Andrea Cecilia, gadis yatim piatu berusia 22 tahun, baru saja lulus pendidikan Diploma Tiga, jurusan Tata Boga. Ia ikut dengan sang bibi bekerja di rumah keluarga Dinata, sembari menunggu panggilan kerja dari sebuah hotel ternama di ibukota.
Andrea yang memiliki kemampuan memasak, di minta menjadi perawat untuk anak perempuan nyonya Dinata yang mengalami depresi setelah di lecehkan, dan kini dalam keadaan hamil besar.
Sang nona yang selama ia jaga, hanya diam, tiba-tiba meminta Andrea menjadi Ibu pengganti untuk bayi yang akan ia lahirkan. Bahkan, di akhir hayatnya, wanita itu meminta Andrea menikah dengan sang kakak, agar bayinya memiliki orang tua lengkap.
Bagaimana kah perjalanan hidup Andrea setelah kepergian sang nona untuk selamanya?
.
.
.
Hay Teman Redears.. ketemu lagi dengan aku si Authir a.k.a Author Amatir 😁
Mohon dukungannya, ya.. jangan lupa, Like, komen, Vote dan Gift.
.
Semoga cerita ini berkenan.
.
Ingat, tidak ada hikmah yang bisa di ambil dari cerita ini, karena novel ini hanya HALU SEMATA.
.
Terima Gaji ❤️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Five Vee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10. Sarapan Pagi.
Waktu berlalu begitu saja, lima kali putaran bumi pun telah terlewati. Hingga, akhir pekan pun kini telah menyapa. Hari dimana para pekerja kantoran meliburkan diri selama dua hari, Untuk melepas penat setelah lima hari bekerja.
Namun, hal itu tidak berlaku bagi para pekerja perhotelan atau penggiat pariwisata. Mereka akan tetap bekerja, meski di tanggal merah sekalipun. Bahkan, mereka bekerja di tengah malam, hingga pagi menyapa. Meski demikian, para pekerja itu tetap mendapat hari libur. Dan tidak selalu di akhir pekan.
Arthur yang biasanya bekerja di akhir pekan, pun kini menepati ucapannya pada Thomas beberapa hari lalu, pria itu sekarang berada dirumah. Membuat sang mama, terheran hingga mengerutkan dahinya.
“Kamu tidak pergi ke kantor?” Tanya sang mama ketika melihat sang putra sarapan hanya memakai kaos dan celana bahan selutut.
“Tidak. Hari ini aku libur.” Ucap Arthur sembari mengoles selai kacang di atas roti.
“Apa Rea belum turun untuk sarapan?” Tanya pria itu kepada sang mama.
“Biasanya dia turun jika Audrey sudah kembali tertidur setelah mandi.” Jelas wanita paruh baya itu, sembari menikmati sarapannya.
Dahi Arthur berkerut halus pendengar ucapan sang mama. Andrea turun saat Audrey tertidur? Lalu jam berapa gadis itu sarapan?
Menghabiskan sarapan tanpa banyak bicara, Arthur kemudian kembali menyiapkan dua lembar roti dengan selai kacang, dan segelas susu coklat.
“Kamu nambah? Tidak biasanya?” Tanya mama Daisy dengan memicingkan mata.
“Ini untuk Rea, ma.”
Senyum terulas di bibir ibu dua anak itu. Setelah perdebatan di meja makan beberapa hari lalu, mereka memang tak lagi membahas masalah pernikahan. Dan tiba-tiba saja putranya bersikap manis seperti ini.
“Apa semalam ada hujan badai?” Gurau mama Daisy.
“Maksud mama?”
“Ah, tidak. Lupakan. Cepat kamu berikan sarapan pada gadis itu. Kasihan dia jika terlalu sering terlambat sarapan, Karena menunggu Audrey terlelap. Jangan sampai, dia memiliki penyakit asam lambung.” Ucap mama Daisy berdrama. Ia akan membuat Arthur dekat dengan Andrea, dengan cara apapun.
Arthur menganggukkan kepala. Ia kemudian bangkit, dengan tangan kanan membawa piring, dan tangan kiri menggenggam segelas susu.
“Mama akan membuat kamu simpati dulu dengan Rea.”
Senyum tersungging di wajah cantik mama Daisy. Menatap punggung sang putra yang kini berjalan menapaki setiap anak tangga.
Sampai di ujung tangga, langkah Arthur terhenti. Ia melihat kamar Audrey kecil terbuka, dan terlihat kosong.
Pria itu pun menoleh ke arah balkon. Benar saja, Andrea sedang berada disana, duduk bersila di lantai, sembari memangku Audrey kecil.
