"Jangan menghindar, Alana..."
dr. Raden Ganendra Adicandra adalah dokter bedah jenius yang dingin dan terhormat. Namun di balik pintu yang terkunci, ia adalah pria posesif yang menuntut kepatuhan mutlak.
Alana terjebak di antara rasa takut dan pesona berbahaya sang dokter. Bagi pewaris Adicandra itu, Alana adalah milik pribadi yang tak akan pernah ia lepaskan.
"Satu langkah lagi kau menjauh, Sayang... maka kau tak akan pernah keluar dari sini."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhya_cha7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Pengkhianatan di Balik Debu
Setelah ledakan itu terjadi, dunia seolah berhenti selama beberapa detik. Suaranya yang membakkan telinga tidak hanya menghancurkan beton dan besi di mansion mewah Raden, tapi juga menghancurkan ketenangan yang mereka miliki.
Suasana hening yang mencekam mendadak berubah seperti neraka. Ruangan dipenuhi asap abu-abu dan aroma belerang yang menyesakkan paru-paru.
Alana merasakan telinganya berdenging hebat. Sebuah suara dengung panjang seolah mengisolasi dirinya dari dunia luar. Pandangannya kabur, hanya ada debu yang berterbangan seperti salju di tengah kegelapan.
Ia mencoba untuk menghirup udara, namun yang masuk hanyalah rasa sesak dan perih.
"Alana, sayang... bernapaslah! Lihat aku, lihat!"
Suara Raden terdengar samar, namun pelukan hangat di tubuhnya terasa sangat nyata. Pria itu telah menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng hidup untuk Alana.
Punggung kokoh Raden yang biasanya terlihat angkuh, kini tertutup jelaga hitam. Ada serpihan kaca yang tertancap di beberapa bagian. Raden memeluknya begitu erat, seolah Alana akan hilang ditelan ledakan jika ia lepaskan.
Dengan tubuh gemetaran, Alana mencoba mendorong sedikit tubuh Raden. "Ra-Raden... Ayah... di mana Ayah?"
Suara Alana terdengar parau. Suaranya hampir hilang di tengah batuk yang menyiksa dada.
Raden segera bangkit meski langkahnya sedikit goyah. Ia mengabaikan rasa perih di punggungnya yang kini mulai merembeskan darah segar.
Matanya yang tajam bak pisau segera menyisir ruangan yang hancur berantakan. Ruangan itu terlihat hancur seperti habis didemo ratusan orang.
Ia lalu menemukan Ayah Alana tergeletak beberapa meter dari sofa. Sebagian tubuhnya tertimbun reruntuhan plafon yang hangus.
"Ayah!" teriak Alana sambil merangkak mendekat.
Sebagai seorang perawat, instingnya langsung bekerja di tengah kepanikan. Ia segera meraba arteri karotis di leher ayahnya.
"Nadinya cepat tapi lemah, Raden! Ayah mengalami syok kardiogenik karena tekanan ledakan ini!" ucap Alana dengan air mata yang mulai menetes deras seperti air hujan.
Raden kemudian menarik tuas tersembunyi di balik dinding yang masih utuh. Terpampang sebuah pintu baja besar bergeser pelan, menampilkan bunker medis darurat yang sangat lengkap.
Raden langsung menggendong Ayah Alana dengan satu sentakan kuat, lalu membaringkannya di atas brankar medis.
Dengan sedikit panik, Alana langsung memasangkan oksigen ke wajah ayahnya. Ia memutar knop tabung dengan cekatan, sementara tangannya masih gemetar hebat.
Setelah memastikan kondisi ayahnya lumayan stabil, Raden melangkah kembali ke meja kendali yang sebagian sudah hancur.
Bip! Bip!
Beberapa layar monitor cadangan menyala kembali. Layar itu menampilkan visual gedung tua yang terisolasi—tempat penyekapan yang sempat mereka lihat tadi.
Di sana terlihat seorang pria misterius melangkah masuk ke dalam sel penyekapan tersebut. Pria itu mengenakan topeng juga jas putih kedokteran yang sangat bersih.
Penampilannya begitu kontras dengan lingkungan gudang yang kotor. Lalu tiba-tiba, pria itu membuka topengnya. Hal itu membuat mereka sangat terkejut.
"A-Aldo?" suara Alana tercekat di tenggorokan saat melihat layar itu.
Itu adalah Dokter Aldo. Sahabat karib Raden saat masa residensi. Pria yang selama ini memegang semua catatan medis rahasia keluarga Raden.
Di dalam layar, Aldo terlihat tersenyum tipis. Ia kemudian mengeluarkan sebuah botol ampul kecil dan menyuntikkannya ke lengan Mama Raden yang asli. Wanita itu sempat kejang-kejang lalu terkulai lemas tak berdaya.
