NovelToon NovelToon
Kadus Idaman

Kadus Idaman

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Harem / Romansa pedesaan
Popularitas:178.8k
Nilai: 5
Nama Author: Ichageul

Di usianya yang sudah 26 tahun, Arya masih betah menganggur. Cita-citanya bekerja di kantor besar bahkan menjadi CEO, tidak menjadi kenyataan. Bukan itu saja, tiga kali pula pria itu gagal mendaftar sebagai CPNS.

Ketika di kampungnya diadakan pemilihan Kepala Dusun baru, dengan penuh percaya diri, Arya mencalonkan diri. Tidak disangka, pria itu terpilih secara aklamasi.

Kehidupan Arya berubah drastis semenjak menjabat sebagai Kadus. Pria itu kerap dibuat pusing dengan ulah warganya sendiri yang terkadang membuatnya darah tinggi sampai turun bero.

Selain pusing mengurus warga, Arya juga dibuat pusing ketika harus memilih tiga wanita muda yang tiba-tiba masuk ke dalam kehidupannya.

Ada Arini, dokter muda yang menjadi alasan Arya menjadi Kadus. Lalu ada Azizah, gadis manis dan Solehah anak Haji Somad. Terakhir ada Arum, janda beranak satu yang cantik dan seksi.

Yang mau follow akun sosmed ku
IG : Ichageul956
FB : Khairunnisa (Ichageul)
TikTok : Ichageul21

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ichageul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Raja Gombal

Dengan diantar Arya, Airin mulai berkeliling kampung Sukawangi. Sambil berjalan, Airin menikmati pemandangan kampung Sukawangi yang indah. Dari kejauhan nampak dua gunung yang mengapit, yakni Gunung Gede dan Gunung Pangrango.

“Kampung Sukawangi kayanya paling besar di antara kampung yang lain ya, Kang.”

“Iya. Dulu kampung Sekarwangi yang paling besar. Sampai ada 8 RW. Akhirnya dimekarkan menjadi desa Padawangi. Desa Sekarwangi membawahi 5 RW, sementara desa Padawangi yang paling kecil, hanya 3 RW dan tidak punya Kadus.”

Dengan lancar Arya menerangkan silsilah desa yang baru diketahuinya tiga hari lalu. Itu juga karena diceritakan oleh Abahnya.

“Kalau kampung Sukawangi ada berapa RW?”

“Ada 6 RW. Di kampung ini juga terletak curug yang keindahannya ngga kalah dari curug-curug lain yang duluan viral. Namanya curug Halimun. Disebut curug Halimun karena daerah sekitar curug sering diselimuti kabut. Kapan-kapan aku ajak ke sana.”

Keduanya terus melangkah menyusuri jalanan kampung. Kadus yang baru terpilih itu membawa dokter muda tersebut ke rumah Bu Aminah. Di sana banyak berkumpul ibu-ibu yang membuat kerajinan dari bambu, seperti boboko, tampah atau keranjang.

“Wilujeng enjing (selamat pagi) Ibu-ibu anu gareulis (cantik),” sapa Arya.

“Eh ada Pak Kadus. Ayo duduk, Pak. Mau minum apa?”

“Apa aja, Bu. Kopi boleh tapi gulanya dikit aja. Takut diabetes, soalnya di samping saya udah ada yang manis melebihi gula,” ujar Arya seraya melirik Airin yang berdiri di sampingnya.

Mendengar ucapan Arya, sontak membuat wajah Airin. Apalagi semua Ibu yang ada di sana langsung melihat padanya.

“Ieu the kabogohna (pacarnya) Pak Kadus?”

“Eh bukan Bu. Ini dokter Airin. Dia dokter baru yang bertugas di klinik desa. Tapi kalau Ibu-ibu mau mendoakan saya jadi pacarnya dokter Airin, dengan senang hati saya aminkan.”

“Uhuy! Terima aja, dok. Pak Kadus kan ganteng.”

“Kalau jadian gelarnya nambah jadi Bu Dokter Kadus.”

“Hihihi..”

Kembali wajah Airin memerah. Sementara Arya semakin jumawa dan percaya diri saja mendengar dukungan untuk dirinya.

Melihat Airin yang nampak malu-malu sedikit membuat Arya berpikir kalau dokter muda itu juga menyimpan rasa padanya.

