NovelToon NovelToon
Queen VS King

Queen VS King

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy / Enemy to Lovers / Idola sekolah / Hamil di luar nikah
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: lee_jmjnfxjk

Di sekolah Imperion Academy, dua fraksi berdiri saling berhadapan. Fraksi wanita yang dipimpin oleh Selvina Kirana , dan fraksi pria dipimpin oleh Varrendra Alvaro Dirgantara. selvina percaya bahwa laki-laki dan perempuan memiliki derajat yang sama, sedangkan Varrendra berpendapat bahwa perempuan seharusnya menunduk di bawah kaki laki-laki.

Pertarungan kata dan logika pun dimulai, panas dan penuh gengsi. Namun, di balik adu argumen yang tajam terselip sesuatu yang tak bisa mereka bantah - rasa yang perlahan tumbuh di antara dia pemimpin yang saling menentang.

Ketika cinta mulai menyelinap di antara ambisi dan prinsip, siapakah yang akan menang?
apakah cinta bisa menyatukan dua pemimpin yang terlahir untuk saling melawan atau justru menghancurkan keduanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon lee_jmjnfxjk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25. Harga yang Diminta

Suara pintu ditutup terlalu keras.

Bukan dibanting—tapi cukup kuat untuk memutus kesabaran terakhir yang masih tersisa di rumah itu.

“Ayah tidak bisa terus begini.”

Varrendra berdiri di ruang tengah, rahangnya mengeras. Di hadapannya, Gevano menurunkan tas kerjanya perlahan, terlalu tenang untuk percakapan yang sudah lama menunggu ledakan.

“Begini bagaimana?” tanya Gevano datar.

“Bersikap seolah aku anak kecil yang tidak perlu tahu apa pun,” jawab Varrendra tajam. “Aku tinggal di rumah ini sekarang. Aku melihat. Aku merasakan. Dan aku muak terus disuruh pura-pura tidak ada apa-apa.”

Gevano menghela napas, panjang. “Ini bukan urusanmu.”

Kalimat itu jatuh seperti bensin ke api.

“Dia ibuku,” suara Varrendra naik. “Kalau ini bukan urusanku, lalu urusan siapa?”

Gevano melangkah maju satu langkah. “Justru karena kau anaknya, ada hal-hal yang tidak boleh kau tanggung.”

“Dan siapa yang memutuskan itu?” balas Varrendra. “Kau?”

Tatapan mereka saling mengunci—keras, panas, tanpa niat mundur.

“Kau ingin tahu kebenaran?” tanya Gevano rendah. “Atau kau hanya ingin merasa penting?”

Wajah Varrendra memerah. “Aku ingin jujur. Sesuatu yang tampaknya sulit dilakukan di rumah ini.”

“CUKUP,” suara Rivena terdengar dari tangga.

Ia berdiri di sana, satu tangan memegang pegangan, wajahnya pucat tapi tegas. “Kalian berhenti.”

Namun konflik sudah terlanjur menyala.

“Dia berhak tahu,” kata Varrendra, tidak memalingkan wajah dari Gevano.

“Tidak sekarang,” potong Rivena cepat.

“Kapan?” Varrendra menoleh padanya. “Saat semuanya terlambat?”

Gevano mengangkat tangan, menahan. “Varrendra, pergi ke kamarmu.”

“Tidak,” jawabnya keras. “Aku tidak akan pergi sebelum seseorang jujur.”

Hening membelah ruangan.

Dan di dalam hening itu, sesuatu bergerak.

Rivena merasakan dadanya menekan, seperti udara di sekitarnya mengental. Kehadiran itu muncul—tidak terlihat, tapi jelas. Lebih dekat dari sebelumnya.

Waktu habis.

Rivena menahan napas.

“PERGI,” katanya lebih keras, pada Varrendra. “SEKARANG.”

Ada perintah di sana. Bukan permintaan.

Varrendra menatap ibunya—dan untuk pertama kalinya melihat ketakutan murni di balik ketegasan itu.

Ia mundur selangkah. “Baik.”

Langkahnya berat saat menaiki tangga. Tapi api di dadanya belum padam.

Begitu pintu kamarnya tertutup, Gevano berbalik ke Rivena. “Kau tidak bisa terus—”

“Aku tahu,” potong Rivena. “Aku tahu.”

Namun tubuhnya bergetar.

                              🐺🐺🐺

Beberapa jam kemudian, rumah itu sunyi.

Gevano keluar sebentar—urusan yang seharusnya singkat. Rivena sendirian. Lampu hanya menyala di ruang tengah. Ia duduk di sofa, mencoba menenangkan napas.

Dan lalu—

rasa itu datang.

Bukan nyeri tajam. Bukan juga mual biasa.

Ini berbeda.

Perutnya menegang mendadak, seperti ditarik dari dalam. Rivena terhuyung, tangannya mencengkeram sandaran sofa.

“Tidak… tidak,” bisiknya.

Rasa sakit itu berdenyut, datang dalam gelombang. Napasnya terpotong. Keringat dingin membasahi punggungnya.