"Bangsat! Bajingan kau, Aldo!" teriak Raden penuh amarah hingga urat lehernya menonjol seperti mau keluar.
Di layar itu, Aldo seolah tahu kalau dia sedang diawasi. Ia bahkan dengan santainya melambaikan tangan ke arah kamera sebelum layar itu kembali bersemut.
"Alana, dengarkan aku! Tetap di dalam bunker ini, jangan ke mana-mana. Kunci pintunya dari dalam!"
"Ingat, kamu jangan keluar sampai aku kembali dengan membawa kepala pengkhianat itu!" perintah Raden sambil menyambar senapan laras panjangnya.
Raden kemudian melangkah pergi menembus kepulan asap dengan aura membunuh yang mengerikan.
Setelah suara langkah sepatu Raden menghilang, suasana menyisakan keheningan yang mencekik di dalam bunker. Dada Alana begitu sesak. Rasa mual mendadak menghampirinya saat pikirannya melayang jauh ke masa sepuluh tahun lalu.
Saat itu, dunianya hancur karena sang ibu menghilang (yang ia kira meninggal) dan ayahnya bangkrut. Alana remaja jatuh dalam depresi berat dan trauma yang membuatnya berhenti berbicara selama berbulan-bulan.
Dan saat itulah Aldo datang. Ia datang bukan sebagai musuh, tapi sebagai seorang dokter yang merawat jiwanya.
Aldo adalah satu-satunya orang yang dengan sabar menemaninya setiap hari, memberikan terapi mental, dan perlahan mengembalikan senyum Alana.
"Kamu gadis yang kuat, Alana. Suatu saat kamu akan jadi dokter hebat sepertiku. Ingat, jangan mudah menyerah."
Kalimat motivasi itu dulu terdengar seperti suara malaikat. Alana sangat menghormati Aldo, bahkan ia menganggapnya seperti saudara dan penyelamat hidupnya sebelum mengenal Raden.
Namun sekarang, melihat Aldo di layar tadi, Alana merasa seperti orang bodoh. Ternyata selama ini Aldo sengaja menanam benih kepercayaan hanya untuk dicabut sampai ke akarnya di saat yang paling menyakitkan.
Bagaimana bisa tangan yang dulu mengusap kepalanya saat ia merasa ketakutan, kini berubah menjadi tangan yang memegang jarum suntik mematikan untuk menyiksa ibu orang lain?
"Apakah persahabatannya dengan Raden juga hanya bagian dari rencana jahat ini?"
Alana mencengkeram ujung kain sprei dengan erat hingga buku jarinya memutih. Rasa sakit dikhianati oleh orang yang dianggap penyelamat ternyata lebih sakit daripada luka fisik akibat ledakan bom.
"Yah... kita harus kuat," bisik Alana sambil mencium tangan ayahnya yang terasa dingin.
"Raden saat ini tengah berjuang menjadi iblis demi kita. Dan aku... aku harus menjadi malaikat yang menjaga sisa-sisa hidup kita."
Alana kemudian berdiri tegak di tengah ruangan bunker yang dingin bagai es. Ia menatap pantulan dirinya di pintu baja yang mengkilap.
Wajahnya penuh coretan jelaga, rambutnya berantakan seperti habis berantem, dan matanya merah karena tangis. Namun, ada kilatan baru di sana. Sebuah kilatan yang sama seperti di mata Raden tadi.
"Kak Aldo... kau salah menilai aku," batin Alana dingin.
Ia meraih benda di sampingnya lalu mencengkeramnya erat untuk melampiaskan emosi. Jika selama ini dunia mengenalnya sebagai Alana yang lemah lembut, maka mulai detik ini, ia akan menunjukkan.
Bahwa seorang perawat tahu persis di mana letak titik paling mematikan pada tubuh manusia, tanpa harus meneteskan banyak darah.
"Raden, sayang... berjanjilah kamu akan kembali dengan selamat," bisiknya pada kegelapan.
"Karena jika kamu gagal, aku sendiri yang akan menyelesaikan semua ini. Mereka yang memulai, dan aku yang akan mengakhiri dengan cara tak terduga."
Di luar sana, hujan mulai turun dengan sangat deras. Seolah ikut menangis menyaksikan persahabatan yang kini berubah menjadi genangan dendam yang berdarah.
******
Catatan Penulis:
Gila banget! Siapa yang nyangka kalau Dokter Aldo ternyata sejahat itu? Padahal dulu dia yang sembuhin trauma Alana. 😱
Menurut kalian, Aldo beneran jahat dari dulu atau cuma dimanfaatin Nadia? Tulis teori kalian di kolom komentar ya! Jangan lupa tinggalkan Like dan Vote supaya Raden selamat sampai tujuan! 🔥