Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Yupz, seperti biasa pagi-pagi sekali Cyan disambut email berjejer dan deadline yang saling kejar-mengejar. Ia bahkan belum sempat meregangkan badan dan langsung membalas email itu satu per satu, input data, dan membalas chat. Sesekali ia mondar-mandir membawa berkas atau sekadar mengisi ulang air di pantry.
Dari sekian tumpuk menumpuk rutinitas harian itu, ada satu hal yang menarik perhatiannya. Lumayan mendistraksi fokus wanita tersebut sejak awal tiba. Jaket abu-abu.
Cyan ingat persis bagaimana Magenta melepasnya sembarangan setelah mengeluh AC terlalu panas, lalu pergi begitu saja setelah rapat selesai. Awalnya Cyan ingin mengembalikan jaket itu setelah jam kerja berakhir, dilipat rapi dan diletakkan di mejanya. Namun, entah mengapa jaket tersebut malah tergantung rapi di sandaran kursi Cyan.
“Gak mungkin ulah si zombie lift, ‘kan? Perasaan udah gue taruh di sini deh,” gumam Cyan mulai merasa ngeri.
Cyan melirik jam di layar komputernya. Delapan lewat lima belas dan tentu saja Magenta belum terlihat sejak pagi. Mungkin terjebak macet yang sejak subuh sudah membuat jalanan tak bersahabat atau alarm paginya yang kembali dibiarkan berbunyi terlalu lama berkali-kali hingga akhirnya bangun terlambat.
Cyan menghela napas pelan, lalu memaksa dirinya kembali bergelud di depan layar. Tak lama kemudian, layar komputer dipenuhi baris-baris kalimat yang terlalu formal nan baku. Seketika Cyan menghela napas pelan, memijat keningnya sendiri. Angka dan data sudah lengkap juga valid, tetapi narasinya terlalu patah-patah dan memaksa orang mencerna lebih dalam.
Tanpa sadar, Cyan membuka folder lain, versi draft sebelumnya. Ia berniat membandingkan untuk sekadar memastikan. Seketika ia berhenti ketika menyadari ada perubahan di sana.
Beberapa kalimat yang sebelumnya kaku kini terasa lebih mengalir. Penjelasan yang tadinya terlalu teknis menjadi lebih mudah dipahami tanpa kehilangan kesan formal. Dan ia mengenali gaya bahasa itu. Sudah jelas dari Magenta.
“Waduh. Ketahuan, ya.” Belum sempat ia memproses lebih jauh, kursi di seberangnya ditarik.
Cyan mendongak. Magenta sudah berdiri di sana dengan tangan yang sengaja dimasukkan ke saku celana. Hm, cukup tampan memang jika dilihat dari ujung sedotan.
“Kamu ngubah draft-nya,” kata Cyan tidak bertanya.
“Iya, aku liat kamu kirim versi yang awal semalem. Aku cuma bantu mempercantik dikit.”
“Kenapa gak bilang?”
“Karena aku tau kamu nggak bakal keberatan dan kalaupun keberatan atau BT karna aku bantu, kamu pasti bakal tetap pakai versiku itu.”
“Percaya diri banget.”
“Harus, dong,” balas Magenta cepat.
“Aku liat dari strukturnya emang jadi lebih rapi dikit.”
“Jelas dong Syantik. Aku ‘kan belajar dari cara kamu bikin laporan. Bedanya aku bikin versi bahasa bayi, jadi biar klien gak pusing duluan bacanya,” pungkas Magenta semakin angkuh.
“Okey. Makasih ya,” ucap Cyan menghargai. Meski singkat, Magenta tetap senang karena setidaknya ada sedikit apresiasi dari wanita itu.
“Sama-sama sayang.”
“Kamu nggak kedinginan?” tanya Cyan datar.
“Hah?”
“AC lantai ini dingin. Biasanya kamu paling ribut soal itu.”
“Iya, tapi jaketku gatau deh ilang entah ke mana.”
Cyan berbalik, mengambil jaket abu-abu dari sandaran kursinya, lalu menyodorkannya. “Nih. Ketinggalan kemarin.”
Magenta menatap jaket itu, lalu berganti menatap ke arah Cyan. Tatapannya sebentar saja, tapi cukup untuk membuat detak jantung Cyan semakin berdegup kencang.
“Kamu yang simpenin, ya?” tanyanya.
“Iya, dari kemarin. Daripada berantakan di ruang rapat,” jawab Cyan menoleh ke sembarang arah, takut bertatapan lebih lama.
“Bu Cyan,” panggil Magenta sambil mengambil alih jaket itu.
“Apa?”
“Kamu sekarang keknya jadi perhatian banget, ya,” sambungnya memelas seperti seorang pacar yang minta dimanja. Sedikit menggelikan jika dilihat secara langsung, terlebih bila ada Raka di sana. Sudah pasti habis wajah Cyan memerah karenanya.
“Jangan ngaco deh, itu hal kecil,” potong Cyan cepat.
“Tetap aja. Aku jarang punya atasan yang nyimpenin jaket bawahannya. Jadi wajar dong bagiku itu sesuatu yang unik,” kilahnya.