“Eh ayo duduk dulu, Pak Kadus, Bu dokter.”

Bu Aminah membawakan dua kursi plastik untuk kedua tamunya. Arya membenarkan letak kursi lebih dulu, baru kemudian mempersilakan Airin untuk duduk.

“Bu dokter mau minum apa?”

“Apa aja, Bu.”

“Ceu Iroh, tolong buatkan kopi buat Pak Kadus dan teh manis buat bu dokter.”

Sementara Ceu Iroh sedang membuatkan minuman, Arya langsung mengatakan niat kedatangan mereka.

“Begini Ibu-ibu yang cantik. Kedatangan saya mengantar dokter Airin mau mengabarkan kalau sekarang klinik Desa buka setiap Senin sampai Sabtu, dari jam delapan sampai empat sore. Tapi kalau ada yang butuh pertolongan mendadak, bisa langsung aja ke kontrakannya di samping rumah Ceu Romlah. Rumah kontrakan Pak Apip. Benar kan dokter?” Arya melihat pada Airin seraya melemparkan senyuman.

“Iya, Kang.”

“Dan sekarang kalau Ibu-ibu tidak keberatan, dokter Airin mau melakukan pemeriksaan. Gratis ya, Bu Ibu.”

Arya sengaja menyebutkan kata gratis, khawatir kalau mereka menolak karena menganggap harus membayar.

Mendengar kata gratis, tentu saja membuat para Ibu bersemangat. Mereka langsung mengantri untuk diperiksa. Arya memberikan kursinya sebagai tempat duduk pasien dadakan.

Airin mengeluarkan peralatan medisnya berupa stetoskop dan alat pengukur tensi. Dengan bersemangat dia mulai memeriksa wanita yang rata-rata usianya sudah di atas 40 tahun.

“Ibu ada keluhan ngga?” tanya Airin pada Bu Emi, yang paling tua di antara yang lain.

“Badan saya sering gatal-gatal, dok.”

“Apa Ibu punya gula?”

“Ai dokter ngaledek. Gula mah punya. Bukan cuma gula, terigu, kopi, beras juga ada.”

Airin terdiam sejenak. Ingin rasanya dia tertawa tapi sebisa mungkin ditahannya. Entah si Ibu yang salah menangkap atau dia yang salah bertanya.

“Maksud saya, gula darah Ibu tinggi ngga? Salah satu gejala diabetes itu kulit gatal-gatal.”

“Oh gitu, saya ngga tahu, dok. Belum cek gula darah juga.”

“Besok Ibu bisa ke klinik desa? Saya cek gula darah Ibu besok. kalau sekarang saya ngga bawa alatnya.”

“Iya, dok.”

Usai memerika Emi, bergantian Airin memeriksa yang lainnya. Sampai akhirnya memeriksa Ibu Aminah, pemilik rumah yang didatanginya.

“Bu Aminah tekanan darahnya tinggi. Kurangi makan yang asin, kurangi makan gorengan, coba dipadu dengan olahraga setiap hari supaya tensi bisa terjaga stabil. Cukup jogging aja, ngga usah olahraga yang berat. Ini saya berikan obat penurun tekanan darah. Diminum satu kali sehari. Perhatikan jam minumnya, harus sama setiap harinya ya, Bu. supaya khasiat obatnya bisa bekerja maksimal.”

“Iya, dok. Kalau obatnya habis, bisa beli langsung atau harus resep dokter?”

“Bisa beli langsung, Bu. Harganya murah kok.”

“Terima kasih, dok.”

“Perbanyak makan yang rebusan ya, Bu.”

“Siap.”

Bu Aminah adalah orang terakhir yang menjalani pemeriksaan. Sebelum pergi, Airin mengingatkan pada Ibu yang harus menjalani pemeriksaan lanjutan untuk menemuinya di klinik desa besok.

“Terima kasih ya, Kang Arya.”

“Sama-sama, dok. Cuma nganterin aja, apa yang repot.”

“Kang Arya mau kembali ke bale dusun?”

“Ngga, aku mau ke balai desa, mau ketemu Pak Sekdes, ambil seragam sama atribut.”

“Wah pasti gagah ya kalau udah pakai seragam.”

“Tenang aja, besok pagi aku bakal ke klinik.”

“Mau ngapain?”

