Maira yang terbiasa hidup di dunia malam dan bekerja sebagai perempuan malam, harus menerima tawaran menjadi madu oleh seorang pemuda bernama Hazel Dinata, pengusaha ternama di kota tersebut.
Awalnya Maira menolak, karena baginya menjadi perempuan yang kedua dalam sebuah hubungan akan hanya saling menyakiti sesama hati perempuan. Tetapi karena alasan mendesak, Maira akhirnya menerima tawaran tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika Despita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Kamu persiapkan pakaian yang harus kamu bawa besok,” suruh Nadia sambil menatap tajam Maira. Wanita itu duduk dengan kaki bersilang, ekspresinya penuh tekanan seolah tidak memberi ruang untuk bantahan.
“Besok? Emangnya saya mau ke mana?” Maira menatap Nadia dengan wajah bingung.
“Besok Hazel ada kerjaan ke Bali. Jadi kamu ikut dengan dia,” ucap Nadia tegas.
“Gunakan kesempatan itu supaya dia cepat menyentuh kamu. Aku sudah atur hotelnya. Aku juga cuma pesan satu kamar, jadi bisa dipastikan kalian tidur satu kamar.”
Jantung Maira berdetak cepat. Ini sudah kesekian kalinya Nadia menyuruhnya seperti ini.
“Bagaimana kalau Pak Hazel tetap enggak mau?”
“Itu tugas kamu, Maira. Kamu harus usaha,” potong Nadia tanpa ragu.
“Makanya aku minta kamu jadi madu Hazel.”
Maira terdiam beberapa detik. Perasaannya campur aduk, antara takut dan terpaksa.
“Baiklah. Saya akan usahakan,” jawabnya akhirnya, patuh seperti biasa.
Setelah itu Maira langsung meninggalkan kafe. Sejak awal memang Nadia yang mengajaknya bertemu di tempat itu. Tujuannya selalu sama, menagih hasil dari usaha Maira dalam mendekati Hazel.
“Lama-lama bisa gila aku berurusan sama wanita ini,” gumam Maira saat masuk ke dalam taksi. Tangannya menenteng paper bag dari Nadia. Ia sudah tahu betul isi di dalamnya, sesuatu yang membuat dirinya semakin menganggap Nadia sudah gila karena terlalu obsesi menyuruh suaminya menyentuh wanita lain.
Sesampainya di apartemen, Maira langsung melihat Hazel sedang merapikan beberapa pakaian ke dalam koper. Pria itu tampak fokus, wajahnya serius seperti biasa.
“Barang-barang kamu sudah kamu persiapkan?” tanya Hazel tanpa menoleh, suaranya terdengar datar.
“Belum,” jawab Maira pelan sambil menggeleng.
“Kalau begitu sekarang siapkan,” ujar Hazel singkat.
“Iya, Pak. Saya siapkan,” sahut Maira sambil mengambil koper kecilnya. Ia mulai memasukkan pakaian satu per satu, meski gerakannya terlihat canggung dan berantakan.
Maira memang selalu kesulitan saat harus merapikan barang. Hazel yang sejak tadi memperhatikan akhirnya menghela napas pelan.
“Sini saya bantu,” katanya sambil mendekat.
“Hal begini saja kamu ribet.”
Hazel mengambil alih beberapa pakaian dan melipatnya dengan rapi sebelum memasukkannya ke dalam koper. Dalam waktu singkat, isi koper itu tampak jauh lebih teratur.
“Ada lagi yang mau kamu bawa?” tanya Hazel sambil mengulurkan tangannya.
Maira menelan ludah.
“Masih ada, Pak Hazel. Ini yang paling penting dan enggak boleh ketinggalan.”
Ia lalu menyerahkan beberapa set pakaian dalam ke tangan Hazel. Awalnya Hazel tidak langsung menyadari apa yang ia pegang. Namun saat hendak memasukkannya ke dalam koper, matanya menangkap jelas benda di tangannya.
Hazel langsung terlonjak kaget.
“Maira!”
Ia buru-buru meletakkan pakaian itu, wajahnya tampak tegang, lalu pergi begitu saja meninggalkan koper yang terbuka.
Maira menatap punggung Hazel yang menjauh. Bibirnya terangkat membentuk senyum kecil, puas melihat reaksi pria itu meski hatinya sendiri tidak sepenuhnya tenang mengingat perintah Nadia.
***
Hazel dan Maira akhirnya tiba di Bandara Ngurah Rai, Bali. Udara hangat khas pulau itu langsung menyambut mereka. Seorang sopir sudah menunggu dan segera mengantar keduanya menuju hotel yang sebelumnya sudah dibooking oleh Nadia.
“Nanti kamu istirahat di hotel saja,” ucap Hazel sambil terus menatap layar ponselnya. Jari-jarinya sibuk membalas pesan.
“Saya mau langsung ketemu klien.”
“Oke,” jawab Maira santai, meski matanya sempat melirik ke arah Hazel.
“Anda lama ketemu kliennya?” tanya Maira setelah beberapa saat.
“Enggak juga. Sebelum malam saya janji sudah balik ke hotel.”
“Kenapa emangnya?” Maira menoleh.
“Saya… saya takut kalau di kamar hotel sendirian,” kata Maira pelan, sedikit ragu.
Hazel akhirnya menurunkan ponselnya.
