Shabila Diaskara adalah gadis polos dan lugu yang bersikap hiperaktif serta pecicilan demi menarik perhatian ayahnya—seorang Daddy yang membencinya karena kematian sang ibu saat melahirkan dirinya. Dalam sebuah insiden, Shabila berharap bisa merasakan kasih sayang seorang ayah sebelum akhirnya kehilangan kesadaran.
Saat terbangun, Shabila menyadari dirinya telah bertransmigrasi ke tubuh Aqila Weylin, gadis cantik namun pendiam dan cupu. Kini dipanggil “Aqila,” Shabila—yang akrab disapa Ila — mulai mengubah penampilan dan sikapnya sesuai kepribadiannya yang ceria dan manja.
Beruntung, kehidupan barunya justru memberinya keluarga yang penuh kasih. Sikap hiperaktif dan manja Ila membuat seluruh keluarga Aqila gemas, bukan marah. Setelah tak pernah merasakan cinta keluarga di kehidupan sebelumnya, Ila bertekad menikmati kesempatan kedua ini sepenuh hati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lyly little, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 **Nomor telpon**
Di ruang kelas XII IPA 1—kelas yang lebih dikenal sebagai singgasana para most wanted DHS—suasana pagi itu terasa lebih intens dari biasanya. Meski bel masuk belum lama berbunyi, aura ketegangan sudah menyelimuti meja tempat Lanka dan gengnya berkumpul.
"Lo tumben terlambat, Lan. Emang kenapa?" tanya Elzion sembari menyandarkan punggungnya di kursi, menatap sahabatnya itu dengan penuh selidik.
"Kesiangan," sahut Lanka singkat, padat, dan jelas. Tipikal Lanka yang tidak suka membuang kata-kata jika dirasa tidak perlu.
"Gak biasanya lo kesiangan. Seorang Lanka punya alarm biologis yang ngeri, kan?" ucap Juna yang diangguki setuju oleh Dian dan Liam.
Lanka menghela napas kasar, ia menyugar rambutnya ke belakang dengan raut wajah yang tampak sedikit lelah. "Tadi malam bantuin bokap selesain misi," ucapnya akhirnya berterus terang.
Mendengar kata 'misi', Alzian membuang napas berat. Sorot matanya berubah menjadi serius dan tajam. "Ini alasan gue kurang suka lo sama adek gue, Lan. Gue takut kalau musuh-musuh bokap lo atau musuh lo sendiri tahu tentang Ila. Maka dapat dipastikan Ila dalam bahaya. Belum lagi kalau para fangirl gila lo itu tahu," jelas Alzian panjang lebar. Tidak biasanya ia berbicara sepanjang itu, namun kekhawatiran terhadap keselamatan Ila mampu meruntuhkan dinding keiritan bicaranya.
Lanka membalas tatapan Alzian dengan sorot mata yang tak kalah kuat. "Gue bisa jaga Ila. Gue nggak akan biarin orang-orang menyentuhnya seujung kuku pun," desis Lanka dengan nada mengancam. Selama ini pun, tanpa sepengetahuan banyak orang, ia selalu mengawasi setiap gerak-gerik gadis kecil itu dari bayang-bayang.
"Gue pegang kata-kata lo. Kalau sampai terjadi sesuatu dengan adek gue, gue nggak akan biarin lo dekat, bahkan sekadar melihatnya saja lo nggak akan bisa," ancam Alzian lagi. Lanka hanya mengangguk tenang, menerima tantangan tersebut sebagai bentuk janji setianya.
Untuk mencairkan suasana yang mendadak mencekam, Liam tiba-tiba menyeletuk dengan pertanyaan yang sangat random.
"Eh Al El, si Ila itu kan polos banget ya, dia pernah menstruasi nggak sih? Gue bingung gimana cara dia menghadapi masa-masa itu, para readers pun kayaknya pada bingung loh," tanya Liam, seolah mewakili rasa penasaran massal.
Elzion tampak berpikir sejenak, ia sedikit ragu. "Dia belum pernah mens deh kayaknya," sahut Elzion. "Soalnya gue emang nggak pernah lihat dia beli pembalut atau ngeluh sakit perut yang aneh-aneh."
"Masa, sih? Padahal kalau dilihat-lihat tubuh adek lo itu bagus dan berisi, masa belum mens?" ucap Liam spontan tanpa saringan.
Seketika, atmosfer kelas mendadak turun beberapa derajat. Elzion menyentak meja, "Lo liatin tubuh adek gue selama ini, hah?!"
