罪から生まれ、 遺産を求める血に追われる。 Tsumi kara umare, isan o motomeru chi ni owareru. (Born from sin. Hunted by blood that demands legacy) Nakamura Noa, gadis miskin yang bekerja serabutan sekaligus merawat ibunya yang sakit parah. Noa dan ibunya yang sedang dalam persembunyian, tidak sadar bahwa klan besar Yamaguchi-gumi telah mengawasi mereka sejak lama. Mereka beranggapan bahwa Noa adalah pewaris roh leluhur Yamaguchi: 'Kuraokami' yang bangkit saat berada diambang batas. Sampai akhirnya Noa dijemput paksa dan dibawa kembali ke dunia kelam para algojo. Ia harus memilih: tunduk pada mereka atau hancurkan warisan yang telah merenggut hidupnya. ⛔️"DILARANG KERAS menyalin atau mengambil ide, alur, plot twist, tokoh, dialog, maupun bagian cerita, baik sebagian maupun seluruhnya, tanpa izin penulis."⛔️ Copyright© 12/07/2025 - SAMSARA. Technical Advisor : Aimarstories Cover : pinterest Dark psychological thriller Dengan gaya sinematic noir - slow burn
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samSara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 21 - Reikai part II
...**...
...跪カヌ影...
...-Kagikanu Kage-...
...'Bayang-Bayang yang Tidak Bersujud'...
...⛩️🏮⛩️...
..."Setiap naga punya kepala. Tapi tidak semua kepala mau tunduk."...
...—Yamaguchi Kaede...
...⛩️🏮⛩️...
Dimulailah ritual pengenalan roh leluhur.
Dalam tradisi Yamaguchi, ini dilakukan hanya pada anak-anak berdarah "murni". Biasanya saat usia 13 tahun, mereka diperkenalkan pada roh leluhur sebagai bentuk pemahaman tentang garis waris.
Tapi Noa tidak ada di sana. Ia menghilang sebelum usia itu.
Sekarang ia kembali, bukan sebagai anak yang ditunggu, tapi sebagai wadah bagi dua kekuatan: naga air—Kuraokami dan naga langit—Tenryuu.
Leluhur tidak akan diam.
Mereka harus tahu siapa yang menjadi wadah roh Kuraokami.
Dan lebih dari itu... mereka harus menyetujui roh yang tinggal di dalam tubuhnya.
...⛩️🏮⛩️...
Noa duduk di dalam lingkaran tinta merah. Di tengah ruangan beralas tatami tua, empat lilin dinyalakan di tiap penjuru. Udara jadi berat, seperti ditutup selimut tak terlihat. Cahaya lilin membentuk bayangan aneh di dinding—bergerak meski tak ada angin.
Pendeta Yagami duduk di belakang Noa. Jemarinya menyentuh titik pusat punggung Noa—tempat kepala naga irezumi itu berada. Hawa panas langsung menjalar.
"Duduklah diam. Jangan takut. Jika mereka bicara, dengarkan. Jika mereka menolak, jangan lawan. Tapi jika mereka memberimu ujian... jangan mundur." Jelas pendeta Yagami.
...⛩️🏮⛩️...
Saat mantra pertama dilafalkan, Noa menutup matanya. Ia merasakan dunianya mulai runtuh pelan-pelan. Suara pendeta Yagami seperti gema yang tenggelam dalam air. Cahaya lilin menjadi merah tua. Udara meliuk seperti asap.
Ketika Noa membuka matanya... tiba-tiba, ia tidak lagi duduk di ruangan.
Ia berada di tempat lain.
Tempat tanpa batas.
Langit gelap.
Tanah merah dengan retakan acak.
Kabut menggulung dari segala arah.
Dan dari balik kabut... mata-mata menyala.
Bukan satu. Tapi banyak.
Puluhan. Mungkin ratusan.
Mereka tidak mendekat, tapi menatapnya seperti binatang yang sedang menilai mangsa.
Lalu satu dan beberapa suara—dalam, tua, dan bersautan.
'Anak yang hilang telah kembali.'
