NovelToon NovelToon
Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Menjadi Selingkuhan Suamiku 2

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Diam-Diam Cinta / Tamat
Popularitas:952.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: Andreane

Pasca kematian sang ibu, Naina mencoba melakukan apa yang di wasiatkan padanya di secarik kertas. Ia memberanikan diri mencari sahabat ibunya untuk meminta pertolongan.

Tak di sangka, pertemuan itu justru membuatnya harus menikahi pria bernama Ryusang Juna Anggara, seorang dokter anak yang memiliki banyak pasien.

Arimbi yang sudah bersahabat sejak lama dengan ibunya, begitu yakin jika pilihannya adalah yang terbaik untuk sang putra satu-satunya.

Namun, perjodohan itu justru membuat Naina harus menjadi selingkuhan suaminya sendiri.

Lantas bagaimana dia menjalankan dua peran sekaligus?

Sampai kapan wanita dengan balutan pakaian syari'inya harus menjadi wanita simpanan untuk suami yang tanpa sadar sudah ia cintai?

Menjadi selingkuhan Suamiku 2, akan menyelesaikan kisah mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andreane, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25

"KAMU MENIPUKU, JANI!" Sentaknya dengan tatapan menghujam.

Aku beringsut takut, sembari menutupi tubuhku dengan selimut.

Pria itu lantas keluar dari kamar, membuat ku sedikit bisa bernafas lega. Namun ketenanganku ini hanya sesaat, sebab di menit berikutnya, mas Ryu kembali dengan membawa sebilah pisau di tangan kanannya.

Wajahnya merah menyiratkan sebuah amarah besar, matanya juga sudah membulat melebihi batas maksimal.

Ku teguk salivaku dengan harapan bisa menyingkirkan rasa takut.

"M-mas mau apa?" Tanyaku panik.

Ketika mas Ryu ambil langkah mendekat, ketakutanku kian bertambah.

"Kamu mau tau apa yang akan ku lakukan menggunakan pisau ini" Ia melirik benda tajam yang ia pegang sesaat, lalu kembali menatapku.

"A-apa maksud, mas?" Aku tergagap, sungguh ini di luar dugaan. Mas Ryu bisa seganas itu.

"Aku akan melenyapkanmu, Jani! Oops, Naina!"

"Sadar mas, aku istrimu"

Dia tersenyum smirk. "Istri?" Nadanya meninggi membuat tubuhku tersentak karena kaget.

"Aku tidak pernah mencintaimu, kamu adalah hal terburuk yang pernah ada di hidupku, Naina"

"Tenanglah mas, kita bisa bicara baik-baik"

"Bicara baik-baik kamu bilang? Kamu sudah menipuku, kamu mempermainkan perasaanku, kamu juga menyakiti"

"Aku bisa jelaskan. Aku juga punya alasan kenapa aku melakukan ini"

"Kamu tidak perlu menjelaskan, karena aku hanya perlu melenyapkanmu" Usai mengatakan itu, dengan gerak cepat mas Ryu langsung menancapkan pisau di perutku.

"Jangaaann!" Seketika aku terbangun dengan nafas terengah dan peluh bertebaran di dahi hingga leher.

Begitu aku membuka mata, mas Ryu ada di depanku dengan raut panik.

"Jani, kamu kenapa sayang!"

"M-mas Ryu!"

"Ada apa? Kamu mimpi?"

"A-aku!"

"Mimpi apa?" Tanya mas Ryu lalu duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur merangkul bahuku.

Ku hela nafas sembari mengontrol detakan jantungku.

"Aku mimpi buruk"

"Tenang, itu hanya mimpi" Mas Ryu mengusap bahuku pelan.

"Sebentar aku ambilkan air"

Bersamaan dengan mas Ryu berdiri, tanganku meraih pergelangan tangannya.

"Apa semua akan baik-baik saja?" Tanyaku menatap intens wajah tampan suamiku.

"Kamu pasti khawatir soal Naina sampai-sampai kebawa mimpi. Iya kan?"

"A-aku_"

"Jangan di fikirkan!" Ucapnya dengan bibir terulas, satu tangannya mengusap puncak kepalaku lembut.

