Menjadi orang asing adalah satu-satunya cara kita bisa bekerja sama tanpa harus saling menghancurkan lagi."
Lima tahun lalu, Maya pergi membawa luka yang tidak sempat ia jelaskan. Ia mengira waktu dan jarak akan menghapus segalanya. Namun, takdir memiliki selera humor yang pahit. Maya dipaksa kembali ke hadapan Arlan Dirgantara—pria yang kini menjadi sosok dingin, berkuasa, dan penuh kebencian.
Arlan bukan lagi pria hangat yang dulu ia cintai. Arlan yang sekarang adalah klien sekaligus "penjara" bagi karier Maya. Arlan menuntut profesionalisme, namun tatapannya masih menyimpan bara dendam yang menolak padam.
Di tengah proyek renovasi rumah tua yang penuh kenangan, mereka terjebak dalam permainan pura-pura. Berpura-pura tidak kenal, berpura-pura tidak peduli, dan berpura-pura bahwa getaran di antara mereka sudah mati.
Mampukah mereka tetap menjadi asing saat setiap sudut ruangan mengingatkan mereka pada janji yang pernah terucap? Ataukah kembali mengenal satu sama lain justru akan membu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sefna Wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28: Dermaga Kematian
Udara asin Pelabuhan Patimban meresap masuk melalui celah jendela jeep yang kacanya sudah retak. Pukul tiga dini hari. Suasana dermaga tikus itu sunyi, hanya terdengar suara deburan ombak yang menghantam tiang-tiang pancang kayu yang sudah lapuk.
"Tahan sebentar, Lan. Kita hampir sampai," bisik Maya, tangannya yang mungil kini dipenuhi noda darah Arlan yang sudah mulai mengering.
Arlan hanya mengerang rendah. Wajahnya pucat pasi, namun matanya tetap terbuka, waspada memantau setiap pergerakan di luar lewat spion. "Yudha, matikan lampu. Kita masuk lewat jalur gudang ikan."
Yudha memutar kemudi dengan sigap. Mobil meluncur dalam kegelapan, merayap di antara tumpukan kontainer tua yang berkarat. Di ujung dermaga, sebuah kapal cepat bermesin ganda tampak bergoyang pelan, siap membelah lautan menuju perairan internasional.
"Itu kapal kita," Yudha menunjuk dengan dagunya. "Mbak Maya, pegang senjata ini. Kalau ada yang bergerak di bayangan kontainer, jangan ragu."
Maya menerima pistol itu. Beratnya terasa nyata di tangannya, mengingatkannya bahwa kehidupan normalnya sebagai arsitek sudah berakhir sejak peluru pertama menembus rumah Dago.
Mereka turun dari mobil dengan gerakan cepat. Yudha memapah Arlan, sementara Maya membawa koper hitam yang kini terasa seberat dosa keluarga Dirgantara. Baru saja mereka melangkah lima meter menuju kapal, sebuah lampu sorot raksasa tiba-tiba menyala dari atas salah satu kontainer, membutakan pandangan mereka.
WUT!
Suara baling-baling helikopter terdengar menderu di atas kepala, menyapu debu dermaga hingga beterbangan.
"Arlan Dirgantara! Letakkan koper itu dan angkat tangan!" Sebuah suara melalui pengeras suara menggelegar, mengalahkan deru ombak.
Bukan Siska. Ini adalah suara pria yang lebih berat, lebih otoriter. Sesosok pria tegap dengan seragam taktis lengkap turun dari bayangan kontainer. Di dadanya tersemat lencana emas organisasi The Chrysanthemum.
"Paman Hendra?" Maya terpekik, matanya membelalak di balik silau lampu sorot.
Hendra Dirgantara, pria yang seharusnya mendekam di penjara setelah pengkhianatannya terbongkar, kini berdiri di sana dengan senyum kemenangan. "Penjara itu hanya tempat istirahat sementara bagi orang yang punya koneksi, Maya. Kalian pikir bisa lari dari keluarga sendiri?"
Arlan memaksakan diri untuk berdiri tegak, meski bahunya bersimbah darah. "Kamu bekerja untuk mereka sekarang, Paman? Menjadi anjing penjaga organisasi yang membunuh kakakmu sendiri?"
"Aku bekerja untuk pemenang, Arlan!" Hendra mengeluarkan senjatanya. "Koper itu berisi data yang bisa mengatur ulang ekonomi dunia. Richard terlalu tua untuk memegang ini, dan kamu terlalu lemah. Berikan padaku, dan aku biarkan istrimu hidup."
Maya melangkah maju, menghalangi Hendra. "Paman lupa sesuatu. Data ini sudah dienkripsi dengan biometrik bayi di rahimku. Kalau Paman membunuhku atau Arlan sekarang, koper ini cuma jadi sampah logam!"
Hendra tertawa, tawanya terdengar seperti gesekan logam yang kasar. "Oh, Maya sayang... kamu pikir kami butuh kamu tetap hidup? Tim medis kami sudah menunggu di Singapura. Kami hanya butuh 'sampel' dari rahimmu. Hidup atau mati ibunya bukan masalah bagi The Chrysanthemum."
Darah Maya mendidih. Ancaman terhadap bayinya membuat naluri keibuannya berubah menjadi amarah yang dingin.
"Yudha, sekarang!" teriak Arlan tiba-tiba.
Yudha tidak menembak Hendra. Ia justru menembak tangki bahan bakar cadangan di samping kontainer yang ada di belakang Hendra.
BOOM!
Ledakan dahsyat mengguncang dermaga. Api membumbung tinggi, menciptakan tirai asap hitam yang pekat. Dalam kekacauan itu, Arlan menarik Maya menuju dek kapal.
"Masuk ke kabin! Maya, cepat!"
Hendra berteriak murka di balik kobaran api, melepaskan tembakan membabi buta. Peluru-peluru berdesing menghantam bodi kapal, memecahkan kaca jendela belakang. Yudha membalas tembakan sambil melepas tali tambat kapal.
"JALAN!" Arlan berteriak pada kapten kapal.
Mesin kapal menderu, membelah air laut dengan kecepatan tinggi, meninggalkan dermaga yang kini berubah menjadi medan pertempuran api. Di belakang mereka, helikopter itu mulai mengejar, lampunya menyapu permukaan laut mencari jejak kapal mereka.
Di dalam kabin yang berguncang hebat, Maya memeluk Arlan yang jatuh terduduk di lantai. Arlan terengah-engah, luka di bahunya mulai mengeluarkan darah segar lagi akibat gerakan mendadak tadi.
"Kita... kita selamat?" Maya berbisik, suaranya hilang ditelan suara mesin.
Arlan menatap Maya, matanya sayu namun penuh tekad. Ia meraih tangan Maya dan meletakkannya di perut wanita itu. "Belum, May. Perang ini baru saja pindah ke laut. Tapi selagi kita bersama, mereka tidak akan bisa menyentuh anak kita."
Tiba-tiba, radar di meja kapten berbunyi nyaring. Dua titik merah muncul dengan cepat dari arah depan.
"Bos! Ada kapal patroli di depan! Mereka memblokir jalur kita menuju perairan internasional!" teriak kapten kapal.
Maya menatap ke arah depan lewat kaca depan yang retak. Di tengah kegelapan laut lepas, lampu biru-merah kapal patroli tampak menghalangi jalan. Mereka terjepit. Di belakang ada helikopter Hendra, di depan ada blokade.
Maya menggenggam pistolnya erat. "Lan, kasih tahu aku cara menggunakan sinyal darurat ini. Kita tidak akan menyerah di sini."