Nella sudah jadi istri, ini ajaib.
Tidak terima dan kecewa adalah kesan pertama tapi, karena ini keputusan keluarganya ia harus terima dengan terpaksa dan siapa suaminya sekarang Nella sama sekali tak kenal.
Kehidupannya berubah drastis saat memilih menerima suaminya menjadi sah untuk dirinya bersamaan dengan rasa kecewa itu.
Selama waktu berjalan Nella akhirnya tahu suami yang menikahi dirinya bahkan seluruh kekurangannya adalah orang yang sama sekali tak pernah Nella bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pandangan pertama itu indah
Nella menarik tangannya sampai keluar rumah dan saat sampai di halaman tanpa diantar keluarganya keluar atau bahkan pergi keluar gerbang.
Nella melepaskan tangannya tapi, dengan segera ditahannya dan kini tangannya yang memegang tangan Nella.
"Apa?" Menoleh merasa kalo pegangan tangan balasan itu bukan tindakan tanpa arti menurut Nella.
"Tidak aku hanya mau."
"Aneh, lepaskan saja dimana mobil mu ayo kita pergi aku sudah miskin sekarang tidak ada barang yang mau aku bawa."
Javier melepaskan tangan Nella saat di tepis dari tangan Nella yang lain, ia membiarkan nya. Wajah Nella terlihat sangat cantik sekarang.
"Tidak, tunggu dulu." Cegah sebelum menjauh meraih tangan Nella dan memasangkan cincin di jari manisnya. Nella mengangkat jarinya yang di pasang cincin emas keatas dan melihatnya dengan tinggi dan sengaja seperti pamer.
"Cantik juga walaupun polos."
"Emas aslikan?" Tanya Nella.
Javier mengangguk dan Nella mencium cincin yang terpasang dengan ekspresi seperti pencuri mendapatkan bayaran yang seharusnya.
Sambil berjalan menjauh dan mengira-ngira kalo ini mobil Javier ia berhenti mengikat tinggi rambutnya dan memasang kaca matanya.
"Ayo!" Ajaknya melihat Javier masih diam disana dengan wajah seperti kagum pada Nella. Memang Nella cantik menawan dan menarik hati orang lain tapi, ia tidak mau seperti itu.
"Hem." Menghampiri dengan langkah lebar yang santai bahkan suara mobil yang bunyi membuat Nella tanpa aba-aba masuk dan duduk di belakang.
"Didepan sayang.." Nella terdiam dan menutup lagi pintu mobilnya.
Saat keduanya pergi dengan mobil yang Javier udikan. Di jalanan yang perlahan cahaya jingga menjadi latar belakang pemandangan di jalan raya ini.
Nella sedikit menurunkan kaca dan menaikkan lagi lalu memegang sabuk pengaman dengan kedua tangannya.
"Katakanlah sesuatu, kurasa kau mau bicarakan?" Javier menebak-nebak saja tapi, Nella menghela nafasnya sebagai respon balasan ucapan nya.
Nella melirik dan menoleh. Melebarkan jari kirinya dan memegang cincin emas polos di tangannya memutarnya dengan jari tangan kanannya menatap dalam lalu menghela nafasnya sangat lembut.
"Aku tidak percaya aku sudah menikah, kamu... Kurasa kita tidak akan bertahan lama..." Nella membuang wajahnya ke arah jendela saat bicara tidak bertahan lama. Nella terkekeh pelan masih memegang cincin di jari kirinya tapi kini mengepal bukan lagi melebar.
"Akan aku pikirkan hal itu." Nella menoleh mendengar jawaban dari Javier.
Menoleh dengan senyuman manisnya, Nella tak percaya pria bernama Javier punya senyuman semanis ini.
Bukan berarti Javier setuju, karena ini urusannya dengan kebahagiaannya maka ia tidak akan membiarkan begitu saja.
Nella meliriknya lagi, Javier tahu jika perempuan di sebelahnya sama sekali tidak takut dengan nya dan tidak juga terlalu menjual dirinya seperti biasa dan sederhananya saja.
"Aku tidak sesempurna yang kamu tahu dan aku tidak terlalu cantik rupaku pasti layak di sebut pembantu." Merunduk malu.
Javier tersenyum ternyata ini alasan ia murung lagi.
"Dengarkan aku apapun yang aku bilang adalah demi keamanan kenyamanan dan kesehatan mu, Kau cantik, aku tidak menikahi seorang pembantu, aku menikahi perempuan mandiri yang cantik dan lebih tegas dari seorang putri."
"Percaya atau tidak kau terlihat seperti ratu tapi, seperti kesatria juga..."
