NovelToon NovelToon
I'M Sorry My Wife

I'M Sorry My Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Dijodohkan Orang Tua
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Nouna Vianny

Elia menikah dengan Dave karena perjodohan, tanpa cinta dan tanpa pilihan. Di malam pertama, Dave membuat perjanjian pernikahan yang menegaskan bahwa Elia hanyalah istri di atas kertas. Hari-hari Elia dipenuhi kesepian, sementara Dave perlahan menyadari bahwa hatinya mulai goyah. Saat penyesalan datang dan kata “I’m sorry, my wife” terucap, akankah cinta masih bisa diselamatkan, atau semuanya sudah terlambat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nouna Vianny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Marahnya Dave

Malam telah berganti dengan cerahnya pagi. Dave bangun meski hanya tidur beberapa jam. Ia harus kembali menjalani tugasnya sebagai CEO. Meski perjalanan kemarin cukup melelahkan, hal itu tak berarti apa-apa baginya. Ia seperti mesin yang tak mengenal lelah.

“Dave, kau mau pergi ke kantor?” tanya Elia saat melihat Dave turun dengan penampilan yang sudah rapi.

“Tentu saja, kenapa?”

“Tidak apa-apa. Kita kan baru saja pulang berlibur. Kenapa tidak istirahat satu atau dua hari lagi?”

Dave terkekeh. “Terlalu lama. Lagi pula aku baik-baik saja. Sudah biasa dengan aktivitas seperti ini.”

Elia hanya bisa menghela napas. Ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan makanan.

“Dave, aku tidak tahu kalau kau akan masuk kantor hari ini, jadi aku belum sempat membuatkan bekal untukmu,” ungkapnya.

“Tidak apa-apa, aku bisa makan di luar saat istirahat nanti.”

“Eh, atau aku antarkan saja ke sana, bagaimana?”

Dave menggeleng cepat. “Tidak perlu, Elia. Kau juga capek setelah perjalanan kemarin. Istirahatlah.”

“Tapi aku juga ingin tahu bagaimana keadaan perusahaanmu. Eh, maksudku… aku ingin bertemu para karyawanmu.”

Dave hanya diam sambil menikmati sarapannya. Elia memang sedikit keras kepala, meski niatnya baik ingin mengantarkan bekal untuk suaminya.

“Ya sudah, terserah kau saja,” ujar Dave akhirnya menyerah.

Elia tersenyum bahagia. Ia pun memutuskan untuk mengisi perutnya terlebih dahulu sebelum memikirkan ide bekal untuk siang hari. Setelah sarapan, Dave segera bergegas ke kantor. Bimbim sudah menunggunya sejak tadi, dan mesin mobil pun telah dipanaskan.

Meski Dave tak mengharapkan Elia mengantarnya hingga ke depan pintu, wanita itu tetap melakukannya atas kesadarannya sendiri. Ia tak peduli pada sikap dingin suaminya.

“Masih ada waktu. Aku selesaikan pekerjaanku dulu, baru nanti lanjut membuat bekal,” gumamnya sambil melirik arloji di dinding. Selama beberapa hari liburan kemarin, Elia sama sekali tak menyentuh laptopnya karena fokus menghabiskan waktu bersama keluarga.

Setibanya di kantor, Dave langsung disibukkan dengan komputer kerjanya. Kepalanya semakin berdenyut saat melihat angka penjualan kosmetiknya yang kian hari terus menurun.

“Kalau begini caranya, produk ku bisa bangkrut,” gumamnya pelan.

Padahal tim pemasaran sudah melakukan berbagai upaya, mulai dari campaign, promosi, hingga menurunkan harga jual. Hasilnya memang sempat terlihat, namun hanya bertahan sebentar sebelum kembali menyusut.

Bayangan menakutkan itu seakan menghantui Dave. Ia tak ingin produknya kalah bersaing dengan merek lain hingga harus mengalami gulung tikar.

“Aku harus mencari jalan keluarnya. Tidak bisa terus-menerus seperti ini,” ucap Dave dengan penuh tekad. Ia kemudian menghubungi Lea melalui interkom dan memerintahkan tim pemasaran perusahaan untuk segera mengadakan rapat internal.

Satu jam setelah perintah diturunkan, tim pemasaran dari divisi kosmetik telah berkumpul di ruang rapat. Wajah-wajah tegang dan pasrah tampak jelas. Terlebih saat Dave memasuki ruangan, auranya begitu mendominasi hingga tak seorang pun berani menatapnya secara langsung.

Semua orang bangkit dari kursi dan sedikit membungkukkan tubuh, hingga tiba-tiba terdengar suara...

BRAK!

Meja rapat digebrak keras, seolah menjadi salam pembuka yang menggetarkan. Seluruh ruangan sontak terperanjat. Dave bahkan melempar laporan yang diberikan Nick ke lantai, membuat kertas-kertas itu berserakan. Lea yang bukan bagian dari marketing ikut merasakan ketegangan di ruangan tersebut.

