Ravela Natakusuma, seorang kapten TNI-AD, tiba-tiba harus menerima perjodohan dengan Kaivan Wiratama, seorang CEO pewaris perusahaan besar, demi memenuhi permintaan ayah Kaivan yang tengah kritis.
Mereka sepakat menikah tanpa pernah benar-benar bertemu. Kaivan hanya mengenal Ravela dari satu foto saat Ravela baru lulus sebagai perwira yang diberikan oleh Ibunya, sementara Ravela bahkan tak tahu wajah calon suaminya.
Sehari sebelum pernikahan, Ravela mendadak ditugaskan ke Timur Tengah untuk misi perdamaian. Meski keluarga memintanya menolak, Ravela tetap berangkat sebagai bentuk tanggung jawabnya sebagai abdi negara.
Hari pernikahan pun berlangsung tanpa mempelai wanita. Kaivan menikah seorang diri, sementara istrinya berada di medan konflik.
Lalu, bagaimana kisah pernikahan dua orang asing ini akan berlanjut ketika jarak, bahaya, dan takdir terus memisahkan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutia Kim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar mandi
Mereka semua semakin riuh, saat Kaivan melakukan intro, “Tes, tes, tes...”
Kini pandangan semua orang tertuju ke depan.
“Ya ampun Vel, lihat deh, mas Kaivan keren banget. Mana langsung metik gitar sendiri lagi,” ujar Kirana mengagumi Kaivan.
Ravela membenarkan ucapan Kirana, jika malam ini Kaivan terlihat berkali-kali lebih tampan, tentu ia menyadari saat dirinya tadi pergi ke tenda pria itu. Namun Ravela hanya diam saja tidak menanggapi Kirana.
Melihat senyum Kaivan saat ini, membuat Ravela teringat akan kejadian tadi, membuat pipinya semakin memanas.
"Selamat malam semuanya! Saya akan mempersembahkan lagu dari Virgoun yang berjudul Bukti untuk wanita cantik yang saat ini singgah di hati saya. Maaf untuk rasa kecewa yang sudah saya berikan, semoga dia mendengarnya,” ujar Kaivan.
Sontak suara tepuk tangan semakin meriah dan memenuhi lapangan. Ravela nampak termangu di tempatnya mendengar apa yang baru saja Kaivan ucapkan. Kini ia fokus menatap ke depan dimana suaminya juga tengah menatapnya.
“Patah hati deh denger pak Kai bilang kayak tadi,” ujar salah satu relawan wanita yang duduk tidak jauh darinya.
“Siapa wanita yang dikatakan Akang Kaivan itu? Apa dia sudah punya kekasih?” gumam Tari, kalau benar Kaivan sudah memiliki pasangan, tentu ia akan patah hati.
“Yah..., kirain masih sendiri, taunya udah ada pawang. Beruntung banget perempuan yang bisa dapat pasangan seperti mas Kaivan," kata Kirana.
Sedari tadi Ravela hanya diam tidak merespon ucapan Kirana. Namun sebenarnya ia kesal mendengar obrolan orang-orang yang memuji suaminya.
Hingga suara Kaivan yang mulai bernyanyi membuat mereka semua terpana.
“Memenangkan hatiku bukanlah satu hal yang mudah... Kau berhasil membuat ku tak bisa hidup tanpamu...”
Suasana yang tadinya riuh perlahan berubah hening. Semua larut mendengarkan Kaivan bernyanyi dengan penuh penghayatan.
Ravela menunduk tak menatap Kaivan, tapi ia paham lagu itu bukan hiburan semata. Di setiap bait ada rasa bersalah karena ketidakjujuran, dan keinginan Kaivan untuk membuktikan bahwa kali ini ia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama.
Saat Kaivan masuk ke bagian reff, suaranya tetap stabil, namun terasa lebih dalam.
“Beruntungnya aku dimiliki kamu. Kamu adalah bukti dari cantiknya paras dan hati... Kau jadi harmoni saat ku bernyanyi, tentang terang dan gelapnya hidup ini...”
Ravela menarik napas pelan. Dadanya terasa sesak mendengarnya.
“Dia nyanyi seolah pasangannya ada di sini,” bisik Kirana pelan.
“Mungkin,” jawab Ravela pelan.
Kaivan melanjutkan hingga bait terakhir, suaranya tetap terjaga, tanpa gemetar.
“Kau wanita terhebat bagiku, tolong kamu camkan itu...”
Petikan gitar menutup lagu dengan lembut. Hening sesaat sebelum tepuk tangan menggema. Beberapa orang tersenyum, sebagian lain terdiam, seolah ikut menangkap makna di balik lagu itu.
Kaivan menurunkan gitarnya perlahan. Pandangannya langsung tertuju pada Ravela.
Saat mata mereka bertemu, Ravela bisa melihatnya dengan jelas, ada penyesalan sekaligus kesungguhan di mata Kaivan.
"Uh... pak Kai so sweet banget, meleleh hati adek bang...," ujar salah satu relawan wanita, membuat Ravela melirik tajam ke arahnya, namun tentu wanita itu tidak tahu.
“Andai lagu itu buat aku," timpal teman yang berada di sebelah relawan tadi.
Ravela benar-benar dibuat kesal dengan ucapan wanita-wanita itu. Ingin rasanya mengakui hubungan mereka, namun Ravela teringat dirinya hanya menikah siri dengan Kaivan membuat dirinya harus berpikir seratus kali.
