Sejak kuliah, Kanaya sudah mengagumi seorang Narendra Atmaja, namun ia sadar akan statusnya dan mencoba membuang jauh-jauh perasaannya. Hingga suatu hari sahabatnya mendaftarkan Kanaya ke sebuah aplikasi kencan dan ia harus bertemu dengan pria yang menjadi teman kencannya, akhirnya Kanaya menemui pria tersebut dan betapa terkejutnya ia ketika mengetahui jika pria yang menjadi teman kencannya adalah pria yang ia kagumi sejak kuliah.
Bagaimana kelanjutannya? Apa yang akan terjadi pada Kanaya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Narendra
Disisi lain, Narendra sampai di apartemennya yang terletak di lantai teratas salah satu gedung pencakar langit yang baru berdiri di pusat Kota B dan terkenal sebagai kawasan elit. Unit itu sangat luas, didominasi warna monokrom dengan jendela kaca besar yang langsung menghadap ke gemerlap lampu kota. Namun, bagi Narendra, ruangan itu masih terasa asing dan terlalu sunyi.
Narendra melempar kunci mobilnya ke atas meja marmer lalu menghempaskan tubuhnya ke sofa kulit. Narendra membiarkan kancing teratas kemejanya terbuka sementara pikirannya terbang kembali ke gang sempit tempat ia menurunkan Kanaya tadi.
Kepulangannya setahun lalu sebenarnya adalah keputusan yang mengejutkan bagi rekan-rekannya di liar negeri. Sebagai Dokter terbaik yang belajar tentang spesialisasi bedah umum di negara C, Narendra memiliki karier yang sangat cemerlang di luar negeri.
Namun, dorongan dari Ayahnya untuk mengelola Atmaja Medical Center, rumah sakit elit milik keluarga yang baru saja berekspansi ke Kota B, membuatnya tak bisa menolak.
Satu tahun lalu, Narendra bekerja di ibu kota sembari menunggu, ia belajar bagaimana mengelola rumah sakit. Setelah dirasa mampu, barulah Narendra akan pindah ke kota B.
Saat tengah fokus belajar, tiba-tiba Dika sahabatnya iseng mendaftarkan Narendra pada sebuah aplikasi kencan, Narendra tentu saja marah hingga suatu hari saat ia akan menghapus aplikasi tersebut, ia melihat nama yang sangat ia kenali yaitu Kanaya Wulandari dengan foto profil wajah perempuan itu yang mampu membuat Narendra tersenyum dan tidak menghapus aplikasi tersebut.
Entah apa yang membuat Narendra memberanikan diri untuk mengirim pesan di aplikasi tersebut pada Kanaya, bahkan mengajak Kanaya bertemu. Narendra pun memutuskan untuk pergi ke kota B kemarin, padahal seharusnya Narendra baru pergi besok.
Selama lima tahun ini, Narendra sering teringat tentang Kanaya. Namun, Narendra tidak pernah menanggapinya dan lebih memilih fokus pada pekerjaannya.
Narendra bangkit dari sofa dan berjalan menuju meja kerja yang terletak di sudut ruangan, di sana tumpukan jurnal medis dan literatur berserakan di samping laptopnya. Meskipun ia sudah memegang gelar Dokter umum dengan pengalaman klinis yang mumpuni, Narendra tidak pernah berhenti. Saat ini, Narendra tengah menjalani tahap akhir pendidikan lanjutannya untuk menjadi seorang spesialis bedah umum.
Keputusannya untuk mengambil spesialisasi ini bukan tanpa alasan, bidang bedah umum menuntut ketelitian mutlak, konsentrasi tinggi dan kontrol emosi yang stabil, tiga hal yang memang sudah menjadi bagian dari karakter Narendra yang dingin dan perfeksionis.
Narendra membuka salah satu jurnal, namun fokusnya terpecah, matanya justru tertuju pada sebuah bingkai foto kecil yang ia simpan di dalam laci meja yang kini ia biarkan terbuka sedikit. Itu bukan foto keluarganya, melainkan foto dirinya saat wisuda lima tahun lalu. Di sana, di belakang Narendra, tampak seorang gadis dengan toga dan riasan sederhana yang tersenyum tipis ke arah samping dan tidak menyadari jika ia ada di foto Narendra.
"Ternyata keputusanku untuk kembali benar, aku tidak tahu kalau kamu juga ada di kota B. Haruskah aku memberi hadiah untuk Dika dan Arin," gumam Narendra.
Narendra menyandarkan punggungnya ke kursi kerjanya, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja marmer dengan ritme yang teratur. Senyum tipis kembali tersungging di wajahnya, jika bukan karena keisengan Dika mendaftarkannya di aplikasi itu dan jika bukan karena campur tangan Arin yang juga iseng mendaftarkan Kanaya, mungkin ia masih akan terjebak dalam tumpukan jurnal medis tanpa tahu bahwa wanita yang mengganggu pikirannya saat ini ada di kota B.