“Kalian masih ingin bekerja di perusahaan ku atau tidak?” tanya Dave tajam.

“Masih, Tuan,” jawab mereka serempak.

“Kalau masih ingin bekerja di perusahaan ku, lalu kenapa kalian membiarkan penjualan kita menurun?” ucap Dave geram. Emosinya nyaris tak terkendali. Kurangnya jam tidur membuat adrenalinnya semakin terpacu.

“Kemari kau!” tunjuk Dave ke arah salah satu manajer pemasaran.

Dengan wajah penuh ketakutan, pria itu melangkah mendekat. “I-iya, Tuan.”

“Bagaimana ini bisa terjadi?!” teriak Dave lantang. Tak seorang pun berani menyela.

“M-maafkan saya dan tim saya, Tuan,” ucapnya lirih.

Dave terkekeh, lalu tertawa mengejek. “Aku tidak butuh maaf darimu dan dari kalian semua!” bentaknya. “Aku hanya ingin penjualan produk ku meningkat!” ucap Dave dengan suara keras, penuh penekanan.

Lea yang berada di samping kanan Dave dengan sedikit agak jauh merekam nya secara diam-diam, melalui kamera ponsel yang ia selipkan ke dalam saku luar jas nya.

Ia ingat jika Elia sahabat nya itu adalah ahli strategi dalam bidang pemasaran. Semoga dengan dikirimkan nya video tersebut Elia mau membantu suaminya. Jujur, Lea tidak tega melihat para karyawan di caci maki oleh nya.

"Saya beri kalian waktu satu minggu, jika tidak ada peningkatan kalian semua saya pecat. Dan saya akan mencari tim marketing yang baru". ucapnya dengan lantang kemudian keluar dari ruang rapat.

Mendengar pernyataan yang disertai ancaman itu, beberapa karyawan menunduk lemas. Bahkan ada di antara mereka yang pingsan karena syok. Terlihat jelas betapa mereka masih sangat membutuhkan pekerjaan tersebut. Ya, bekerja memang tidak selalu membuat kaya, tetapi setidaknya membuat seseorang bisa bertahan hidup.

....

Bianca akhirnya bisa bernapas lega dan kembali beraktivitas seperti biasa. Ia kini dapat pergi ke mana pun tanpa rasa takut. Alex telah mendekam di dalam sel untuk waktu yang lama.

“Akhirnya aku bisa hidup normal kembali,” ucapnya sambil menikmati segelas anggur di tangannya.

Namun alih-alih merasa bebas, suasana hati perempuan itu justru kurang baik karena Dave belum juga mengirimkan pesan. Padahal, saat di bandara Dave sempat mengabarkan bahwa ia sedang dalam perjalanan pulang.

“Apa mungkin dia masih istirahat karena lelah setelah liburan kemarin?” gumamnya. “Ah, rasanya aku juga ingin liburan.”

Ide itu muncul seketika. Bianca ingin merasakan liburan bersama pria yang dicintainya.

“Enaknya liburan ke mana, ya?” gumamnya sambil membuka browser dan mencari beberapa destinasi wisata dunia yang menyenangkan. Beberapa rekomendasi pun muncul, dan perhatiannya tertuju pada Cina. “Wah, sepertinya ini menarik,” ujarnya..

Di sisi lain, Elia yang menerima kiriman video dari Lea tersentak kaget. Ia menyaksikan amarah Dave yang meluap-luap. Namun yang paling membuatnya prihatin adalah saat seorang wanita dari salah satu divisi pemasaran jatuh pingsan.

“Astaga, kasihan sekali perempuan itu,” ucap Elia sambil mengaduk cokelat.

Lisa yang membantu Elia di dapur ikut merasa penasaran dengan video yang baru saja ditontonnya. Samar-samar, Lisa juga mendengar suara teriakan Dave yang terdengar keras dari ponsel.

Elia kembali menambahkan bahan-bahan kue dalam jumlah lebih banyak, hingga membuat Lisa terheran.

“Lho, Nyonya, apa ini tidak kebanyakan untuk Tuan Dave?” tanyanya.

“Tadinya aku hanya ingin membuat untuk Dave,” jawab Elia. “Tapi setelah kupikir-pikir, tidak ada salahnya berbagi dengan para karyawannya. Kasihan mereka, sudah dicaci maki oleh Dave. Lagipula, aku juga ingin mengenal satu per satu karyawan Dave.”

Namun pikirannya mendadak terhenti saat ia baru menyadari sesuatu. Orang yang mengirimkan video Dave saat marah adalah Lea.