'Tapi tubuhnya bukan miliknya sendiri.'
'Ada dua naga di dalamnya. Satu dikenal. Satu tidak.'
'Irezumi darah... kami tidak mengizinkannya.'
Noa gemetar. Ia ingin bicara, tapi suaranya tidak keluar.
Lalu satu suara lain, perempuan, lebih dingin:
'Tapi darahnya tidak memuntahkan roh itu.'
'Ia tidak ditolak. Hanya... belum diuji.'
Lalu...
Sosok tinggi keluar dari kabut yang mulai terbelah.
Jubah yang panjang. Rambut seputih abu. Mata seperti bara yang padam.
Di tangannya—gulungan emas, yang berdarah dari kedua sisinya.
'Akulah yang dulu menaklukkan roh penjaga langit itu.'
'Akulah yang mengurungnya dalam tinta darah.'
'Dan kalian memanggilnya kembali...'
Ia menatap Noa lurus-lurus.
'...dalam tubuh anak yang belum kami akui.'
Noa menelan ludah. Tubuhnya terbakar dari dalam, tapi ia menatap balik.
'Kalau kalian ingin menolakku, lakukan sekarang. Tapi jika kalian beri aku kesempatan... biarkan aku berdiri meski dengan darah ini.'
...⛩️🏮⛩️...
Detik berikutnya, tanpa diduga Noa. Bumi yang ia pijak bergetar.
Suara naga meraung dari punggungnya.
Bukan dari luar. Tapi dari dalam daging—dari tulang, dari darahnya sendiri.
Roh penjaga langit—Tenryuu, naga merah itu bereaksi.
Cahaya merah meledak dari tubuh Noa—panas, menyilaukan, seperti luka yang terbuka dari dalam. Nafasnya tersentak, tubuhnya melengkung seolah menolak kekuatan itu, namun jiwa di dalamnya... tidak menyerah.
Bersamaan dengan ledakan cahaya itu, dari balik cahaya samar terdengar suara bergemuruh. Bukan dari dunia roh, bukan pula dari para leluhur, tapi dari sesuatu yang terkunci di dalam dirinya sendiri.
Dua kekuatan saling mengenali.
Satu naga dari air dan badai, yang tertidur dalam darah.
Satu lagi naga dari langit merah, yang dikurung untuk menahannya.
Dan kini keduanya... saling menatap dari dalam tubuh yang sama.
Para leluhur tidak bicara. Tapi mereka juga tidak pergi.
Mereka menonton. Mereka menilai.
Dan dari langit yang tak terlihat mata manusia, langit gaib yang hanya terbuka saat batas antara roh dan tubuh hancur—terdengar satu bisikan keputusan dari mata-mata yang penuh penilaian.
'Kami belum merestuimu. Tapi kami akan mengikutimu.'
'Buktikan bahwa tubuhmu tak hanya milik roh naga-naga itu... tapi juga milikmu sendiri.'
...⛩️🏮⛩️...
Kembali ke dunia nyata, tubuh Noa jatuh ke depan—keringat dingin membasahi kulitnya.
Pendeta Yagami menahannya, menyeka dahinya. "Kau kembali," katanya pelan.
Kuroda yang ternyata sedari tadi mengamati dalam diam di sudut ruangan akhirnya bicara, "Segel itu kini... bukan hanya pengikat. Tapi perjanjian."
Pendeta Yagami mengangguk. "Benar para leluhur tidak menolak, tapi kini mereka mengawasi. Apakah Noa-san mampu mengendalikan dua roh naga yang bersemayam itu atau justru sebaliknya."
Noa membuka mata. Tapi pandangannya belum fokus.
Di dalam dadanya... terasa masih sesak seakan naga itu masih berguling.
Tenang. Tapi belum jinak.
'Aku bukan hanya pewaris,' pikir Noa. 'Aku juga penjara. Dan mungkin—jika aku lengah sedikit saja—aku akan menjadi korban dari apa yang mereka limpahkan padaku.'
Dan dari luar ruangan itu... seseorang menyaksikan dari bayang-bayang.
