NovelToon NovelToon
ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

ILMU LELUHUR DI MEDAN PERTEMPURAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Dokter / Ilmu Kanuragan / Penyelamat
Popularitas:713
Nilai: 5
Nama Author: E'Ngador Together

Di tangan yang terbiasa memegang senjata, juga tersimpan keahlian untuk menyembuhkan.

Setelah menerima dua warisan tak ternilai dari leluhurnya – ilmu beladiri yang mengakar dalam darah dan keterampilan pengobatan dengan bahan alami yang hanya dia yang tahu rahasianya – Evan berpikir kehidupannya akan berjalan sesuai dengan rencana: melanjutkan kuliah dan melestarikan warisan leluhur. Namun, setelah lulus SMA, keputusannya untuk mendaftar sebagai tentara mengubah segalanya.

Diterima dengan prestasi tinggi, dia pertama kali ditempatkan di wilayah konflik dalam negeri, sebelum akhirnya dikirim sebagai bagian dari pasukan perdamaian ke negara asing yang sedang dilanda perang. Tugasnya jelas: menjaga perdamaian dan melindungi warga sipil. Tetapi ketika pihak negara lain menolak kehadiran pasukan perdamaian dan serangan tiba-tiba menerjang, Evan terpaksa mengangkat senjata bukan untuk berperang, tetapi untuk bertahan hidup dan melindungi rekannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon E'Ngador Together, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MASUK SMA

Sinar matahari pagi menerpa melalui jendela bis yang penuh dengan anak-anak muda yang sedang dalam perjalanan ke kota. Evan duduk di pojok paling belakang, menyaksikan pemandangan kampung dan sawah yang semakin jauh tergerus oleh pemukiman padat dan gedung-gedung bertingkat yang menjadi ciri khas kota Cirebon. Tangan kanannya secara naluriah menyentuh kalung batu giok di lehernya – kalung yang kini selalu ia sembunyikan di bawah kerah baju sekolah baru yang dikenakannya.

Setelah lulus sekolah menengah pertama dengan nilai yang sangat baik, orang tuanya memutuskan untuk menyekolahkan Evan di salah satu SMA terbaik di kota. Mereka berharap bahwa pendidikan yang lebih baik di kota akan membuka peluang yang lebih luas bagi masa depannya – mungkin menjadi dokter atau insinyur yang bisa membantu meningkatkan kehidupan masyarakat kampung mereka. Evan tidak bisa menyangkal keinginan orang tuanya, meskipun hatinya terasa berat harus meninggalkan kampung halamannya, Kakek Darmo, dan semua yang telah dia pelajari selama ini.

"Sampai jumpa lagi, Kakek," ujar Evan dengan suara yang penuh kesedihan beberapa hari yang lalu, ketika ia berpisah dengan leluhurnya di bawah pohon beringin yang besar. "Saya akan selalu ingat apa yang telah Anda ajarkan padaku."

Kakek Darmo menepuk bahu cucunya dengan lembut, matanya penuh dengan cinta dan harapan. "Ingatlah selalu, Evan – kamu tidak perlu menunjukkan kemampuanmu kepada orang lain untuk membuktikan nilai dirimu. Kadang-kadang menyembunyikan kekuatan kita adalah cara terbaik untuk melindunginya dan memastikan bahwa ia digunakan dengan benar. Teruslah belajar dan jadilah orang yang baik – itu adalah hal terbesar yang bisa kamu berikan kepada saya dan kepada kampung kita."

Sekarang, di dalam bis yang ramai, Evan melihat ke arah sekelilingnya – anak-anak seusianya yang mengenakan baju sekolah yang sama, sebagian besar sedang bercanda dan tertawa riang, sementara yang lain sibuk dengan ponsel atau buku pelajaran mereka. Ia merasa seperti orang asing di tengah keramaian ini – terbiasa dengan keheningan dan kedamaian kampung, kehidupan kota yang ramai dan cepat membuatnya merasa sedikit tertekan.

Ketika bis sampai di depan gerbang sekolah yang besar dan megah, Evan turun bersama dengan ratusan siswa lain yang sedang memasuki gerbang sekolah. Pagar tinggi yang mengelilingi sekolah, gedung kelas yang bertingkat tiga, dan lapangan olahraga yang luas semuanya terasa sangat berbeda dengan sekolah dasar dan menengah pertamanya yang kecil dan sederhana di kampung.

