NovelToon NovelToon
Menantu Bar-bar Itu Aku

Menantu Bar-bar Itu Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Ketos / Selingkuh / Mengubah Takdir / Suami Tak Berguna / Ibu Mertua Kejam / Chicklit
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Mama Ainun

menikah dengan laki-laki yang masih mengutamakan keluarganya dibandingkan istri membuat Karina menjadi menantu yang sering tertindas.
Namun Karina tak mau hanya diam saja ketika dirinya ditindas oleh keluarga dari suaminya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 24. perlakuan Vania

Hampir seminggu berlalu sejak Karina mulai bekerja sebagai pengasuh Aldo. Selama itu, Karina telah berusaha keras membantu Vania agar bisa dekat dengan Aldo. Namun, semua upaya Karina ternyata sia-sia. Aldo masih belum bisa menerima Vania sebagai calon mamanya, dan hubungan mereka tetap tidak bisa dekat.

Seperti saat ini, setelah Aldo pulang sekolah, Karina mengajaknya ke mall untuk bertemu dengan Vania. Sebelumnya, Karina sudah meminta izin Andrew, dan Andrew memperbolehkan Vania mendekati Aldo melalui Karina sebagai perantara.

Aldo memandang Karina dengan mata berbinar. "Mama, aku mau main Timezone, ya," kata Aldo.

Karina tersenyum dan menganggukkan kepala. "Boleh, Aldo. Kamu bisa main sepuasnya di Timezone, kok."

Aldo berjingkrak senang, matanya berbinar dengan kegembiraan. "Horeee..." teriaknya dengan suara yang keras dan penuh semangat.

Karina dan Aldo langsung menuju area Timezone, tempat yang penuh dengan mesin permainan dan suara-suara riuh. Sebelumnya, Karina sudah mengirimkan pesan kepada Vania, memberitahukannya bahwa mereka berdua akan berada di Timezone, sehingga Vania bisa menemukan mereka dengan mudah.

Aldo berlari ke arah Karina, matanya berbinar dengan kegembiraan. "Mama... Mama, aku mau main itu!" katanya sambil menunjuk ke salah satu permainan yang menarik perhatiannya, Whack a Mole, sebuah permainan yang membutuhkan ketepatan dan kecepatan untuk memukul kelinci-kelinci yang muncul dari lubang.

"Ayo..." seru Karina dengan senyum hangat, mengajak Aldo untuk segera memulai permainan.

Aldo dengan semangat dan gembira memukul kelinci-kelinci yang muncul dari lubang, sementara Karina berdiri di sampingnya, terus menyemangati dan memberikan dukungan dengan kata-kata positif, seperti "Ayo, Aldo Kamu bisa! Pukul yang kuat!"

Setelah bosan bermain Whack a Mole, Aldo beralih ke permainan basket, mencoba melempar bola ke dalam keranjang. Namun, tak puas dengan permainan itu, Aldo kembali mengajak Karina untuk mencoba permainan lain, yaitu Pump It Up. Dengan semangat, Aldo menarik tangan Karina untuk bergabung dengannya menari dan menginjak tombol-tombol yang bercahaya.

"Aldo, Tante capek, nih. Tante butuh istirahat sejenak," kata Karina dengan senyum lelah, sambil mengusap keringat di dahinya.

Aldo pun mengikuti Karina ke tempat duduk yang nyaman, di mana mereka bisa beristirahat sejenak setelah bermain.

Saat sedang istirahat dan menikmati minuman, tiba-tiba Vania muncul dengan senyum lebar dan berkata, "Wah, sedang main, ya? sepertinya seru sekali!"

Karina dan Aldo sama-sama menoleh ke arah Vania. "Tante Vania, kenapa Tante ada di sini?" tanya Aldo dengan nada penasaran.

Vania mendekat dengan senyum hangat yang tidak sedikit pun pudar dari bibirnya. "Tentu saja Tante mau bertemu dengan Aldo dan ikut bermain bareng sama kalian," katanya sambil memeluk Aldo.