“Tunggu!” Elia menghentikan aktivitasnya. “Aku terlalu fokus melihat videonya sampai tidak memperhatikan siapa pengirimnya. J-jadi Lea bekerja di perusahaan Dave?” gumamnya pelan sambil memastikan kembali kolom kontak tersebut. Setelah dipastikan benar, Elia segera menekan ikon gagang telepon untuk menghubungi sahabatnya itu.

Telepon pun berdering. Lea melihat nama pemanggil di layar ponselnya. Nick yang sedang memimpin rapat turut mendengar getaran tersebut.

“Angkat saja, barangkali penting,” ujarnya. Lea menundukkan sedikit kepala dan keluar dari ruangan.

“[Halo]”

“Ya, Elia. Ada apa?” jawab Lea.

“[Lea, jadi kau bekerja di perusahaan suamiku?]”

 tanya Elia dengan antusias.

“Benar. Aku menjadi sekretaris umum di sini,” ucap Lea dengan nada bangga.

“[Wah! Selamat ya. Aku benar-benar tidak menyangka, bahkan tidak sadar kalau kau yang merekam Dave secara diam-diam.]”

Lea tertawa kecil. “Terima kasih, Elia. Aku bangga bisa menjadi karyawan di sini. Oh iya, video yang kukirim tadi bukan bertujuan untuk menunjukkan sisi gelap Dave, tapi—”

“[Aku tahu, Lea. Lagipula Dave juga pernah meminta bantuanku dalam bisnis kosmetiknya. Dia bahkan memintaku untuk mengajari tim pemasaran membuat campaign yang baik.]”

Lea terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar haru. “Benarkah? Wah, ternyata Tuan Dave memiliki pemikiran yang sama denganku. Setahuku, kau memang ahli strategi di bidang penjualan. Aku yakin kau bisa membawa perubahan besar jika bergabung di sini.”

“[Oh iya, ngomong-ngomong, Dave tahu tidak kalau kau adalah sahabatku? Kau kan sempat datang ke pesta pernikahanku waktu itu.]”

“Sepertinya Tuan Dave tidak begitu mengenaliku,” jawab Lea. “Saat itu aku melihatnya terkesan cuek terhadap para tamu undangan yang hadir.”

“[Iya, kau benar… mungkin karena pernikahan ini terjadi karena perjodohan.]”

Lea jadi merasa tidak enak. Sebelum menikah, Elia memang pernah bercerita bahwa ia akan segera menikah karena perjodohan. Lea sempat mengira itu hanya gurauan, ternyata menjadi kenyataan.

“Elia, kalau kau ingin menceritakan sesuatu padaku, katakan saja. Aku siap mendengarkan semuanya,” ujar Lea lembut.

"[Baik, satu hal lagi Lea. Tolong jangan sampai Dave tahu kalau kau adalah sahabatku]"

Lea terdiam sejenak, jika Elia sudah berkata serius seperti itu berarti ada hal yang sangat serius. "Tentu, aku akan merahasiakan hal ini".

Keduanya melanjutkan obrolan hingga akhirnya Lea harus kembali ke dalam ruangan saat mendengar Nick memanggil namanya. Elia juga mengatakan jika ia akan mengirimkan makan siang untuk Dave, dan berbagi cake cokelat untuk tim marketing.

.....

Tanda pesan masuk muncul. Bianca melihat nama salah satu salon kecantikan yang mengingatkannya bahwa sudah waktunya untuk kembali melakukan perawatan.

“Astaga, aku hampir saja lupa,” ucapnya.

Ia pun segera bersiap. Cukup mencuci wajah dan menyikat gigi saja, karena setibanya di sana ia akan menjalani spa dan perawatan tubuh lainnya.

Di rumah sakit, James tengah diliputi kebahagiaan karena berhasil mendapatkan nomor ponsel Patricia. Alasannya sederhana yaitu untuk mengirimkan hasil rontgen yang sempat tertinggal, agar pihak rumah sakit tidak mencurigai apa pun.

James sebenarnya berencana mengajak Patricia makan siang bersama hari ini. Namun sayangnya, Patricia harus pergi ke salon untuk menjalani beberapa perawatan, sehingga rencana itu terpaksa dibatalkan.

Wajah James sempat terlihat murung karena penolakan halus tersebut. Namun seketika berubah ceria saat Patricia justru mengajaknya menonton film bersama setelah James menyelesaikan tugasnya.

“Yes!” serunya sambil melayangkan tinju ke udara. Ia begitu bersemangat, seolah baru saja memenangkan lotre.

Tanpa disadarinya, Albert dan Erik telah berdiri di ambang pintu, memerhatikan tingkahnya. Saat James menyadari kehadiran mereka, ia langsung salah tingkah. Wajahnya tampak gugup, apalagi kedua rekannya itu menatapnya dengan pandangan penuh arti.