Setelah melalui proses pendaftaran dan pembagian kelas, Evan memasuki kelas X IPA 2 yang penuh dengan siswa baru yang sebagian besar sudah saling mengenal karena berasal dari sekolah dasar atau menengah pertama yang sama di kota. Ia memilih tempat duduk di pojok belakang kelas, jauh dari keramaian siswa yang sedang saling memperkenalkan diri satu sama lain.

"Namamu apa ya?" tanya seorang gadis dengan rambut panjang berwarna hitam pekat yang tiba-tiba duduk di sebelahnya. Wajahnya ceria dengan senyum yang ramah, mengenakan gelang kayu yang berisi manik-manik warna-warni di pergelangannya. "Saya Rina. Baru pindahan juga ya?"

Evan terkejut dengan kedekatannya namun segera tersenyum kembali. "Saya Evan. Ya, dari kampung dekat sini saja."

Rina mengangguk dengan antusias. "Wah bagus nih – akhirnya ada teman baru yang tidak berasal dari sekolah terkenal di kota. Kebanyakan teman di kelas ini sudah saling kenal dari dulu lho, jadi kamu jangan sungkan ya kalau perlu bantuan apa saja. Saya juga sering merasa kesepian duluan, tapi lama kelamaan jadi akur aja."

Evan merasa lega memiliki teman yang ramah seperti Rina di lingkungan baru yang belum ia kenal. Namun ketika beberapa siswa lain mendekati mereka dan mulai bertanya tentang dari mana dia berasal dan apa yang dia sukai, Evan merasa diri harus berhati-hati dalam menjawab pertanyaan mereka.

"Suka olahraga apa kamu, Evan?" tanya seorang siswa laki-laki tinggi dengan rambut yang diatur rapi, mengenakan gelang olahraga di kedua tangannya. "Kita lagi mencari anggota baru untuk klub beladiri sekolah lho – ada karate, taekwondo, sampai silat. Kamu mau gabung tidak?"

Evan merasa hati nya berdebar kencang. Keinginan untuk belajar tentang gaya beladiri lain dan berbagi pengalamannya sangat besar dalam dirinya, namun ingatan akan kata-kata Kakek Darmo tetap terngiang di benaknya – "Kadang-kadang menyembunyikan kekuatan kita adalah cara terbaik untuk melindunginya..."

"Aku... tidak terlalu bisa olahraga beladiri," jawab Evan dengan sedikit tergesa-gesa. "Saya lebih suka membaca atau membantu orang tua di kebun saja."

Siswa laki-laki itu mengangguk dengan sedikit kecewa namun tetap ramah. "Ya sudah deh – kalau kamu berubah pikiran, bisa datang ke ruang klub beladiri ya. Kita latihan setiap hari setelah sekolah."

Setelah mereka pergi, Rina melihat ke arah Evan dengan tatapan yang sedikit curiga namun penuh pemahaman. "Kamu tidak jujur kan?" tanya dia dengan suara pelan agar tidak terdengar oleh orang lain. "Saya melihatnya dari mata kamu ketika mereka berbicara tentang beladiri – seolah kamu tahu banyak tentang hal itu."

Evan merasa sedikit terpana dengan pengamatan yang tajam dari Rina. Ia menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab. "Aku memang belajar sedikit tentang seni beladiri tradisional dari leluhurku di kampung," ujarnya dengan jujur. "Tapi dia mengatakan bahwa ilmu itu tidak boleh diperlihatkan sembarangan – harus digunakan dengan hati-hati dan hanya ketika benar-benar diperlukan."

Rina mengangguk dengan pemahaman yang mendalam. "Oke deh, aku tidak akan memaksa kamu untuk memberitahu aku lebih banyak lagi. Setiap orang punya rahasia mereka sendiri kan? Cukup kalau kamu tahu bahwa kamu bisa mempercayai aku jika ada sesuatu yang kamu butuhkan."

Selama beberapa minggu berikutnya, Evan mulai beradaptasi dengan kehidupan sekolah di kota. Ia belajar dengan giat, selalu mendapatkan nilai tinggi di hampir semua mata pelajaran. Ia menjaga jarak dari keramaian siswa yang suka menunjukkan kekuatan atau bersaing untuk mendapatkan perhatian, namun tetap menjaga hubungan baik dengan Rina dan beberapa siswa lain yang memiliki niat baik.

