NovelToon NovelToon
Vallheart

Vallheart

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Cinta Seiring Waktu / Identitas Tersembunyi / Epik Petualangan / Romansa / Balas dendam dan Kelahiran Kembali
Popularitas:521
Nilai: 5
Nama Author: Apin Zen

Di dunia sihir yang dipenuhi kutukan dan warisan kekuatan kuno, nama Raksha Lozarthat dikenal sebagai salah satu penyihir terhebat hingga ia dijatuhkan oleh kutukan terlarang milik seorang penyihir kuno. Kutukan itu tidak membunuhnya, namun jauh lebih kejam: jiwa Raksha dipaksa keluar dari tubuh aslinya dan terperangkap dalam tubuh seorang gadis lemah bernama Roselein Tescarossa.
Tubuh asli Raksha kini telah menjadi mayat, terbaring membusuk oleh waktu, sementara jiwanya terikat pada wadah yang tidak mampu menampung kekuatan sihir besarnya. Setiap kali ia mencoba menggunakan sihir tingkat tinggi, tubuh Roselein berada di ambang kehancuran. Ia bukan lagi penyihir agung, seorang gadis rapuh yang setiap langkahnya dibayangi rasa sakit dan keterbatasan.
Satu-satunya cara untuk mengakhiri kutukan ini adalah mengalahkan penyihir kuno yang telah menghancurkan hidupnya.
Akankah ambisi dendamnya berhasil atau justru terlena didalam tubuh baru, tempat dimana Raksha berada didunia barunya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Apin Zen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Buku yang Dipilih Takdir

Suara tawar-menawar, denting logam dari bengkel penempa, dan cahaya mana dari lentera kristal bercampur menjadi hiruk-pikuk yang hidup. Lein berjalan perlahan di antara keramaian itu, matanya menyapu setiap sudut... mencari sesuatu yang bahkan ia sendiri belum tahu.

Lalu ia berhenti.

Di sudut jalan kecil, seorang pedagang keliling membentangkan kain lusuh dengan berbagai barang tua di atasnya. Botol retak, jimat pecah, gulungan peta dan satu buku.

Buku itu tampak biasa. Sampulnya cokelat gelap, sudutnya aus, tanpa judul.

Namun dada Lein berdenyut pelan.

Raksha mengenali getaran itu.

Buku ini… tidak kosong.

Lein berlutut, menyentuh sampulnya dengan hati-hati. Tidak ada segel kuat, tidak ada aura mencolok, hanya rasa tua dan sabar.

“Boleh kulihat, paman?” tanyanya pelan.

Pedagang itu tersenyum, keriput di wajahnya dalam. “Tentu, Nona. Buku lama. Tidak banyak yang tertarik.”

Lein membuka halaman pertama.

Tulisan tangan kuno; tidak sepenuhnya asing, namun cukup kabur untuk terasa mengganggu. Catatan tentang wadah jiwa, tentang resonansi alam, tentang sihir yang tidak dipaksa.

Jantung Lein berdetak lebih cepat.

Ini bukan jawaban… tapi petunjuk.

Ia menutup buku perlahan.

Berapa harganya?

Pertanyaan itu terhenti di bibirnya.

Lein teringat kenyataan pahit, ia tidak memiliki uang. Tidak memiliki keluarga untuk diandalkan. Bahkan nama belakangnya hanyalah pinjaman dari tubuh ini.

Ia berdiri, tersenyum kecil pada pedagang itu. “Terima kasih, paman.”

Langkahnya baru satu ketika suara lain menyusul.

“Aku yang membayarnya”

Lein menoleh.

Reyd berdiri di sampingnya, koin emas kecil sudah di tangannya. Tatapannya tenang, seolah itu keputusan paling wajar di dunia.

“Reyd, aku... ”

“Tidak apa-apa,” katanya pelan. “Kamu menginginkannya, kan... ”

Pedagang itu menerima koin dengan senyum puas, menyerahkan buku tersebut tanpa banyak kata.