“Mau setor wajah biar kamu ngga penasaran penampilan ku kalau pakai seragam gimana. Takutnya kamu membayangkan sampai ngga bisa tidur.”

Airin hanya tersenyum seraya menundukkan kepalanya. Tidak disangka pria yang baru dikenalnya seminggu yang lalu ternyata pandai menggombal.

Melihat reaksi Airin yang malu-malu meong semakin membuat Arya percaya diri. Tidak sia-sia dirinya mencalonkan diri jadi Kadus. Ternyata jabatannya sekarang benar-benar membuka peluangnya bersama dengan dokter cantik itu.

***

Tidak terasa seminggu sudah Arya menjalankan tugasnya sebagai Kadus. Sejauh ini semuanya lancar terkendali. Sampai tiba di mana dia mulai merasakan repotnya menjadi Kadus. Ini dimulai ketika Sulaiman, ketua RT 01 yang ada di RW 05 datang dengan membawa seorang warganya.

“Pak Kadus, ini Ibu Jubaedah. Ada yang mau dibicarakan dengan Pak Kadus,” ujar Sulaiman yang mengantarkan Jubaedah ke bale dusun.

“Silakan duduk, Bu Jubaedah, Pak Sulaiman.”

“Saya mau langsung pulang, Pak Kadus. Mangga Bu Jubaedah. Silakan langsung bicarakan saja permasalahannya dengan Pak Kadus.”

Buru-buru Sulaiman meninggalkan balai dusun. Seolah pria itu tidak mau terlibat lagi dalam urusan Jubaedah.

“Sebenarnya ada apa, Bu?”

“Abi (saya) geus teu kuat Pak Kadus. Cik tulungan abi. Abi teh kedah kumaha? (harus bagaimana?). Disabaran kalakah beuki jangar ka abina (Disabarin malah tambah pusing ke sayanya),” cerocos Jubaedah dengan kecepatan berbicara mencapai 80km/jam.

***

Si Arya kang gombal juga😏

Go Jubedah buat Arya pusing🤣

1
Rahma Inayah
😅mnt jodoh nya maksa Allah Arya 🤭🤭 tu kan mulai kn mulut emak2 nyindir km Ar perhatian SMA calon bini km hrs tegaskan klu km GK ada hub an SM Arum sebatas teman GK lebih Krn km hati mu SDH bermuara pada Zia ..eeah..aaahh🤭🤭
Munas Tuti
atuh gimana bu Dedeh yg gak tau perkembangan Arya sama Azizah 🤣🤣
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ¢ᖱ'D⃤ ̐
nah kan ikutan maksa juga doanya 😂🤭
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ¢ᖱ'D⃤ ̐
takut nyasar ya doanya 🤣
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ¢ᖱ'D⃤ ̐
wwkk kena btunya iza,siapa tahu itu jurus Arya agar kamu galau 😂
Carlina Carlina
su arum nih yaaa mulut nya😏😏😏😌😌😌usur jg aja dah arum sr kampung itu😌😌😌
☠ᵏᵋᶜᶟҼɳσᵇᵃˢᵉ¢ᖱ'D⃤ ̐
wah wah sabar Ar 🤣 langsung mode nyerembet aja🤣wajarlah Zia gitu karena dia cemburu 🤭
Humaira
aamiin....
semoga berjodoh ya ar... 😂😂😂🤭
Humaira
nah galau lagi kan iza... 😟😟
juwita
betul. aq jg klo nge doa suka gitu di perjelas smua di minta sm Allah yg maha Agung maha segalanya.
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
ayo klarifikasi Ar..
Safitri Agus
🤭😂😂😂
Safitri Agus
Aamiin 😍🤲
Safitri Agus
kalau tidak jodoh maka tetap jodohkanlah ya Allah, aamiin 🤲
dewi rofiqoh
Langsung diklarifikasi sekalian aja arya ke ibu-ibu, klo kamu gk ada hubungan apapun sama Arum
Nani Rahayu
jelaskan atuh kang sama mereka..nti kalo iza nya marah....beh..bahaya
Atik Kiswati
lnjt.....
𝕸𝖆𝖗𝖞𝖆𝖒🌹🌹💐💐
itu mah maksa🤣🤣🤣
choowie
sekalian klarifikasi ar
choowie
betul bgt
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!