Suatu hari setelah sekolah, ketika Evan sedang berjalan menuju terminal bis untuk pulang ke kampung, ia melihat sekelompok siswa kelas atas sedang mengganggu seorang siswa baru yang lebih kecil dan kurus. Mereka mencabik-cabik buku pelajarannya, mencoba merampok uang sakunya, dan mengejeknya dengan kata-kata yang menyakitkan.

Evan merasa darahnya mendidih melihat kejadian itu. Keinginan untuk melompat dan menghentikan mereka sangat besar dalam dirinya – tangannya secara naluriah mulai membentuk sikap pertahanan yang dia pelajari dari Kakek Darmo. Namun sebelum dia bisa bergerak, Rina yang tiba-tiba muncul di sisinya menarik lengan nya dengan kuat.

"Jangan lakukan apa-apa, Evan," bisik dia dengan suara yang penuh kekhawatiran. "Jika kamu terlibat dalam perkelahian, kamu bisa terkena sanksi berat dari sekolah bahkan bisa dikeluarkan. Kita harus mencari bantuan dari guru atau petugas keamanan sekolah."

Evan mengerti bahwa Rina benar. Namun ketika dia melihat bahwa salah satu pelaku mulai memberikan pukulan pada siswa yang sedang dianiaya, dia tidak bisa lagi tinggal diam. Dengan cepat namun tetap tenang, dia menghampiri kelompok itu dengan langkah yang terkontrol.

"Sudahlah, jangan dilanjutkan lagi," ujar Evan dengan suara yang tenang namun tegas. "Kalau kalian terus melakukan ini, saya akan memberitahu guru dan kepala sekolah. Mereka pasti tidak akan senang mengetahui bahwa ada siswa yang suka mengganggu teman sekelasnya."

Salah satu pelaku yang tinggi dan berotot berbalik menghadap Evan dengan wajah yang marah. "Siapa kamu untuk menyuruh saya? Kamu baru datang sini dan sudah sok tahu ya? Mau saya ajari cara bersikap pada orang lebih tua?"

Pelaku itu menyerang Evan dengan pukulan lurus yang cepat ke arah wajahnya. Namun dengan gerakan yang cepat dan tepat yang tidak terlihat oleh mata kebanyakan orang, Evan menghindari pukulan itu dengan mudah dan menyangkut tangan pelaku tersebut dengan cara yang membuatnya merasa sakit namun tidak terluka.

"Seperti yang saya katakan," ujar Evan dengan suara yang tetap tenang, "jangan lakukan hal yang tidak benar. Kita semua di sini untuk belajar dan menjadi orang yang lebih baik – bukan untuk menyakiti orang lain."

Pada saat yang sama, seorang guru yang sedang melewati area itu melihat kejadian dan segera menghampiri mereka. Pelaku-pelaku itu segera melepaskan diri dan berlari pergi, sementara guru tersebut mengejar mereka dan memanggil petugas keamanan sekolah.

"Sudah baik-baik saja kan kamu?" tanya guru tersebut dengan penuh perhatian kepada siswa yang dianiaya, kemudian melihat ke arah Evan. "Terima kasih sudah membantu temanmu, Evan. Tapi ingat ya, jika ada kejadian seperti ini lagi, segera cari bantuan dari guru atau petugas keamanan ya? Jangan coba-coba menangani sendiri karena bisa menjadi lebih berbahaya."

Evan mengangguk dengan patuh, meskipun dia tahu bahwa dia tidak punya pilihan lain selain bertindak saat itu. Ketika dia berjalan bersama Rina menuju terminal bis, dia merasakan bahwa hatinya terasa sedikit terbebani.

"Kamu sangat hebat, Evan," ujar Rina dengan suara yang penuh kagum setelah mereka pergi jauh dari sekolah. "Saya melihat bagaimana kamu menghindari pukulan itu dan menyangkut tangannya – itu bukanlah gerakan orang yang tidak bisa beladiri. Kamu benar-benar ahli dalam hal itu."

