Hallo besti 🖤, cerita ku ini tentang cewek bernama Syakila Almeera yang memiliki sifat ceria, aktif, ekspresif, lembut, dan penuh cinta bertemu dengan Agha yang memiliki sifat berbanding terbalik dengan Syakila.
mereka berdua di satukan oleh pernikahan paksa, dan banyak drama didalam pernikahan mereka, apakah Agha akan jatuh cinta dengan Syakila yang terus-menerus memperlakukan Agha dengan penuh cinta atau akankah Agha tetap terjebak di lingkaran bernama masa lalu. Maka saksikan dan baca terus cerita happiness ini yah, jangan lupa komen like dan follow untuk info selengkapnya, bay bay besti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kim Umai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25 Udah sah loh
Acara aqad nikah selesai tepat setelah ashar, karena rencana mereka akan pulang setelah habis sholat ashar untuk lanjut istirahat karena besok mereka akan ke sini lagi mengingat besok Sabtu dan itu hari weekend, jadi untuk jalanan bakalan renggang dan rencananya insyaallah resepsi pernikahan di adakan jam 09.00 sampai jam 16.00 karena akan di adakan di aula hotel yang masih satu wilayah dengan pesantren Nurul Huda milik kenalan kiyai Hasan, mungkin jaraknya hanya menempuh waktu 20 menit jika lancar.
Sebelum bubar, mereka pamit terlebih dulu dan tentunya di bungkusin makanan untuk di bawa pulang, melihat itu sontak Arabella ingin membawa nya dari tangan Umah, emang bule satu ini agak lain.
"Wow, this is really amazing, we are packing the food we ate earlier." (Wow, ini sungguh menakjubkan, kita di bungkusin makanan yang kita makan tadi). Ucap Arabella.
"That's right, at Aqila event we didn't get a gift like this." (Benar itu, waktu di acara nya Aqila kita tidak dapat bingkisan begini). Ucap Harding sambil melihat ke arah mbak Aqila.
"Well, that's because I'm the woman, like now and only the man receives a gift when he comes home." (Yah itu karena aku sebagai pihak perempuan, seperti sekarang ini dan hanya pihak laki-laki yang menerima bingkisan saat pulang). Jelas mbak Aqila ke sepupu nya.
"Oh, no wonder. But it's nice to have relatives from different countries, especially in Indonesia where the food is delicious and when there are events, they bring gifts." (Oh, pantas saja. Tapi enak juga yah punya saudara beda negara gini, apalagi di Indonesia udah makanannya enak semua dan ada acara di bawain bingkisan lagi). Ucap Arabella sambil memeluk bingkisan yang ada di tangannya dan tersenyum.
"Yes, we are lucky to have a family like umah and abah." (Iya, kita beruntung punya keluarga seperti umah dan abah). Ucap Harding yang berdiri di samping Arabella dan mendengar itu di anggukan kepala setuju oleh Arabella.
Kegiatan dan percakapan mereka bertiga tidak luput dari semua orang, karena mereka berbicara pakai bahasa inggris tadi suaranya lumayan kuat.
"Duh maaf yah Sarah gak enak jadinya, maklum yah mereka masih kultur syok sama budaya Indonesia." Ucap umah yang mengerti pembicaraan keponakan nya serta anaknya.
"Gak apa Aaliyah, malah senang akunya tau kalau mereka senang gitu, jadi merasa di hargai aku." Jelas umi Sarah dengan nada lembut dan senyuman.
"Alhamdulillah kalau kamu ngerti, maklum yah gini kalau punya keluarga bule."
"Hahaha, aku juga udah punya mantu bule, Erlan kan bule." Canda umi Sarah dan di balas kekehan sama umah.
"Hahaha, kalau Erlan mah udah krisis identitas dia, karena sering keluar negri jadi kadang suka lupa sama bahasa Indonesia, kalau ngomong sama abahnya malah campur Sunda, padahal kan umah nya jawa."