“Takut? Bukannya kamu sudah sering check in hotel?”
“Itu kan saya enggak sendirian, tapi bareng pelanggan,” jawab Maira tanpa merasa tersinggung.
Hazel menghela napas pendek.
“Ya sudah, nanti saya usahakan cepat balik.”
Setelah sampai di hotel, Hazel langsung pamit menemui kliennya. Sementara Maira mendorong dua koper masuk ke kamar. Begitu pintu tertutup, langkahnya langsung terhenti. Di dalam kamar hanya ada satu ranjang besar. Dekorasinya pun dibuat manis dan hangat, seperti kamar pengantin baru.
“Niat banget kamu, Nadia,” gumam Maira sambil menghela napas panjang.
Karena lelah, Maira memilih merebahkan diri di atas ranjang. Awalnya hanya ingin memejamkan mata sebentar, tapi siapa sangka ia justru tertidur lelap.
Ia terbangun saat langit sudah gelap. Ketukan pintu kamar terdengar berkali-kali.
Maira bangkit dan membuka pintu.
“Iya?”
“Mbak Maira, ini makanan untuk Anda,” ujar pelayan hotel sambil mendorong troli berisi beberapa hidangan dan minuman.
“Terima kasih,” jawab Maira sopan.
Perutnya yang lapar membuatnya langsung menyantap makanan itu. Ia bahkan menunda mandi. Setelah semuanya habis, barulah Maira masuk ke kamar mandi. Ia yakin Hazel akan segera kembali karena jam sudah hampir menunjukkan pukul delapan malam.
Selesai mandi, Maira duduk di tepi ranjang dan menatap paper bag pemberian Nadia. Jantungnya berdegup tak menentu. Ia bergidik sendiri membayangkan isinya. Namun pada akhirnya ia tetap memakainya. Setelah itu, ia segera menyelimuti tubuhnya rapat-rapat, seolah bersembunyi.
Tak lama kemudian pintu kamar terbuka. Hazel masuk dengan wajah lelah. Ia langsung mengambil handuk dan pakaian ganti. Namun langkahnya terhenti saat melihat Maira yang bersembunyi di balik selimut.
“Kamu kenapa?” tanyanya curiga.
“Enggak apa-apa,” jawab Maira sambil tersenyum gugup.
“Kamu sudah makan makanan yang saya pesan?”
“Sudah, Pak Hazel.”
“Bagus.” Hazel lalu masuk ke kamar mandi dan mengunci pintu.
Maira menatap pintu itu lama.
“Enggak ada cara lain. Sekarang aku harus benar-benar maksa,” gumamnya pelan sambil bangkit dari ranjang.
“Sergap dan langsung tangkap,” bisiknya lagi, berdiri tepat di depan pintu kamar mandi.
Beberapa menit kemudian pintu terbuka. Hazel keluar dengan rambut masih basah. Langkahnya terhenti seketika saat melihat Maira berdiri di hadapannya dengan pakaian yang membuat napasnya tertahan.Maira berdiri dengan lingerienya yang seksi menampakkan kulit putih mulusnya.
“Berapa kali saya bilang, jangan berpakaian seperti ini di depan saya,” ucap Hazel tegas sambil meraih handuk, hendak menutupi tubuh Maira.
Namun Maira menghindar. Ia justru tersenyum menggoda, mendekat sedikit.
“Apa Anda benar-benar enggak tergoda sama saya, Pak Hazel?” bisiknya di dekat telinga Hazel.
Tatapan Hazel mengeras.
“Otak kamu benar-benar sakit.”
“Bukan otak saya yang sakit,” balas Maira kesal sambil mundur.
“Kayaknya diri Anda yang bermasalah.”
Maira menatap Hazel dalam-dalam.
“Sekarang saya paham kenapa Anda enggak pernah tergoda.”
Hazel masih diam.
“Barang Anda layu, ya?” oceh Maira tanpa pikir panjang.
“Apa separah itu hidup Anda sampai enggak punya keinginan sama sekali?”
Maira menggeleng kecil.
“Kasihan Mbak Nadia. Pantes saja dia maksa saya. Rupanya bukan soal anak, tapi soal menghidupkan yang layu.”
Ucapan itu membuat Hazel tersulut. Dalam satu gerakan cepat, ia menarik tangan Maira dan menjatuhkannya ke atas ranjang. Kedua tangan Maira terkunci di atas kepalanya.
“Jadi kamu kira saya ini enggak mampu?” ucap Hazel rendah, wajahnya semakin dekat.
“Saya bisa saja meladeni kamu semalaman,” bisiknya di telinga Maira.
Maira membelalak. Apalagi saat ia merasakan reaksi Hazel yang tak bisa disembunyikan. Jantungnya berdegup kencang apalagi sesuatu mengeras dibalik celana Hazel.
“Gila… kayaknya rencana aku berhasil. Tapi kenapa aku sendiri belum siap,” lirihnya dalam hati.
Dengan cepat Maira mendorong tubuh Hazel.
“Saya kebelet eek!” teriaknya panik sambil melompat turun dari ranjang dan berlari ke kamar mandi. Pintu dikunci rapat dari dalam.
Hazel berdiri mematung beberapa detik, lalu tersenyum kecil. Akhirnya ia bisa membalas kejahilan Maira, meski ia harus mengakui, barusan ia benar-benar hampir kehilangan kendali.