"Tunggu sebentar, aku ambilkan minum" Imbuhnya.

"Nggak usah, aku akan ambil sendiri"

"Tapi kamu baik-baik saja, kan?" Selidiknya.

"Aku baik-baik saja"

Aku dan mas Ryupun bersama-sama melangkah menuju dapur.

Ada banyak hal yang aku sembunyikan, yang akhirnya malah membuatku ketakutan sendiri.

Mengenai mimpiku, kira-kira apa yang akan mas Ryu lakukan jika dia mengetahui kalau Jani itu Naina? Apakah akan membunuhku seperti di mimpiku.

Orang bisa nekad jika emosinya tak terkendali, bukan?

Mendesah pelan, ku usap mukaku dengan kedua tangan. Saat langkah kami sudah berada di dapur, mas Ryu langsung menuangkan air ke dalam gelas lalu menyerahkannya padaku.

"Orang-orang sudah pada pulang?" Tanyaku setelah meneguk air pemberian mas Ryu.

"Sudah sejak tadi"

"Kenapa tidak membangunkanku?"

"Buat apa?" Katanya seraya menarik kursi lalu duduk. "Lagi pula kamu tidur sangat pulas, nggak tega kalau harus di bangunin"

Mendadak aku memicingkan mata, menatap mas Ryu dengan curiga.

"Apa mas terus menatapku saat aku tidur?" Tanyaku menyelidik.

"Hmm, dan kamu cantik"

Aku berdehem meresponnya. Wajahku pasti memerah mendapat pujiannya, dan mustahil kalau mas Ryu nggak menyadari perubahan wajahku yang tersipu.

Terselip rasa takut juga.

"Tapi wajahmu sepertinya memang nggak asing" Ujarnya membuat dadaku persekian detik bergetar kencang.

"Kita kan memang sudah beberapa kali bertemu, kita juga sudah sangat dekat, dan bahkan sudah menikah, jelas wajahku nggak asing"

"Kamu benar" Pria itu menatapku.

Karena malu campur takut, kepalakupun reflek tertunduk, kemudian kembali meneguk air.

"Jam berapa besok mas pulang?" Tanyaku setelah ada jeda hampir satu menit.

"Kamu mengusirku?"

"Enggak, mas kan juga harus pulang"

"Minggu sore aja ya, besok seharian kita bisa habiskan waktu bersama"

"Minggu sore?"

"Iya, kenapa? Nggak boleh pulang juga?"

"Tentu boleh"Jawabku spontan.

Di sini aku harus berfikir keras bagaimana besok menghadapi bunda ketika tahu aku dan mas Ryu pulang sendiri-sendiri. Alasan apa yang ku buat supaya bunda nggak banyak bertanya.

Aahh, aku terus saja berbohong untuk menutupi kebohongan yang lain. Sungguh jangan coba-coba melakukan kebohongan seperti yang ku lakukan.

Menyalurkan udara ke paru-paru, otakku di buat seperti menyusuri labirin.

Alih-alih senang karena mas Ryu masuk dalam perangkapku, hingga aku bisa membuatnya menikahiku, aku justru di liputi kecemasan hampir di setiap menit.

Untuk sesaat aku menyesali rencanaku yang sudah menjelma sebagai Jani untuk menggoda mas Ryu.

Mau mundur, semua sudah terlambat.

"Mau makan apa?" Tanya mas Ryu mengagetkanku.

"Mas sendiri, mau makan apa?" Tanyaku balik.

"Apa saja, aku ngikut kamu"

****

Malamnya, usai makan malam, aku dan mas Ryu memasuki kamar. Kami mengobrol banyak hal, masa depan, hingga rencana punya anak.

Tak ku sangka kalau mas Ryu benar-benar sangat romantis.

Hingga malam semakin larut, kamipun semakin hanyut. Dan seperti biasa, dalam moment indah seperti ini aku selalu menempatkan diriku sebagai Naina, bukan Jani.

Sementara menit berganti, jantungku kian bertabuh kala pria yang saat ini berada di atasku, menyentuhku dengan penuh kelembutan.

