Shen Yu hanyalah seorang anak petani fana dari Desa Qinghe. Hidupnya sederhana membantu di ladang, membaca buku-buku tua, dan memendam mimpi yang dianggap mustahil: menjadi kultivator, manusia yang menentang langit dan mencapai keabadian.
Ketika ia bertanya polos tentang kultivator, ayahnya hanya menegur jalan itu bukan untuk orang seperti mereka.
Namun takdir tidak pernah meminta izin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CH.25
"Bunuh mereka."
Perintah Tetua Mo jatuh bagaikan vonis mati.
Boneka Mayat itu melolong, suara parau yang menggetarkan dinding gua. Makhluk itu melompat dengan kecepatan yang tidak masuk akal, langsung menerjang ke arah barisan murid elit.
"Formasi Pedang Petir!" teriak Bai Jianfei.
Ia dan sembilan murid lainnya menyatukan Qi mereka, menciptakan jaring listrik ungu untuk menahan serangan itu.
BLAAAARRRR!
Benturan itu meledakkan gelombang kejut. Boneka Mayat itu terpental mundur, tapi tiga murid elit langsung muntah darah dan pingsan. Formasi mereka hancur dalam satu serangan. Perbedaan kekuatan antara boneka monster itu dan sekumpulan murid Pemurnian Qi terlalu jauh.
Di belakang boneka itu, pengendali mayat dari Sekte Darah Besi tertawa kekeh. "Lemah. Lemah sekali."
Sementara itu, Tetua Mo tidak membuang waktu pada murid-murid. Matanya terkunci pada Shen Yu. Tubuhnya melayang maju, tekanan Pondasi Awal (Foundation Establishment) miliknya menekan Shen Yu hingga lutut pemuda itu bergetar hebat.
"Kau pikir kau bisa melawanku dengan trik murahanmu, Nak?" Tetua Mo mengangkat satu jari. Ujung jarinya bersinar hitam. "Mati."
Sebuah sinar hitam melesat lurus ke jantung Shen Yu. Cepat. Tak terelakkan.
Shen Yu mencoba bergerak, tapi tubuhnya kaku oleh tekanan aura Tetua Mo. Aku akan mati. Di sini. Sekarang.
TIDAK!
Di saat keputusasaan mencapai puncaknya, Giok Retak di dadanya tidak hanya bergetar. Ia terbakar.
Waktu seolah berhenti. Suara pertempuran di sekitarnya memudar menjadi dengungan sunyi. Dunia menjadi abu-abu.
Di dalam benaknya, Shen Yu mendengar suara itu lagi. Suara purba dari Raja Iblis Xue Sha, namun kali ini jelas dan menggoda, seperti pedagang yang menawarkan barang dagangan.
"Kau menghadapi tembok yang tak bisa kau panjat, Bocah. Pondasi Awal adalah dewa bagi semut sepertimu."
"Tapi aku bisa meminjamkanmu tangga. Aku punya sisa energi dari masa kejayaanku yang tersimpan di lapisan terdalam Giok ini. Cukup untuk membuatmu setara dengan Pemurnian Qi Tahap 9 Puncak selama sepuluh napas."
"Apa bayarannya?" batin Shen Yu menjerit. Ia tahu tidak ada yang gratis.
"Cerdas. Bayarannya bukan nyawamu, itu terlalu murah. Bayarannya adalah kemanusiaanmu. Aku akan mengambil satu inderamu secara permanen."
Shen Yu melihat sinar hitam Tetua Mo yang tinggal satu jengkal dari dadanya. Ia melihat Su Ling yang terbaring tak berdaya di belakangnya.
Jika dia mati, Su Ling mati.
"Ambil rasa sakitku," jawab Shen Yu tanpa ragu. "Rasa sakit hanya menghambatku."
"Transaksi diterima. Nikmatilah tubuh barumu, Monster Kecil."
DHEG!
Jantung Shen Yu berhenti berdetak sesaat, lalu memompa kembali dengan kekuatan ledakan gunung berapi.
Aura merah darah meledak dari tubuh Shen Yu, kali ini begitu pekat hingga tampak seperti api cair. Matanya berubah menjadi merah total tanpa bagian putih.
Krak! Krak!
Otot-ototnya membesar, merobek sisa bajunya. Urat-urat hitam menjalar di seluruh kulit abunya.
Sinar hitam Tetua Mo mengenai dada Shen Yu.
Pyaar!
Sinar itu pecah. Bukan menembus, tapi hancur saat menyentuh kulit Shen Yu yang kini diselimuti Qi Iblis padat.
Tetua Mo terbelalak. "Apa?!"
Shen Yu mendongak. Tidak ada ekspresi di wajahnya.
"Sepuluh napas," bisik Shen Yu.
Napas Pertama.
Shen Yu menghilang. Lantai batu tempat ia berpijak hancur menjadi debu.
Ia muncul tepat di depan wajah Tetua Mo. Kecepatannya melampaui persepsi mata biasa.
"Kau..." Tetua Mo panik, segera memanggil perisai Qi.
BUAGH!
Tinju Shen Yu menghantam perisai itu. Perisai Pondasi Awal retak! Tetua Mo terpental mundur lima langkah, wajahnya pucat. Bagaimana mungkin murid luar memiliki tenaga fisik sebesar ini?!
Napas Ketiga.
Shen Yu tidak memberi jeda. Ia menerjang lagi.
"Boneka! Lindungi aku!" teriak Tetua Mo.
Boneka Mayat itu meninggalkan Bai Jianfei dan melompat untuk mencegat Shen Yu.
Shen Yu tidak menghindar. Ia membiarkan cakar beracun boneka itu menancap dalam-dalam di bahu kirinya, menembus daging sampai ke tulang.
