NovelToon NovelToon
Red Flag VS Radar

Red Flag VS Radar

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan di Sekolah/Kampus / Cintamanis / Idola sekolah / Playboy
Popularitas:234
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Lian punya segalanya untuk menghancurkan hati seorang gadis: wajah tampan yang mematikan, motor sport mahal, dan ego setinggi langit. Di SMA Garuda, dia adalah predator. Dia tidak butuh mengejar, karena para gadislah yang datang menyerahkan hati untuk ia patahkan. Baginya, cinta adalah permainan, dan dia selalu menang.
​Lalu datanglah Mori.
​Mori adalah anomali. Gadis manis dengan senyum sehangat musim semi yang ramah kepada siapa saja—kecuali kepada Lian. Sejak detik pertama mereka tidak sengaja bertabrakan di koridor, radar Mori menangkap sinyal bahaya yang sangat kuat. Bagi Mori, Lian bukan "idola sekolah", melainkan polusi visual yang harus dihindari demi kesehatan mental.
​Lian yang terusik egonya mulai melancarkan serangan. Dari mulai intimidasi halus, perhatian palsu, hingga jebakan-jebakan emosional yang biasanya membuat lawan jenis bertekuk lutut. Namun, setiap langkah Lian justru membentur tembok dingin yang dibangun Mori.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10

​Langit di atas SMA Garuda mendadak berubah menjadi abu-abu pekat, seolah tinta hitam baru saja tumpah ke seluruh cakrawala. Tak butuh waktu lama, rintik gerimis berubah menjadi hujan deras yang menghantam atap sekolah dengan bunyi menderu. Angin kencang mulai bersiul di sela-sela jendela koridor, membawa hawa dingin yang menusuk tulang.

​Mori berdiri sendirian di koridor depan perpustakaan. Ia baru saja keluar setelah menghabiskan waktu satu jam lebih untuk mencari referensi buku olimpiade. Ia tidak menyangka cuaca akan seburuk ini. Ketiga sahabatnya—Jessica, Nadya, dan Alissa—sudah pulang lebih awal karena ada urusan masing-masing.

​"Sial," gumam Mori pelan. Ia menatap ke arah parkiran yang sudah mulai sepi, tertutup kabut tipis akibat lebatnya air yang jatuh.

​Mori hanya mengenakan seragam sekolah pendeknya. Hawa dingin mulai merayap naik dari ujung kakinya, membuat bulu kuduknya berdiri. Ia menyilangkan tangan di dada, mengusap-usap lengannya sendiri berkali-kali untuk mencari sedikit kehangatan. Giginya mulai beradu kecil. Di tengah kesunyian koridor dan suara hujan, Mori merasa sangat kecil dan rapuh.

​Tiba-tiba, sebuah aroma maskulin yang sangat familiar menyerbu indra penciumannya. Aroma yang selama ini selalu ia hindari, namun entah kenapa, di tengah badai ini, aroma itu terasa... menenangkan.

​Sesuatu yang berat dan hangat tiba-tiba tersampir di bahunya.

​Mori tersentak dan langsung menoleh. Di sampingnya, berdiri Lian. Cowok itu hanya mengenakan kaos hitam polos yang sedikit lembap di bagian bahu. Jaket denim yang biasanya ia pakai dengan gaya sombong, kini sudah membungkus tubuh mungil Mori.

​"Gue nggak butuh," ketus Mori refleks. Ia mencoba melepaskan jaket itu dari bahunya.

​Namun, tangan Lian dengan cepat menahan pergerakan Mori. Ia memegang kedua sisi kerah jaket itu, memastikan tubuh Mori tertutup rapat. "Jangan keras kepala, Mor. Badan lo udah gemetar gitu. Lo mau pingsan gara-gara hipotermia di sekolah?"

​Mori menatap mata Lian. Visual Gabriel Guevara-nya terlihat sangat intens di bawah temaram lampu koridor yang mulai menyala otomatis. Nggak ada senyum miring, nggak ada kedipan mata genit. Hanya ada rahang yang mengeras dan tatapan yang... tulus?

​"Gue bilang gue nggak apa-apa, Lian. Ambil lagi jaket lo," Mori bersikeras, egonya masih mencoba bertahan di balik benteng baja yang ia bangun.

​Lian tidak melepaskan genggamannya di kerah jaket itu. Ia justru melangkah maju, memperkecil jarak di antara mereka sampai Mori bisa merasakan napas hangat Lian di keningnya.

​"Satu kali aja, Mor. Berhenti nganggep gue musuh," suara Lian rendah, hampir tenggelam oleh suara hujan. "Gue nggak bakal tebar pesona, gue nggak bakal minta apa-apa. Gue cuma nggak mau liat lo sakit. Itu aja."

​Mori terdiam. Tangannya yang masih mengusap lengannya sendiri perlahan berhenti bergerak. Hawa hangat dari jaket Lian mulai meresap ke kulitnya, dan ia harus mengakui, itu sangat nyaman. Akhirnya, Mori membiarkan jaket itu tetap di sana, meskipun wajahnya tetap ia buang ke arah hujan, menghindari kontak mata.

