NovelToon NovelToon
DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

DICERAIKAN SUAMI DINIKAHI SULTAN

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Romantis / Tamat
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: niadatin tiasmami

Alya menikah dengan Arga bukan karena harta, melainkan cinta dan harapan akan keluarga yang hangat. Namun sejak hari pertama menjadi menantu, Alya tak pernah benar-benar dianggap sebagai istri. Di mata keluarga suaminya, ia hanyalah perempuan biasa yang pantas diperintah—memasak, membersihkan rumah, melayani tanpa suara. Bukan menantu, apalagi keluarga. Ia diperlakukan layaknya pembantu yang kebetulan menyandang status istri.
Takdir mempertemukan Alya dengan seorang pria yang tak pernah menilainya dari latar belakang—Sultan Rahman, pengusaha besar yang disegani, berwibawa, dan memiliki kekuasaan yang mampu mengubah hidup

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon niadatin tiasmami, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 30 Rumah yang Tumbuh Bersama Waktu

Pagi berikutnya datang tanpa gegap gempita, namun justru itulah yang membuat Alya merasa tenang. Tidak ada pengumuman besar, tidak ada pertemuan mendesak, tidak pula langkah-langkah tergesa. Desa Sukamaju seolah sepakat untuk memberi jeda—ruang bernapas setelah hari-hari yang penuh perubahan.

Kabut tipis masih menggantung rendah di antara sawah ketika Alya duduk di teras rumah, secangkir kopi hangat berada di tangannya. Ia memandang ke arah jalan desa yang perlahan mulai hidup. Seorang ibu lewat sambil membawa keranjang sayur, dua anak kecil berlarian mengejar layangan yang tersangkut di dahan pohon, dan dari kejauhan terdengar suara lesung dipukul berirama.

Tidak ada yang terasa luar biasa. Namun justru di sanalah Alya merasakan sesuatu yang selama ini ia cari—rasa cukup.

Sultan keluar dari dalam rumah sambil menggulung lengan kemejanya. “Aku akan ke sawah sebentar,” katanya. “Pak Darto minta ditemani melihat aliran irigasi yang baru.”

Alya mengangguk. “Hati-hati. Jangan lupa sarapan yang benar, jangan hanya kopi.”

Sultan tersenyum kecil. “Iya, Bu Ketua Pengawas Kesehatan Keluarga.”

Alya tertawa pelan. Tawa yang ringan, tanpa beban.

Setelah Sultan pergi, Alya masuk ke dalam rumah. Satria sudah bangun dan duduk di lantai ruang tengah, kertas-kertas gambar berserakan di sekelilingnya. Kali ini bukan peta desa, melainkan sketsa rumah-rumah dengan taman kecil, anak-anak yang bermain, dan di sudut kertas ada tulisan tangan yang sedikit miring: Sukamaju di Masa Depan.

“Apa ini rencana rahasia?” tanya Alya sambil duduk di sampingnya.

Satria mendongak. “Bukan rahasia, Bun. Ini mimpi.”

Jawaban sederhana itu membuat Alya terdiam sesaat. Ia membelai rambut anaknya dengan lembut. “Mimpi yang bagus,” katanya akhirnya.

Menjelang siang, Alya menuju balai desa. Hari ini tidak ada rapat resmi, tapi beberapa warga sepakat berkumpul untuk membersihkan gudang lama yang akan dijadikan ruang pelatihan. Alya ikut membantu, menyapu debu-debu lama yang menempel di lantai dan dinding.

Debu itu mengingatkannya pada masa lalu—hal-hal yang pernah ia simpan terlalu lama dalam hati. Rasa marah, kecewa, takut, dan keinginan untuk mengendalikan segalanya sendiri. Ia tersenyum kecil. Semua itu kini terasa seperti lapisan debu yang sudah disapu bersih. Bekasnya mungkin masih ada, tapi tidak lagi menyesakkan.

Ratna datang membawa termos air dan beberapa kue singkong. “Istirahat dulu,” katanya sambil membagikan minuman.

Alya menerima segelas air dengan ucapan terima kasih. Mereka duduk berdampingan di anak tangga balai desa.

“Aku kadang masih tidak percaya,” ujar Ratna pelan. “Aku merasa seperti orang yang diberi kesempatan hidup kedua.”

Alya menoleh. “Mungkin memang begitu. Tapi kesempatan itu kamu yang menghidupkannya sendiri.”

Ratna mengangguk, matanya sedikit berkaca-kaca. “Dulu aku selalu ingin diakui. Sekarang aku hanya ingin berguna.”

