NovelToon NovelToon
Maximilien

Maximilien

Status: tamat
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Dikelilingi wanita cantik / Percintaan Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Fantasi Wanita / Cintapertama / Tamat
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Kisah Pencinta Yang Asing

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pertemuan yang menyesaklan

Perubahan Guzzel setelah malam itu kembali mengguncang Universitas Columbia. Tidak ada lagi pakaian minim, tidak ada lagi tawa keras yang dipaksakan di depan pria-pria asing, dan tidak ada lagi lipstik merah menyala.

Guzzel kembali menjadi dirinya yang dulu, berpakaian anggun, sopan, dan berkelas.

​Namun, ada sesuatu yang hilang. Guzzel yang sekarang adalah versi yang lebih sunyi. Dia seperti bayangan yang berjalan di lorong-lorong kampus. Dia tidak lagi bicara jika tidak perlu. Matanya yang dulu berbinar, kini tampak hampa dan dalam. Dia menjadi sosok pendiam yang seolah-olah jiwanya tertinggal.

​Max melihat perubahan itu setiap hari. Dari kejauhan, hatinya tercabik-cabik. Dia melihat Guzzel yang asli telah kembali, tapi Guzzel yang ini tampak begitu rapuh seolah bisa hancur hanya dengan satu sentuhan.

Penyesalan Max membakar dadanya, tindakan balas dendamnya di apartemen malam itu adalah kesalahan terbesar yang pernah ia buat. Dia merindukan Lia, dia merindukan Guzzel, tapi dia tahu dia telah menjadi iblis di mata wanita itu.

​Satu bulan berlalu, Beberapa Minggu terakhir Guzzel mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Setiap pagi, dia terbangun dengan rasa mual yang hebat. Selera makannya hilang, dan aroma kopi yang dulu ia cintai kini membuatnya ingin muntah.

​Dengan tangan gemetar, Guzzel membeli alat tes kehamilan di apotek yang jauh dari jangkauan teman-temannya. Saat dua garis merah itu muncul, Guzzel jatuh terduduk di lantai kamar mandinya.

​"Tidak... tidak boleh sekarang," bisiknya sambil terisak.

​Di rahimnya kini tumbuh benih dari pria yang paling ia benci sekaligus ia cintai. Benih dari penyatuan panas penuh air mata yang mereka lakukan untuk saling menyakiti. Guzzel bersumpah dalam hati, Max tidak boleh tahu. Dia tidak ingin anaknya menjadi alat pertukaran bisnis atau alasan bagi Max untuk kembali karena rasa kasihan.

Dia akan menanggung rahasia ini sendirian, meskipun itu berarti dia harus menahan rindu yang menyiksa setiap kali melihat Max di kampus.

​Sementara itu, tekanan di hidup Max semakin menggila. Ayahnya, Mr. Vance, mulai melancarkan serangan terbuka terhadap perusahaan keluarga Guzzalie. Beberapa proyek besar di pelabuhan dan properti yang seharusnya menjadi milik Mr. Dante, direbut dengan cara kotor oleh ayahnya.

​"Kau lihat, Max?" ujar Mr. Vance di kantornya yang mewah. "Keluarga Dante sedang berada di ujung tanduk. Dan itu semua karena kau mengikuti perintahku untuk menjauhi gadis itu.

Tetaplah menjadi anak yang penurut, dan aku akan membiarkan ibumu tetap hidup dengan tenang di Swiss."

​Max mengepalkan tangannya di bawah meja. Dia terjebak. Dia ingin membantu Guzzel, ingin memperingatkan ayah Guzzel, tapi setiap gerakannya diawasi. Dia tahu ayahnya tidak main-main. Ancaman terhadap ibunya adalah rantai yang mengikat leher Max.

​Setiap kali Max melihat Guzzel di kampus yang tampak semakin pucat dan sering memegangi perutnya, Max merasa seperti pecundang. Dia ingin berlari ke arah Guzzel, berlutut, dan menceritakan semuanya. Tapi dia takut, takut jika dia mendekat, ayahnya akan menghancurkan Guzzel lebih kejam lagi.

​Sore itu, hujan turun membasahi kampus. Guzzel sedang berdiri di halte bus, mencoba menahan rasa pusing yang tiba-tiba menyerang. Max, yang sedang mengendarai mobilnya, tidak tahan lagi. Dia menepikan mobilnya tepat di depan Guzzel.

​Max turun dari mobil, membawa payung. Dia berdiri di depan Guzzel, menatap wajah gadis itu yang kini tampak tirus.

​"Kau terlihat sakit, Guzzel. Biarkan aku mengantarmu pulang," suara Max terdengar sangat lembut, sangat mirip dengan suara "V" yang dulu selalu mencemaskannya.

​Guzzel mendongak, matanya yang sayu menatap Max dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia ingin marah, tapi energinya sudah habis. Dia juga harus melindungi rahasia di perutnya. Jika dia masuk ke mobil Max, pria itu mungkin akan menyadari sesuatu.

​"Jangan menyentuhku, Maximilien," bisik Guzzel lemah.

"Bukankah kau bilang rasa penasaranmu sudah tuntas? Pergilah."

​"Guzzel, kumohon..." Max mencoba meraih tangan Guzzel, tapi Guzzel menariknya dengan cepat.

​"Jangan pernah mendekat lagi. Kau sudah menghancurkanku berkali-kali. Biarkan aku sendiri," Guzzel memalingkan wajahnya, air mata mulai mengalir di pipinya.

​Max berdiri mematung di tengah hujan. Dia melihat Guzzel naik ke bus yang baru saja datang, meninggalkannya dalam kesunyian yang menyakitkan. Max tidak tahu bahwa saat itu, Guzzel sedang mengelus perutnya yang masih rata, membisikkan kata maaf pada janin yang dikandungnya karena ayahnya adalah pria yang saat ini sedang berdiri di bawah hujan dengan hati yang hancur.

​Dua jiwa itu kini benar-benar terpisah oleh jurang kebohongan yang semakin dalam. Max takut akan ancaman ayahnya, sementara Guzzel takut akan kehancuran hatinya yang sudah tak berbentuk lagi.

🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

happy reading 🥰

1
ren_iren
pliss jangan rusak aurelia dgn dendam ke saudaranya kak....
iluh asrini
cerita yang sangat menarik terimakasih thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!