​Keheningan tercipta di antara mereka selama beberapa menit. Hanya ada suara hujan yang makin menggila. Mori masih merasa kedinginan, terutama di bagian telapak tangannya yang kini sudah mulai memucat. Ia kembali mengusap-usap telapak tangannya, mencoba menciptakan gesekan agar terasa hangat.

​Tanpa peringatan, Lian meraih kedua tangan Mori.

​"Lian! Apa-apaan sih!" Mori mencoba menarik tangannya, tapi Lian memegangnya dengan lembut namun tegas.

​"Tangan lo sedingin es, Mor," ucap Lian pelan.

​Bukannya melepaskan, Lian justru menempelkan kedua telapak tangan Mori ke dalam tangannya yang besar dan hangat. Ia menggenggam tangan Mori, menyalurkan panas tubuhnya secara langsung.

​Mori terpaku. Ia merasakan sengatan listrik yang aneh saat kulit mereka bersentuhan. Tangan Lian terasa sangat kasar namun sangat hangat. Jantung Mori yang biasanya tenang saat menghadapi Lian, kini mulai berdetak dengan ritme yang tidak beraturan—ritme yang ia benci karena ia tahu itu adalah tanda pertahanannya mulai goyah.

​"Lepasin..." bisik Mori, tapi suaranya tidak memiliki kekuatan untuk mengusir.

​"Bentar aja. Sampe tangan lo nggak biru lagi," balas Lian. Ia mulai menggosokkan telapak tangannya ke punggung tangan Mori, memberikan kehangatan yang merata.

​Mori menunduk, melihat tangan mereka yang bertautan. Di dalam hatinya, radarnya terus berteriak "BAHAYA", tapi di saat yang sama, bagian lain dari dirinya merasa terlindungi. Ini adalah pertama kalinya Lian tidak melakukan sesuatu yang "berlebihan". Dia tidak sedang pamer di depan cewek lain, dia tidak sedang mencari validasi. Dia hanya ada di sana, di samping Mori, di tengah hujan.

​"Kenapa lo lakuin ini?" tanya Mori akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.

​Lian terdiam sejenak, masih fokus menghangatkan tangan Mori. "Karena buat gue, lo itu satu-satunya variabel yang nggak bisa gue pecahin pake rumus tebar pesona gue, Mor. Dan anehnya, itu bikin gue ngerasa kalau gue harus... jagain lo. Bukan buat pamer, tapi karena gue mau."

​Mori mendongak, matanya bertemu dengan mata Lian. Untuk pertama kalinya, Mori tidak melihat red flag yang berkibar. Dia melihat seorang cowok yang juga punya rasa kesepian, yang selama ini menutupi kekosongannya dengan perhatian orang banyak.

​"Jangan benci gue terus, Mor. Capek tau, dianggep angin lalu sama lo," Lian tersenyum tipis, kali ini bukan senyum miring, tapi senyum yang benar-benar sampai ke matanya.

​Mori dengan cepat menarik tangannya saat ia merasa pipinya mulai memanas. Ia merapatkan jaket denim Lian di tubuhnya. "Gue nggak benci lo. Gue cuma... nggak suka cara lo."

​"Gue bakal coba cara lain kalau gitu," sahut Lian enteng, kembali ke mode tengilnya tapi dengan nada yang lebih lembut.

​Mereka akhirnya duduk di bangku koridor, masih dengan jarak yang terjaga. Mori tetap memakai jaket Lian, dan Lian duduk di sampingnya sambil memperhatikan air hujan yang jatuh dari talang.

​"Hujannya nggak bakal reda cepet," kata Lian. "Mau gue anter pulang pake mobil? Supir gue udah di depan."

​Mori menggeleng. "Gue udah pesen taksi online."

​"Di cuaca kayak gini? Nggak bakal dapet, Mor. Batalin aja. Gue anter sampe depan pintu rumah lo. Tenang, gue nggak bakal mampir makan rendang lagi kecuali lo yang suruh."

​Mori ingin menolak, tapi ia melihat ponselnya yang menunjukkan "Pencarian Driver..." yang tak kunjung selesai. Akhirnya, dengan berat hati, ia mengangguk.

​"Oke. Tapi jangan berisik di mobil," ancam Mori.

​Lian tertawa, suara tawanya terdengar tulus di telinga Mori. "Siap, Tuan Putri."

​Sambil berjalan menuju parkiran di bawah payung besar yang dibawakan supir Lian, Mori menyadari satu hal. Benteng yang ia bangun setinggi langit itu ternyata punya satu celah kecil. Celah yang berhasil ditemukan Lian di tengah badai sore itu. Mori tahu dia harus tetap waspada, karena Lian tetaplah Lian—si red flag yang berbahaya. Tapi untuk sore ini, Mori membiarkan dirinya sedikit merasakan kehangatan yang ditawarkan oleh sang badai.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!