Devan, ketua geng motor yang disegani, tak pernah menyangka hatinya akan terpikat pada Lia, gadis berkacamata yang selalu membawa setumpuk buku. Lia, dengan dunia kecilnya yang penuh imajinasi, awalnya takut pada sosok Devan yang misterius. Namun, takdir mempertemukan mereka dalam sebuah kisah tak terduga, membuktikan bahwa cinta bisa tumbuh di antara dua dunia yang berbeda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rina Casper, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Secangkir Kopi dan Rahasia di Balik Jaket Kulit
Setelah drama di koridor kampus yang membuat gempar seluruh fakultas, suasana di dalam mobil—atau lebih tepatnya, di atas motor besar Devan—terasa sangat berbeda bagi Lia. Ia duduk di kursi belakang motor Harley-Davidson milik Devan, tangannya memegang erat ujung jaket kulit pria itu. Angin menyambar wajahnya, membuat rambut cokelatnya yang berantakan semakin tak keruan, namun untuk pertama kalinya, Lia tidak peduli pada penampilannya. Ada sensasi kebebasan yang aneh saat ia melihat gedung-gedung kampus menjauh di spion.
Devan memarkirkan motornya tepat di depan "Literary Brew", kafe kecil yang direkomendasikan Lia kemarin. Kafe itu tampak kontras dengan motor garang Devan; jendela-jendela kayunya dihiasi tanaman merambat dan papan tulis kapur bertuliskan menu hari ini dengan tulisan tangan yang cantik.
Begitu mereka masuk, bunyi lonceng di atas pintu menyambut mereka. Devan melepas bandananya, membiarkan rambut hitamnya jatuh sedikit berantakan di dahi. Ia memilih meja paling pojok, tempat yang terlindung dari pandangan orang banyak.
"Duduklah, Lia," kata Devan. Suaranya sudah tidak sedingin saat di kampus tadi. "Pesan apa pun yang kamu mau. Aku yang bayar."
"Terima kasih, Devan. Tapi sebenarnya kamu tidak perlu melakukan itu tadi... di kampus," bisik Lia sambil memperbaiki letak kacamatanya yang sedikit miring. "Sekarang semua orang pasti membicarakanku."
Devan menyandarkan punggungnya ke kursi kayu, menatap Lia dengan intens. "Mereka membicarakanmu karena mereka takut. Dan itu bagus. Orang-orang seperti Sarah hanya berani pada mereka yang diam. Jika mereka tahu kamu punya 'perlindungan', mereka akan berpikir seribu kali sebelum menjatuhkan bukumu lagi."
Seorang pelayan datang, memberikan menu. Lia memesan Caramel Macchiato, sementara Devan hanya memesan kopi hitam tanpa gula.
"Kenapa kamu datang ke kampusku?" tanya Lia setelah pelayan pergi. "Kamu bukan mahasiswa di sana, kan?"
Devan terkekeh, suara rendahnya membuat jantung Lia berdesir. "Bukan. Aku tidak cocok dengan bangku kuliah yang membosankan. Aku hanya sedang lewat dan teringat kamu bilang punya jadwal kuliah hari ini. Aku ingin memastikan apakah rekomendasi kafemu benar-benar bagus."
Lia terdiam sejenak. Ia tahu ada alasan lain. Devan sepertinya punya insting yang kuat tentang kapan seseorang dalam bahaya.
"Tato itu..." Lia menunjuk ragu-ragu ke arah lengan Devan yang menyembul dari balik jaket yang kini terbuka. "Apa itu simbol gengmu?"
Devan menatap tatonya—gambar sayap yang melingkari mesin motor dengan aksen duri mawar. "Ya. Ini simbol 'Black Roses'. Kami bukan sekadar geng motor yang suka berkelahi, Lia. Kebanyakan dari kami adalah orang-orang yang dibuang oleh keluarga atau masyarakat. Kami membangun keluarga kami sendiri di jalanan."
"Tapi kenapa namanya 'Roses'?" tanya Lia penasaran.
"Karena bunga mawar punya duri untuk melindungi keindahannya," jawab Devan filosofis. Matanya menatap tajam ke mata Lia. "Sama seperti kamu. Kamu punya dunia yang indah di dalam kepalamu, tapi kamu tidak punya duri untuk melindungi dirimu sendiri. Itulah kenapa aku ada di sini."
Pipi Lia memerah sempurna. Ia menyesap kopinya yang baru datang untuk menyembunyikan kegugupannya. "Aku hanya gadis biasa, Devan. Aku suka buku, aku takut pada keramaian, dan aku... culun, seperti kata mereka."
"Culun itu hanya label yang dibuat orang-orang bodoh," sela Devan tegas. "Bagiku, kamu menarik. Kamu tidak berpura-pura menjadi orang lain. Di dunia tempatku hidup, semua orang memakai topeng. Kamu? Kamu sejujur halaman buku yang kamu baca."
Tiba-tiba, ponsel Devan bergetar hebat di atas meja. Devan melihat layarnya, dan raut wajahnya mendadak berubah keras. Otot rahangnya mengencang.
"Ada masalah?" tanya Lia cemas.
"Hanya urusan kecil di bengkel," jawab Devan singkat, namun Lia tahu itu bohong. Devan segera berdiri, mengenakan kembali bandananya. "Lia, aku harus pergi sekarang. Ada sesuatu yang mendesak."
"Oh, baiklah. Hati-hati, Devan."
Devan berhenti sejenak, lalu merogoh saku jaketnya. Ia mengeluarkan sebuah gantungan kunci kecil berbentuk miniatur motor berwarna hitam legam. Ia meletakkannya di telapak tangan Lia.
"Simpan ini. Kalau kamu dalam masalah di kampus atau di mana pun, tunjukkan ini pada siapa pun yang memakai jaket dengan simbol mawar hitam. Mereka akan tahu kamu adalah tanggung jawabku," kata Devan serius.
Sebelum Lia sempat bertanya lebih lanjut, Devan sudah melangkah keluar. Suara mesin motornya yang menggelegar kembali terdengar, meninggalkan Lia yang terpaku di kursinya dengan jantung yang masih berdegup kencang. Ia menatap gantungan kunci itu.
Berat dan dingin, namun entah mengapa terasa seperti jimat pelindung yang paling berharga.
Lia menyadari satu hal: berteman dengan Devan bukan hanya berarti mendapatkan perlindungan, tapi juga masuk ke dalam dunia yang penuh bahaya dan rahasia. Namun, saat ia mengingat cara Devan menatapnya tadi, Lia tahu ia tidak ingin kembali ke dunianya yang sepi.