Namun seperti biasa, Aldo selalu menolaknya dan segera melepaskan pelukan Vania dengan sedikit menggeliatkan tubuhnya. "Tante, jangan peluk-peluk!" katanya sambil melangkah mundur dan menatap Vania dengan mata yang melotot karena merasa tidak nyaman.

"Aldo, jangan bersikap seperti itu sama Tante Vania!" kata Karina dengan nada yang sedikit tegas, sambil menatap Aldo dengan mata yang meminta agar dia bersikap lebih sopan.

"Ayo, segera minta maaf sama Tante Vania!" kata Karina dengan nada yang tegas.

"Tapi, Ma..."

"Aldo!" Karina memotong perkataan Aldo, menandakan bahwa dia tidak mau mendengar alasan Aldo lagi.

"Maaf, Tante..." ucap Aldo, kemudian menundukkan kepala.

"Tante maafkan, kok. Ayo, mau main apa lagi sekarang?" tanya Vania dengan nada yang lebih ceria, berusaha untuk mengalihkan perhatian.

Aldo menggelengkan kepala, "Tante Vania, kalau mau main sendiri saja. Aku sama mama Karina sudah capek. Mama, kita pulang saja, ya, aku capek."

Karina menoleh ke arah Vania, dan terkejut melihat wajah Vania yang terlihat sangat kecewa, dengan mata yang terlihat sedih dan bibir yang terkatup rapat.

"Emt, Aldo, bagaimana kalau kita makan dulu," ajak Karina mencoba untuk mengulur waktu.

"Kita makan di rumah saja, Ma."

Karina menatap Aldo dengan mata yang memancarkan kekecewaan. "Yah, padahal Tante sudah sangat lapar. Tapi yasudah kalau Aldo tidak mau makan dulu."

"Yasudah, kita makan dulu saja, Ma," ucap Aldo berubah pikiran.

Senyum Karina langsung mengembang, menandakan bahwa dia lega karena Aldo mau berubah pikiran. "Nah gitu dong. Aldo mau makan apa?" tanyanya dengan nada yang lebih ceria.

"Ayam saja, Ma," jawab Aldo dengan nada yang sedikit datar, tapi mata yang bersinar menandakan bahwa dia mulai bersemangat.

"Oke, let's go kita cari makan. Mbak Vania, ayo kita cari makan bareng," ajak Karina dengan senyum yang ramah dan nada yang mengundang, berusaha untuk memasukkan Vania ke dalam suasana yang lebih ceria.

Vania pun mengangguk pelan, masih dengan ekspresi yang sedikit murung, kemudian berjalan mengikuti Karina dan Aldo yang berjalan di depannya dengan langkah yang santai.

Akhirnya, setelah berjalan beberapa saat, mereka memutuskan untuk makan di salah satu stand ayam goreng tepung yang terlihat menggugah selera, dengan aroma yang lezat dan suara yang riuh dari pengunjung lainnya.

"Aldo, mau pesan apa?" tanya Vania dengan senyum yang lembut dan nada yang hangat, mencoba untuk mendekati Aldo lagi untuk mengambil hatinya.

"Mama, aku mau paha bawah saja," kata Aldo dengan nada yang polos. Bukannya menjawab Vania, Aldo malah langsung berbicara kepada Karina, seolah-olah Vania tidak ada di sana.

Karina menghela napas panjang, merasa frustrasi dan kecewa karena usaha untuk mendekatkan Vania dan Aldo yang telah dia lakukan dengan sabar dan telaten, lagi-lagi sepertinya akan berakhir dengan kegagalan.

Setelah memesan makanan, mereka bertiga berjalan-jalan di sekitar stand makanan, mencari meja kosong yang bisa mereka tempati untuk menikmati makanan mereka.

"Aduh..." Karina pura-pura merintih sambil memegang perutnya, mencoba untuk menarik perhatian Aldo dan Vania.

"Mama kenapa?" tanya Aldo dengan nada yang khawatir.

