Kecelakaan mengerikan membuat Pelangi Jingga Cakrawala lumpuh, membuatnya kehilangan semangat hidup dan harapan akan mimpinya menjadi seorang balerina terkenal. Ia pesimis akan pulih kembali dan menolak semua bentuk terapi yang disarankan.
Sebagai terapis andal, Lentera Bentang Nirbatas yang ditawari pekerjaan untuk membantu memulihkan kondisi bocah itu merasa tertantang. Meskipun awalnya kesulitan menangani sikap Pelangi yang penuh amarah, perlahan-lahan Lentera mampu membuat Pelangi mau membuka diri.
Hal itu membuat Rimba Fajar Cakrawala jatuh hati pada Lentera. Akankah Rimba mampu meyakinkan jika cinta yang ia tawarkan bukanlah atas balas budi karena telah membuat anaknya bisa berjalan lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 25
Awal bulan November suhu kota Jakarta semakin menurun seiring hujan derasterus mengguyur Ibu kota. Batas waktu yang Lentera takuti dan harus di hadapi penuh ketegaran akhirnya tiba.
Pelangi berlatih di palang sedari pagi tadi, ia berjalan menyeret kakinya secara perlahan. Tubuhnya bermandikan keringat sehingga celana merah mudanya basah kuyup dan melekat. Lentera pun tak kalah lelahnya juga karena terus berjongkok di samping Pelangi, membantu kaki bocah itu bergerak dengan ayunan yang benar.
Lentera terduduk di lantai menghembuskan napas lelahnya. “Sayang kita istirahat dulu sebentar ya,” ucap Lentera, suaranya seperti teredam saking penatnya.
Pelangi mengembuskan napas panas dan mengeluarkan suara hampir mirip erangan. Dengan tangan mencengkeram palang, gigi merapat penuh tekad, bocah itu melenturkan otot dan menahankan tegangan. Kaki kanannya bergerak ke depan dengan tidak beraturan. Jeritan seperti suara hewan terlepas dari dadanya dan tubuhnya bersandar lesu di palang, kepala terkulai ke depan.
Lentera berdiri dan menggapai Pelangi, tapi sebelum sempat menyentuhnya, Pelangi menarik bahu ke belakang dan memulai lagi proses menyakitkan itu dengan kaki kiri. Kepalanya terdongak ke belakang dan dia menghela napas banyak-banyak. Semua otot di tubuhnya menyembul karena dia paksakan, tapi akhirnya kaki kirinya bergerak.
Lentera berdiri terpaku di sebelah Pelangi, wajahnya basah karena air mata yang turun diam-diam ketika memperhatikan bocah yang penuh semangat itu.
“Ayo jalan,” bisik Pelangi kepada diri sendiri, tubuhnya bergetar karena tenaga yang dia kerahkan saat mencoba berjalan selangkah lagi. “Ayo....!”
Lentera tidak tahan lagi, dengan tangisan tersekat ia menghambur ke arah Pelangi , memeluk bocah itu dengan erat. Pelangi limbung, lalu berhasil menyeimbangkan tubuh lagi. Tangannya merayap di pinggang Lentera kemudian memeluknya erat-erat.
“Kakak gagak mengapa menangis?”
Pertanyaan itu membuat Lentera melepaskan pelukannya, ia menatap pelangi dengan pipinya yang basah, mata wanita itu yang berkilauan, dan bibirnya gemetaran. "Kau memanggilku kakak galak lagi?"
“Amma adalah kakak galak yang paling cantik, keras kepala, dan satu-satunya orang yang membuatku bisa terlepas dari kursi roda. Ssst... jangan menangis,” ucap Pelangi, nadanya yang lembut.
Bocah itu mengecup pipi Lentera. “Jangan menangis, jangan menangis,” bujuknya dengan suara lembutnya. “Tertawalah bersamaku, Amma. Rayakan bersamaku, aku sangat bahagia… Amma… jangan ada air mata lagi,” bisiknya.
Hati Lentera masih saja selalu bergetar setiap kali bocah itu memanggilnya Amma, itu adalah panggilan terindah yang pernah ia dengar.
“Amma jangan sedih lagi, karena kita akan berpesta," gumam Pelangi dengan riang.
Lentera mengangguk. "Tapi sebelum pesta, kita harus mengulangi latihan yang sama,” sahut Lentera . “Semakin sering kau melakukannya, akan semakin mudah. Tapi ingat, jangan memaksa diri berlebihan, karena kau bisa mencederai dirimu sendiri. Kau bisa jatuh sehingga mengalami patah tulang tangan atau kaki, dan waktu yang terbuang akan terasa sangat menyakitkan.”
“Oke aku mengerti, lalu berapa lama?” Pelangi berkeras.
Lentera menggeleng-geleng melihat kegigihannya, Pelangi tidak tahu cara menunggu, dia selalu memaksakan segala sesuatu, tidak sabaran, bahkan saat menghadapi diri sendiri.
“Aku bisa memberimu perkiraan kasar seminggu lagi,” ucap Lentera , tidak membiarkan Pelangi memaksanya. “Tapi aku memegang teguh janjiku bahwa kau bisa berjalan lagi Desember nanti.”
“Enam minggu,” ucap Pelangi setelah menghitung tanggal sampai ke bulan Desember.
“Tapi mungkin masih menggunakan tongkat,” lanjut Lentera terburu-buru, membuat Pelangi menatapnya marah.