“Ngeselin banget sih,” gumam Ravela sembari menatap kesal ke arah sekeliling dimana para relawan wanita tengah membicarakan suaminya.
Pukul 11:00 malam mereka baru membubarkan diri satu persatu, sedangkan Ravela dan Kirana sudah sedari tadi kembali kedalam tenda mereka. Mereka mulai mengistirahatkan tubuh mereka.
Hingga pagi menjelang, mereka sibuk dengan kegiatan masing-masing. Ravela sendiri baru akan membersihkan tubuhnya, karena tadi membantu para warga membersihkan posko pengungsian terlebih dahulu.
“Kamu sudah mandi?” tanya Ravela pada Kirana.
“Siap, Komandan saya udah mandi,” jawab Kirana tegas sambil hormat saat berpapasan dengan Ravela yang hendak menuju kamar mandi. Sedangkan ia sudah selesai dan hendak kembali menuju tenda.
“Biasa saja, Kira. Tidak ada orang yang melihat.”
Kirana mengangguk, “Sana gih mandi, sebelum makin ramai,” ujar Kirana.
“Hem, aku mau mandi dulu,” ucap Ravela.
“Mau aku temenin?” tawar Kirana.
Ravela menggeleng, "Tidak usah, kayak mau mandi dimana saja,” timpalnya, lalu berjalan menuju kamar mandi seorang diri.
Setelah Ravela pergi, Kirana berjalan kembali menuju tenda.
Ravela bergegas masuk ke dalam kamar mandi, yang untungnya tidak seberapa ramai itu.
Setelah selesai ia bergegas keluar, namun tiba-tiba ada yang masuk ke dalam kamar mandi dan langsung menguncinya dari dalam, membuat Ravela terperanjat kaget.
Kamar mandi yang gelap membuat Ravela tidak menyadari bahwa yang masuk adalah Kaivan. Ia hampir berteriak dan melumpuhkan orang itu dengan bela diri, namun Kaivan segera menginstruksinya agar tidak berteriak.
“Jangan teriak Vel, ini aku!” seru Kaivan. Membuat Ravela bisa bernapas lega.
“Mas ngagetin aja sih, kalau aku terkena serangan jantung mendadak, gimana!” cerocos Ravela kesal. Membuat Kaivan gemas dan mengecup bibir Ravela sekilas.
Ravela ingin protes dengan apa yang Kaivan lakukan, namun setiap ia ingin membuka mulut Kaivan mengecup bibirnya, hingga Ravela terdiam.
“Diam disini dulu Vel, Jovan mau balik. Aku tahu dia sedang mencari mu. Jadi diam disini dulu. Biarkan dia pergi, baru kamu boleh keluar,” ujar Kaivan.
Ravela menurut, tentu saja dia lebih memilih diam disana, daripada dirinya harus bertemu dengan Jovan.
Kaivan menatap lekat Ravela yang saat ini berada di bawah kungkungannya. Lalu pandangannya kini tertuju ke arah bibir merah muda yang sudah menjadi candu untuknya, tanpa permisi Kaivan segera melahap bibir itu.
Ravela yang tidak siap mendapat serangan mendadak itu, terdiam ditempat. Tubuhnya bak manekin yang tidak bisa bergerak.
Dengan napas terengah Ravela kembali mendorong tubuh Kaivan. Membuat Kaivan menatap lekat Ravela, wajah istrinya terlihat segar karena baru selesai mandi, dan aroma sabun mandi yang begitu segar tercium sampai ke indra penciuman Kaivan.
Menyadari Kaivan yang terus memandanginya membuat Ravela merasa gugup dan salah tingkah.
Ia membuang pandangannya ke lain arah sambil mundur beberapa langkah.
Namun sayangnya, Kaivan malah berjalan mendekat dan kembali menghampiri Ravela. Sehingga jantung Ravela berdebar tak karuan dan bulu kuduknya seketika merinding.
“Kamu cantik,” bisik Kaivan lembut tepat didepan wajah Ravela. Ia semakin mendekatkan tubuhnya pada Ravela, dan tangan Ravela sontak menahan di depan dada Kaivan.
Jarak yang begitu dekat membuat tubuh Ravela meremang, ia dapat mencium wangi parfum di tubuh Kaivan dan itu menenangkan untuknya.
“Mas mau apa?” tanya Ravela gugup, namun Kaivan kali ini seolah menulikan pendengarannya.
Kaivan semakin menempelkan tubuhnya, mengikis jarak antara dirinya dan Ravela.
Dengan sekali tarikan Kaivan mendudukkan Ravela di atas tempat penampungan air yang terbuat dari semen di kamar mandi itu. Kaivan pun berdiri di antara kedua kaki Ravela yang terbuka.
Kaivan kembali menyatukan bibir mereka. Ia memperlakukan Ravela begitu lembut, membuat Ravela yang tadi menolak kini ikut terbuai. Perutnya terasa seperti ada kupu-kupu yang berterbangan disana.
Tangan kiri Kaivan memegang tengkuk Ravela, sedangkan satu lagi berada disisi tempat penampungan air.
Keduanya semakin terbuai dengan ciuman yang semakin dalam dan menuntut, dan kini Ravela menelusupkan tangannya kedalam kaos yang Kaivan kenakan, membuat Kaivan semakin terpancing, hingga suara lenguhan itu lolos dari bibir Ravela.