Lanka dan Alzian menoleh serentak. Tatapan mereka sangat membunuh, seolah-olah siap mencabik siapa pun yang berani berpikiran kotor tentang Ila.
"Eh, e-enggak kok! Tapi kan e-mang kelihatan... gimana ya..." Liam tergagap, wajahnya pucat pasi. Ia meneguk ludah kasar, merasa nyawanya sudah berada di ujung tanduk hanya karena salah memilih kata.
Dian dan Juna justru terbahak melihat penderitaan Liam. "Haha! Makanya kalau ngomong dipikirin dulu, Liam!" tawa Dian pecah.
"Udah tahu pawang-pawang degem (dedek gemes) kita ini galak banget, masih aja nggak bisa jaga bicara. Mampus lo!" ledek Juna puas.
Saat Liam hendak membuka mulut untuk membela diri dari tatapan maut tiga singa di depannya, niat itu urung dilakukan. Pintu kelas terbuka, dan guru mereka melangkah masuk dengan buku-buku di tangannya.
"Selamat pagi, anak-anak," sapa guru pria tersebut dengan suara baritonnya.
"Pagi, Pak!" sahut seluruh siswa serentak, termasuk geng paling populer itu.
Pelajaran pun dimulai, namun bayang-bayang tentang bagaimana hebohnya hari pertama Ila menstruasi nanti seolah sudah menghantui pikiran para abang-abangnya secara tidak sadar.
...****************...
Suasana kantin DHS siang itu sangat ramai, namun meja panjang di sudut ruangan tetap menjadi wilayah kekuasaan yang tak tersentuh. Di sana, Ila duduk diapit oleh Luna dan abang-abangnya yang tampan. Bau aroma bakso dan es jeruk memenuhi udara, berpadu dengan riuh rendah suara siswa-siswi lainnya.
"Yeayy, perut Ila kenyang!" seru Ila dengan nada riang, ia mengelus perutnya yang terasa kencang setelah menghabiskan satu porsi makanannya tanpa sisa.
Alzian menoleh, senyum tipis terukir di wajah dinginnya. Ia mengambil selembar tisu lalu dengan telaten membersihkan sudut bibir Ila dari sisa kuah yang menempel. "Makannya jangan belepotan, princess," ucapnya lembut, sangat kontras dengan tatapan tajamnya saat di kelas tadi.
Ila hanya nyengir lucu, menampakkan deretan giginya yang rapi. "Iya, Abang..." sahutnya manja.
Sementara yang lain masih sibuk makan, hanya Ila yang sudah selesai. Seperti biasa, para cowok itu lebih banyak menghabiskan waktu untuk adu bacot dan saling ejek sebelum benar-benar mengunyah, sehingga makan mereka jadi lama. Ila sendiri hanya diam mendengarkan, sesekali ia menimpali atau bertanya dengan wajah polos jika mendengar istilah asing yang keluar dari mulut Liam atau Dian.
Ila kemudian merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan sebuah ponsel pintar model terbaru. Matanya berbinar saat menunjukkannya pada sahabat di sampingnya.
"Luna look, Ila udah beli HP!" adunya dengan nada bangga pada Luna.
Luna mengalihkan pandangannya dari mangkuk soto, menatap ponsel baru Ila dengan kening berkerut heran. "Emang sudah dibolehin Bunda megang HP, Cil?" tanya Luna. Setahunya, Ila pernah bercerita kalau Bunda belum mengizinkannya punya ponsel sendiri karena dianggap masih terlalu kecil dan belum butuh.
"Lusa kemarin Bunda bilang, kalau Ila dapat nilai besar pas ulangan, Ila akan dibelikan HP. Makanya kemarin Ila minta ulangan sendiri sama Pak Guru," ucap Ila dengan wajah sangat polos dan tanpa beban.
Uhuk! Uhuk! Uhuk!
Luna seketika tersedak sotonya sendiri mendengar kejujuran tingkat dewa dari Ila. Ia sampai terbatuk-batuk hebat. Melihat itu, Elzion dengan sigap menyodorkan gelas minuman ke arah Luna.
"Makasih, Kak," ucap Luna singkat setelah batuknya mereda, lalu ia meneguk air itu dengan cepat sampai tandas.
"Hah... hah... Jadi ini alasan lo kemarin minta ulangan dadakan?!" tanya Luna dengan napas tersenggal-senggal, antara kaget habis minum cepat dan syok mendengar motivasi belajar Ila yang ternyata hanya demi sebuah ponsel.