Narendra teringat betapa frustrasinya ia dulu, di mana setelah hari wisuda , Kanaya seolah menguap ditelan bumi. Narendra sudah mencoba mencari melalui database alumni hingga menanyakan pada beberapa dosen yang dekat dengan Kanaya, namun hasilnya nihil.
Kanaya sengaja memutus semua akses, seolah ingin benar-benar menghilang dari kehidupannya dan akhirnya Narendra pun mulai melupakan Kanaya, sampai Narendra tahu Kanaya melalui aplikasi kencan itu, barulah Narendra mulai mencari tahu kembali tentang Kanaya.
Narendra meraih ponselnya dan membuka galeri foto yang terenkripsi, di sana terdapat beberapa foto candid Kanaya yang ia ambil secara diam-diam saat masa kuliah dulu, saat Kanaya sedang tertidur di perpustakaan dengan buku menutupi wajahnya atau saat Kanaya sedang berdebat panas di forum mahasiswa. Narendra yang saat itu dikenal sebagai pangeran as kedokteran, tidak pernah punya keberanian untuk mengakui bahwa ia terpesona oleh keberanian dan idealisme gadis itu.
Pikirannya kemudian beralih ke masa depannya di Kota B, sebagai calon spesialis bedah umum, ia tahu jadwalnya akan sangat padat. Operasi yang memakan waktu belasan jam, visite pasien hingga tanggung jawab manajerial sebagai direktur utama di Atmaja Medical Center sudah menunggunya lusa. Namun, pertemuan dengan Kanaya tadi sore mengubah skala prioritasnya.
Narendra membuka laptopnya, bukan untuk membaca jurnal, melainkan untuk mempelajari daerah pinggiran tempat kos Kanaya berada. Narendra mengamati peta digital, mencatat rute tercepat dari apartemennya menuju gang sempit itu.
"Apa selama lima tahun ini hidupnya susah? Kenapa dia tinggal di kos kecil itu bahkan tempatnya cukup kumuh? Apa aku belikan dia rumah atau aku sewakan dia apartemen ya?" tanya Narendra pada dirinya sendiri.
Narendra menggelengkan kepalanya perlahan, berusaha mengusir pikiran impulsif untuk membelikan Kanaya properti malam itu juga. Narendra tahu persis bagaimana watak Kanaya, gadis itu memiliki harga diri setinggi langit dan memberinya rumah atau apartemen secara tiba-tiba justru akan membuatnya lari lebih jauh, menganggap Narendra sedang merendahkan kemandirian yang telah ia bangun selama lima tahun ini.
"Sabar, Narendra. Jangan sampai dia merasa terancam," gumam Narendra.
Narendra memaksakan matanya kembali ke layar laptop, mencoba fokus pada jurnal yang akan menjadi materi ujiannya minggu depan. Sebagai calon spesialis bedah umum, ia dituntut untuk memiliki presisi tanpa celah. Satu milimeter kesalahan dalam pembedahan bisa berarti kelumpuhan permanen bagi pasien. Namun, malam ini, konsentrasinya benar-benar berantakan.
Setiap kali ia membaca istilah anatomis, yang terbayang justru ekspresi Kanaya saat meminta maaf di kafe tadi. Wajah yang dipoles riasan tebal, yang sebenarnya tidak perlu karena kecantikan alaminya sudah cukup tampak begitu menggemaskan saat ia sedang gugup.
"Kenapa kamu harus memilih pendidikan anak usia dini, Kanaya? Dari sekian banyak profesi, kamu memilih menjadi guru di pinggiran kota," gumam Narendra sambil membolak-balik halaman jurnal tanpa benar-benar membacanya.
Narendra akhirnya menyerah. ia menutup jurnal tebal itu, egonya sebagai pria sukses dari keluarga Atmaja ingin segera menarik Kanaya keluar dari kehidupan susah itu. Namun, sisi logisnya sebagai calon dokter spesialis memperingatkan bahwa ia harus masuk ke kehidupan Kanaya secara perlahan, seperti prosedur bedah yang sangat hati-hati agar tidak merusak jaringan di sekitarnya.
Narendra beranjak menuju dapur bersih, mengambil segelas air putih dingin untuk mendinginkan kepalanya. Sambil menyesap air, ia menatap jadwal operasinya untuk minggu depan yang sudah dikirimkan oleh sekretaris rumah sakit. Jadwalnya padat, namun ia sudah menandai hari Sabtu dengan tinta merah di pikirannya.
.
.
.
Bersambung.....