"Hahaha, bener juga. Tapi salut loh lihat Erlan bisa menguasai semua itu, bangga aku loh."
"Kamu yang mertuanya aja bangga apalagi aku yang ibu nya, tentu sangat bangga dong, anak gue itu."
"Hahahaha." Gelak tawa umah dan umi kompak membuat ketiga cewek di sebelah umah tadi melihat ke arah mereka.
"Umah ih, mbak tau kalau umah senang tapi kok ngeri ketawanya, Ibu juga." Ucap mbak Aqila dengan nada candaan.
"Panggil umi aja mbak, jangan ibu." Ucap Umi dan di anggukan kepala sama mbak Aqila.
"Kalau gitu kami pamit yah, makasih banyak loh udah menjamu kami sama makanan enak dan malah di bungkusin juga."
"Iya sama-sama, kami malah seneng banget karena kalian menikmati makanannya."
"Jangan kapok-kapok yah main ke rumah umi, duh bilangnya gimana ya Aaliyah, jadi keterbatasan bahasa kalau gini."
"Aman bentar yah, My sweet umi said that you shouldn't get bored of playing at her house, okay?."
"Okay umi, wait for our arrival again." Ucap Arabella yang mewakili mereka.
"Katanya, ok tunggu kedatangan kami lagi." Ucap umah mendadak jadi penerjemah.
"Rumah umi selalu terbuka untuk kalian anak-anak umi."
"Umi's house is always open to you umi children ."
"Wow, that's amazing. Thank you, umi." Ucap Arabella dan ikutin juga dengan yang lain mengucapkan terimakasih juga.
"Wow luar biasa, terimakasih umi." Ucap umah yang menerjemahkan sambil mengikuti nada semangat milik Catherine.
"Iya sama-sama." Jawab umi dengan senang.
"Kalau gitu kami sekeluarga pamit dulu yah, assalamualaikum warahmatullahi wa barakatuh."
"Waalaikumsalam warahmatullahi wa barakatuh, hati-hati di jalan yah."
Satu persatu mulai pamitan dengan salam sesama jenis dan di akhiri lambaian tangan semangat oleh Arabella, dan mbak Aqila, walaupun mereka dua sudah menikah dan punya anak kalau udah gabung udah lah asik sendiri dan heboh sendiri.
"Erlan, mau kemana kamu nak?." Tanya umah melihat Agha yang berjalan ke arah mobilnya.
"Yah pulang umah, mau kemana lagi?." Tanya Agha dengan wajah polosnya.
"Yah pamitan Erlan, ya Allah kamu ini yah."
"Kan udah umah."
"Sama istri kamu belum kan, umah lihat tadi kamu lewatin dia."
"Jangan ngelak, umah tau kamu bakalan ngelak lagi." Ucap umah lagi yang udah tau kalau Agha bakalan ngelak.
"Iya umah." Ucap Agha dengan nada lesunya dan berjalan enggan sambil menundukkan kepalanya. Percis sewaktu Agha kecil di marahin untuk tidur karena keterusan main PS, dan terjadi lagi sekarang hanya saja beda momennya.
"Nah gitu dong, yang ikhlas nak, gitu-gitu istri kamu loh."
"Iya umah, iya."
Agha berjalan ke arah rumah umi Sarah untuk berpamitan lagi, sampai di depan mereka bingung karena Agha balik lagi.
"Ada yang ketinggalan nak?." Tanya umi.
"Gak Bu, lupa pamit sama Syakila." Jawab Agha dengan nada pelan dan wajahnya senyum terpaksa, mengingat umah mengawasinya dari arah mobil.
"Kok ibu, panggil umi dong, kan sekarang udah jadi anak umi."
"Iya umi."
"Nah gitu dong, ini Syakila nya umi tinggal yah." Ucap umi yang menarik orang-orang yang ada di teras untuk masuk dan memberi waktu berdua untuk mereka.
"Saya pamit pulang dulu." Ucap Agha dengan wajah datar dan nada kesal.