Kalimat itu sederhana, tapi Alya tahu betapa panjang perjalanan yang melahirkannya.

Sore hari, langit Sukamaju berubah warna menjadi jingga keemasan. Anak-anak berkumpul di lapangan kecil dekat balai desa, berlatih menari untuk acara penyambutan tamu minggu depan. Satria ikut di antara mereka, meski lebih sering tertawa daripada mengikuti gerakan dengan benar.

Alya berdiri di pinggir lapangan, mengamati. Ia teringat masa kecilnya sendiri—tentang mimpi-mimpi yang sempat terkubur oleh keadaan, tentang keharusan untuk selalu kuat bahkan ketika ingin rapuh. Ia tidak ingin Satria tumbuh dengan beban yang sama. Ia ingin anaknya tahu bahwa gagal bukan akhir, bahwa meminta bantuan bukan kelemahan, dan bahwa rumah adalah tempat kembali, bukan medan perjuangan.

Malam itu, Alya dan Sultan duduk bersama di ruang tamu setelah Satria tertidur. Lampu temaram menyinari ruangan, menciptakan bayangan lembut di dinding.

“Aku kepikiran sesuatu,” kata Sultan membuka percakapan. “Bagaimana kalau kita mulai menulis dokumentasi perjalanan desa ini? Bukan laporan resmi, tapi cerita—tentang orang-orangnya.”

Alya terdiam sejenak, lalu tersenyum. “Aku suka itu. Cerita bisa membuat orang lain mengerti, bukan hanya tahu.”

“Dan mungkin suatu hari,” lanjut Sultan, “Satria bisa membacanya dan tahu bahwa desa ini dibangun bukan hanya dengan rencana, tapi juga dengan hati.”

Alya meraih tangan suaminya. Hangat. Nyata. Ia merasa aman.

Hari demi hari berikutnya berlalu dengan ritme yang stabil. Pengusaha dari kota akhirnya datang, melihat langsung proses kerja warga, berbincang tanpa jarak, dan meninggalkan desa dengan janji kerja sama yang masuk akal—tanpa janji muluk, tanpa tekanan.

Pelatihan demi pelatihan dimulai. Ada yang belajar menganyam, ada yang belajar memotret produk, ada pula yang belajar menulis deskripsi sederhana untuk pemasaran. Tidak semua langsung mahir. Ada yang menyerah di tengah jalan. Ada yang perlu waktu lebih lama. Namun tidak ada yang ditinggalkan sendirian.

Suatu sore, Alya menemukan dirinya kembali berdiri di ambang balai desa, tempat yang sama seperti beberapa waktu lalu. Namun perasaannya berbeda. Ia tidak lagi merasa harus mengawasi segalanya. Ia percaya.

Sultan menghampirinya. “Kamu kelihatan lebih tenang sekarang,” katanya.

Alya mengangguk. “Aku belajar satu hal,” ujarnya pelan. “Membangun bukan tentang berdiri paling depan. Tapi tentang tahu kapan harus melangkah mundur dan memberi ruang.”

Sultan tersenyum. “Itu pelajaran yang tidak semua orang mau ambil.”

Alya menatap desa yang perlahan tenggelam dalam senja. Ia melihat rumah-rumah dengan lampu yang mulai menyala, sawah yang berkilau diterpa cahaya terakhir matahari, dan orang-orang yang bergerak dengan tujuan, bukan paksaan.

Di sanalah ia akhirnya mengerti—bahwa rumah bukan hanya tempat tinggal, melainkan tempat tumbuh. Dan pertumbuhan tidak selalu berarti menjadi lebih besar, tapi menjadi lebih jujur pada diri sendiri.

Malam itu, Alya menuliskan satu kalimat di buku catatannya sebelum tidur:

Tidak semua luka harus dihapus. Beberapa cukup diterima, agar kita bisa melangkah tanpa beban.

Ia menutup buku itu dengan hati yang ringan. Di luar, jangkrik bernyanyi bersahutan, dan angin malam membawa aroma tanah yang akrab. Sukamaju tidur dalam damai—dan Alya tahu, esok hari, desa ini akan bangun dengan langkah yang sama lembutnya, namun semakin yakin pada arah yang dipilihnya.

Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, Alya merasa tidak sedang mengejar masa depan.

Ia sedang menjalaninya.

1
Anonymous
pakai chatgpt?
niadatin tiasmami: kok komen gt
total 2 replies
only siskaa
seruu🔥mmpir juga ya kk
niadatin tiasmami: ok kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!