Sementara Vania juga bertanya dengan nada yang sama, "Karina, kamu kenapa?" mereka berdua bertanya secara bersamaan, dengan wajah yang penuh kekhawatiran.

"Aldo, sepertinya Tante harus ke toilet sebentar. Kamu di sini dulu ya, sama Tante Vania."

"Nggak mau, aku ikut Mama saja!"

"Tidak boleh, kan itu toilet wanita. Tante cuma sebentar, kok," kata Karina dengan nada yang tegas tapi tetap lembut, berusaha untuk meyakinkan Aldo. Tanpa menunggu jawaban dari Aldo, Karina langsung berpaling dan berjalan cepat menuju toilet wanita, meninggalkan Aldo yang masih memandangnya.

Vania yang mulai paham dengan kesempatan yang diberikan Karina, langsung mendekati Aldo dengan senyum yang hangat dan mata yang penuh kasih sayang.

"Aldo, boleh Tante bertanya?" Aldo pun hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban.

"Aldo, kenapa kamu tidak suka dengan Tante Vania? Sedangkan sama Tante Karina, kamu terlihat sangat sayang dan dekat sekali."

"aku tidak mau Tante Vania menjadi mama untukku," jawab Aldo dengan jujur.

"kalau boleh tahu, alasannya apa?"

"Aku cuma mau mama Karina, bukan Tante Vania."

"Aldo, jaga mulutmu!" Vania membentak dengan nada yang tinggi dan marah, matanya membelalak dengan kemarahan. Tangan Vania terangkat, siap menamp4r pipi Aldo.

Dan plak... Tangan Vania berhasil mendarat di pipi Aldo dengan suara yang keras, membuat Aldo terkejut dan merintih kesakitan. Bibir Aldo berdarah, dan matanya memanas dengan air mata yang siap jatuh. Aldo memandang Vania dengan ekspresi yang terkejut dan sakit, tidak percaya bahwa Vania bisa melakukan hal seperti itu.

Karina yang baru saja datang dari toilet, langsung terkejut melihat Aldo yang sedang menangis dengan bibir berdarah. Matanya langsung memandang Vania dengan ekspresi yang marah dan kecewa. "Mbak Vania, apa yang Mbak Vania lakukan? Kenapa menamp4r Aldo?" tanya Karina dengan nada yang tinggi dan marah, suaranya bergetar dengan kemarahan.

Bersambung...

1
ika ramadani
Sangat menarik.
Sulfia Nuriawati
cm istri bodoh yg d selikuhi msh trma, apa pun alasannya kalo berbahi hati jg body g bakalan nyaman, so mending ngalah demi kewarasan mental
mama Ainun: nanti ada waktunya kak🙏🏻
total 1 replies
aries
ceritanya menarik
mama Ainun: terimakasih banyak kak
total 1 replies
aries
🤣🤣🤣 makan tuh ikan cue
aries: enak banget, tapi namanya orang kurang bersyukur ya jadi nggak enak😌
mama Ainun: 🤣🤣🤣 ikan cue juga enak kak
total 2 replies
aries
ati2 Karina, pelakor jaman sekarang ngeriw
mama Ainun: betul kak
total 1 replies
aries
aduh, mertua begini enaknya diapain ya.
aries
jadi Karina selalu salah 😌
mama Ainun: tidak pernah benar kak
total 1 replies
wong jowo
Terima saja Karina. kan lumayan 10 JT, aku juga mau.
mama Ainun: 10 juta, kapan lagi ya, kak.
total 1 replies
wong jowo
harusnya Andrew bisa lebih dewasa. kasihan Aldo.
wong jowo
ceritanya bagus.. menantu tidak bisa ditindas begitu saja 👍👍👍
mama Ainun: terimakasih banyak sudah mampir kak🙏🏻
total 1 replies
wong jowo
Double up thor
mama Ainun: ditunggu ya kak
total 1 replies
Sena Kobayakawa
Semangat terus penulisnya!
mama Ainun: terimakasih banyak kk semangatnya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!