Nella menatap dengan kerutan jelas didahinya.
"Berlebihan, basi kau bicara apa lah!" Javier terkekeh-kekeh agak keras.
Tersenyum malu Nella dengan pujian dan ucapan yang menurutnya omong kosong itu, yah lumayan menghibur dirinya ini lebih baik menurutnya.
"Terimakasih."
"Apapun untuk istriku, jangan ragu bicara apapun denganku, aku mendengarkan."
Mengangguk dengan kedua tangan meremas sabuk pengamannya. Javier melirik sikap canggung malunya yang di pikirnya, ini lucu gemas sekali.
Jujur dalam hatinya Nella sangatlah takut. Tidak tahu seperti apa pria di sebelahnya apa ia beneran baik atau ia hanya diawal atau jangan-jangan keluarganya membuatnya seakan punya suami dan di bunuh lalu di buang kelaut, seramnya.
Pucat wajah Nella, Javier jelas melihat nya.
"Kita kemana?" Keberanian yang datang entah dari mana untuk bertanya kemana akan pergi.
"Ke rumah nenek jika sekarang ke rumahku, akan memakan waktu seharian, aku tahu kau lelah dan rumah nenek dekat sini."
Anggukan kepala setuju mendengar ucapan Javier.
Eh, tidak setuju kenapa ia mudah sekali tergoda, sialannya kenapa ia patuh dan iya begitu saja jika di bunuh sekarang bagaimana?
Lelah berpikir rasanya ia sangat mengantuk.
Nella melihat ada radio yang tidak hidup tapi tangannya gatal ingin mendengarkan musik.
"Kau bosan, lakukan apa yang mau kau lakukan." Nella terdiam melirik Javier tapi ia tetap bergerak mengarahkan pandangannya ke tablet di sana.
"Iya."
Akhirnya lagu terputar didalam mobil Javier yang entah sudah berapa lama dan terakhir terdengar ada musik kapan sampai lupa sekali.
"Aku tidak tahu harus bersikap apa, heumm."
Javier yang fokus mengemudi jelas mendengarnya tapi, ia juga sendiri merasa bingung kenapa sejak awal ia terus berdebar dan terus merasa seperti ada yang salah , ia senang sekali dan senang ini seperti hampir tidak terkendali.
"Jangan jauh dariku." Nada bicaranya terdengar mengancam. Javier mengangguk saja dan memilih diam tanpa mengeluarkan suara karena neneknya tidak tahu Javier menikah dan membawa perempuan yang bahkan tidak setara.
Kakeknya baru saja keluar dari mobil dan sepertinya sampai duluan tapi, tidak langsung keluar.
Melihat mobil Javier memasuki halaman dan melihat ada seseorang berbeda di sana kakek bersiap dengan sikap kakunya.
Javier turun bersama Nella dan melihat kearah kakek, Javier mendekat dan melihat Nella ikut mendekat.
"Selamat datang, siapa dia?" Nada bicara yang awalnya ramah berubah kaku dan tegas. Nella sedikit gugup tapi, jika tidak di paksa ini akan membuat Javier malu.
"Saya Nella kak... kakek, istrinya Javier."
"Ah.. Istri, kau dari keluarga mana?" Nella langsung melirik Javier dan sat yang sama Nella berdehem menahan rasa canggungnya.
"Aku menikahinya di pandangan pertama jatuh hati, ini bukan hal yang buruk aku akan jelaskan di dalam kek." Ajakan Javier sambil bicara berjalan masuk kedalam rumah. Nella mengekor di belakangnya tapi, tangannya tak bisa di sembunyikan kalo ia sangat takut dan sangat malu.
Tidak fokus kalo Javier bilang kalo ia di nikahin karena cinta pertama atau pandangan pertama yang indah, akh entahlah Nella sendiri masih sangat takut dan malu.
"Javier... Siapa perempuan itu... Kau tidak membuat masalahkan?" Perkataan Nenek yang tiba-tiba itu membuat Nella semakin takut dan malu tapi, harus terpaksa menatap orang tua itu bicara.
"Nenek, kakek kenalkan... Dia Istriku, Nyonya Javier... Nenek dan kakek pasti terkejut tapi, Javier tidak mau membuatnya takut karena ini pengalaman pertamanya, bolehkan kalo nenek memberikan kamar untuknya."
Cara bicara Javier yang santai ramah pada nenek dan kakeknya membuat Nella agak tenang. Siapa sebenarnya Javier kenapa semuanya kaget Javier membawa perempuan dan menuduh kalo membawa perempuan pasti melakukan hal yang buruk.