Kaede.
Matanya tidak berkedip. Rahangnya menegang.
Dia tahu... garis darah yang sudah dibangkitkan tidak bisa dimatikan begitu saja. Dan Noa bukan lagi hanya anak yang kembali. Dia adalah ancaman.
...⛩️🏮⛩️...
Pagi datang tanpa suara.
Tapi dalam markas tua di dataran tinggi itu, suara-suara yang tidak terdengar justru yang paling nyaring.
Suara mata yang mengamati. Langkah-langkah yang ditahan.
Dan percakapan tanpa kata yang terjadi di balik pintu-pintu kayu.
Noa membuka matanya dengan berat.
Tubuhnya masih terasa hangat dari sisa ritual. Tapi bukan kelelahan yang membuatnya sulit bergerak—melainkan beban baru yang belum sempat ia pahami benar.
Beban naga.
Beban darah.
Dan beban pandangan semua orang yang kini menatapnya seolah ia adalah sesuatu yang tidak seharusnya ada.
...⛩️🏮⛩️...
Di aula utama, para penjaga berdiri dalam barisan melingkar.
Mereka semua mengenakan pakaian upacara: hitam, tanpa lambang.
Kaede berdiri paling depan, menghadap altar kayu tempat gulungan leluhur biasa disimpan. Tangannya disilangkan. Sorot matanya tajam seperti ujung katana.
Pendeta Yagami melangkah masuk bersama Noa.
Langkah Noa ringan, tapi napasnya berat. Aula itu dingin, lebih dingin dari udara pagi. Tapi yang membuatnya menggigil bukan cuaca—melainkan energi yang membungkus tempat itu.
Satu per satu penjaga mengangguk saat ia lewat.
Tapi tidak ada satu pun yang menunduk.
Dari sisi belakang aula, berdiri satu sosok yang tidak ikut dalam formasi.
Sakaki Jin.
Wajahnya setenang patung kayu tua, tapi mata itu mengamati. Merekam. Seperti saksi mata yang tak memberi penilaian namun juga tak melewatkan apa pun.
"Ritual telah selesai," kata pendeta Yagami lantang. "Roh telah dipanggil. Dan leluhur... tidak menolak."
Beberapa orang bergumam pelan.
Yang lainnya diam.
Kaede melangkah maju.
"Dan apakah anda yakin roh-roh itu tidak sekedar diam untuk menunggu, sensei?"
Pendeta Yagami menatap Kaede lama. Tapi tidak menjawab.
Kaede menoleh ke Noa.
"Leluhur menerima tubuhmu. Tapi bukan itu yang membuatmu hidup di sini. Klan Yamaguchi tidak hanya diikat oleh darah. Tapi oleh kesetiaan."
Noa tidak menunduk.
"Aku tidak minta diterima. Aku hanya... akan tinggal jika darahku punya tempat di sini."
Kaede menyipitkan mata. "Dan jika tidak?"
"Kalau darahku dianggap ancaman... aku akan pergi. Tapi ingat, kalianlah yang membawaku kesini dengan paksa. Dan jika klan ini menolakku karena takut pada sesuatu yang kalian ciptakan sendiri... maka bukan aku yang gagal. Tapi kalian."
Ruangan hening.
Lalu terdengar satu tawa pelan dari sudut ruangan.
Kuroda.
Ia berjalan perlahan ke tengah aula. "Akhirnya... seseorang bicara dengan lidah naga, bukan lidah manusia."
Pendeta Yagami mengangguk ringan. "Leluhur belum memilih. Tapi mereka tidak menolak. Itu berarti... kau diberi waktu. Untuk menunjukkan siapa yang memegang tubuhmu. Dan jiwamu."
...—つづく—...
Dia bukan istri, bukan selir, cuma perempuan yang di takdirkan untuk melahirkan seorang bayi yang mungkin bisa saja menjadi ancaman untuk klan di masa depan.
prolog aja udah di suguhi cerita yang wah banget, penasaran sama kehidupan Rin dan bayinya nanti.