Ila mengangguk polos, matanya yang bulat mengerjap tidak berdosa. Pemandangan itu membuat abang-abangnya terkekeh kecil. Mereka sudah tahu kelakuan ajaib adiknya ini, sementara Luna hanya bisa mendengus kesal sekaligus takjub dengan keberanian Ila menodong guru demi nilai.
"Ila minta nomor HP Luna dong," pinta Ila, menyodorkan ponselnya dengan tampang manis yang sulit ditolak.
Luna membuang napas kasar. Ia harus ekstra sabar menghadapi bocil di sampingnya ini. Ia mengambil ponsel Ila, lalu dengan lincah mengetikkan nomor WhatsApp-nya di sana.
"Nih," Luna menyodorkan kembali ponsel itu.
"Terima kasih, Luna!" seru Ila riang, sementara Luna hanya berdehem pelan sambil mencoba melanjutkan makannya.
Melihat adiknya sedang sibuk menyimpan nomor, Juna yang duduk di depan mereka mulai merasa iri. Ia ingin juga masuk ke dalam daftar kontak ponsel baru itu.
"Dek, nggak mau minta nomor Abang Juna nih?" tanya Juna sambil menaik-turunkan alisnya, mencoba menggoda Ila agar ia juga dianggap penting.
"Dek, nggak mau minta nomor Abang Juna nih?" tanya Juna sembari menaik-turunkan alisnya dengan percaya diri, mencoba menarik perhatian gadis kecil di depannya.
Belum sempat Ila membuka mulut untuk menjawab, dua suara bariton terdengar menyahut dengan sangat kompak dan tegas.
"Gak perlu," sahut Alzian dan Lanka secara bersamaan. Nada bicara mereka dingin, seolah sedang mengeluarkan maklumat kerajaan yang tidak boleh dibantah.
Mendengar kekompakan yang tidak terduga itu, Elzion, Dian, dan Liam hanya bisa menghela napas panjang. Mereka sudah hafal betul betapa protektifnya dua singa ini jika menyangkut akses komunikasi ke ponsel baru Ila.
Ila mengerutkan keningnya, menatap kedua kakaknya bergantian dengan raut wajah bingung. "Why?" tanya Ila dengan nada polos yang sangat murni.
"Gak penting," sahut Alzian pendek. Baginya, memberikan nomor Juna atau yang lainnya ke Ila hanya akan menambah daftar gangguan bagi adiknya.
Namun, Ila tetaplah Ila. Meskipun polos, ia memiliki pendiriannya sendiri. "Tapi Ila mau minta, agar Ila bisa telepon-telepon nanti kalau kangen," ucap Ila dengan nada bicara yang menggemaskan.
Mendengar kata 'telepon-telepon' dan 'kangen', Lanka tampak menggeram kesal di tempat duduknya. Rahangnya mengeras, membayangkan ponsel baru Ila akan dipenuhi notifikasi dari teman-temannya yang jahil. Ingin rasanya ia menegur dan melarang keras, namun ia tahu jika ia terlalu mengekang, gadis kecilnya itu bisa merajuk atau marah. Akhirnya, Lanka hanya bisa memendam kekesalan itu di dalam dada sembari mengepalkan tangannya di bawah meja.
Juna yang melihat ekspresi pasrah dari Alzian dan wajah kesal Lanka merasa menang telak. Ia tersenyum puas, sebuah kemenangan kecil bisa menggoda dua pawang galak tersebut.
"Sini ponselnya, Abang masukin nomornya ya," pinta Juna ramah. Tanpa ragu, Ila menyodorkan ponsel pintarnya kepada Juna.
"Abang juga ya, Dek!" pinta Liam dan Dian bersamaan, tidak mau kalah eksis di ponsel baru Ila.
Ila mengangguk senang, matanya berbinar-binar. "Iya, semuanya harus ada di sini!" serunya riang.
Alzian dan Lanka hanya bisa menggeram kesal melihat ponsel yang seharusnya 'bersih' itu kini satu per satu mulai dikuasai oleh teman-temannya yang tidak tahu diri. Sementara itu, Elzion tetap fokus pada makanannya, bersikap acuh tak acuh seolah drama di depannya hanyalah angin lalu.
Luna yang duduk di samping Ila hanya bisa terkekeh kecil. Ia sangat menikmati pemandangan wajah kesal Alzian dan Lanka yang tampak sangat menderita hanya karena masalah nomor telepon.
...****************...
Terimakasih , semoga suka ya sama ceritanya🤗👋👋👋