Lein memegang buku itu: hangat, seolah sudah lama menunggunya.

“Terima kasih, Reyd” katanya lirih. “Aku akan menggantinya suatu hari.”

Reyd tersenyum tipis. “Tidak perlu, uang itu tidak berarti bagiku.”

Mereka berjalan menjauh dari pasar, buku itu kini berada di pelukan Lein seperti sesuatu yang rapuh sekaligus berharga.

Mereka terus berjalan, bahkan terpisah dari rombongan Gram.

Disana.

Bengkel penempa senjata di Magicia berdiri megah di ujung distrik barat.

Api tungku menyala tanpa henti, dipelihara oleh kristal mana yang berdenyut merah-oranye. Suara palu menghantam besi menggema berat, ritmis, seperti detak jantung kota.

Grack hampir berlari masuk.

“Ini dia tempatnya!” serunya, matanya berbinar. “Bau besi panas itu... jujur, aku rindu.”

Reyd menyusul dengan langkah lebih tenang, sementara Lein berhenti sejenak di ambang pintu, mengamati. Aura tempat itu terasa berbeda dari pasar; keras, tegas, penuh niat.

Seorang penempa tua bertubuh besar menoleh dari balik tungku. “Murid Academy?”

“Benar,” jawab Reyd sopan. “Kami ingin memilih senjata.”

Penempa itu menyeringai. “Bukan senjata yang kalian pilih. Besi yang akan menentukannya.”

Grack tertawa. “Perlihatkan semua senjatanya, pak tua.”

Mereka dibawa ke rak senjata yang tertata rapi. Pedang, tombak, kapak, dan sarung tinju logam berukir rune sederhana.

Grack langsung tertarik pada sarung tinju besi berlapis kristal api. Ia mencobanya, api kecil menyala stabil, tidak liar.

“Ini pas,” katanya puas. “Tidak memperkuat apiku, tapi menahannya. Cocok buatku.”

Penempa itu mengangguk. “Besi yang tahu batas.”

Reyd berdiri lebih lama di depan rak pedang. Tangannya menyentuh satu per satu, hingga berhenti pada pedang bermata tipis dengan alur angin terukir halus.

Saat ia menggenggamnya, udara di sekitar bergetar tenang.

“Pedang angin,” ujar penempa. “Tidak tajam karena sihir, tapi tajam karena niat.”

Reyd mengayunkannya perlahan. Gerakannya ringan, presisi.

“Aku ambil ini saja,” katanya.

Lein memperhatikan dari samping. Ia tidak mencari senjata, tangannya lebih sering menggenggam buku tua yang baru ia dapatkan.

Penempa itu melirik gadis itu. “Dan kau, Nona?”

Lein tersenyum kecil. “Aku tidak bertarung dengan senjata.”

Penempa itu tertawa pelan. “Yang paling berbahaya memang jarang membawa senjata.”

Lein menunduk kepala, tidak membantahnya.

Senjata sejati… tidak selalu terlihat.

Setelah urusan selesai, Grack tampak lebih percaya diri, Reyd lebih fokus dari biasanya. Mereka keluar dari bengkel dengan langkah mantap.

“Setelah ini, kita kembali ke Academy,” kata Reyd.

Lein mengangguk, memeluk buku tuanya lebih erat didadanya.

"Aku setuju. Aku sedikit lelah... berkeliaran kesana-kemari."

Reyd tertawa pelan, lalu menggenggam tangan Lein dan berucap.

"Kamu lelah? Mau aku gendong, kasihan kamu kalau kelelahan."

Lein menunduk kepala... pipinya memerah malu.

"Terima kasih. Tapi aku tidak mau."

Reyd menggaruk kepalanya.

"Kalau gitu, aku akan mengawasimu terus... selama kamu tidak menolaknya."

1
Namida Leda
wow
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!