Evan menghela napas dalam-dalam, merasa bahwa sudah saatnya untuk memberitahu Rina sebagian dari kebenaran tentang dirinya. Mereka duduk di bangku taman dekat terminal bis, dan Evan mulai menceritakan tentang Kakek Darmo, tentang ilmu beladiri dan pengobatan yang dia pelajari sejak kecil, dan tentang janjinya untuk menyembunyikan kemampuannya agar tidak disalahgunakan.

Rina mendengarkan dengan penuh perhatian, matanya penuh dengan pemahaman dan kagum. "Sekarang saya mengerti mengapa kamu selalu sangat hati-hati dalam bertindak," ujar dia setelah Evan selesai bercerita. "Itu adalah warisan yang sangat luar biasa, Evan. Kamu harus menjaganya dengan baik seperti yang diperintahkan oleh leluhurmu."

Mereka terdiam sejenak sebelum Rina melanjutkan berbicara. "Namun kamu juga harus ingat bahwa terkadang kita tidak bisa selalu menyembunyikan kemampuan kita. Ada saatnya kita harus menggunakan apa yang kita miliki untuk membantu orang lain yang sedang dalam kesusahan – seperti yang kamu lakukan tadi. Yang penting adalah kita menggunakan kekuatan kita dengan hati yang benar dan tidak menyalahgunakannya."

Evan mengangguk dengan penuh pemahaman. Dia merasa lega bisa berbagi rahasianya dengan seseorang yang bisa dipercaya seperti Rina. Ia menyadari bahwa meskipun dia harus hidup dan belajar di kota yang sangat berbeda dengan kampung halamannya, nilai-nilai yang dia pelajari dari Kakek Darmo tetap relevan dan penting untuk dijunjung tinggi.

Ketika bis untuk kampung tiba, Evan berpisah dengan Rina dengan janji akan bertemu lagi di sekolah keesokan harinya. Dalam perjalanan pulang, ia melihat ke arah pemandangan yang semakin akrab – sawah yang luas, pepohonan yang hijau, dan bentuk puncak pohon beringin yang sudah bisa dilihat dari kejauhan. Ia merasa bahwa hatinya semakin tenang dan yakin dengan jalan yang dia tempuh.

Ketika sampai di kampung dan melihat sosok Kakek Darmo yang sedang duduk di bawah pohon beringin, Evan berlari ke arahnya dengan cepat. Ia menceritakan tentang pengalamannya di sekolah, tentang teman barunya Rina, dan tentang kejadian di mana dia harus menggunakan kemampuannya untuk membantu teman sekelasnya.

Kakek Darmo mendengarkan dengan penuh perhatian, kemudian tersenyum dengan bangga. "Kamu telah membuat keputusan yang benar, cucu," ujarnya dengan suara yang penuh kebijaksanaan. "Saya mengatakan bahwa kamu harus menyembunyikan kemampuanmu agar tidak disalahgunakan – bukan untuk tidak menggunakan nya sama sekali ketika ada orang yang membutuhkan bantuan. Keadilan dan kebaikan hati harus selalu menjadi prioritas kita, bahkan ketika itu berarti kita harus menunjukkan apa yang kita miliki."

Ia menepuk bahu Evan dengan lembut. "Kamu telah menunjukkan bahwa kamu tidak hanya menguasai ilmu yang saya ajarkan padamu secara teknis, namun juga memahami filosofinya dengan benar. Itulah yang membuat seorang penerus warisan benar-benar layak – bukan hanya karena kemampuannya melainkan karena kebijaksanaan dan kebaikan hatinya."

Di bawah naungan pohon beringin yang sudah mulai terkena sinar matahari sore, Evan merasa bahwa dirinya semakin siap untuk menghadapi tantangan yang ada di depannya – baik di sekolah di kota maupun dalam perjalanan hidupnya sebagai penerus warisan leluhurnya. Ia tahu bahwa ia harus terus berhati-hati dan menjaga rahasia yang dipercayakan kepadanya, namun juga siap untuk menggunakan apa yang dia miliki untuk membantu orang lain dan menjaga keadilan di sekitarnya. Dan dengan dukungan dari Kakek Darmo dan teman barunya Rina, ia merasa bahwa dirinya memiliki kekuatan dan keberanian untuk menghadapi apa pun yang akan datang di masa depan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!