Darah muncrat.
Tapi Shen Yu tidak berkedip. Ia tidak meringis. Ia bahkan tidak memperlambat gerakannya.
Karena rasa sakit itu sudah tidak ada.
"Kau menghalangi jalan," suara Shen Yu datar.
Tangan kanannya mencengkeram kepala Boneka Mayat itu.
Teknik Iblis: Ledakan Gema Darah.
Shen Yu menyalurkan seluruh Qi pinjaman itu ke telapak tangannya.
BLAR!
Kepala boneka itu meledak seperti semangka. Tubuh tanpa kepala itu jatuh lunglai.
Pengendali mayat di belakang menjerit saat koneksi mentalnya putus paksa, otaknya mengalami pendarahan.
Napas Keenam.
Bai Jianfei dan murid-murid elit menonton dengan mulut ternganga. Mereka melihat Shen Yu dengan bahu yang robek parah dan tulang terlihat, tapi bertarung seolah itu hanya goresan kecil.
"Dia... dia monster..." bisik Bai Jianfei.
Shen Yu membuang mayat boneka itu dan menatap Tetua Mo.
"Giliranmu."
Tetua Mo merasakan ketakutan yang nyata. Bukan karena kekuatan Shen Yu (yang sebenarnya masih di bawahnya), tapi karena kegilaan anak ini. Anak ini tidak peduli jika tubuhnya hancur asalkan musuhnya mati.
"Jangan sombong, Iblis Kecil! Jurus Tapak Awan Hitam!"
Tetua Mo mengerahkan teknik terkuatnya. Sebuah telapak tangan raksasa dari asap hitam terbentuk di udara, menekan turun untuk meremukkan Shen Yu menjadi pasta daging.
Napas Kedelapan.
Shen Yu tahu ia tidak bisa menahan serangan itu. Tubuhnya akan hancur total.
Ia menoleh ke belakang. "Bai Jianfei! Hancurkan pilar penyangga gua! SEKARANG!"
Bai Jianfei tersentak dari lamunannya. Ia melihat pilar batu di dekat sungai bawah tanah.
"Gila! Kita akan terkubur!"
"LAKUKAN ATAU KITA SEMUA MATI!" raung Shen Yu sambil melompat menyongsong Tapak Awan Hitam untuk menahannya.
Bai Jianfei menggertakkan gigi. "Sialan!"
Ia mengarahkan pedangnya ke pilar. "Halilintar Pemecah Langit!"
Petir ungu menyambar pilar itu hingga hancur.
Napas Kesepuluh.
Waktu habis. Kekuatan pinjaman Shen Yu lenyap seketika.
Tapak Awan Hitam menghantamnya.
"UHUK!"
Tulang-tulang Shen Yu remuk. Ia terlempar seperti peluru ke arah sungai bawah tanah yang kini meluap karena runtuhnya gua.
Langit-langit gua mulai runtuh. Bebatuan raksasa jatuh menimpa Tetua Mo dan pasukannya.
"TIDAAAK!" teriak Tetua Mo saat batu sebesar rumah jatuh ke arahnya.
"Lompat!" teriak Bai Jianfei pada murid-muridnya yang tersisa.
Mereka semua melompat ke dalam arus sungai bawah tanah yang deras dan gelap.
Shen Yu, dengan sisa kesadarannya, menyambar tangan Su Ling sebelum gadis itu terseret arus. Ia memeluknya erat, menjadikan punggungnya sendiri sebagai tameng dari bebatuan yang jatuh ke air.
Kegelapan menelan mereka.
Entah Berapa Lama Kemudian.
Shen Yu terbangun karena tersedak air.
Ia terdampar di pinggir sungai berbatu, di sebuah lembah asing yang jauh dari sekte. Matahari pagi menyinari wajahnya.
Ia mencoba duduk.
Ia melihat tubuhnya. Bahu kirinya berlubang besar bekas cakar boneka mayat. Rusuk kanannya patah dan menonjol sedikit keluar kulit. Kakinya penuh luka sayatan batu sungai.
Luka-luka itu mengerikan. Seharusnya, rasa sakitnya cukup untuk membuat orang dewasa pingsan atau meraung menangis.
Tapi Shen Yu hanya diam.
Ia menyentuh lubang di bahunya. Ia mencubit dagingnya yang robek.
Tidak ada.
Kosong.
Tidak ada rasa perih, tidak ada rasa nyeri, tidak ada sensasi terbakar. Hanya rasa sentuhan tumpul seperti menyentuh kain tebal.
"Jadi ini harganya..." bisik Shen Yu.
Ia telah kehilangan Rasa Sakit.
Ia menjadi prajurit yang sempurna. Tapi di saat yang sama, ia kehilangan tubuhnya sendiri. Ia bisa saja mati kehabisan darah tanpa sadar karena ia tidak merasa sakit saat tertusuk.
"Shen Yu?"
Suara Su Ling terdengar lemah di sampingnya. Gadis itu basah kuyup, menggigil kedinginan.
Shen Yu merangkak mendekat. Ia ingin memeriksa keadaan Su Ling, tapi ia ragu. Dengan tangan yang mati rasa ini, bisakah ia menyentuh Su Ling dengan lembut? Atau ia akan meremukkan tulang gadis itu tanpa sadar?
Shen Yu menatap tangannya yang hancur namun tidak terasa sakit itu, lalu tertawa. Tawa yang kering dan hampa.
"Kita selamat, Su Ling," katanya. "Kita selamat."
Di kejauhan, asap hitam dari reruntuhan Sekte Awan Putih masih terlihat membumbung tinggi.