“Tanpa tongkat?” Pelangi berkeras.
Lentera mengangkat bahunya, jika Pelangi memusatkan segenap pikiran dan tekadnya untuk bisa berjalan tanpa tongkat, dia mungkin berhasil mewujudkannya.
“Akhir-akhir ini aku berpikir untuk kembali lagi sekolah reguler,” ucap Pelangi , kalimat itu rupanya membuat Lentera terkejut.
Ia menaikkan tatapan ke wajah Lentera . “Sebenarnya aku bisa saja kembali ke sekolah lamaku sekarang, tapi aku tidak ingin mengurangi jadwal terapi. Bagaimana kalau mulai satu Januari? Apakah saat itu kemajuanku sudah cukup jauh sehingga kalau aku ke sekolah tidak akan memengaruhi perkembangan terapiku?”
Tenggorokan Lentera seperti tersumbat. Tanggal satu Januari ia takkan di sini lagi. Ia menelan ludah, lalu menjawab dengan suara rendah tapi datar, “Saat itu kau sudah terbebas dari jadwal terapi dan bisa ke sekolah seperti biasanya. Keputusan untuk melanjutkan program latihanmu, berada di tanganmu. Kau memiliki semua peralatan yang dibutuhkan di sini, dan kau pun tak perlu lagi berlatih sekeras saat ini, karena aku sudah membangun kekuatanmu dari titik terendah. Hal yang perlu kau lakukan hanya-lah melanjutkan latihan, mempertahankan staminamu, dan kamu tidak lagi membutuhkan pelatihan terlalu intensif. Kalau kau mau, aku akan membuatkanmu program yang bisa kau patuhi supaya tubuhmu tetap sehat.”
Pelangi menatap tajam ke arah Lentera . “Apa maksudnya ‘yang bisa kupatuhi’?” tuntutnya dengan parau, tangannya terulur ke depan dengan gerakan cepat untuk mencengkeram pergelangan tangan Lentera .
Tidakkah Pelangi sadar, setelah terapinya rampung Lentera akan pergi? karena pasien cenderung asyik dengan diri sendiri, kemajuan sendiri, sehingga fakta tentang tanggung jawab lain tidak terpikirkan oleh mereka. Sudah berminggu-minggu Lentera hidup bersama kepedihan karena mengetahui tak lama lagi ia harus meninggalkan Pelangi , dan sekarang bocah itu juga harus menyadarinya.
“Aku takkan selamanya di sini,” ucap Lentera dengan tenang sambil menegapkan bahu. “Pekerjaanku adalah terapis, aku akan menangani anak-anak lain yang membutuhkan aku, ketika saat kau tidak membutuhkanku lagi. Kau akan berjalan, sekolah, les balet dan melakukan semua kegiatanmu seperti dulu.”
“Amma adalah terapisku,” ucap Pelangi ketus sambil mempererat cengkeraman di pergelangan Lentera .
Lentera tertawa sedih. “Lumrah kalau kau menjadi posesif. Selama berbulan-bulan kita bersama, dan kau bergantung kepadaku. Sudut pandangmu saat ini mengalami distorsi, tapi setelah kamu mulai sekolah lagi, bertemu kawan-kawan. segala sesuatu akan kembali seperti semula. Percayalah, sebulan setelah aku pergi, kau tidak akan memikirkanku lagi, apa lagi saat kau sibuk dengan les baletmu.”
Semburat merah menyebar di kulit Pelangi . “Maksudnya, Amma akan begitu saja berpaling dariku dan pergi?” tanya Pelangi tidak percaya.
Air mata Lentera menggenang. “Ini… ini juga tidak mudah bagiku sayang,” suara Lentera gemetaran. “Aku selalu dekat dengan pasien-pasienku, tapi perasaan itu akan berlalu… Kau akan kembali pada hidupmu, kau tidak lagi membutuhkanku, jadi aku akan pergi untuk menangani anak-anak lainnya.”
"Amma jahat,” bentak Pelangi. “Kau yang memaksa masuk ke kehidupanku, mengatur rutinitasku, mengatur segala kehidupanku... Apakah kau pikir seseorang bisa melupakan bencana itu dengan mudah?”
“Mungkin kau takkan melupakanku, tapi sebentar saja kau akan mendapati kau tak lagi membutuhkanku,” ucap Lentera cepat-cepat, sengaja menyisipkan keriangan dalam suaranya, “Bagaimana dengan pesta nanti? Aku akan meminta Bik Sore menghubungi Eyang dan Aunty Rembulan.” Lentera mengalihkan pembicaraan mereka.
berakhir bahagia utk semuaa..lentera juga sudah berhasil mngatasi trauma atas sentuhan laki2...
terimakasih Kak Irmaa utk karyanya..
mohon maaf baru bs menyelesaikan bab ini hingga akhir..🙏
Kau harusnya bs bangkit melawan traumamu dan jangan berpikiran buruk terus. Jika Pelangi saja bs smbuh dan bangkit..kaupun harusnya jg bisa.
Apalagi jika pelaku adalah org terdekat..alhasil mereka tdk mau mengungkapkan dan melaporkan ke Polisi.
Peraayaan ulang tahun Pelangi
Hamilnya Rembulan
dan akhirnya Lentera mau menerima lamaran Rimba dengan restu Senja..🥰🥰🥰
semoga tak ada lagi halangan utk mererka smua
Tak mungkin kan Eyang merusak kebahagiaan Pelangi...😉