"Kok gitu nada nya, yang bener dong kalau pamitan sama istrinya." Ucap Syakila yang sedikit berani sama Agha dan udah mulai terbiasa sama wajah datar serta lirikan mata tajam milik Agha.
"Berani sekarang kamu yah."
"Hanya sedikit sih, karna takut dosa juga kalau buat suami marah." Ucap Syakila sambil menunjukkan jari jempol dan telunjuk membentuk ukuran sedikit dan tak lupa dengan senyuman nya.
"Bagus kalau takut dosa."
"Emang A'a gak takut dosa?."
"Ya takut lah, udah kenapa bahas itu sih."
"Yaudah sok atuh pamitan yang bener." Ujar Syakila sambil tersenyum manis dan tangannya ke arah belakang dengan wajah sepenuhnya melihat wajah Agha, minus nya Agha malah melihat ke arah tanah.
"Saya pamit pulang yah."
"Yaudah hati-hati yah, salam dulu sini, mana tangan A'a."
Syakila meraih tangan Agha yang enggan di angkatnya, tapi tidak menolak waktu di sentuh Syakila, masih takut bro singa sedang ngawasin dari arah mobil, saat ini punggung Agha rasanya seperti terbakar karena di awasi dengan ketat oleh umah.
"Gak papa kali ini tanah yang A'a pandang, semoga lain kali wajah aku yah yang di pandang, udah sah loh jadi gak usah takut dosa."
Agha tidak memberi komenan apapun dan langsung jalan menuju mobil, melihat itu Syakila malah terkekeh dengan tingkah Agha suaminya yah sekarang udah jadi suami dong.
"Hati-hati A'a, jangan lupa istirahat yah." Ucap Syakila sedikit kuat dan lambaian tangan.
Mendengar itu Agha malah sedikit berlari ke arah mobilnya dan buru-buru membuka pintu mobil, melihat itu Harding memasang wajah aaa bingung tapi hanya sebentar setelah melihat ke arah rumah.
"No comment." Ucap Agha dan setelah itu dirinya sibuk main hp mengecek apakah email yang di minta udah di kirim oleh Lee yang ada di Han-guk dan Agha mulai sibuk dengan dunianya, sementara Harding menyetir dengan tenang sambil mengikuti mobil didepannya milik abah.
Waktu yang mereka butuhkan untuk ke hotel yang termasuk mewah di kota ini, hanya 15 menit mereka sudah sampai dan langsung masuk kamar masing-masing, tentunya karena Agha yang jomblo jadi kamar yang di pesannya ukuran kecil karena hanya malam ini saja sebab kamar khusus pengantin yang udah di siapkan udah di dekor dan di pantau oleh para tetua tadi pas baru datang ke hotel ini.
Agha langsung mandi dan membaca ulang laporan yang rutin di kirim Helmi, Agha larut dalam kerjaannya dan tak terasa azan ashar udah berkumandang, langsung saja Agha siap-siap untuk sholat ke mushola yang ada di hotel ini bersama para laki-laki.
"Yuk nak, dah azan nih."
"Iya bah, lantai berapa mushola nya?." Tanya Agha saat mereka sudah di dalam lift.
"Lantai 10, tadi abah udah tanya sama resepsionis nya."
"Don't be nervous about tomorrow, Opa believes in you and will always be proud of your grandchildren." (Jangan gugup untuk besok yah, opa percaya sama kamu dan akan selalu bangga sama cucu-cucu opa). Ucap opa sambil menepuk bahu Agha pelan dan di balas senyuman serta anggukan kepala saja, tak lama mereka sampai di mushola dan melaksanakan sholat ashar berjamaah.
Siap sholat, mereka langsung masuk ke kamar masing-masing karena rencana habis isya dan makan malam, mereka akan ke arah aula hotel yang udah di sewa untuk resepsi besok, tentunya minus Agha sebab Agha lebih milih meeting dengan client nya.