Nggak usah ngurusin yang lain.”
Ia berlalu pergi tanpa menunggu jawaban.
Ayza tetap duduk. Tangannya yang memegang sendok berhenti di udara, lalu diletakkan perlahan ke atas meja. Tidak ada yang tumpah. Tidak ada yang bergetar.
Beberapa detik berlalu.
Ia menghela napas panjang, bukan kecewa, melainkan seperti seseorang yang baru mengonfirmasi dugaan lama.
Pandangannya jatuh ke kursi kosong milik Reza.
Masih hangat.
Ayza berdiri, membereskan meja dengan gerakan rapi. Piring disusun. Gelas dirapikan. Semua kembali pada tempatnya, seolah tak pernah ada percakapan barusan.
Di depan wastafel, ia berhenti. Menatap pantulan dirinya sendiri. Cadar masih terpasang rapi. Mata itu tenang.
“Menarik,” gumamnya lirih.
Bukan tentang Zahra. Bukan juga tentang Reza.
Ayza menutup kran.
“Orang yang defensif biasanya sudah tahu jawabannya,” gumamnya pelan.
Hari masih panjang. Dan ia tahu, orang yang memilih menghindar hari ini, biasanya akan kembali dengan kegelisahan yang lebih besar.
Ia tersenyum tipis, senyum orang yang tidak terburu-buru.
...🔸🔸🔸...
...“Aku tidak mencuri suami orang. Aku hanya mempercepat kejujurannya.”...
...“Tubuhku mengingatnya, bahkan ketika aku ingin melupakan.”...
...“Orang yang defensif biasanya sudah tahu kebenaran.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri selalu ngingetin Ayza jangan sampai jatuh Cinta sama Pria Bestard kaya si Reza🤣,tenang saja Fahri...Ayza tidak akan pernah jatuh cinta sama kakakmu,Ayza mh sudah ada yang nungguin Cinta sejatinya Ayza...Kaisyaf😍