Nusantara Alam Lestari, seorang wanita yang tak percaya cinta sejati. Suatu ketika, ia tak sengaja bertemu dengan seorang pria bernama Langit di Kala Sore di sebuah pinggir pantai di pulau Dewata.
Mereka berkenalan dan terlibat obrolan seru. Namun siapa sangka alkohol yang menemani obrolan mereka, membuat mereka hilang kendali dan membuat mereka terlibat cinta satu malam.
Keesokan paginya mereka terbangun oleh ketukan kencang di kaca mobil Kala, para nelayan setempat memergoki mereka berduaan di mobil tanpa busana. Di tengah kepanikan karena penggerbegan itu, Tari berhasil melarikan diri dari amukan para nelayan. Ia bisa kembali ke hotelnya dengan selamat dan terbang ke Jakarta meninggalkan Kala yang harus menghadapi amukan masa seorang diri.
Selang lima tahun kemudian Kala bertemu dengan dua anak kembar yang begitu mirip dengan dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 25
Banyaknya hal yang harus Tari selesaikan bersama pengacaranya dan di tambah pesawatnya yang delay membuat Tari baru tiba di kediamannya pukul 23.30. Begitu turun dari taxi, Tari melihat mobil Kala terparkir di halaman, artinya pria itu belum pulang.
Suasana sunyi menyelimuti kediamannya saat Tari membuka pintu depan, ia menduga seluruh penghuni rumahnya sudah tertidur lelap termasuk kedua anaknya. Sepintas Tari melirik ke arah kamar tamu yang berada di sebelah ruang tamu, ia langsung menebak jika Kala tidur di sana, kemudian Tari melangkahkan kakinya menuju kamar si kembar untuk mengecek kondisi mereka.
Alangkah terkejutnya Tari ketika mendapati Kala tengah tidur bersama anak-anaknya. "Rupanya dia ada disini," gumamnya sembari mengendap-endap menuju tempat tidur.
Ketika melewati meja belajar, Tari melihat dua piala berjejer di sana. Winner - Making Cards, 1st runner up - Making Cards. Tulisan di masing-masing piala tersebut. Ia begitu bahagia dan bangga kedua putranya memenangkan lomba di sekolah mereka, ia sampai tak sabar menunggu besok pagi untuk mendengar cerita keseruan acara pagi tadi.
Tari menaruh kembali piala-piala tersebut, dan melangkah lagi. Hatinya tersentuh melihat kedua putranya memeluk Kala dengan erat, kedekatan alami seorang ayah dengan kedua putranya yang bahkan tidak pernah ia rasakan.
Tari menarik kartu ucapan dari dekapan Kala dengan hati-hati agar tidak membangunkan pria itu. Lagi-lagi hati Tari di buat tidak karuan membaca tulisan di dalam kartu tersebut, ia menghembuskan napas berat kemudian mencondongkan tubuhnya untuk mencium Lingga, lalu Lintang yang kepalanya menempel di ketiak Kala.
Tari terperanjat ketika Kala membuka matanya. "Apa aku tidak mendapatkan ciuman selamat tidur juga?" bisik Kala sembari memajukan bibir.
"Jangan mimpi!" Tari menaruh kartu ucapan tadi di bibir Kala, kemudian berbalik dan melangkah menuju pintu. Namun langkahnya terhenti ketika Kala menahannya.
"Aku ingin bicara denganmu," ucap Kala dengan serius, kemudian dengan sangat hati-hati ia beranjak dari tempat tidur.
Tari memilih untuk mengobrol di dapur sembari ia mengisi perut, sebab sejak siang tadi dirinya belum makan apa pun.
"Duduklah!" perintah Kala dengan suara yang lembut namun terdengar tegas. "Biar aku saja yang menyiapkan makanan untukmu." Ia berjalan menuju kompor, sementara Tari menuruti perintah Kala duduk di mini bar sembari mengawasi Kala, wanita itu ragu dan takut Kala mengacak-acak dapurnya seperti foto yang dikirimnya pagi tadi saat membuat pancake di sekolah. "Kau tidak akan membuatkan pancake gosong untukku kan?"
"Tadi sore aku beli soto untukmu." ia menyalakan kompor untuk memanaskan kuah soto, kemudian ia memasukan empal ke dalam microwave, meracik isian soto sembari membuat teh hangat.
Baru sehari Kala menjaga Lintang dan Lingga, pria itu seperti sudah hapal betul dengan seluk beluk kediaman Tari. "Bagaimana urusanmu di Bali?" tanyanya sembari menaruh teh di hadapan Tari.
"Lancar, hanya tadi pesawaku delay dua jam dan aku lupa membawa charger sehingga aku tidak bisa memberi kabar." Tari menatap teh itu lekat-lekat.