Ia berdiri, melangkah satu—lalu dua langkah, sebelum lututnya melemah.

Sakit.

Bukan sakit yang bisa diabaikan.

Ini rasa sakit yang membuat dunia mengecil, menyisakan tubuhnya saja dan satu titik nyeri yang berteriak.

Rivena meraba pahanya. Tangannya basah.

Ia membeku.

Tidak. Tidak. Tidak.

Dadanya sesak. Air mata langsung mengalir—bukan elegan, bukan terkendali. Ini tangisan mentah, refleks, seperti anak kecil yang terluka.

Ia terseret ke meja, meraih ponsel dengan tangan gemetar. Layar buram oleh air mata.

Satu nama muncul di kepalanya—nama yang sudah lama tidak ia hubungi.

Nama yang seharusnya tidak ia butuhkan lagi.

Tapi sekarang, ia tidak punya siapa-siapa.

Ia menekan panggilan.

Nada sambung terasa terlalu lama.

“Rivena?”

Suara itu tua, terkejut—dan langsung panik.

“Ayah—” suaranya pecah. “Sakit… ini sakit banget…”

Rivena jatuh ke lantai. Tubuhnya meringkuk, tangannya mencengkeram perut seolah bisa menahan sesuatu tetap di tempatnya.

“Ayah, tolong… aku berdarah…”

Di seberang sana, napas berat terdengar. “Di mana kau?”

“Di rumah… aku sendirian… sakit banget, Yah… rasanya kayak—” Ia tersedak. Rasa sakit itu menghantam lagi, lebih kuat. Jeritannya keluar tanpa bisa ditahan.

Ini bukan sekadar nyeri.

Ini ketakutan bahwa ia akan kehilangan sesuatu bahkan sebelum sempat melindunginya.

“Ayah di jalan,” suara itu bergetar. “Dengar aku. Tarik napas. Aku datang.”

Rivena menggeleng meski tahu ayahnya tidak bisa melihat. “Aku takut…”

Tangisnya kencang, tak tersaring. Suara perempuan yang selalu mengendalikan dunia kini runtuh di lantai rumahnya sendiri.

“Aku nggak mau kehilangan dia…”

Di udara, entitas itu hadir lagi. Diam. Mengawasi.

Harga harus dibayar.

Rivena menggigit bibirnya, darah terasa di lidah. “Ini salahku,” bisiknya. “Ini salahku…”

Ia tidak tahu apakah ia berbicara pada ayahnya, pada entitas itu, atau pada dirinya sendiri.

Pintu depan akhirnya terbuka—terlalu lambat.

Di atas, Varrendra terbangun oleh suara tangisan itu.

“Ibu?”

Suara itu membuat jantung Rivena hancur.

“Jangan turun…” gumamnya lemah, meski tahu sudah terlambat.

Dan di tengah rasa sakit yang membuatnya hampir pingsan, satu kesadaran menghantamnya lebih keras dari nyeri mana pun:

Rahasia ini

tidak lagi aman.

Dan harga yang diminta

tidak peduli

siapa yang ia lindungi.

-bersambung-

1
Mercy ley
makasih raisa
Mercy ley
kapal ku karam kah..
Mercy ley
fakta yg menyakitkan yahh ikut tersindir
Mercy ley
aaa sedihh
Mercy ley
agak nyess baca nya.. apalagi tiap ngeliat si king ini bareng nadira
Mercy ley
akan badai yg baru permulaan ini
Mercy ley
aku pun siap
Mercy ley
semangat Selvina..
Mercy ley
welcome to the world babyy..
Mercy ley
aku akan tunggu apapun yg akan terjadi..
Mercy ley
cerita nya fresh bgtt.. chemistry character nya berasa terhubung semua guys..asikk dan menyenangkan banget di jamin kalian suka..nyess nya dapet jg, pokoknya harus di baca.. soalnya aku udh kecintaan sama novel novel karyanya si authorr A inii..jgn lupa baca karya karya dia yg lainn karena gacorr semua lohh..
penasaran??baca ajaa seru..
bukan yapping yapping ini gess/Hey/
semangattt My authorr 🫶🏻🤍
Mercy ley
huftt betull..
Mercy ley
rasanya aku kayak lagi chatan sama seseorang..
Mercy ley
aww..setujuu bgtt si authorr 🤗
aku kagett ternyata di sebutt..aku si dukung klo buat one shoot 🤍🤍
Mercy ley
kata kata mereka bikin nyess
Mercy ley
jujur kita sama..kita udh tau kemungkinannya akan terjadi tapi masih ngerasa kayak denial🥲
Mercy ley
namanya jg ibu hamil, udh turutin aja sebelum terjadi perang dunia kedua..
Mercy ley
siapakah kira kira entitas ini?
Mercy ley
Selvina di sayang bgt nih sama Bu rivenna
Mercy ley
aku ga suka kakak ini🥲
Mercy ley: itu cuma jokes kok my author 🤗
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!