Aku nggak peduli tentang apapun, aku hanya ingin menikmati saat-saat malam pertamaku dengan mas Ryu yang tak pernah terjadi dalam pernikahan Naina.

Sedangkan untuk yang lain aku bisa mengurusnya nanti.

Berpuluh-puluh menit berlalu, akhirnya kami sama-sama tenggelam dalam manisnya madu. Rasanya seperti balon udara yang terbang melayang di atas awan....

Tunggu saja mas, bukan bunda yang terpaksa harus menerima Jani dan benih yang kamu tanam di rahimnya, tapi mas lah yang mau enggak mau, harus menerima Naina dan anaknya.

***

Selesai melakukan ritual malam pertama, mas Ryu tertidur karena kelelahan. Aku sendiri belum bisa memejamkan mata sebab ada sesuatu yang harus ku pikirkan. Aku harus mencari ide supaya kesalahpahaman antara aku, mas Ryu, dan bunda tetap aman. Kesalah pahaman tentang urusan pekerjaan mas Ryu, dan juga dramaku yang setahu bunda aku bersama dengan putranya.

Tiba-tiba aku teringat dengan ponsel milik Naina yang ku nyalakan dalam mode senyap.

Aku akan mengecek apakah ada pesan masuk atau panggilan dari bunda.

Dan benar saja, ada satu panggilan video tak terjawab dan satu pesan masuk. Aku memilih membuka pesan dari bunda terlebih dahulu.

Bunda : [Na, lagi pada kemana, kok di telfon pada nggak angkat, ini Adarra tadi yang minta telfonin pak dhe Ryu, katanya pengin ngobrol]

Pesan itu di kirim sekitar satu jam yang lalu.

Iseng-iseng, supaya dramaku lebih bisa di percaya, aku mengambil gambar mas Ryu secara diam-diam, setelah itu ku kirim hasilnya ke nomor bunda, ada caption yang tersisip di bawahnya.

[Maaf, Adarra sayang, tadi pak dhe sama bu dhe lagi sibuk, dan sekarang pak dhe Ryu malah sudah bobo. Besok lagi telfonnya ya, Adarra bobo dulu, bu dhe juga mau bobo, sudah malam]

Tak lama kemudian bunda membalasnya.

Bunda : [Wah malam minggu kok udah bobo aja, ya udah selamat bobo, bu dhe. Adarra masih mau main sama opa oma]

Aku langsung menyimpan ponselku setelah membacanya, lantas merebahkan diri di samping mas Ryu.

Ketika tanganku terulur untuk memeluknya dari samping, mas Ryu menggerakkan badan lalu membalas pelukanku. Akupun tidur dengan membenamkan kepalaku di ceruk lehernya.

Bersambung.

Ingat ya di work ini Adarra sudah berusia sekitar empat tahunan.

1
Mira Rista
🤣🤣😍😍😍👍💪💪💪🙏🙏🙏
Omah Tien
kalau aku g mau ks galain jg
sherly
ya ampun gemessssnya Ama pasangan inilah...
sherly
hahahhaha bisa pula si bibik jd kambing hitam
sherly
sukurin, kapok kan ditinggal naina...
sherly
kesel, malu tp pengen ya pak...
sherly
mumettt
sherly
lah kabur aja naina...
Mumun Munawwaroh
KLO gak salah adiknya Arimbi namanya Yunus ya?
Si Memeh
Luar biasa
ovi Putriminang
GK bosan Thor
ovi Putriminang
Muter muter
Anne: jangan di baca lagi, nanti pusing
total 1 replies
ovi Putriminang
kabur aja lah naina tinggalkan,cari kehidupan sendiri
Maharani Rania
bilang ok terus datangkan ayah Bima
Ninik Hartariningsih
maaf mau ralat
itu bukan khusnul khotimah tapi yg betul husnul. maaf sekali lagi
Rika
bagus
Lala Trisulawati
♥️👍
martina melati
bukan sarang buaya???
martina melati
hati2 muncul penyakit kanker lho... bermula dari kecewa, terus jd sakit ati dan lama klamaan jd kanker
Nursina
Luar biasa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!