“Berikan dia padaku. Kamu bisa sarapan dulu.” Ucap Arthur sembari meletakan piring dan gelas di atas sebuah meja bulat yang ada di balkon itu.
“T-tuan.” Andrea tersentak. Ia pun perlahan bangkit dari duduknya.
“Berikan padaku.” Kedua tangan pria itu terulur. Namun kepala Andrea menggeleng.
“Kenapa? Biar aku yang menggantikan mu. Kamu bisa sarapan dulu.”
“A-apa tuan tidak ke kantor?” Andrea memberanikan diri bertanya. Karena biasanya, di jam seperti ini, Arthur sudah pergi ke kantor.
“Tidak.” Jawab pria itu singkat. Ia kembali mengulurkan tangannya.
“A-aku bisa sarapan nanti, tuan. Tidak apa-apa.” Tolak Andrea secara halus.
“Apa kamu memiliki sifat keras kepala? Jika iya, tolong di kurangi atau di hilangkan. Aku tidak mau, Audrey tumbuh menjadi gadis keras kepala seperti dirimu.”
Mata Andrea membulat sempurna mendengar perkataan majikannya. Ia tidak punya keberanian untuk menjawab pria itu lagi. Jangan sampai, Arthur memintanya menjauh dari Audrey, jika dirinya berani membantah.
Dengan terpaksa, gadis itu menyerahkan Audrey kecil ke tangan Arthur.
“Kamu mau kemana?” Tanya Arthur saat Andrea mengangkat piring dan gelas dari atas meja.
“A-aku sarapan di bawah saja, tuan.”
Tatapan mata Arthur selalu membuat Andrea tergagap, dan jantungnya berdebar lebih cepat.
“Duduk disini.” Ucap pria itu dengan tegas.
Andrea menundukkan kepalanya. Tak berani membantah, apalagi menurut.
“Apa pendengaran mu bermasalah? Jika, buat janji dengan dokter, periksakan telingamu.”
Kepala yang menunduk itu menggeleng lemah. Pria yang kini duduk di atas kursi, menatapnya dengan nyalang.
‘Astaga, apa dia memiliki sifat pemarah? Otoriter? Menakutkan sekali pria ini.’
Dengan terpaksa Andrea duduk di kursi yang satunya. Menghela nafas berulang kali. Gadis itu akhirnya meraih piring berisi roti yang telah di olesi selai kacang.
“Aku tidak tau, selai apa yang kamu suka. Selai kacang yang ada di dekatku, jadi itu yang aku oleskan pada rotimu.”
Andrea seketika tersedak, padahal ia baru menggigit roti itu sedikit.
Suara batuk Andrea membuat Audrey kecil dalam pangkuan Arthur mengerejap kaget.
“Pelan-pelan. Kamu membuat Princess ku bangun.” Pria itu meraih gelas susu, kemudian memberikan pada Andrea.
“Te-Terimakasih tuan.”
“Aku hanya tidak ingin Audrey terganggu.”
Kepala Andrea menggeleng kecil. “Bukan itu.”
“Lalu?” Mata Arthur memicing pada gadis di sebelahnya.
“Terimakasih sudah menyiapkan sarapan untuk ku.”
“Hmm, aku hanya tak ingin kamu sakit jika sering terlambat sarapan. Siapa nanti yang akan mengurus Audrey jika kamu sakit? Tidak mungkin mamaku, ‘kan?”
Baru saja bunga bermekaran di dalam hati Andrea karena merasa Arthur perhatian padanya, namun seketika bunga itu layu. Ternyata Arthur takut tidak ada yang mengurus Audrey.
“Terimakasih, tuan.” Gadis itu kembali berucap.
“Hmm.”
Andrea menikmati sarapannya dengan susah payah. Bagaimana tidak, ia belum pernah duduk satu meja dengan Arthur. Apalagi, tatapan pria itu kini tertuju padanya.
Roti yang selembut kapas itu, bahkan dengan susah payah ia telan, meski telah di kunyah tiga puluh dua kali.
“Apa kamu sakit gigi?”
“Tidak, tuan.”
“Kalau begitu habiskan segera. Ini sudah waktunya Audrey untuk mandi.” Pria itu kemudian bangkit, masih dengan menggendong bayi mungil, lalu begitu saja meninggalkan Andrea sendirian.
Bahu gadis itu terkulai lemas. Ia menghirup dan membuang udara sebanyak-banyaknya. Berdekatan dengan Arthur, sangat tidak baik untuknya. Ia merasakan hawa menjadi panas, dan udara seperti menipis.
Meminum sisa susu di dalam gelas, Andrea pun menyusul Arthur dan Audrey ke dalam kamar.
.
.
.
Bersambung
tambah nemen Thomas sama jenny gendong" an