"Itu hanya teh biasa bukan alkohol, bukankan tadi kau lihat sendiri saat aku membuat teh?" ucap Kala, ia berbalik untuk mematikan kompor. "Kalau pun kejadian lima tahun lalu akan terulang, aku mau kita melakukannya tidak dalam keadaan mabuk," gumamnya.
"Bicara apa kau?" Tari masih bisa mendengar meski Kala bicara dengan pelan.
"Tidak ada," Kala mengelaknya, ia menuangkan kuah soto ke mangkuk yang sudah berisi mie dan lainnya, kemudian mengeluarkan empal dari microwave, barulah ia sajikan ke hadapan Tari.
"Ayo makanlah!" Kala memutar dan duduk di samping Tari, ia memperhatikan raut wajah lelah dengan make up yang hampir sudah tidak terlihat, namun baginya Tari masih terlihat sangat cantik. "Kau pasti lelah sekali."
"Ya, begitulah." Ia menyendokan makanan ke dalam mulutnya. "Terima kasih, sotonya enak sekali."
Kala tersenyum, memberikan Tari kesempatan untuk menghabiskan makananya.
"Aku ingin...." ucap Kala dan Tari bersamaan setelah Tari menghabiskan makanannya.
"Kau duluan," ucap Kala, mempersilahkan Tari untuk bicara lebih dulu.
"Tidak, kau saja. Kau kan yang tadi ingin bicara," tolak Tari.
"Ladies first," Kala meminta Tari untuk duluan.
"Baiklah," Tari mengalah. "Aku ingin mengucapkan terima kasih kau sudah menjaga anak-anak seharian ini, meskipun tadi siang kau menipuku." Sang pengasuh melaporkan kepada Tari jika Kala mengajak anak-anaknya bermain di mall.
Kala tertawa mengakuinya. "Hanya reward kecil karena mereka memenangkan lomba," ucap Kala, ia kemudian menatap Tari lekat-lekat. "Aku sama sekali tidak keberatan menjaga anak-anak, toh mereka anakku juga."
Kala memberanikan diri untuk meraih tangan Tari dan menggengamnya. "Tari, aku minta maaf yang sedalam-dalamnya atas apa yang telah aku perbuat," ucapnya dengan sungguh-sungguh dari hatinya yang paling dalam. "Izinkan aku menebus semuanya."
Tari masih belum mengerti dengan pasti maksud Kala, tapi ia bisa melihat apa yang di katakan pria itu benar-benar tulus.
"Mari kita mulai semuanya dari awal," lanjut Kala. "Aku ingin kita menikah dan membesarkan anak-anak bersama-sama."
Tari terdiam, ia sama sekali tidak terkejut dengan ajakan Kala untuk menikah sebab dari pertama kali Kala mencurigai Lintang dan Lingga adalah anaknya, Tari sudah menduga Kala menginginkan mereka.
Tari tersenyum. "Kita tidak perlu menjalin hubungan apapun, apa lagi sampai harus menikah hanya karena kau menginginkan mereka," ucapnya dengan santai. "Kau bisa datang kapan pun kau mau untuk menengok mereka, tapi aku minta kau jangan memberitahu mereka jika kau ayah kandung mereka. Karena aku tidak mau mereka bersedih dan mencarimu ketika nanti kau sudah bosan."
"Bosan? Apa maksudmu?" Kala hampir tidak bisa terima dengan apa yang di ucapkan oleh Tari. "Aku tidak mungkin bosan dengan anakku sendiri."
Tari tersenyum sinis. "Suatu saat kau akan menemukan wanita yang kau cintai, kemudian kalian menikah dan punya anak. Di situ kau akan merasa bosan dengan Lingga dan Lintang. Kau akan melupakan mereka, dan sibuk mengurus keluarga barumu."
Kala menggelengkan kepalanya, ia tak percaya akan sejauh itu Tari berpikir. "Apa kau mengira aku ingin menikah denganmu hanya karena anak-anak? Asal kau tahu Tari, selama lima tahun ini aku sudah mencarimu. Setiap ada kesempatan ke Bali. Aku usahakan berkeliling untuk menemukanmu."
Reaksi Tari benar-benar di luar dugaan Kala, wanita itu justru menertawainya. "Haruskah aku percaya dengan dongengmu?" tanyanya seolah mengejek. "Sudahlah, aku tidak sebodoh ibuku. Aku tidak akan pernah mempercayai ucapan pria, apalagi pria yang dengan sengaja mengajak seorang wanita minum hingga mabuk kemudian mengambil kesempatan menidurinya. Bukan tidak mungkin setelah atau sebelum kejadian itu kau melakukannya pada wanita lain. We never know."
Darah Kala seolah mendidih, tuduhan Tari terhadapnya benar-benar di luar batas. Tapi emosinya seketika padam ketika ia mendengar suara anak-anaknya. "Mommy sudah pulang?" mereka berdua berhambur memeluk Tari.
Happy ending...😍😍
rumput cari kuda.