“Meh! Sepertinya sedang ada yang berbunga-bunga nih,” goda Erik sambil melangkah mendekati James.

“Iya, seperti orang yang baru saja menang lotre… atau pacar baru?” timpal Albert ikut menambahkan.

Keduanya menatap James bersamaan, sambil menaik-turunkan alis dengan ekspresi penuh makna.

“Kalian ini selalu saja ingin tahu urusanku,” keluh James.

“Hey, James. Kita ini sudah berteman sejak masih duduk di bangku SMA. Jadi tidak ada yang bisa kau tutupi dari kami. Benar, kan, Albert?” ujar Erik percaya diri.

“Benar itu. Ayo, cepat katakan. Apa yang membuatmu terlihat sebahagia ini?” desak Albert.

James menghela napas pelan. Ia sudah pusing menghadapi tingkah dua orang di hadapannya. Selalu ingin tahu segalanya, seolah ia tak punya ruang pribadi. Namun bagaimanapun juga, mereka adalah orang-orang dengan solidaritas tinggi. Lebih dari sekadar teman bahkan mereka sudah seperti saudara.

“Aku akan nonton film nanti malam bersama Patricia,” akhirnya James membuka suara.

“Wah! Jadi kau sudah berhasil menghubunginya lagi?” seru Albert antusias. “Itu berkat saranku, kan?”

James mengangguk sambil tersenyum. “Iya, kau benar. Terima kasih atas sarannya.”

“Hm… kalau begitu sepertinya harus ada yang mentraktir makan siang hari ini,” ucap Erik sambil menyeringai. “Anggap saja pajak jadian.”

James menggeleng pelan, lalu tersenyum. “Karena hari ini aku sedang sangat bahagia, aku akan menuruti permintaan kalian. Mau makan di mana?” tanyanya sambil melipat kedua tangan di depan dada.

“Bagaimana kalau ayam panggang di kedai seberang? Kelihatannya enak,” usul Albert.

“Boleh juga,” sahut Erik setuju.

James pun mengangguk mantap. “Baiklah, kalau sudah diputuskan. Tunggu apa lagi? Kita ke sana sekarang,” ajaknya sambil melangkah lebih dulu.

Sama halnya dengan Elia, kini ia telah bersiap membawa cake buatan tangannya sendiri sebanyak tiga loyang. Ia membuat brownies cokelat, red velvet dan cheese cake. Akan terasa mubazir jika cokelat-cokelat dan bahan lainnya itu terlalu lama disimpan di dalam kulkas. Lebih baik dimanfaatkan, terlebih untuk orang-orang yang sedang lelah berjuang mempertahankan pekerjaan mereka.

Dengan mengendarai mobilnya seorang diri, Elia meninggalkan halaman rumah. Wajahnya tampak begitu antusias sejak tadi berada di dapur. Tidak ada kata lelah jika harus melakukan sesuatu untuk orang yang ia cintai. Ya, meski cintanya bertepuk sebelah tangan, hal itu tak pernah mengubah perasaan Elia untuk tetap peduli pada Dave.

1
Nnar Ahza Saputra
klw ada yg lebih baik dari Dave, mending tinggal kn..elia bisa hidup mandiri.. daripada bertahan yg ada hnya sakit hati,,
Vianny: Hallo Kak Nnar terimakasih sudah membaca tulisanku semoga suka ya dengan ceritanya. 🥰
total 1 replies
partini
hati seorang istri yg lemah lembut kaya lelembut ya gini, biar pun lihat dengan mata kepala nya suaminya lagi bercinta behhhh is ok is ok
partini: Thor komen buat karakter nya di novel bukan menerka" alurnya kalau tidak ya bagus bearti dia wanita yg BADAS 👍
total 2 replies
partini
coba nanti kalian tau kalau anakmu bermain lendir Weh,
Dave karakter sangat kuat sdngkn istri melohoyyy apa dia bias marah
kalau bisa Weh luar biasa lain ini Thor
kenal mama Reni ga
partini: author lama di sini Thor spesialis rumah tangga tiga orang ,tapi Endingnya hampir sama semua back together again
total 2 replies
Vianny
Iya😄
partini
itu tiga cogan siapa Thor, temennya Dave
lover♥️
nanti juga nyesel tuh Dave minta kesempatan yg sudah" kaya gitu bilang i love khilaf dll
Vianny: Pasti, karena penyesalan itu muncul selalu di akhir 🤭
total 1 replies
partini
oh betul ternyata bermain lendir weleh
uhhh istri sah dapat Otong sisa 🤭
Vianny: Xie xie 🥰🥰
total 3 replies
partini
menarik ini cerita,apakah setelah puas bermain lendir dengan Bianca dan sesuatu terjadi dia antar mereka berdua datang penyesalan di hati Dave dan ingin kembali ke istri bilang minta maaf ,,
semoga berbeda ini cerita
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!