“Trus kamu lebih suka jaketnya aku buang gitu? Nggak usah lebay,” jawab Cyan kaku.
***
“Kok belum pulang, Bu Cyantik?” bisiknya ringan saat lampu ruang kantor mulai menyorot jingga sore hari.
Cyan masih duduk di kursinya, layar komputernya sudah mati, tapi ia tidak menjawab.
Magenta mendekat setengah langkah lagi, menundukkan kepalanya tepat di samping telinga Cyan. “Sayangku.”
Cyan membeku, lalu refleks berdiri dan menginjak pelan kaki Magenta.
“Aw!” Magenta menahan suara, menatapnya setengah terkejut.
Cyan melirik sekeliling dengan cepat, tangannya mencengkeram lengan Magenta sebentar. Ekspresinya seketika berubah menegang, lengkap dengan mata memelotot.
“Kan aku udah bilang, jangan panggil itu di kantor! Kok bisa lupa, sih? Nanti didenger yang lain gimana coba?” dumel Cyan menggerutu kesal.
“Tenang. Gak ada yang denger. Aku manggilnya pelan, kok.”
“Bukan soal volumenya, tapi ini masih di kantor. Kamu mau jelasin ke temen kantor?”
“Oh, berarti di luar kantor boleh dong?”
“Enggak,” jawab Cyan buru-buru.
“Cepet banget jawabnya, Syan.”
Di tengah obrolan itu, tiba-tiba Raka melangkah mendekat, membawa tumpukan dokumen sambil tersenyum kuda. Ya, bisa dibilang sedikit mengacau waktu kebersamaan Cyan dan Magenta.
“Eh, kalian berdua masih betah di sini? Udah jam pulang, loh.”
Magenta menoleh, menatap Raka sekejap. Seolah tidak paham situasi, main datang-datang saja dan menyela pembicaraan.
“Kalau Raka ikut campur, aku bakal taruh semua dokumen itu di tas kamu besok pagi.”
Raka mengerutkan kening, memicingkan mata. Ia mendadak geli dan merinding sekujur tubuh, tetapi di sisi lain senang melihat kedekatan atasannya itu.
“Cielah, bilang aja mau berduaan, Mas,” godanya santai, kemudian berjalan mendekat sambil meletakkan tumpukan dokumen di meja.
Magenta tertawa pelan sambil menutup mulut, lalu tanpa menunggu Cyan bereaksi, ia menarik tangan Cyan pelan.
“Kita jalan duluan, Rak,” ucapnya sambil menggandeng tangan Cyan, menuntunnya keluar dari kantor, meninggalkan Raka yang tersenyum di belakang mereka.
“Sialan, OTW jadi obat nyamuk abadi gue di sini.”
Setibanya mereka di parkiran, Magenta menghentikan langkah. Menoleh sebentar ke arah langit, menatap semburat jingga yang menghiasi sore itu. Hawa panas perlahan sejuk, membuat perut Magenta mulai berbunyi.
“Aneh ya, jam segini tuh pasti bikin laper.”
“Kamu laper, Gen?”
“Iya. Kalo jam segini tuh otak udah kagak bisa mikir berat. Maunya cuma makan, terus pulang.”
“Habis itu besok pagi ngeluh pegal-pegal sebadan,” balas Cyan cepat.
“Pengalaman, ya?”
Cyan hanya mengangkat bahu sebagai balasan, pandangannya lurus ke depan, membiarkan Magenta menafsirkan sendiri apa maksudnya. Mereka berjalan lagi, tetapi berhenti saat dua mobil mereka terlihat bersampingan. Seolah sudah diatur oleh semesta, entah disengaja atau tidak.
Ia melirik mobil Cyan, lalu tanpa banyak bicara, melangkah lebih dulu ke sisi pengemudi dan membuka pintu mobil Cyan.
“Kamu ngapain sih?”
Magenta menoleh santai dengan satu tangan yang masih memegang gagang pintu. Senyumnya tidak dipaksakan, tapi bagi Cyan lebih tipis dibanding biasanya.
“Malah bengong. Ayo masuk, Syan.”
“Sok perhatian banget,” gumam Cyan lalu tetap melangkah masuk, tetap menggerutu.
Setelah memastikan Cyan telah masuk ke dalam mobilnya dengan aman, Magenta menutup pintu mobil Cyan dengan hati-hati. Paham bahwa gadis ini tidak bisa mendengar suara-suara keras yang mendadak. Bisa-bisa copot jantungnya.
“Sekarang pulang sendiri dulu. Besok-besok aku yang anter kamu pulang, yah?”
Cyan membuka mulut, hendak membalas. Namun, terhenti oleh suara lembut dan deru napas yang menyapa wajahnya.
“Emm, okay, kamu sendiri yang nawarin diri ya,” balas Cyan berbisik.
“Haha, dasar atasan gengsi setinggi langit.” Pungkas Magenta jahil, “mau aku cium lagi kayak di Bandung itu nggak Syan? Hm?”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